Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekanan yang Tak Biasa
"Iri sama kamu? Kamu itu cuma anak angkat di keluarga Tanudjaja, apa yang perlu diirikan oleh pewaris sah?"
Naya Wardhana tersenyum sinis, nada suaranya penuh ejekan namun menusuk tajam. "Manda, kamu boleh saja menyesatkan satu sekolah biar mereka pikir kamu putri kandung keluarga ini, tapi fakta soal darah daging itu nggak akan berubah."
Kalimat itu menghantam dada Manda Tanudjaja seperti palu godam. Wajahnya seketika pucat pasi. Rahasia terdalam yang ia kubur rapat-rapat kini ditelanjangi Naya di hadapan seluruh siswa kelas X-7.
Sementara geng Melly Gunawan yang biasanya memuja Manda kini terduduk lemas di lantai, syok berat.
"Man... i-itu beneran?" tanya Melly gemetar.
Salma Tanudjaja melangkah maju, menatap Melly dengan angkuh. "Menurutmu, antara aku dan Manda, siapa yang lebih mirip dengan Ayah dan Ibu?"
Mendengar itu, seisi kelas sontak memperhatikan wajah Salma. Garis wajahnya yang sempurna benar-benar cetakan asli dari Pak Seno dan Ibu Shintia. Mereka terbungkam.
Tubuh Manda gemetar hebat. Ia menatap Naya nyalang. "Kapan aku bilang aku pewaris tunggal? Itu asumsi kalian sendiri! Naya, kamu fitnah aku cuma karena kamu teman Salma!"
"Fitnah?" Salma tertawa kecil, langkahnya perlahan memojokkan Manda. "Kakakku sayang, sepertinya kamu belum sadar situasi."
Dengan gerakan kilat, Salma menyambar pergelangan tangan Manda.
"Farel, sini sebentar. Coba lihat ini, biar Kakakku yang tersayang ini nggak bisa ngeles lagi."
Farel Barata, sang Ketua OSIS, mendekat dengan kening berkerut. Salma membuka paksa kepalan tangan Manda.
Di sana, di telapak tangan dan sela-sela jarinya, tertulis deretan jawaban ujian yang sangat rapat.
"Bukti apa lagi ini?" sindir Salma datar.
Di sampingnya, Aksa Abhimana sudah beraksi. Cekrek! Cekrek! Ponselnya mengabadikan tangan Manda dari berbagai sudut sebagai barang bukti tak terbantahkan.
Manda merasa seperti jatuh ke lubang es. Ia menarik tangannya kasar, air mata buayanya mulai menetes.
"Siapa yang bisa buktiin aku nyontek? Salma, aku tahu kamu mau menghancurkan aku. Semalam, susu yang kamu kasih pasti ada obat tidurnya, kan? Kamu menjebakku!"
"Wow, kemampuanmu memutarbalikkan fakta memang level dewa," cibir Salma. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Manda.
"Selama ini, kamu dan kak Riko ingin melahap harta keluarga kami, kan? Manda, kamu itu serigala berbulu domba. Aku akan menghancurkanmu, sedikit demi sedikit."
Manda menatap mata Salma yang penuh kilat permusuhan. Rasa dingin merambat ke ubun-ubunnya.
"Farel, tolong putar rekaman CCTV kelas ini tadi pagi," pinta Salma santai.
Manda tersentak, tapi dalam hati ia tersenyum licik. Tempat dudukku itu blind spot CCTV!
"Manda, kamu pikir kamu aman?" Salma seolah membaca pikirannya. "Coba lihat ke atas. Di dekat detektor asap, ada kamera tambahan yang baru dipasang."
Manda mendongak, dan dunianya runtuh. Lensa kecil itu menatapnya seperti mata malaikat pencabut nyawa.
Tak lama, Farel memutar rekaman di komputer kelas. Di layar monitor HD itu, terlihat jelas gerak-gerik Manda yang menyalin jawaban dari telapak tangannya. Bukti mutlak.
Manda jatuh terduduk. Tatapan jijik dari teman sekelasnya membuatnya ingin lenyap dari muka bumi.
Salma berjongkok, mengangkat dagu Manda dengan telunjuknya. "Keluarga Tanudjaja kurang baik apa sama kamu? Sampai kamu tega berniat menghancurkan aku?"
Manda bungkam.
Salma menghempaskan dagu itu dengan jijik, lalu berdiri menatap Farel. "Ketua OSIS, kebenaran sudah terungkap. Ingat nggak waktu kamu bilang aku punya rekam jejak buruk dan yakin banget aku yang nyuri soal?"
"Jangan ngelunjak!" Hana, anggota OSIS pengikut Manda, mencoba membela. "Wajar dong kami curiga, barang buktinya ada di mejamu!"
"Matamu buta?" Suara dingin Aksa memotong, membuat suasana membeku. "Kalau nggak buta, sini aku bantu bikin buta sekalian."
Aura membunuh yang dipancarkan Aksa membuat Hana gemetar dan mundur ketakutan.
Farel, yang sadar posisinya salah, berjalan ke hadapan Salma dan membungkuk dalam. "Ini kesalahanku. Maafkan aku, Salma."
Aksa langsung menarik Salma ke belakang punggungnya. "Salma kami nggak butuh permintaan maaf palsu kayak gitu."
Farel kaku. Aksa menoleh pada Salma, menyindir habis-habisan. "Sal, lihat baik-baik. Orang yang nggak bisa bedain hitam dan putih biasanya IQ-nya rendah. Jangan dekat-dekat."
Wajah Farel menggelap, tapi ia tak bisa membantah.
Salma menatap Manda yang masih linglung. "Manda, aku kasih kamu kesempatan. Pilih satu guru untuk bikin soal baru. Kalau nilaimu lebih tinggi satu poin aja dari aku, aku anggap aku kalah, dan rencana kamu dikirim ke luar negeri batal."
"Sal... Salma, kamu nggak perlu buktiin apa-apa," Melly Gunawan tiba-tiba menyela, berusaha menjilat. "Kami percaya nilaimu murni. Dulu kami cuma korban hasutan Manda. Maafin kami ya, Salma cantik?"
Teman-teman lain yang tadi menghina Salma kini berebut mencari muka. "Iya, Salma kan hatinya kayak malaikat!"
Salma tersenyum manis, senyum yang mematikan. "Aku malaikat? Terus tadi siapa yang teriak nyuruh aku keluar dari sekolah karena menjijikkan?"
Melly dan kawan-kawannya pucat pasi. "Ka-kami... kami memang pantas mati!"
"Memang pantas," sahut Salma dingin. "Ketua Farel, siswa yang menghina teman sekelas di depan umum, hukumannya apa?"
Farel menelan ludah. Ia tahu ia tak bisa melawan keluarga Tanudjaja. "Dikeluarkan dari sekolah. Aku akan laporkan ke kepala sekolah."
Melly dan gengnya lemas seketika.
"Mengenai Manda," lanjut Farel tanpa emosi, "Jabatanmu di OSIS dicopot. Tunggu surat skorsing."
"Farel, kamu..." Manda tak menyangka cowok yang ia taksir bisa sekejam ini.
"Soal pencurian ujian itu aku yang suruh orang melakukannya. Nggak ada hubungannya sama Manda."
Suara dingin dan berat memecah kerumunan. Sesosok pemuda tinggi tegap muncul di ambang pintu, menghalangi cahaya matahari.
Manda menoleh, matanya berbinar. "Kak Riko..."
Riko Tanudjaja melangkah masuk. Wajahnya tidak tampan dalam artian konvensional, tapi matanya yang sipit memanjang memancarkan aura angkuh dan suram yang membuat orang secara naluriah ingin menjauh.
Salma mengepalkan tangan. Akhirnya ular ini pulang juga.
Aksa bergeser, memblokir tatapan Riko yang terkunci pada Salma.
"Kamu siapa?" bentak Farel, merasa terancam lagi.
Riko mengabaikannya, berjalan lurus ke arah Manda dan mengusap air matanya. "Kenapa bikin diri sendiri semenyedihkan ini, hm?"
"Kakak sudah pulang..." isak Manda.
Riko berbalik, menatap Farel dengan mata sedingin es kutub. "Aku yang menyuruh orang mencuri soal ujian kelas satu. Kenapa soal itu ada di laci kedua adikku? Simpel, aku mau menghukum mereka. Sebagai kakak yang 'dibuang' ke luar negeri, wajar kan aku punya sedikit rasa kesal?"
Riko berkata santai, seolah membicarakan cuaca, lalu menatap tajam Farel.
"Kamu Ketua OSIS? Kalau kabar pencurian soal ini bocor, reputasi Citra Bangsa akan hancur. Kalau aku jadi kamu, aku akan kubur kasus ini, bukan koar-koar. Aib keluarga nggak boleh diumbar, kan?"
Farel mati kutu. Riko benar.
"Aku akan jelaskan ke dewan sekolah. Dan kalau sampai aku dengar desas-desus ini di luar, penyebarnya nggak akan hidup tenang," ancam Riko halus namun mematikan.
"Urusan sekolah, kapan giliran orang luar yang memutuskan?"
Suara Aksa tenang tapi penuh tekanan. Ia berdiri tegak, tak gentar sedikit pun. "Silakan keluar, atau dipaksa keluar."
Mata Riko menyipit, menatap Aksa. Ia merasakan tekanan yang tak biasa.
"Salma, sudah lama nggak ketemu, nggak mau panggil Kakak?" Riko mengalihkan target, mencoba menarik tangan Salma.
Salma menghindar. "Kak," panggilnya dingin.
Aksa mendorong Salma lebih jauh ke belakangnya, berbisik dengan nada rendah yang hanya didengar mereka berdua. "Riko Tanudjaja, kalau kamu mau ikut campur di sini, pastikan bisnis di Los Angeles aman-aman saja."
Riko tertegun. Ancaman macam apa ini?
"Coba saja," tantang Aksa.
Tekad di mata Aksa membuat Riko sadar, pemuda ini bukan orang sembarangan. Bahkan Riko gagal melacak latar belakangnya.
"Hah! Baiklah," Riko menyudahi konfrontasi. Ia menatap Manda. "Masih nggak mau pulang?"
Manda buru-buru mengejar Riko seperti narapidana yang mendapat amnesti.
Di ambang pintu, Riko berhenti dan menoleh ke Farel. "Farel Barata, jangan coba-coba melawan keluarga Tanudjaja. Kamu nggak akan mampu."
Mereka berjalan keluar. Di lorong yang sepi, Manda berbisik penuh syukur. "Kak, makasih banyak."
Riko berhenti mendadak. Tatapannya kosong dan dingin. "Aku nggak nolong kamu. Aku nolong nama baik keluarga. Manda, kamu benar-benar bodoh!"
Senyum Manda lenyap.
"Nyontek itu satu hal, tapi mau ngejebak Salma? Kamu tahu siapa Aksa Abhimana?" desis Riko. "Bahkan aku nggak bisa melacak asal-usulnya. Kamu baru saja menendang plat besi! Jangan bertindak gegabah lagi, atau kamu siap-siap ditendang dari keluarga."
Kembali di kelas, suasana hening mencekam. Farel pergi dengan wajah gelap gulita.
Naya menyenggol Salma. "Sal, cowok tadi siapa sih? Auranya serem banget."
"Kakak angkatku, Riko," jawab Salma datar. "Biarin aja."
"Jadi masalah ini selesai gitu aja karena dia belain Manda?" Naya protes.
Salma tersenyum tipis, kilatan licik melintas di matanya. "Mana mungkin?"
Video bukti itu pasti akan sampai ke tangan Ayahnya. Tidak perlu dipublikasikan, yang penting Ayahnya tahu kelakuan asli anak emasnya. Mari kita lihat siapa yang aktingnya lebih jago.
"Yuk cabut. Hari ini batal ujian," ajak Aksa, kembali menjadi remaja kalem seolah mode membunuhnya tadi tidak pernah ada.
Salma membereskan mejanya yang berantakan. Teman-teman sekelasnya yang tadi menghina kini maju mundur, ingin membantu tapi malu.
"Salma... maafin kami ya. Kami cuma ikut-ikutan Manda..."
"Iya, Salma, kamu kan baik hati..."
Salma menghentikan tangannya, menatap sekeliling kelas dengan senyum yang membuat bulu kuduk merinding.
"Maafin kalian? Emangnya kalian siapa? Kalau aku tusuk jantung kalian dua kali terus bilang 'oops, sorry', apa bisa dimaafin?"
Kelas hening.
"Kalian ini udah remaja, masa nggak bisa bedain benar salah? Kalian bukan bodoh, kalian cuma penjilat yang mau nyari muka sama Manda. Tapi ingat satu hal..."
Salma menatap mereka satu per satu.
"Kalau nanti di masa depan Grup Tanudjaja ada di tanganku, jangan harap perusahaan keluarga kalian bisa dapat kerja sama."
Kalimat itu seperti vonis mati. Wajah mereka pucat pasi. Harapan bisnis keluarga mereka hancur hanya karena mulut mereka yang lemes.
Salma tak peduli lagi. Ia melenggang keluar kelas diapit Aksa dan Naya.
"Hahaha! Muka mereka tadi kayak lampu diskotik! Puas banget gue!" Naya tertawa terbahak-bahak di lorong sekolah.
"Nona Besar Wardhana, ketawanya dikontrol dong. Nanti aku blokir lho," canda Salma.
"Bodo amat! Eh, tapi beneran, Aksa tadi sadis banget. Sal, tolong pawangnya dikondisikan!" rengek Naya saat Aksa kembali menyindirnya.
Aksa menaikkan alis santai. "Kamu gangguin pacarku, ya aku bela pacarku dong."
"Hiks, dasar bucin! Lupa teman!"
Salma tertawa lepas, merangkul bahu Naya. "Tenang aja, Nay. Dibanding nasib Manda, hidupmu masih jauh lebih indah kok."
penampilan cupu ternyata suhu 😂