NovelToon NovelToon
PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / TKP
Popularitas:96.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.

Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.

Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aden dan Andro

Dua hari kemudian, Giana sudah kembali ke kantor. Dia tidak datang sendiri, melainkan bersama Leya. Gadis itu juga sudah pindah ke rumah Leya.

Seperti yang Leya bilang, di rumah itu hanya gadis itu yang tinggal bersama asisten rumah tangga.

Kedatangan Giana disambut senang Pradipta. Apalagi, gadis itu datang bersama Leya yang semakin membuat Pradipta senang.

Meski sempat merasa minder, Pradipta tetap berusaha mengejar cinta pada pandangan pertamanya itu.

Sejak dikecewakan oleh ibunya dan mengetahui perempuan yang disukainya ternyata tidak sebaik yang dikira, Pradipta sempat menutup hati untuk wanita. Namun, sejak bertemu tidak sengaja dengan Leya, benih perasaan itu sempat muncul.

Karena pertemuan hanya terjadi sekali, Pradipta mengira perasaan itu hanya sekilas. Namun, setelah bertemu kembali dengan Leya dan mengenalnya, perasaan itu justru bertambah semakin dalam.

“Ini kantor kalian?” tanya Leya sambil naik ke bus yang dijadikan kantor PRADA TRACE.

“Iya. Ini kantor kita,” jawab Gilang jumawa.

“Kalau Arkana Technology itu kantor apa?” tanya Leya sambil menunjuk kantor yang dibangun dari kontainer bekas.

“Itu kantor konsultan IT punya Bang Dipta. PRADA TRACE juga di bawah Arkana Technology, tapi beda manajemen. Kalau di sini, Gia yang urus manajemennya.”

Leya mengangguk. Dia cukup kagum pada Pradipta. Di usianya yang belum genap tiga puluh tahun, pria itu sudah berhasil mendirikan kantor sendiri dan membuka lowongan pekerjaan untuk orang lain.

“Kita rapat bentar, yuk,” ajak Pradipta.

“Eh, aku keluar dulu kalau gitu,” ujar Leya sambil bangkit dari duduknya.

“Nggak usah. Kamu juga bisa ikut dengar. Karena ada bagian kamu juga,” sahut Pradipta.

Meski bingung, Leya kembali duduk. Dia lalu mendengarkan Giana yang sedang menyampaikan laporan keuangan dari kasus yang mereka tangani terakhir kali.

Setelah Giana membacakan pengeluaran selama menangani kasus penculikan, sekarang giliran Pradipta mengumumkan pembagian hasil.

“Empat puluh persen dari pendapatan, seperti yang kalian tahu, akan dimasukkan ke Arkana Technology. Sisanya dibagikan.

Tapi untuk kali ini, pembagiannya nggak rata dan orang yang menerima bonus lebih banyak juga. Leya juga akan mendapat bagian.”

“Aku dapat bagian?” tanya Leya tidak percaya. “Serius?”

“Iya. Kamu udah bantu kita pas penyergapan. Kalau kamu nggak datang bantu kita, belum tentu penyergapan kita berhasil. Ditambah lagi, kamu juga sudah menyelamatkan Gia.”

Leya hanya mengangguk. Dia pun mengikuti keinginan Pradipta. Lagi pula, Gilang dan Giana juga tidak keberatan.

“Untuk pekerjaan kali ini, aku dan Gilang masing-masing dapat tiga puluh juta. Gia dapat empat puluh juta karena berani dijadikan umpan dan harus menghadapi situasi berbahaya.

“Makasih, Pak Dipta,” ujar Giana senang. Tidak disangka, dia akan mendapatkan uang dalam jumlah lebih besar dibanding Pradipta dan Gilang.

“Dan untuk Leya, kamu akan dapat bagian sebesar enam belas juta. Nggak apa-apa, ya, kalau aku kasih segitu?” tanya Pradipta.

“Hah? Enam belas juta? Kalian nggak salah?” tanya Leya terkejut.

Dia mengira bonus yang akan didapatnya tidak lebih dari lima juta rupiah. Karena itu, dia mengiyakan saja. Ternyata, bonus yang diterimanya cukup besar.

“Iya, jatah kamu emang segitu. Aku minta nomor rekening kamu, biar bisa langsung ditransfer.”

“Ini serius dapat segini? Emangnya kalian dapat berapa sih dari klien kalian?” tanya Leya penasaran.

“Dari tiga klien, total kita dapat dua ratus juta. Setelah dipotong pengeluaran, empat puluh persen masuk ke Arkana Technology, sisanya dibagi sesuai jumlah anggota.”

Leya sama sekali tidak menyangka, ternyata pendapatan PRADA TRACE dari menangani kasus, besar juga. Pantas saja Giana betah bekerja di sini. Selain penghasilannya besar, suasana kekeluargaan di kantor ini juga sangat terasa.

“Bang, kira-kira masih ada lowongan nggak di sini?” tanya Gilang tiba-tiba.

“Emang siapa yang mau kerja di sini?” tanya Pradipta dengan bingung.

“Ya, kali aja Leya minat kerja di sini. Lo mau nggak gabung jadi member PRADA TRACE?” tanya Gilang.

Sontak Giana dan Pradipta menoleh ke arah Leya. Giana berharap Leya mau menerima tawaran Gilang. Dengan begitu, dia punya teman perempuan di sini.

Sementara itu, Pradipta juga berharap Leya mau bergabung. Dia bisa punya lebih banyak kesempatan berdekatan dengan Leya.

“Ehm … menarik sih. Oke deh, aku coba. Tapi mohon petunjuknya ya, para suhu.”

“Selamat bergabung,” ujar Giana sambil memeluk Leya. Akhirnya dia memiliki partner perempuan di kantor ini.

“Aku bakal bikinin kartu nama kamu secepatnya,” ujar Pradipta sambil tersenyum.

Dengan bergabungnya Leya di PRADA TRACE, peluangnya untuk mendekati gadis itu terbuka lebar.

“Bang, besok gue mau cuti sehari, ya,” celetuk Gilang.

“Lo mau ke mana?”

“Mau nengok Kania. Mau ajak dia jalan-jalan,” jawab Gilang sambil menaik-turunkan alisnya.

“Masih usaha juga sama Kania,” ledek Pradipta.

“Harus, Bang. Sebelum ijab kabul terucap, maju terus pantang mundur!” Gilang mengepalkan tangannya saat mengatakan itu.

***

Satu per satu, mahasiswa di kelas membereskan barang-barangnya setelah dosen mengakhiri perkuliahan. Begitu dosen itu keluar, semua mahasiswa langsung bubar.

“Den,” panggil Kania kepada Aden, salah satu teman sekelasnya. “Aku mau pinjam catatan psikologi komunikasi, dong. Minggu kemarin aku nggak masuk.”

“Boleh. Nanti aku fotocopy aja buat kamu, biar kamu nggak usah susah-susah nyatet.”

“Makasih, ya. Mau pulang bareng, nggak?” tawar Kania.

“Nggak. Aku masih nunggu Pak Abdi. Katanya ada kerjaan buat aku.”

“Oke, deh. Aku duluan, ya.”

Aden memandangi Kania yang sudah meninggalkan kelas lebih dahulu. Pria itu menghela napas berat. Sebenarnya dia sangat ingin pulang bersama Kania, tetapi karena Andro, dia harus mengurungkan keinginannya.

Aden adalah salah satu mahasiswa pintar. Namun, karena dia berasal dari keluarga tidak mampu dan hanya mengandalkan beasiswa untuk kuliah di kampus elite ini, Aden sering menjadi sasaran perundungan. Pelakunya adalah Andro.

Andro adalah anak dari salah satu pengusaha besar di bidang elektronik. Pemuda itu terkenal karena selalu bersikap arogan.

Andro sudah sering berbuat onar di kampus, tetapi tidak ada yang berani menegur karena ayahnya adalah satu penyumbang dana terbesar di kampus itu.

Dengan terburu-buru, Aden menuju rooftop gedung fakultas. Sesampainya di sana, Andro sudah menunggunya. Pemuda itu melambaikan tangannya, meminta Aden mendekat kepadanya.

Baru saja Aden tiba di dekatnya, sebuah pukulan menghantam perutnya dengan keras. Pemuda itu sampai membungkuk sambil meringis, menahan nyeri.

“Tadi lo ngomong apa sama Kania?” tanya Andro.

“Nggak ngomong apa-apa. Kania cuma pinjam catatan Psikom,” jawab Aden sambil menahan rasa sakit.

“Dengar, ya. Lo harus tahu diri. Lo tuh nggak sebanding dengan Kania,” ujar Andro sambil menoyor kepala Aden beberapa kali.

Kesal karena Aden berteman dekat dengan Kania, salah satu gadis yang disukainya, Andro meminta dua temannya untuk menyiksa Aden. Pemuda itu menjadi bulan-bulanan Andro dan kedua temannya.

Aden jatuh tersungkur dengan wajah dipenuhi memar. Sudut bibirnya juga terluka dan mengeluarkan darah. Pemuda itu mengerang kesakitan saat Andro menginjak punggungnya kuat-kuat.

“Lihat aja, gue bakal bikin lo menderita. Kania yang selalu nolak gue, akan gue buat ngemis di bawah kaki gue,” ujar Andro seraya menjambak rambut Aden.

Setelah puas menyiksa Aden, Andro dan dua temannya segera meninggalkan rooftop.

Aden mengepalkan tangannya erat-erat. Matanya menunjukkan kemarahan terpendam yang begitu besar. “Tunggu waktunya, Andro. Aku akan membuatmu menyesal,” gumamnya pelan dengan mata berkilat.

***

Duh, Kania dalam bahaya nih

1
Euis Sri
tapi kayaknya tetap Viona,.dia berusaha menutupinya dgn bersikap seakan lebih peduli atas menghilang nya Gian,. menurutku 🤭 ada udang di balik terigu,..peyeek 😅✌️
Febri Nayu
khalisa pantas di curigai
Khey Rachmat
fix ini mah si khalisa ..di segala berbulu dobma
Febri Nayu
kok iso ngerti lek Gian duwe vila dan sedang ada disana
secara logika haruse duduk wong adoh seh pelakune
dewi rofiqoh
Siapa ya yang tega bunuh gian? Apa motif ya?
Safitri Agus
masih belum tau🤔
Safitri Agus
coba tanya ke istrinya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
eitt salah Lang...tetep aja harus di cari sapa yg telah menghabisi nyawa Gian🤔......takut merembet kmn mn....bisa aja menghalangi kalian untuk cari jasadnya Gian .....karena takut ketauan kejahatannya jadi nyawa kalian pun terancam.....mending sekalian aja tegakkan ke adilan sapa yg telah bunuh Gian biar posisi khalisa aman juga.....bisa aja pembunuhnya orang bayaran Viona yakan😔
Lina Suwanti
nyimak mamake,blm ada clue bwt nebak siapa pelakunya bisa aja Viona istrinya atau Khalisa karena kadang harta bisa bikin orang jd gelap mata
Novia Zara Scorpinosta
emang hantu bisa hamil kah 🤔
maaf thor jd bertanya² nih
hantu menikah aj rsa nya g kebayang hehehe
yg nikahin sapa ya ✌️✌️
maaf ya thor 🙏🙏
Khey Rachmat
apa khalisa ya krna sering berantem
Siti Chotimah
curiga ma istrix sndiri
Ayuk Witanto
kok curiga istrinya
Ayuk Witanto
kliennya spesial Mak...arwah gentayangan
Ayuk Witanto
kliennya spesial Mak...arwah gentayangan
Ayuk Witanto
ternyata cowok,kukira cewek yang ngikut 🤭
ismi
mungkin yg ngebunuh selingkuhan istrinya,,karena gk mau dicurigai oleh keluarga makanya pura pura lapir di polisi orang hilang
tehNci
Curiga kalo pelaku pembunuhan adalah Viona atau orang suruhan Viona. Mgkn Viona pengen nguasai harta Gian seorang diri, gak mau berbagi sama Khalisa
tehNci
Tul banget.
Euis Sri
suruhan Viona apa selingkuhan Viona,. terlalu kejam pradugaku 🤭😅
Ani: bisa jadi soalnya Gian punya asuransi... atau Khalisa kan bisa aja kan 🤔🤔🤔🤔✌✌✌✌
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!