NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Keesokan harinya, Nara selesai jalan-jalan pagi ia duduk sebentar di teras depan, ia baru menyadari ada yang berubah ketika rasa pusing itu tidak pergi bahkan setelah ia duduk cukup lama. Bukan pusing yang membuat dunia berputar, hanya sensasi ringan seperti kapas basah di kepala, mengganggu, tapi tidak cukup parah untuk dikeluhkan.

Ia menepisnya.

Masih pagi, pikirnya. Mungkin hanya kurang minum.

Namun siang bergeser tanpa ia sadari, dan langkahnya mulai terasa lebih berat. Saat Nara hendak mengambil piring di rak atas, tangannya gemetar sedikit. Piring itu tidak jatuh, tapi bunyi gesekannya cukup membuat Albi menoleh.

“Kamu kenapa?”

Nada Albi biasa saja. Tidak panik. Tidak menuduh.

“Enggak,” jawab Nara cepat, terlalu cepat. “Cuma agak ringan kepalanya.”

Albi tidak langsung membalas. Ia hanya memperhatikan wajah Nara beberapa detik lebih lama dari biasanya, lalu mengambil piring itu dan meletakkannya di meja.

“Duduk,” katanya singkat.

Bukan perintah keras. Lebih seperti kebiasaan seseorang yang sudah mengambil keputusan.

Nara hanya bisa menurut.

Albi pergi ke kamar sebentar, lalu kembali dengan segelas air dan botol vitamin. Ia meletakkan semuanya di depan Nara tanpa banyak suara. Setelah itu, ia mengambil sesuatu dari saku kemejanya, catatan kecil yang kertasnya mulai kusut.

Nara tahu isi kertas itu bahkan sebelum Albi membacanya.

“Ini,” ujar Albi, menyodorkan catatan kecil itu.

“Kalau pusing, minum air dulu. Jangan berdiri lama. Vitaminnya jangan dilewatkan.”

Tulisan tangan Albi selalu rapi, kaku, tapi konsisten. Tidak ada kata manis. Tidak ada emotif. Hanya pengingat yang ditulis seolah-olah tubuh Nara adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan diuji.

“Kamu nulis ini kapan?” tanya Nara pelan.

“Tadi malam,” jawab Albi jujur. “Aku lihat kamu sering pegang kepala.”

Nara menunduk. Dadanya terasa hangat, bukan karena romantis, tapi karena untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus menjelaskan keadaannya agar dipercaya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Beberapa hari setelah itu, pusing itu datang dan pergi. Tidak makin parah, tapi cukup membuat bidan menyarankan Nara datang lebih cepat dari jadwal kontrol berikutnya.

Albi yang mengantarnya. Di ruang periksa, bidan menjelaskan dengan nada ringan, seolah ini hal biasa.

“Tekanan darahnya agak turun. Ibu harus lebih banyak istirahat. Jangan terlalu capek. Ini masih normal, tapi jangan diabaikan.”

Albi mengangguk. Ia bertanya secukupnya. Tidak berlebihan, tapi jelas ingin paham.

“Kalau pusing datang lagi?”

“Langsung duduk. Jangan memaksakan.”

Saat mereka keluar, Albi berjalan sedikit di belakang Nara. Tangannya tidak menggenggam, tapi selalu siap jika sewaktu-waktu Nara berhenti.

Di perjalanan pulang, Albi berkata, “Mulai sekarang, kamu jangan ngerjain semua sendiri.”

“Aku gak lemah,” sahut Nara refleks.

“Aku tahu,” jawab Albi tanpa menoleh. “Justru karena kamu gak lemah, kamu harus dijaga.”

Kalimat itu membuat Nara terdiam, Albi pun langsung menghidupkan mesin motornya, ia membonceng Nara dengan pelan dan penuh hati-hati.

Di perjalanan Albi sengaja, membelokan motornya bukan ke arah pulang, melainkan ke arah lain yang membuat kening Nara berkerut.

"Bi, kenapa gak pulang?" tanya Nara.

"Bentar, kita berhenti ke suatu tempat dulu, kamu itu sedang hamil, biar gak jenuh kita berhenti ke suatu tempat yang mungkin bisa buat kamu senang," sahut Albi.

Nara hanya mengangguk kecil, padahal di dalam rumah pun ia gak merasa jenuh, mungkin saja Albi berpikir seperti itu karena takut Nara kenapa-napa.

Motor Albi sudah terhenti di sebuah tempat, persawahan, tapi sebagian masyarakat sini menanamnya dengan bunga, mata Nara melebar takjub saat tahu tempat sederhana ini terlihat sangat menyejukkan mata.

"Bi, indah sekali," gumam Nara.

"Kamu suka?" tanya Albi.

Nara mengangkat entah kenapa ia langsung berjalan menghampiri dinding plastik bunga itu. "Ya sayang, bunganya di tutup plastik," kata Nara sedikit kecewa.

"Iya itu punya Pak Ilham, belum di panen, kalau sebelahnya punyaku, yang satu Minggu lalu sudah di panen," ujar Albi.

Nara pun melihat dengan kagum, bunga-bunga yang ada di persawahan ini, meskipun tidak bisa masuk karena di kelilingi dinding plastik, setidaknya ia bisa memandang keindahan ini dengan puas.

"Ayo ke tempatku saja, meskipun bunganya sudah di panen setidaknya masih ada sebagian yang baru muncul," ajak Albi.

Dengan senang hati Nara menerima ajakan Albi, dan di dalam rumah plastik itu Nara merasa cukup bahagia, apalagi di kelilingi berbagai jenis bunga yang di tanam di kebun Albi.

"Bi, kenapa pas panen kemarin aku gak diajak?" tanya Nara dengan cemberut.

"Kamu masih gak boleh capek," sahut Albi singkat, tapi cukup membuat Nara merasa diperhatikan.

Nara pun mulai duduk di tikar yang sudah di sediakan oleh Albi untuk tempat istirahat jika lelah. "Bi, besok, kalau anakku lahir ijinkan aku kerja ikut tanam bunga seperti ini," ucap Nara.

"Aku gak kasih," tolak Albi.

"Lah kenapa?" tanya Nara.

"Kalau memang kamu mau kerja, cukup ngecek dan mencatat saja, aku gak mau kamu capek," ujar Albi.

Nara pun hanya terdiam, hingga akhirnya keduanya sudah merasa puas dan sama-sama memutuskan untuk pulang.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malamnya, Nara duduk di tepi ranjang, sambil menatap, kalender, yang terpajang di dinding, ia tersenyum samar. "Sayang, sebentar lagi kamu hadir, semoga kamu bahagia ya," ucap Nara, tanpa ia sadari diatas meja rias ia menemukan catatan kecil, dari Albi.

Minum vitamin.

Kalau pusing, panggil aku.

Gak perlu kuat sendirian.

Nara melipat kertas itu perlahan.

Tubuhnya memang belum sepenuhnya stabil. Kepalanya masih kadang terasa ringan. Tapi ada sesuatu yang berubah, bukan pada tubuhnya, melainkan pada caranya menghadapi keadaan itu.

Untuk pertama kalinya, Nara tidak melawan rasa tidak enak itu sendirian. Ia membiarkan seseorang berdiri cukup dekat, tanpa harus masuk terlalu dalam. Dan ternyata, itu tidak menakutkan.

Nara menyandarkan punggung ke kepala ranjang, menutup mata sejenak, membiarkan kata-kata itu tinggal lebih lama di dadanya. Mungkin aku tidak harus selalu kuat, batinnya pelan. Mungkin lelah bukan tanda gagal.

"Selama ini aku bertahan dengan menegangkan bahu, seolah kalau aku lengah sedikit saja, dunia akan kembali menunjuk dan menilai. Tapi sekarang… ada tangan yang tidak menarikku, tidak juga mendorongku—hanya siap kalau aku butuh bersandar," gumamnya pelan.

Ia mengusap perutnya perlahan. "Nak, kalau nanti kamu bertanya kenapa Ibu bisa tenang, mungkin karena Ibu akhirnya belajar: hidup tidak selalu harus dimenangkan sendirian."

Dan malam ini Nara tahu, jika menerima kehadiran Albi bukanlah suatu kesalahan, ia tahu, tidak semua orang sama, mereka kadang mempunyai alasan tersendiri untuk pergi, dan Albi merupakan sosok yang tetap berdiri, tanpa harus ia menjelaskan sesuatu.

Bersambung ...

Minta doa ya semoga lolos bab 20 ... Aamiin 🤲🤲🤲🤲🤲

1
Sugiharti Rusli
apa saat nanti Ardan tahu kalo Arbani adalah darah dagingnya sendiri, dia akan menuntut kepada sang mantan istri🙄🙄
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Nara yang berasal dari keluarga broken home, dia malah menyalah kan dirinya yang tidak bisa melakukan apa yang menurut suaminya berlebihan kala itu,,,
Sugiharti Rusli
padahal sikap Nara dulu adalah selayaknya seorang istri yang bertanya, tapi bagi Ardan dulu itu adalah gangguan,,,
Sugiharti Rusli
dan ternyata dia menyadari kalo yang punya masalah dulu saat berumah tangga dengan Nara adalah dirinya sendiri,,,
Sugiharti Rusli
mungkin si Ardan definisi laki" atau suami yang tidak pandai bersyukur yah dia dulu,,,
Sugiharti Rusli
tapi takdir malah mempertemukan mereka cepat dan sang putra masih belum dewasa buat mengerti kalo suatu saat dia harus berkata jujur tentang jati diri ayah kandung Arbani,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Nara tidak pernah berharap dia akan menjumpai lagi mantan suaminya seumur hidup yah,,,
Sugiharti Rusli
entah apa nanti Arbani akan mempertanya kan siapa sebenarnya laki" itu dan kenapa sang ibu mengenalnya,,,
Sugiharti Rusli
meski Nara tidak mengatakan apa" tentang sang putra kepada Ardan, tapi sepertinya Ardan tahu kalo itu anak kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
wah ternyata pertemuan tak terduga antara Nara dan Ardan lebih cepat terjadi yah sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang ada istilah darah lebih kental dari pada air yah, entah apa nanti sosok Ardan apa akan bisa masuk dalam diri Arbani kalo dia tahu itu ayah kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
bahkan cara dia mengingatkan sang ayah buat minum obat maupun makan juga dilakukan dengan perkataan yang tidak memaksa, tapi justru membuat Albi merasa bersalah padanya,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya Arbani juga tipikal anak yang penurut dan mudah diarahkan, karena dia dibesarkan dengan kasih yang tulus dari kedua ortunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sang ayah maupun ibunya tidak berkata dengan nada keras selama ini, baik menegur maupun dalam bicara sehari-hari
Sugiharti Rusli
bahkan di mata teman" nya sosok Arbani sangat berbeda yah, sepertinya ada unsur pola asuh kedua ortunya yah,,,
Sugiharti Rusli
kalo dalam pendidikan Parenting sekarang, apa yang Arbani rasakan dia tidak nengalami yang namanya 'Fatherless' bersama Albi,,,
Sugiharti Rusli
apa nanti kalo Albi pergi, sang putra akan memendam rasa kehilangan akan sosok sang ayah yah, mengingat Albi sudah jadi sosok pahlawan bagi dirinya,,,
Sugiharti Rusli
dan Arbani tuh menunjukannya bukan dengan hal" yang besar, tapi hal kecil yang sangat menyentuh yah😔😔😔
Sugiharti Rusli
meski usianya masih kanak", cintanya sebagai anak sangat tulus kepada ayahnya yang dia tahu sangat menyayanginya sejak bayi,,,
Sugiharti Rusli
sejatinya apa yang kamu tanam ke Arbani, itulah hasil yang kamu petik sekarang Bi,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!