Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.
" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~
"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~
Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil aku Elora
Di sisi lain kota, di kamar sempit yang nyaris tak layak disebut kamar, Elora duduk memeluk lutut. Bau sabun lantai masih menyengat. Tangannya gemetar mengingat tatapan dingin Arelion di toko buku.
Dia tidak mengenaliku…
Air matanya jatuh satu-satu, sunyi.
Dua hati yang pernah saling mengenal—
kini berdiri di garis waktu yang berbeda,
dipisahkan oleh ingatan,
dan diikat oleh rasa yang belum selesai.
Dan di kediaman Arkaven ,Arelion menoleh ke jendela, ke cahaya sore yang mulai meredup. Dalam benaknya, justru muncul wajah lain mata jernih, senyum lelah, dan nama yang kembali berbisik.
Ia duduk sendiri di ruang kerjanya, lampu temaram, segelas kopi di tangan yang tak tersentuh. Sunyi rumah itu terasa menekan..namun bukan sunyi yang asing. Sunyi yang selama ini ia terima sebagai bagian hidupnya.
Hatinya… terasa biasa saja.
Tak ada desir.
Tak ada penolakan.
Tak ada rindu yang tertinggal.
Arelion menghela napas panjang.
Mungkinkah sejak awal aku memang tidak pernah benar-benar mencintainya?
Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Arelion sejak kepergian Althea sore itu.
Kenangan masa kecilnya bersama Althea bermunculan..bermain di halaman rumah, belajar bersama, tawa yang lahir karena kebiasaan, bukan karena getar di dada. Semua terasa hangat, namun datar. Seperti rutinitas yang nyaman, bukan perasaan yang membakar.
“Mungkin aku hanya bertahan… karena tidak pernah diajarkan cara pergi,” gumamnya lirih.
Ia memejamkan mata.
Lalu, tanpa diminta, wajah Elora hadir begitu saja.
Cara gadis itu menatapnya di toko buku tadi siang—terkejut, nyaris takut, namun ada luka lama yang jelas berpendar di matanya.
Dadanya menghangat aneh. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena ingatan yang jelas, tapi karena perasaan yang terlalu jujur untuk diabaikan.
“Aneh…” bisiknya. “Padahal aku tak mengenalnya ."
Di kediaman Maria
"Ini untuk ongkos taksi… dan ini alamat tokonya,” ujar Maria sambil menyodorkan selembar kertas kecil dan beberapa lembar uang.
Maria meminta Elora mengambilkan baju pesanannya di pusat kota.
Biasanya, tugas itu adalah milik Lola. Namun sejak Elora datang, perlahan ia seakan menjadi pengganti.
Sebagian pekerjaan Lola kini berpindah ke tangannya—membersihkan kamar utama, merapikan area depan, hingga pekerjaan-pekerjaan kecil lain yang tak pernah benar-benar habis. Lola kerap merasa tak enak melihatnya, meski bebannya sendiri berkurang.
Ironisnya, Maria memperkenalkan Elora sebagai anak angkatnya di hadapan keluarga besar.
Namun perlakuan di dalam rumah berkata sebaliknya.
Di rumah itu, Elora lebih mirip seorang pelayan. Ia tidur di kamar sempit bekas pembantu, makan bersama Hana dan Lola, dan menjalani hari-harinya tanpa keluhan—seolah sudah terbiasa menyingkirkan perasaannya sendiri.
Tak ada yang berani bertanya.
Tak ada yang berani menentang.
Dan Elora… memilih diam.
Sebenarnya pagi itu tubuh Elora sedang tidak enak. Perutnya terasa tidak nyaman karena siklus bulanannya yang datang bersamaan. Namun, ia tak mungkin menolak.
Dengan langkah pelan dan wajah pucat, Elora pun pergi.
Elora tiba di toko untuk mengambil baju pesanan Maria. Butik itu berdiri megah di tengah pusat kota, dikelilingi gedung-gedung tinggi dan hiruk-pikuk yang tak pernah ia temui di lingkungan panti. Lampu-lampu etalase berkilau, orang-orang berlalu-lalang dengan langkah cepat, dan suara kota berdengung tanpa henti.
Ia terpukau.
Begitu keluar dari toko, kantong belanja tergenggam di tangannya, Elora melangkah menyusuri trotoar. Udara kota terasa asing namun menarik. Berjalan sebentar mungkin tak apa, pikirnya.
Langkahnya terhenti mendadak.
Di seberang jalan, berdiri sebuah toko buku tua—bangunan yang sama seperti kemarin. Catnya pudar, jendelanya berdebu, namun ada kehangatan aneh yang memanggilnya.
Tanpa banyak berpikir, Elora menyeberang dan masuk ke dalam toko itu.
Di saat yang hampir bersamaan, sebuah mobil hitam berhenti tak jauh dari sana. Seorang laki-laki bertubuh tegap baru saja turun dari kursi belakang. Setelan jasnya rapi, wajahnya pucat namun tegas—Arelion.
Hari itu adalah hari pertamanya kembali ke kantor setelah berbulan-bulan menjalani pemulihan.
Namun ketika mobilnya melaju melewati toko buku tua itu, ia tiba-tiba berkata, “Berhenti.”
Sopirnya menoleh heran, namun segera menepikan mobil.
Arelion menatap bangunan tua itu dari balik kaca. Ada sesuatu di dadanya yang berdenyut pelan, tak nyaman namun memanggil.
“Aneh…” gumamnya.
Sejak kapan ia tertarik pada tempat seperti ini? Toko buku tua, sempit, jauh dari kata nyaman menurut versinya. Bukankah ruang kerjanya sudah dipenuhi buku-buku langka dan koleksi terbaik?
Namun kakinya sudah melangkah turun dari mobil.
Seolah ada sesuatu—atau seseorang—yang sedang menunggunya di dalam.
Mata Elora terpaku pada sebuah buku di rak paling atas.
Judulnya tertulis jelas, seolah sedang berbicara langsung padanya—
Meski raga tak mengingatmu, namun hatiku selalu tertuju padamu.
Napasnya tercekat.
Ia berjinjit, mengulurkan tangan, namun rak itu terlalu tinggi. Jemarinya hanya menyentuh ujung sampul. Elora menghela napas pelan, hendak memanggil penjaga toko.
Namun sebelum suaranya keluar—
Sebuah tangan lebih dulu meraih buku itu dari atas kepalanya.
Tubuh seseorang berdiri tepat di belakangnya. Terlalu dekat.
Ia bisa merasakan kehangatan dadanya, napas yang pelan, dan aroma parfum yang kuat—asing, namun anehnya familiar.
Elora membeku.
“Arelion…” gumamnya sangat pelan, nyaris tak terdengar.
Matanya melebar. Jantungnya berdentum liar, tak mau tunduk pada logika. Tubuhnya bergetar hebat, seolah semua kenangan yang pernah ia kubur kembali menyerbu tanpa ampun.
Laki-laki itu terdiam sejenak.
Tangannya yang memegang buku mengendur sedikit.
Perlahan… ia menunduk, menatap gadis di hadapannya.
“Maaf,” ucapnya rendah. “Apa kamu—”
Namun kalimat itu menggantung.
Karena entah mengapa, saat pandangannya bertemu mata Elora, dadanya terasa dihantam sesuatu yang tak ia pahami.
Kosong…
namun perih.
Seolah hatinya mengenal,
meski ingatannya menolak.
Arelion melangkah mendekat dan menghampiri Elora.
“Nona… apa kau baik-baik saja?” tanyanya pelan.
Ada raut khawatir yang jelas di wajahnya.
Elora mendongak. Panggilan Nona itu menampar perasaannya dengan lembut namun menyakitkan,seakan menegaskan bahwa Arelion benar-benar telah melupakannya.
Ia bangkit perlahan. Meski tubuhnya lemah dan perutnya terasa melilit hebat, Elora memaksa diri berdiri. Aku hanya perlu keluar… memesan taksi… pikirnya.
Namun baru beberapa langkah ia melangkah dunia seakan berputar.
Kakinya kehilangan tenaga.
Tubuhnya terkulai ke belakang.
Arelion refleks meraih dan memeluknya dari belakang, lengannya menahan tubuh Elora sebelum jatuh ke lantai. Tubuh gadis itu ringan, rapuh, dan gemetar di pelukannya.
napasnya tertahan.
Di detik terakhir sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, bibir Elora bergerak.
“Panggil aku… Elora…”
Suara itu lirih. Rapuh. Namun entah mengapa, nama itu menghantam dada Arelion dengan kekuatan yang tak bisa ia jelaskan.
Elora terkulai sepenuhnya dalam pelukannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari koma, jantung Arelion berdegup tidak teratur seolah sesuatu yang hilang sedang berusaha kembali.