cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 35 — DARAH YANG TERLALU TENANG
Raka bangun dengan kepala yang masih berat. Pandangannya berkunang, seperti habis dipukul dari dalam. Bau daun pahit dan tanah lembap masih menempel di hidungnya. Racun itu belum sepenuhnya pergi—atau mungkin obat yang diberikan nenek terlalu keras. Ketika ia mencoba duduk, bahunya ditahan seseorang. Nenek.
“Pelan-pelan Raka,” kata nenek singkat.
Nada suaranya datar. Bukan nada orang yang khawatir, bukan pula nada memerintah. Lebih mirip suara seseorang yang sudah terlalu sering melihat orang terluka.
Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering. “Kita… masih akan lanjut perjalanan Nek?”
“Iya,” jawab nenek. “Di sini tidak aman.”
Tidak ada pertanyaan apakah Raka sanggup. Tidak ada penjelasan. Mereka harus bergerak, itu saja.
Mereka berjalan menyusuri tepi hutan, menjauhi jalur besar. Langkah Raka masih goyah. Setiap beberapa langkah, kepalanya berdenyut, seperti ada paku kecil dipalu dari dalam. Nenek berjalan di depan, jaraknya tidak terlalu jauh, tapi juga tidak dekat. Seolah memastikan Raka masih mengikutinya, tanpa perlu menoleh terlalu sering.
Raka mulai memperhatikan hal-hal kecil. Ranting patah yang dibiarkan. Jejak kaki yang tidak disamarkan sepenuhnya. Bekas gesekan di tanah yang terlalu rapi untuk kebetulan, tapi juga terlalu ceroboh untuk orang yang biasanya hati-hati.
“Jejaknya terlalu kelihatan,” ucap Raka pelan, setengah berbisik.
Nenek berhenti sebentar, lalu melanjutkan langkah. “Biarkan.”
Jawaban itu membuat Raka mengernyit. Selama ini, nenek selalu menutup jejak. Selalu memastikan mereka tidak mudah diikuti. Tapi hari ini… seolah-olah nenek justru ingin dilihat, mudah untuk diikuti.
Rasa tidak nyaman merayap pelan. Raka tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya berjalan, sambil menahan nyeri dan rasa aneh di dadanya.
Matahari mulai condong ketika mereka sampai di area yang lebih rapat pepohonannya. Udara terasa berat. Sunyi. Terlalu sunyi. Tidak ada suara burung. Tidak ada serangga. Hanya angin tipis yang bergerak malas di antara daun.
Nenek berhenti mendadak.
“Jangan bergerak. Jangan bicara,” katanya pelan.
Nada itu berbeda. Bukan peringatan biasa. Ada tekanan di sana, seperti perintah yang tidak memberi ruang untuk salah paham.
Raka menahan napas.
Dari balik pepohonan, muncul bayangan. Satu, dua, lalu tiga orang. Mereka bergerak terpisah, tapi saling mengisi. Langkahnya terukur, tidak tergesa. Cara berdiri mereka tegak, rapi, dengan senjata yang siap tapi tidak diacungkan sembarangan.
Prajurit kerajaan.
Raka mengenali mereka bukan dari baju—karena pakaian mereka disamarkan—melainkan dari cara mereka menguasai ruang. Disiplin itu tidak bisa dipalsukan. Gerakan-gerakan yang sudah terbiasa dilihat Raka saat di Istana Raja.
Salah satu dari mereka melangkah maju setengah langkah. Matanya menyapu sekitar, lalu berhenti di wajah nenek. Ada jeda kecil. Sangat singkat. Tapi Raka menangkapnya.
Seperti orang yang hampir menyapa… lalu ragu.
“Nek…” Raka berbisik, hampir tak terdengar.
Nenek tidak menoleh. Tubuhnya sedikit menunduk, berat badan berpindah ke kaki belakang. Posisi yang aneh bagi orang tua. Terlalu siap.
Prajurit itu membuka mulut, seolah hendak bicara.
Nenek bergerak.
Cepat. Terlalu cepat untuk diikuti mata Raka sepenuhnya. Tongkatnya—yang selama ini terlihat seperti alat bantu—berubah fungsi dalam satu tarikan napas. Ujungnya menghantam pergelangan tangan prajurit terdekat. Bunyi tulang retak terdengar jelas. Prajurit itu terhuyung, belum sempat berteriak.
Gerakan berikutnya lebih pendek. Lebih dekat. Nenek masuk ke jarak tubuh, menyikut tulang rusuk, lalu memutar badan. Pisau kecil entah dari mana sudah berada di tangannya. Satu tusukan ke leher. Tepat. Bersih.
Darah menyembur, tapi nenek sudah bergeser.
Prajurit kedua sempat mengangkat tombaknya. Terlambat. Nenek memukul bagian lutut dengan tongkat. Prajurit itu jatuh. Sebelum tubuhnya menyentuh tanah sepenuhnya, mata pisau sudah menembus bawah rahangnya. Tidak dalam. Cukup.
Yang ketiga mundur setengah langkah. Matanya melebar. “Tunggu—”
Nenek tidak menunggu.
Ia bergerak memutar, menghindari ayunan pedang yang panik. Langkahnya ringan, hampir tidak terdengar. Ia menempel di sisi prajurit itu, menekan titik di bawah ketiak. Pedang terlepas. Satu gerakan pendek di belakang telinga. Selesai.
Semuanya terjadi dalam waktu yang terasa terlalu singkat. Tidak ada teriakan panjang. Tidak ada perlawanan berarti. Hanya bunyi napas terputus dan tubuh-tubuh yang jatuh.
Raka berdiri kaku. Jantungnya berdegup keras. Bukan karena takut diserang. Tapi karena apa yang baru saja ia lihat.
Cara nenek membunuh… terlalu tenang.
Tidak ada kemarahan. Tidak ada kepanikan. Tidak ada gerakan ragu-ragu. Seperti seseorang yang sedang menyelesaikan pekerjaan rutin.
Salah satu prajurit ternyata masih hidup. Darah mengalir dari mulutnya. Matanya mencari-cari, lalu bertemu pandang dengan Raka. Ada harap di sana.
“Negara…” katanya terputus-putus. “Kami… perintah…”
Raka melangkah maju setengah langkah tanpa sadar. “Nek—”
Nenek sudah berlutut di samping prajurit itu. Tangannya menutup mulut lelaki itu, bukan dengan kasar, tapi dengan tekanan yang pasti. Mata prajurit itu berkedip cepat, panik.
“Diam,” kata nenek pelan.
Pisau bergerak. Tidak ada hentakan. Tidak ada suara keras. Hanya satu tarikan singkat.
Tubuh prajurit itu lemas.
Nenek berdiri. Wajahnya tetap sama. Tidak pucat. Tidak tegang. Seolah baru saja mematikan api unggun kecil.
“Tugas telah diselesaikan,” katanya singkat.
Kata-kata itu menghantam Raka lebih keras daripada darah yang mengalir di tanah.
Tugas. Selesai. Dan Raka baru ingat gerakan-gerakan Nenek tadi adalah gerakan....
Raka menelan ludah. Tenggorokannya terasa semakin kering. Ia melihat tangan nenek, yang kini membersihkan pisau di kain. Gerakannya rapi. Terbiasa.
Nenek lalu berjongkok, menarik tubuh-tubuh itu ke arah semak. Menyusun posisi mereka dengan cara tertentu. Menyebar tanah. Menutup darah dengan daun dan lumpur. Semua dilakukan tanpa tergesa, tanpa bicara.
Raka membantu secara refleks. Mengangkat kaki. Menarik tangan. Baru setelah itu ia tersadar—dan tangannya gemetar.
Sejak kapan ia melakukan ini tanpa bertanya?
Mereka bergerak lagi sebelum gelap benar-benar turun. Jarak mereka lebih dekat sekarang, tapi bukan karena kehangatan. Lebih karena keharusan.
Saat malam datang, mereka berhenti di tempat yang aman. Api kecil dinyalakan. Tidak besar. Cukup untuk menghangatkan.
Raka duduk, memandangi api. Tangannya masih gemetar sedikit. Ia mencoba mengaturnya dengan menggenggam lutut.
“Nek,” katanya akhirnya. Suaranya pelan. “Mereka… prajurit kerajaan.”
“Iya,” jawab nenek tanpa menoleh.
”Istirahatlah, kamu harus epat sembuh, minum obat dan tidur” lanjut Nenek.
Tidak ada penjelasan lanjutan.
Raka ingin bertanya banyak hal. Ingin bertanya kenapa. Ingin bertanya sejak kapan. Ingin bertanya siapa sebenarnya nenek. Tapi semua pertanyaan itu terasa berat di lidah. Seolah sekali diucapkan, tidak bisa ditarik kembali.
Api berderak pelan. Angin malam membawa bau darah yang samar, meski sudah ditutup.
Raka menatap punggung nenek. Orang yang kemarin menyelamatkannya. Orang yang hari ini membunuh tanpa ragu.
Perlahan, sesuatu di dalam dirinya bergeser. Ia tidak lagi merasa aman hanya karena nenek ada di dekatnya.
Bukan karena nenek jahat. Tapi karena nenek terlalu mampu.
Dan kemampuan itu—akhirnya Raka sadar—tidak pernah netral.
Malam itu, Raka tidak tidur nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, ia melihat kembali wajah prajurit itu. Dan wajah nenek yang sama sekali tidak berubah saat mengakhiri hidupnya.
Di dalam gelap, Raka bertanya pada dirinya sendiri, tanpa berani bersuara:
Kalau nenek bisa setenang itu membunuh mereka…
pertanyaan lama yang selalu muncul dibenak Raka, lalu siapa sebenarnya nenek selama ini?
Dan pertanyaan itu terus berulang-ulang yang berhenti dikerongkongan tanpa jawaban. Untuk sesaat lamunan untuk berlanjut sampai dengan Raka tertidur. Raka tertidur karena rasa aman yang muncul, kegelisahan yang selama ini terjadi menjelang tidurnya entah mengapa hari ini seolah-olah sirna. Apakah ini pertanda benar-benar aman atau seperti nyala api lilin yang terang untuk kemudian mati?
Dilain tempat masing-masing kelompok sedang menganalisa dan menentukan langkah-langkah yang diperlukan. Kejadian yang besar akan menunggu didepan.
Dan tanpa sepengetahuan Raka, Nenek juga mempersiapkan segala sesuatunya, untuk bertahan hidup. Dia tahu akan terjadi badai yang bisa merenggut mereka berdua. Tanpa perlindungan, tanpa bantuan mustahil mereka akan bisa selamat. Setiap jalan, setiap sudut sudah terisi orang. Sudah tidak ada jalan keluar. Nasib sudah dipastikan.
”Semoga nasib baik akan menyertaimu Raka” desah Nenek.