Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reunian
Pesan dari orang ini... setiap hari selalu saja datang. mengganggu saja. padahal udah di cuekin seminggu lebih... Lama lama ku blokir juga nih... Apa ku balas akan ya? Tapi males banget deh.
Mending lihat chat yang lain aja.. Ternyata dari Dona.
( Ra... dah lama nggak ketemu. kangen nih.. jalan yuk..) tumben banget ni orang ngajak jalan. lahi senggang kali ya
( Tumben banget Don? ingat sama aku? lagi nggak sibuk emang? ) Memang sejak lulus kuliah dia kerja di perusahaan pamannya. Dan karena terlalu sibuk jadi udah jarang banget ketemu. Padahal dulu kemana mana juga bareng.
(Mumpung lagi free.. dan si Sania lagi berkunjung ke sini) Sania di sini? Kalau Sania setelah lulus dia kembali ke Semarang. Tempat asalnya. Mungkin dia kiga lagi nggak sibuk
( Beneran? Sania di sini? kok aku nggak tahu?)
( Makanya yuk jalan bareng)
(Siap... weekend gimana?)
( Ok... ntar kemana jalannya. nyusul deh)
(Mantap)
Rasanya nggak sabar pengen ketemu lagi sama Dona dan Sania. Teman yang selalu bersama dalam suka suka. Hanya saja karena kesibukan masing masing jadi jarang bisa ketemu. Apalagi Sania juga pindah ke luar kota.
Akhirnya weekend datang. Dengan semangat aku bersiap untuk bertemu teman temanku.
( coffe shop biasa ya jam 10 pagi... jangan lupa..)
Pesan Dona semalam saat kami saling membalas pesan.
Hari libur adalah hari yang di tunggu setelah seminggu penuh bekerja. Pagi hari setelah membantu ibu bersih bersih rumah, kami lanjut menyiram tanaman di halaman. Tanaman kesayangan ibu yang tumbuh subur dan terawat.
"Bu... " kataku memulai obrolan
"Iya ra... kenapa" tanya ibu penasaran
" Habis ini aku mau jalan sama Dona sama Sania. Boleh kan bu? "Aku meminta ijin pada ibu sebelum pergi
" Kok tumben... kayaknya udah lama nggak jalan bareng"
" Iya mumpung Sania di sini. boleh kan bu"
"Ya pasti boleh dong.. "
" Iya... " jawabku dengan semangat menggebu. " Kalo gitu Amara mau siap siap dulu ya bu"
Aku berlalu dari hadapan ibu, pergi menuju kamar untuk siap siap. Tapi di ruang tamu berpapasan sama Lala yang kayaknya mau pergi juga.
"Mau kemana La? " tanya ku
" Mau jalan sama Rena dan Nindi. Ya mereka lah teman terdekat Lala saat ini
"Di jemput? "
"Iya biasa kak"
"Kalo gitu motornya biar kakak yang bawa boleh? "Sejak motor ku rusak emang selalu gini. Minjem sama Lala
"Boleh dong. Emang kakak mau ke mana? "
"Mau pergi juga sama Dona"
"Oh ... yaudah pake aja. kuncinya di tempat biasa Tinggal kakak ambil" katanya sambil berlalu menemui jemputan temannya.
Waktu menunjukan pukul 10 kurang 10..menit dan aku sudah berdiri di sini. Di coffe shop langganan kami dulu. Aku memang sengaja datang lebih awal karena saking semangatnya. Aku sengaja duduk di dekat jendela kaca yang menghadap arah pintu agar saat mereka datang aku bisa langsung melihatnya. Sembari menunggu mereka, aku memesan cappuccino latte kesukaanku.
Pesanan datang dan tanpa ragu aku langsung menyeruput nya pelan pelan. Saat itu juga suara seseorang mengagetkan ku. Untung saja nggak tumpah cappuccino ku.
"Hai Amara .... sendirian aja. Aku temenin ya? ". Dialah Arsaka, orang yang nggak pengen ku temui.
" Kamu... *
" Iya. kaget ya. Kebetulan tadi habis ketemu ten juga disini. "
"Nggak nanya. "
"Please ra.. aku pengen ngomong sama kamu. ada yang pengen aku jelasin ke kamu"
" Ngomong aja.. " sahutku malas
" Eh iya...kok chat aku nggak pernah di bales sih? padahal aku pengen ketemu lho"
" Mana ku tahu kalo itu kamu"
" Kamu kok beda ya ra?kayak berubah"
" Kan gara gara kamu"
" Maaf.... "
" Buat apa? dah basi... "
" Waktu itu... hampir lima tahun lalu, aku nggak dateng karena..... karena mendadak papaku sakit dan harus di bawa ke Singapura saat itu juga"
" Tanpa kabar? Asal kamu tahu.. aku disana sampe malam lho... bodoh banget"
"Maaf banget... waktu itu aku bener bener panik*. wajahnya memelas dan ada raut penyesalan di sana. Jadi kasihan. Tapi aku masih sangat marah.
" Ya sudah lah... udah berlalu juga... "
" Kamu maafin aku kan? sumpah selama ini aku benar benar nggak tenang karena aku tahu aku salah. "
" Nggak semudah itu.... Kamu kira selama ini aku bisa tenang? Kamu kira selama ini aku nggak sakit? susah payah aku lupain semua itu". Emosi kita mulai meluap. nada suara ki naik satu oktaf lebih tinggi.
*Maaf.... maaf banget ra. beri aku satu kesempatan lagi. Akan aku perbaiki semuanya. Kita mulai lagi dari awal" ucapnya memohon
"Maaf... rasaku sudah mati untuk mu".
Walaupun aku mengatakannya tapi aku juga sakit sendiri. Apalagi saat ku tahu kalau alasan dia nggak datang adalah karena papanya yang mendadak sakit dan harus segera berobat ke Singapura. Ada rasa bersalah di sana karena terlalu menyalahkan. Tapi seandainya dia memberi kabar pasti tidak akan seperti ini jadinya. Tak bisa di pungkiri masih ada sisa rasa untuknya. Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya rasa sakit ini yang lebih mendominasi. Ingin rasanya bertanya tentang taruhan.Ya karena sebenarnya yang sangat menyakitkan adalah tentang taruhan, tapi ku urungkan karena aku melihat kedua teman yang ku tunggu tunggu sudah datang. Aku melihat mereka masih di liar. Tepat si depan pintu masuk....
Sementara dia diam mematung di hadapan ku. Mungkin kaget atau nggak nyangka. Karena dulu aku terlalu percaya sama dia. Terlalu buta karena cinta. Tapi ini ki libur dalam rasa itu.
" Sudah lah... mending kamu pergi sekarang. Dan lupakan semua tentang kita. Aku sudah terlanjur kecewa sama kamu. Kamu cuma mempermainkan ku. " Aku menyela sebelum dia berucap
"Apa maksud kamu ra? " Dia terlihat bingung. Atau tidak menyangka kalau aku bisa tahu semuanya.
Sebel aku menjawab?, Dona dan Sania telah lebih dulu sampai di meja kami. Sehingga aku urung untuk berucap dan beralih menyapa mereka.
" Hai ra...." sapa mereka serempak setelah sampai di meja ku" kamu sama.... siapa dia? ".Wajah mereka tampak bingung karena aku malah semeja sama orang lain. Dikira aku ngakak dia kali
" Hai. Don... San... kalian lama deh.... kan dah kangen" aku berdiri dari duduk dan langsung berhambur memeluk mereka bergantian. Tapi mereka belum respon karena sepertinya masih penasaran siapa lelaki di hadapan ku ini. " Oh.. dia tan SMA ku dulu... kebetulan tapi nggak sengaja ketemu" akhirnya aku pun menjelaskan agar mereka nggak bingung lagi.
" ooo... " jawab mereka kompak. Ya masih kompak aja mereka berdua padahal dah lumayan lama nggak ketemu.,
" Kirain siapa kamu. " Sania mengangguk
" Kirain kamu sengaja bawa pacarnya buat si kenalin" Dona berkata santai sambil tertawa ringan
" Ish... sembarangan aja kamu... kata nggak kenal aku aja" protesku cepat
"Ya udah ra ... aku pergi dulu kalo gitu, kan teman mu udah datang. Lain kali kita lanjut ngobrol lagi". Setelah sesaat terdiam, akhirnya Arsaka pamit untuk pergi
" Lho... mas nggak nggak ngobrol bareng kita aja nih... biar rame... kan seru". Yah ini si Dona malah ngajakin Arsaka gabung
"Dia udah mau pergi kok katanya" potong ki cepat
"Iya.,.. lagian saya nggak enak takut ganggu". di sertai dengan senyuman yang masih sama seperti dulu.... Aduh jadi gini nih rasa di hati
" Ya udah., saya pergi dulu... yuk Ra "...
Aku hanya mengangguk tanpa berkata. Hanya agar dia cepet pergi.
" Ya udah yuk duduk... dah lama kamu Ra?" tanya Sania memecah kecanggungan.
" Udah sekitar 15 menit lalu" jawabku
" Lama dong... belum jam 10 tuh.. ini aja baru lebih 5 menit... " jawab Sania menjelaskan
"Kan udah nggak sabar ketemu kalian"
"Oooo. so sweet....." kata mereka serempak
" Eh.. tapi Ra... cowok tadi kaya ada sesuatu sama ku deh"... ini si Dona ternyata masih kepo aja.
"Nggak ada sesuatu pun di antara kami"
" Yakin.? "
"Hm.. " aku mengangguk meyakinkan mereka* udah deh ngapain bahas orang lain? .... kalinya sendiri apa kabar? sibuk ngapain aja setelah lulus? " aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya kamu pun berbincang penuh semangat setelah mereka memesan minuman favorit masing masing. Menceritakan kegiatan masing masing. Membahas banyak hal. Bercanda dan tertawa. Hingga waktu semakin siang. Tak terasa pertemuan yang di nanti terasa begitu cepat berlalu. Kami pin pergi meninggalkan kafe menuju sebuah taman yang biasa kami datangi dulu. Taman yang menjadi saksi keceriaan kami dulu. Ingin rasanya selalu bersama seperti dulu, Tapi keadaan sudah berbeda. Semoga walaupun sibuk masing masing.. walaupun jauhnya jarak .. tetep menjadikan kami teman selamanya.