"Slebor banget sih jadi orang?" -Delta
"Emang kayak elo? Udah jalan kek Putri Keraton, muka kayak es batu, mana galak lagi. Gak akan ada cewek yang mau sama lo, gue jamin!" -Alpha
Alpha si cewek slebor dengan bentuk super abstrak. Baju berantakan, rambut diikat asal-asalan dan yang paling penting, dia manusia paling kikir sedunia!
Delta dengan sifat batu dan antisosial, tidak ada yang boleh menyentuhnya karena bisa ditebasnya habis-habisan, wajah dingin dengan aura mencekam di sekitarnya membuat semua orang tidak mau berinteraksi cowok itu.
Hingga Alpha membalikkan semuanya.
"Gue bakal buat lo jatuh cinta sama gue! Ingat itu baik-baik!" -Alpha
"Ogah." -Delta
Ngalahin Sang Raja Es? Emang bisa?
Ice Breaker started
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blackblue_re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 | Luka Lama
"Al!!"
"Alpha! Woi sadar kek!!" sewot seseorang samar-samar, pipi gue bukan terasa ditepuk lagi malah udah kayak ditampar!
"Sakit, oy," ucap gue lemas sambil berusaha membuka mata. Saat itu juga gue melihat Saga dengan raut wajah khawatirnya, masih kayak dulu ketika gue dijahatin sama anak-anak kompleks. Dia jadi orang pertama yang berdiri di depan gue sambil menakuti para cecunguk itu.
"Ga..."
"Iya Al, tenang gue masih di sini kok. Bang Male Ijroil masih belom mau reunian ama gue," sahut dia gak nyambung. Dengan sekuat tenaga gue mengangkat tangan menyentuh pipinya, Saga tersenyum.
Plakk!
"Saket woi! Kirain lu mau megang pipi gue tadi, malah ditampar!" kesal dia ngusapin pipinya.
"He he, balasan elu nampar gue tadi." dengan tangan kiri bersandar di tempat tidur gue mencoba bangun, manatap kamar berukuran besar dan mewah. Pasti kamar Hazel.
"Makasih, Ga. Udah nyelamatin gue," ucap gue sambil tersenyum tulus, si kampret hanya tertawa kecil menunjukkan gigi taringnya yang kelihatan di sudut bibir. Manis sih.
"Adek gue mana?"
"Bintang? Dia sempat ngamuk tadi sama Ussy. Gue gak tahu lagi yang terjadi abis itu, udahlah gak usah dipikirin bisa bikin gila! Mending lo liatin muka gue lama-lama."
"Ngapain? Kena hepatitis lagi gue nanti."
"Gak. Ada yang indah di mata lo."
Kena apaan nih bocah?
Nyimak ae lah gue.
"Apaan?"
"Bayangan gue," jawab dia pede. Gue loading sebentar.
"SEKALI LAGI LO BILANG GITU GUE JEMUR LO KEK BEHA!!"
"Eh sans ae neng, yang kalem yang tenang."
"Hm."
"Al lo tuh kayak matahari."
"Y."
"Serius."
"Ah masa?" sahut gue rempong.
"Iya. Jadi menjauh 92,955,877 mil dari gue."
"Setan lo Ga!" amuk gue seraya meninju lengan Saga penuh napsu. Kesel abis pengen nyeburin nih anak ke empang yang berisi pisang-pisang wonderfull.
"Kalau lo matahari, gue buminya. Jangan pergi dari gue, karena gue bumi yang butuh matahari supaya bisa tetap bertahan."
Hah??!
"Ga, kemaren pas pembagian obat kaki gajah lo ambil berapa pil?"
"Hehehe, gue cuma kangen aja lo marahin gue."
Blusssh!
Oke fix, kali ini gue jantungan.
"Jangan liat gue!" teriak gue menutup wajah dengan selimut. Sesaat kemudian suasana hening. Gue jadi keki sendiri, mengintip Saga dan mendapati sorot matanya jadi berubah beringas.
"Ngapain lo ke sini lagi? Kenapa gak ngurusin si iblis sana?!"
"Gue yang harusnya dapat kata terimakasih dari dia!"
Jantung gue mencelos, tentu karena melihat perdebatan mereka lagi yang gak pernah abis dari zaman penjajahan Jepang. Mungkin aja pas mereka dijadiin mummy masih cekcok tuh berdua dalam peti mati sambil ngecurcol abis.
Hebat dong otak gue, ngayalnya kreatip.
"Memang lo yang nyelamatin dia pas tenggelam, tapi tetap aja lo nyelamatin si iblis itu kan? Lo masih kayak dulu, De."
Mata gue dan Delta saling menumbuk, gue menunduk memperhatikan jemari gue yang membiru kedinginan. "Alpa," panggil Delta.
Panggilan masa kecil gue dulu. Berbeda, dia hanya manggil 'Alpa' bukan 'Alpha'. Dan itu membuat hati gue hangat.
"....."
Terus terang gue gak berani menatap dia lagi, setelah ingatan itu balik. Rasanya kayak luka bakar yang dioles jeruk nipis.
"Dengarin gue, bodoh!"
"Ngapain lo bentak dia, hah?!"
Masih dengan wajah menunduk, gue bangun dari kasur menuju pintu tempat Delta berdiri. Melewati Saga lalu melewati Delta. Setelah itu lari secepatnya tanpa peduli Bintang di mana. Itu yang gue lakukan sekarang, hanya bisa lari dari kenyataan. Kenyataan kalau Saga gak seperti yang gue bayangkan, dan Delta pernah mengusir gue dulu.
Terlalu sakit buat sekarang, entah buat besok atau seterusnya. Yang gue tahu, dibanding mereka berdua gue lebih menyayangi Ayah walaupun dia sekasar apapun terhadap gue. Dia yang membuat gue mampu berdiri menghidupi Bintang seorang diri. Dan semua ucapannya seperti api menyala yang diberikan ke anak kecil gak tahu diri kayak gue. Agar tetap menjadi pribadi yang kuat tanpa perlu menengadahkan tangan meminta bantuan orang lain.
Ayah, seandainya Tuhan beri kesempatan hidup sekali lagi Alpha gak akan menyesal pernah menjadi anak Ayah.
Langkah gue menyusuri jalanan yang sepi dengan banyak pohon besar di sekeliling. Entah kenapa sekarang baju yang gue kenakan udah diganti dengan baju casual. Mungkin punya Hazel juga, tapi bahannya terlalu tipis buat dinginnya udara malam.
"Hachim!"
Gue bersin entah yang ke berapa kalinya, memegang kedua lengan sambil menstabilkan deru napas.
Udara dan suasananya mirip dengan situasi saat itu, saat gue dan Bintang kehilangan Bunda dan Ayah bersamaan.
"Hiks..."
Kenapa jadi sesedih ini sih?
Rasanya bertahun-tahun ini gak ada yang berubah, gue masih seperti Alpha cengeng yang dulu. Yang mudah diolok-olok dan dipermainkan, selalu menangis dan jadi objek pelampiasan.
"Ndah..." tangis gue sambil memeluk lutut, berharap Bunda memeluk gue sekarang juga. Bagaimana pun dalam pelukannya gue selalu merasa aman.
"Bunda..."
"Gue di sini."
Saat itu punggung gue hangat, suaranya mampu membuat tangisan gue terhenti.
×××
Sukses selalu thor
tapi gila keren kak karya mu👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️