NovelToon NovelToon
Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romansa Fantasi / Cinta Terlarang / Obsesi / Perperangan / Dark Romance
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: HOPEN

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Season 2 : Pengasuh Dadakan

Kael berada di ambang kehancuran mental.

Sang Penguasa Scotra yang biasanya mampu membuat seluruh penghuni hutan gemetar hanya dengan satu tatapan, kini justru tampak sangat menyedihkan di hadapan seorang gadis kecil yang menangis tersedu-sedu.

Atmosfer Scotra yang tadinya tenang, kini pecah oleh lengkingan tangisan Cloudet yang seolah mampu meretakkan kristal sihir.

"Sialan! Kenapa dia tidak mau berhenti menangis?!"

geram Kael sembari mondar-mandir dengan langkah gusar.

“aku sudah menyuruh peri menari, bahkan aku sudah berpura-pura menjadi badut! Apa lagi yang dia mau?!”

Para peri hutan terbang rendah, menaburkan serbuk penenang yang biasanya bisa membuat monster buas tertidur, namun tangisan Cloudet justru semakin kencang.

Frekuensi suara itu mulai menyakiti indra pendengaran Kael yang sensitif.

Dalam puncak frustrasinya, logika Kael mulai tumpul.

Ia berpikir jika ia tidak bisa menenangkan Cloudet dengan kelembutan, maka ia harus menggunakan otoritasnya sebagai penguasa.

Dalam sekejap, tubuh manusianya memudar, digantikan oleh wujud ular seukuran sanca raksasa dengan sisik hitam kehijauan yang mengilat.

Ia melata mendekat, lalu melilitkan tubuh besarnya di sekeliling Cloudet, tidak cukup kuat untuk menyakiti, namun cukup untuk mengurung dan mengintimidasi sang bocah.

Kael mendesis pelan tepat di depan wajah Cloudet, mencoba menakut-nakutinya agar gadis itu terdiam karena ngeri.

Namun, rencananya gagal total.

Alih-alih terdiam, Cloudet justru merasa semakin terpojok dan ketakutan, membuat tangisannya berubah menjadi jeritan histeris yang memekakkan telinga.

Di tengah kekacauan itu, sebuah cahaya keemasan yang redup muncul dari balik dahan pohon tua.

Sesosok peri dengan ukuran yang lebih besar dari peri lainnya, dengan janggut putih panjang seukuran boneka kecil, terbang mendekat dengan keanggunan yang luar biasa.

Ia adalah Tetua Peri, penjaga kebijaksanaan Hutan Scotra.

Tetua itu melayang tepat di depan mata vertikal Kael yang besar.

Ia tidak tampak takut sama sekali pada sang Raja.

Sebaliknya, ia melipat tangannya di dada dengan ekspresi kecewa yang sangat kentara.

Kael terdiam, lilitannya perlahan mengendur saat ia menatap sang Tetua.

"Yang Mulia,"

ucap Tetua Peri dengan suara yang tenang namun berwibawa, sebuah nada yang seolah mampu meredam riuh rendah suara hutan.

"Bukan seperti itu cara menghibur seorang anak kecil. Anda sedang mencoba menenangkan seorang balita, bukan sedang menginterogasi tahanan."

Kael kembali berubah ke wujud manusianya, terduduk lesu di samping Cloudet dengan wajah merah padam karena malu.

“Lalu aku harus bagaimana? Dia terus menangis! Jika kakaknya yang gila itu datang sekarang, dia akan mengira aku sedang mencoba menelannya hidup-hidup!"

Sang Tetua Peri menghela napas panjang, lalu melayang turun hingga mendarat dengan ringan di pundak Cloudet.

Ia mengusap pipi gadis kecil itu dengan lembut, memberikan kehangatan sihir yang menenangkan.

"Anak kecil tidak butuh kemegahan atau ancaman, Yang Mulia,"

lanjut sang Tetua sembari melirik Kael dengan tajam.

“Mereka hanya butuh sesuatu yang membuat mereka merasa aman dan sedikit perhatian yang tulus. Sekarang, cobalah turunkan egomu yang setinggi langit itu dan bertindaklah seperti seorang pengasuh, bukan seorang penindas."

Kael menelan ludah, menatap Cloudet yang masih sesenggukan. Harga dirinya terasa baru saja diinjak-injak oleh seorang peri seukuran boneka, namun ia tahu bahwa Tetua itu benar.

Ego Kael bukan sekadar harga diri biasa, itu adalah dinding granit yang telah ia bangun selama ribuan tahun sebagai predator puncak di Hutan Scotra.

Baginya, martabat adalah segalanya.

Bayangan dirinya, seorang Raja Ular yang ditakuti, entitas kuno yang namanya dibisikkan dengan penuh kengerian oleh para petualang, harus mendekap seorang balita dan menggoyang-goyangkan tubuhnya seperti pengasuh adalah penghinaan yang lebih pedih daripada tusukan belati perak.

"Mati?"

geram Kael dengan nada yang bergetar hebat.

"Aku lebih memilih membiarkan diriku mati daripada harus melakukan hal serendah itu. Aku adalah penguasa, bukan pengasuh bayi!"

Tetua Peri, yang telah melihat pergantian zaman dan kejatuhan banyak raja sombong, hanya mengangguk pelan dengan wajah yang memancarkan kebijaksanaan tenang, sebuah ketenangan yang sebenarnya menyimpan ejekan halus.

“Begitu rupanya. Ego adalah beban yang berat, Yang Mulia. Kalau begitu, semoga Anda diberkati dengan ketabahan luar biasa untuk menanggung frekuensi tangisan anak ini. Saya harap gendang telinga Anda sekuat sisik Anda."

Sang Tetua kemudian terbang menjauh, membiarkan Kael berdiri kaku di tengah badai suara yang memekakkan telinga.

Awalnya, Kael mencoba bertahan dengan strategi pengabaian.

Ia duduk membelakangi Cloudet, bersila dengan angkuh sembari menutup matanya rapat-rapat.

Ia yakin bahwa setiap makhluk hidup memiliki batas energi untuk berteriak. Dia akan lelah dalam lima menit, pikir Kael sinis.

Paru-parunya kecil, energinya terbatas. Sebentar lagi dia akan tertidur karena kehabisan napas.

Namun, menit demi menit berlalu, dan perhitungan Kael meleset secara tragis. Cloudet, yang membawa darah hellhound murni, memiliki stamina yang tidak masuk akal.

Tangisannya tidak mereda, justru volumenya meningkat, berubah menjadi raungan pilu yang seolah mampu menggetarkan akar-akar pohon purba.

Udara di sekitar mereka mulai berdenyut secara magis, daun-daun berguguran karena resonansi suara yang begitu tinggi, dan para peri mulai berjatuhan dari udara karena pusing.

Kepala Kael mulai berdenyut hebat. Rasa sakit di hidungnya akibat tendangan tadi seolah meledak kembali setiap kali Cloudet mengambil napas untuk teriakan berikutnya.

Ia mulai merasa mual. Dunia di sekitarnya terasa berputar.

"Hentikan... kumohon, berhenti..."

Kael bergumam, tangannya menekan telinganya sendiri hingga memerah.

Satu jam berlalu, dan Cloudet masih konsisten dalam histerianya. Wajah gadis kecil itu sudah merah padam, air matanya membasahi rumput di bawahnya, dan aura kegelapan mulai merembes keluar dari tubuhnya karena emosi yang tidak stabil, sebuah pertanda bahwa jika ini terus berlanjut, ledakan kekuatan hellhound yang tak terkendali akan meluluhlantakkan wilayah itu.

Kael akhirnya mencapai titik nadir.

Ketakutannya pada amukan Calix kini kalah oleh rasa sakit yang menusuk kepalanya akibat suara itu. Dengan bahu yang merosot dan wajah yang hancur karena rasa malu yang amat sangat, Kael perlahan berbalik.

"Cukup! Cukup, aku menyerah!"

pekiknya kalah, meski suaranya nyaris tenggelam oleh tangisan Cloudet.

Dengan gerakan yang sangat kaku, seolah-olah setiap sendinya terbuat dari kayu yang berderit, Kael merangkak mendekat. Ia menjulurkan tangannya yang gemetar, meraih tubuh mungil Cloudet yang masih sesenggukan.

Dengan canggung yang luar biasa, ia mengangkat gadis itu ke dalam dekapannya.

Kael tidak tahu bagaimana cara memegang bayi. Ia memegang Cloudet seperti memegang sebuah bom yang siap meledak kapan saja.

Ia mulai menimang-nimang Cloudet dengan gerakan yang patah-patah, mencoba meniru gerakan seorang ibu manusia yang pernah ia intip dari kejauhan.

"Sshhh... diamlah, Anak Nakal. Lihat, aku sudah menggendongmu,"

bisik Kael, suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang menelan empedu pahit.

“Jangan menangis lagi. Jika kau berhenti, aku akan... aku akan membiarkanmu menarik rambutku sepuasnya. Hanya saja, tolong, berhentilah membuat suara itu."

Ajaibnya, saat kulit Cloudet bersentuhan dengan hawa dingin dari kulit Kael, isakannya mulai melambat.

Gadis kecil itu mencengkeram sedikit dada Kael dengan tangan mungilnya, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu.

Kael terdiam, merasakan detak jantung Cloudet yang cepat perlahan mulai stabil.

Di bawah pengawasan para peri yang kini menahan tawa di balik dahan pohon, sang Raja Ular Scotra kini resmi menjadi pengasuh dadakan, duduk di atas rumput sembari menimang musuh kecilnya dengan perasaan terhina yang paling dalam sepanjang sejarah hidupnya.

Bersambung

1
Im_Uras
🙏🙏
Im_Uras
😍😍😍
Anonymous
bagus
Anonymous
/Facepalm//Slight//Sneer/
Anonymous
yg🤭/Slight/
Anonymous
vshsii
Anonymous
hs
Anonymous
👍👍👍👍
Anonymous
👍
/Sob/ sedihnya
izin aku post di status /Pray/
Im_Uras
🤭🤭
Im_Uras
😍
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷🥀🥀❀ ⃟⃟ˢᵏ
lucu itu.. namanya juga masih masa pertumbuhan🤭🙏
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷🥀🥀❀ ⃟⃟ˢᵏ
wah.. pasti cakep banget
j_ryuka
namanya juga anak-anak
Tulisan_nic
ikut aku aja cloudet
Tulisan_nic
unyu banget,🫣
chrisytells
Kalau nggak keras, bukan kepala namanya 🤭😄
chrisytells
Udah otot kawat, tulang besi dari sononya nih si Cloudet
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!