“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sementara itu, di villa keluarga Pramudya. Shasmita berdiri membeku di depan layar ponselnya. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.
“Tidak mungkin…” gumamnya.
Dia meraih ponselnya tanpa ragu, menekan satu nama yang bahkan tak pernah ia simpan secara terang-terangan.
Panggilan tersambung.
“Hans.”
Nada suaranya tidak meninggi, namun justru itulah yang membuatnya terdengar berbahaya.
“Apa yang kamu lakukan pada Yura?”
Di seberang sana, Hans terdiam sejenak.
[Shas, aku—]
“Kau tahu aku datang ke Indonesia untuk apa,” potong Shasmita tajam.
“Aku datang untuk membantu Yura. Dan apa yang dilakukan tunangan rahasiaku? Menghakiminya di depan seluruh keluarga Wijaya.”
Nada suaranya mulai bergetar, bukan karena lemah, tapi karena marah yang ditahan.
“Hans, aku tahu kamu menyayangi adik adopsimu itu. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu,” lanjutnya. “Tapi sikap Putri tidak bisa ku toleransi.”
Hans mencoba menjelaskan, [Putri hanya—]
“Tidak,” Shasmita meninggikan suaranya. “Sejak pertama kali aku melihat Putri, aku tidak pernah tertarik padanya. Aku menerimanya hanya karena kamu. Karena aku menghargaimu.”
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Jangan buat aku kesal, Hans. Jangan uji kesabaranku.”
Sunyi beberapa detik. Di seberang sana, suara Hans terdengar lebih rendah.
[Aku minta maaf, Shasmita. Aku gegabah. Aku terlalu menyayangi Putri sampai tidak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah.]
Shasmita memejamkan mata.
“Kali ini aku anggap selesai,” katanya dingin. “Tapi jika Putri menyentuh Yura lagi ... aku sendiri yang akan turun tangan.”
Panggilan itu terputus.
Belum sempat Shasmita meletakkan ponselnya, suara mobil terdengar memasuki halaman villa. Sorot lampu menerangi pelataran luas. Shasmita menoleh ke arah jendela.
Sky turun lebih dulu, lalu Yura menyusul. Wajah Yura terlihat pucat, bibirnya masih menyisakan bekas luka samar yang belum sepenuhnya menghilang.
Detik itu juga, Shasmita melangkah cepat menuruni tangga villa, gaunnya berkibar tertiup angin malam.
“Yura.”
Yura mendongak, tatapannya bertemu dengan mata Shasmita. Shasmita berhenti tepat di hadapannya, tidak ada senyum, tidak ada basa-basi.
“Maaf,” ucap Shasmita lirih namun tegas. “Aku terlambat.”
Yura terdiam, Sky berdiri di samping mereka, memasukkan tangan ke saku celana.
“Acara sudah selesai,” katanya datar. “Tapi akibatnya belum.”
Shasmita menatap kakaknya sekilas, lalu kembali ke Yura. Tangannya terangkat, nyaris menyentuh pipi Yura, namun tertahan di udara.
“Aku janji,” ucap Shasmita pelan, “tidak akan ada yang berani menyentuhmu lagi.”
Yura menarik napas pelan, lalu menatap Shasmita dengan tatapan yang jujur dan tenang, tapi berjarak.
“Terima kasih, Nona Shasmita, atas semua kebaikan Anda,” ucap Yura akhirnya. “Tapi … sepertinya saya tidak bisa menerimanya.”
Shasmita terdiam.
“Ini terlalu cepat,” lanjut Yura. “Semua orang tahu posisi saya. Saya hanya pengganti. Sedangkan Anda ... Anda adalah calon istri Tuan Arga yang sesungguhnya.”
Nada Yura tidak menyimpan kebencian, hanya kelelahan yang dalam.
“Saya tidak apa-apa jika Anda datang dengan jujur dan meminta saya pergi,” katanya lagi. “Enam bulan lagi kontrak itu selesai. Setelah itu, urusan kami juga selesai. Anda tak perlu berpura-pura baik pada saya.”
Kalimat terakhir itu membuat Shasmita menyempitkan matanya.
“Kamu…” Shasmita melangkah satu langkah mendekat. “Kamu benar-benar tidak mengenal saya?”
Yura terdiam.
“Apa perlu saya ceritakan semuanya dari awal?” suara Shasmita bergetar, bukan karena lemah, melainkan karena luka lama yang kembali terbuka.
“Yura, saya tulus.” Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil, senyum yang pahit.
“Kamu ingat?” tanyanya lirih. “Aku si buntelan bakpao yang dulu diejek di SMP.”
Yura mengerutkan kening.
“Kita tinggal di desa yang sama,” lanjut Shasmita. “Ibuku menikah lagi. Ayah tiriku kejam. Dan satu-satunya orang yang ku punya waktu itu hanya Kak Sky.”
Sky yang berdiri tak jauh dari mereka menegang.
“Ibuku tak pernah berpihak pada kami,” suara Shasmita merendah.
“Sampai akhirnya … dia mati di tangan suaminya sendiri.”
Yura membeku.
“Hari itu Kak Sky pergi ke kota untuk bekerja,” lanjut Shasmita.
“Aku tinggal sendirian di rumah itu. Dan malam itu … aku hampir dilecehkan.”
Napasnya tersendat.
“Tapi kamu datang, Yura.”
Yura mengangkat wajahnya perlahan.
“Karena sapu tangan,” kata Shasmita sambil tersenyum samar.
“Sapu tangan yang aku pinjam untukmu, di sekolah. Kamu datang hanya untuk mengembalikannya.”
Matanya berkaca-kaca.
“Karena kamu … aku selamat.”
Yura terdiam, ada sesuatu yang bergetar di dadanya, rasa asing, tapi menyakitkan.
“Kita masih anak-anak,” lanjut Shasmita. “Tapi keberanianmu … caramu berdiri di depanku hari itu ... itu menyelamatkan hidupku.”
Ia menunduk sejenak sebelum melanjutkan.
“Berita itu sampai ke sekolah. Aku dibully. Dituduh menggoda ayah tiriku sendiri. Aku nyaris bunuh diri, Yura.”
“Dan lagi-lagi … kamu yang menahanku.”
Yura mengepalkan tangannya.
“Setelah lulus SMP, aku dengar kamu pindah ke kota bersama ibumu,” suara Shasmita melemah. “Saat itu, aku kehilanganmu.”
Ia tersenyum pahit.
“Hidup di desa tak pernah benar-benar aman setelah itu. Sampai akhirnya, saat SMA, Kak Sky pulang dan membawa kami pergi. Aku pikir aku akan bertemu kamu lagi … tapi kita beda sekolah.”
Sky melangkah sedikit ke depan, tapi membiarkan Shasmita melanjutkan.
“Lulus SMA, aku pindah ke Eropa,” kata Shasmita.
“Tapi sebelum itu … kita sempat bertemu. Reuni terakhir. Di sebuah restoran.”
Yura mengangkat kepala.
“Aku melihatmu hari itu,” Shasmita menatapnya lekat-lekat.
“Tapi kamu tidak mengenaliku.”
“Aku mengikutimu,” lanjutnya pelan. “Dan aku melihatmu berhenti di pinggir jalan … saat terjadi kecelakaan.”
Napas Shasmita tersendat.
“Nalurimu tidak berubah, Yura. Kamu masih orang yang sama, selalu menyelamatkan orang lain, meski kamu sendiri terluka.”
Ia menelan ludah.
“Hari itu…”
Suaranya terputus, Sky melangkah maju.
“Cukup, Shas,” katanya tegas namun lembut. “Tidak perlu membuka luka lebih dalam.”
Ia menoleh ke Yura.
“Aku akan mengantarmu ke kamar,” ucap Sky. “Lukamu harus diobati.”
Shasmita mengangguk perlahan. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum penuh harap dan kesedihan.
Shasmita berdiri mematung, pandangannya kosong menatap malam yang menggantung di luar jendela villa.
“Seandainya Tuan Arga tahu…” gumamnya lirih.
“Seandainya dia tahu, orang yang menyelamatkannya waktu kecelakaan dulu adalah Yura.”
Sudut bibirnya bergetar.
“Apa dia masih akan memperlakukan Yura sekejam ini?”
Shasmita menutup matanya sesaat, kenangan itu kembali menyeruak, jelas, menyakitkan.
“Aku datang ke rumah sakit hari itu bukan untuknya,” bisiknya. “Aku hanya ingin menemui Yura. Aku mengira dia ada di sana … menemani Tuan Arga, tuan muda keluarga Pradipta yang sedang sekarat.”
Ia menghela napas panjang.
“Tapi takdir selalu suka bercanda.”
Ketika Arga akhirnya siuman, orang pertama yang ia lihat adalah dirinya.
“Sejak saat itu … semua kesalahpahaman dimulai,” suara Shasmita nyaris tak terdengar.
“Dia mengira akulah yang menyelamatkannya.”
Shasmita tertawa kecil, tawa getir tanpa kebahagiaan.
“Wajah kita terlalu mirip waktu itu,” lanjutnya. "Namun, harusnya dia tak mendapat perlakuan buruk dari Arga, yang menjadikannya pengganti."
Ia mengepalkan tangannya.
Di dalam kamar Yura, suasana terasa hening dan terlalu hening.
Sky meletakkan kotak obat di atas meja kecil dekat ranjang, lalu menoleh menatap Yura yang masih berdiri kaku di dekat pintu.
“Ganti gaunmu dulu,” katanya santai. “Lukamu harus dibersihkan.”
Yura menggeleng pelan. “Aku bisa mengobati sendiri.”
Sky menoleh, alisnya terangkat. “Tidak.”
Satu kata itu membuat Yura terdiam.
“Kamu sudah cukup pura-pura kuat hari ini,” lanjut Sky sambil membuka kotak obat. “Sekarang diam dan duduk.”
Nada suaranya tidak keras, tidak memaksa, tapi tegas. Anehnya, Yura justru menurut.
Entah kenapa, dia berbalik, mengambil pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Yura keluar dengan pakaian rumah sederhana. Rambutnya tergerai, wajahnya polos tanpa riasan dan Sky terdiam sesaat melihatnya.
“Duduk,” ulang Sky pelan.
Yura duduk di tepi ranjang. Saat Sky mulai membersihkan luka di sudut bibir dan dagunya, jantung Yura berdegup tak karuan. Sentuhan itu hati-hati, berbeda dengan semua sentuhan kasar yang biasa ia terima.
Tanpa sadar, Yura beberapa kali mencuri pandang ke wajah Sky.
Sky menyadarinya.
“Kenapa?” tanyanya sambil tersenyum kecil. “Begitu senang melihat ketampanan orang lain?”
Wajah Yura langsung memanas. “Kamu terlalu narsis, Tuan Sky.”
Ia mendorong bahu Sky pelan. “Pergi dari sini.”
Sky tertawa kecil, lalu menegakkan tubuhnya. “Baiklah, sebelum kamu makin malu sendiri.”
Ia menutup kotak obat, melangkah ke pintu, lalu berhenti sejenak.
“Kunci pintumu,” katanya tanpa menoleh. “Dan istirahatlah.”
Pintu kamar tertutup.
Yura berdiri kaku di baliknya, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Gila…” gumamnya lirih, pipinya memerah.
Di luar, Sky berjalan menjauh sambil menggeleng pelan, senyum tipis masih tersisa di bibirnya.
Beberapa detik kemudian, ponsel Yura bergetar.
[Nona, dua proyek baru sudah resmi kita dapatkan. Beberapa perusahaan besar ingin menandatangani kontrak. Semua berjalan sesuai rencana.]
Yura menatap layar itu lama. Lalu, perlahan senyum tipis dan dingin, terlukis di wajahnya.
“Bagus,” bisiknya.
Sementara itu, Sky duduk di kursi dekat jendela kamar Shasmita, satu tangan memegang gelas anggur, cairan merah di dalamnya bergoyang pelan saat ia memutarnya.
“Kak,” suara Shasmita memecah hening. “Apa kamu tertarik pada Yura?”
Sky tidak langsung menjawab. Ia mengangkat gelasnya, menyesap anggur perlahan. Bayangan wajah Yura terlintas di benaknya, tatapan waspada yang berusaha disembunyikan, rona merah di pipinya, cara ia berpura-pura kuat padahal jelas kelelahan.
Sudut bibir Sky terangkat tipis.
“Seseorang sepertinya sudah terlalu lama hidup sendirian,” gumamnya, entah untuk Shasmita atau untuk dirinya sendiri.
Shasmita menyipitkan mata. “Itu bukan jawaban.”
Sky bangkit berdiri, berjalan ke arah pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
“Kalau aku tertarik,” katanya ringan,
“menurutmu … apa itu masalah?”
Pintu kamar tertutup pelan. Shasmita menatap pintu itu lama, lalu berbisik lirih,
“Semoga bukan Arga yang terlambat menyadari segalanya.”
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂