NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan / Tamat
Popularitas:43.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Keesokan harinya, Nara selesai jalan-jalan pagi ia duduk sebentar di teras depan, ia baru menyadari ada yang berubah ketika rasa pusing itu tidak pergi bahkan setelah ia duduk cukup lama. Bukan pusing yang membuat dunia berputar, hanya sensasi ringan seperti kapas basah di kepala, mengganggu, tapi tidak cukup parah untuk dikeluhkan.

Ia menepisnya.

Masih pagi, pikirnya. Mungkin hanya kurang minum.

Namun siang bergeser tanpa ia sadari, dan langkahnya mulai terasa lebih berat. Saat Nara hendak mengambil piring di rak atas, tangannya gemetar sedikit. Piring itu tidak jatuh, tapi bunyi gesekannya cukup membuat Albi menoleh.

“Kamu kenapa?”

Nada Albi biasa saja. Tidak panik. Tidak menuduh.

“Enggak,” jawab Nara cepat, terlalu cepat. “Cuma agak ringan kepalanya.”

Albi tidak langsung membalas. Ia hanya memperhatikan wajah Nara beberapa detik lebih lama dari biasanya, lalu mengambil piring itu dan meletakkannya di meja.

“Duduk,” katanya singkat.

Bukan perintah keras. Lebih seperti kebiasaan seseorang yang sudah mengambil keputusan.

Nara hanya bisa menurut.

Albi pergi ke kamar sebentar, lalu kembali dengan segelas air dan botol vitamin. Ia meletakkan semuanya di depan Nara tanpa banyak suara. Setelah itu, ia mengambil sesuatu dari saku kemejanya, catatan kecil yang kertasnya mulai kusut.

Nara tahu isi kertas itu bahkan sebelum Albi membacanya.

“Ini,” ujar Albi, menyodorkan catatan kecil itu.

“Kalau pusing, minum air dulu. Jangan berdiri lama. Vitaminnya jangan dilewatkan.”

Tulisan tangan Albi selalu rapi, kaku, tapi konsisten. Tidak ada kata manis. Tidak ada emotif. Hanya pengingat yang ditulis seolah-olah tubuh Nara adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan diuji.

“Kamu nulis ini kapan?” tanya Nara pelan.

“Tadi malam,” jawab Albi jujur. “Aku lihat kamu sering pegang kepala.”

Nara menunduk. Dadanya terasa hangat, bukan karena romantis, tapi karena untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus menjelaskan keadaannya agar dipercaya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Beberapa hari kemudian, pusing itu kembali datang. Tidak semakin parah, tapi cukup membuat bidan menyarankan Nara datang lebih cepat dari jadwal kontrol.

Albi yang mengantarnya. Di ruang periksa, bidan menjelaskan dengan nada ringan, seolah ini hal biasa.

“Tekanan darahnya agak turun. Ibu harus lebih banyak istirahat. Jangan terlalu capek. Ini masih normal, tapi jangan diabaikan.”

Albi mengangguk. Ia bertanya secukupnya. Tidak berlebihan, tapi jelas ingin paham.

“Kalau pusing datang lagi?”

“Langsung duduk. Jangan memaksakan.”

Saat mereka keluar, Albi berjalan sedikit di belakang Nara. Tangannya tidak menggenggam, tapi selalu siap jika sewaktu-waktu Nara berhenti.

Di perjalanan pulang, Albi justru membelokkan motornya ke arah lain, dan itu benar-benar membuat Nara mengernyitkan dahinya.

“Bi, kita ke mana?” tanya Nara.

“Bentar,” jawab Albi singkat.

Motor itu berhenti di area persawahan yang ditanami bunga. Meski dibatasi plastik, pemandangan itu cukup membuat mata Nara berbinar.

“Indah,” gumamnya pelan.

“Aku pikir kamu perlu lihat yang begini,” kata Albi. “Biar gak capek mikir.”

Nara mengangkat entah kenapa ia langsung berjalan menghampiri dinding plastik bunga itu. "Ya sayang, bunganya di tutup plastik," kata Nara sedikit kecewa.

"Iya itu punya Pak Ilham, belum di panen, kalau sebelahnya punyaku, yang satu Minggu lalu sudah di panen," ujar Albi.

Nara pun melihat dengan kagum, bunga-bunga yang ada di persawahan ini, meskipun tidak bisa masuk karena di kelilingi dinding plastik, setidaknya ia bisa memandang keindahan ini dengan puas.

"Ayo ke tempatku saja, meskipun bunganya sudah di panen setidaknya masih ada sebagian yang baru muncul," ajak Albi.

Dengan senang hati Nara menerima ajakan Albi, dan di dalam rumah plastik itu Nara merasa cukup bahagia, apalagi di kelilingi berbagai jenis bunga yang di tanam di kebun Albi.

"Bi, kenapa pas panen kemarin aku gak diajak?" tanya Nara dengan cemberut.

"Kamu masih gak boleh capek," sahut Albi singkat, tapi cukup membuat Nara merasa diperhatikan.

Nara pun mulai duduk di tikar yang sudah di sediakan oleh Albi untuk tempat istirahat jika lelah. “Bi, nanti kalau anak kita sudah lahir, aku boleh ikut kerja di kebun?” tanya Nara pelan.

Albi menggeleng. “Bukan sekarang. Aku gak mau kamu capek.”

"Lah kenapa?" tanya Nara.

"Kalau memang kamu mau kerja, cukup ngecek dan mencatat saja, aku gak mau kamu capek," ujar Albi.

Nara pun hanya terdiam, hingga akhirnya keduanya sudah merasa puas dan sama-sama memutuskan untuk pulang.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malamnya, Nara duduk di tepi ranjang, sambil menatap, kalender, yang terpajang di dinding, ia tersenyum samar. "Sayang, sebentar lagi kamu hadir, semoga kamu bahagia ya," ucap Nara, tanpa ia sadari diatas meja rias ia menemukan catatan kecil, dari Albi.

Minum vitamin.

Kalau pusing, panggil aku.

Gak perlu kuat sendirian.

Nara melipat kertas itu perlahan.

Tubuhnya memang belum sepenuhnya stabil. Kepalanya masih kadang terasa ringan. Tapi ada sesuatu yang berubah, bukan pada tubuhnya, melainkan pada caranya menghadapi keadaan itu.

Untuk pertama kalinya, Nara tidak melawan rasa tidak enak itu sendirian. Ia membiarkan seseorang berdiri cukup dekat, tanpa harus masuk terlalu dalam. Dan ternyata, itu tidak menakutkan.

Nara menyandarkan punggung ke kepala ranjang, menutup mata sejenak, membiarkan kata-kata itu tinggal lebih lama di dadanya. Mungkin aku tidak harus selalu kuat, batinnya pelan. Mungkin lelah bukan tanda gagal.

Selama ini Nara selalu bertahan sendirian, seolah jika ia lengah sedikit saja, dunia akan kembali menilainya. Tapi sekarang, ada tangan yang tidak menarik atau mendorongnya hanya siap jika ia butuh bersandar.

Ia mengusap perutnya pelan. “Nak, mungkin Ibu akhirnya belajar… hidup tidak selalu harus dimenangkan sendirian.”

Dan malam ini Nara tahu, jika menerima kehadiran Albi bukanlah suatu kesalahan, ia tahu, tidak semua orang sama, mereka kadang mempunyai alasan tersendiri untuk pergi, dan Albi merupakan sosok yang tetap berdiri, tanpa harus ia menjelaskan sesuatu.

Bersambung ...

Minta doa ya semoga lolos bab 20 ... Aamiin 🤲🤲🤲🤲🤲

1
Linggo Yani
suka tapi sedih
Sugiharti Rusli
semoga takdir yang harus memisahkan mereka sekarang jadi bekal bagi Arbani ke depannya dan tetap menjadikan sosok Albi sebagai ayah yang selalu hadir❤❤🤍
Sugiharti Rusli
Albi mengajarkan kalo kasih sayang dan ketulusan bukan hanya soal darah siapa yang mengalir, dan Arbani telah merasakan sosok seorang bapak selama 9 tahun ini
Sugiharti Rusli
dan sepertinya kepulangan mereka ke kampung halaman memang menjadi keinginan Albi agar pergi di tempat dan bersama orang" yang dia sayangi selama ini
Sugiharti Rusli
karena cinta dan ketulusan Albi kepada Nara dan Arbani tuh sangat menyentuh
Sugiharti Rusli
asli baca part ini air mata terus mengalir dan turut merasakan perpisahan mereka😭
Ummee
makasih kak author...
ada bonus chapter kah? hehe
Ummee
huuaaaa.... 😭😭😭
aku nangis ini kak...
Rohmi Yatun
😭😭😭😭😭😭ahh sedihh..
ari sachio
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Kasih Sklhqu
terimakasih Thor 🙏 ditunggu karya berikutnya 🙏
Lisa
Terimakasih y Kak Ayu utk kisahnya..meskipun endingnya sedih..tp ada pelajaran sangat berharga yaitu dari seorang laki2 yg tulus merawat anak yg bukan anak kandungnya..
Ayumarhumah: Sama-sama Kakak ....
total 1 replies
Naim
bahasanya kebanyakan di campur"
Naim
baca nya ribett
Ayumarhumah: itu translate banyak yang gak tahu bahasa Jawa. karena kebanyakan yang baca dari luar pulau. makanya minta translate.
total 1 replies
Naim
bahasanya kalo bisa indo aja, kalo mau ada jawa jangan terlalu banyak jadi kya aneh bacanya
Ayumarhumah: aku di sini hanya ikut event. dan event itu hastagnya romansa pedesaan dan di event itu harus menggunakan bahasa daerah 🙏 nah saat aku menggunakan bahasa daerah banyak pembacaku yang gak ngerti akhirnya aku kasih translate. kalau kakak gak suka skip saja dari pada beri bintang satu.
total 1 replies
Naim
bahasanya belibet
ari sachio
antara Aku,Suamiku dan Mantanku

antara Aku, ibuku,dan Kedua Bapaku
Sugiharti Rusli
apalagi sekarang mereka sudah bisa saling memahami dengan Ardan yang notabene ayah biologis Arbani,,,
Sugiharti Rusli
meski sakit yang Albi derita belum tahu ujungnya sampai kapan, tapi pulangnya mereka semoga menjadi obat dan semangat baru lagi,,,
Lisa: Amin..setuju banget Kak..
total 1 replies
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Albi sekarang bukan kesembuhan penuh yang dia harapkan, tapi berkumpul bersama sang putra yang sangat dia sayangi,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!