NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Aroma mentega yang terbakar sempurna berpadu dengan manisnya vanila dan cokelat lelehan memenuhi setiap sudut ruangan berpendingin udara itu. Di balik konter kaca yang bersih mengilap, puluhan jenis kue dan patung pastry tertata rapi, memanjakan mata siapa saja yang melangkah masuk ke Lumina Bakehouse.

​Di ruang kerjanya yang berdinding kaca transparan, Alana sedang menyesuaikan letak jilbab instan menutup dadanya. Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu tampil anggun dalam balutan tunik sage green dan celana kain longgar. Wajahnya yang memiliki sentuhan garis keturunan Indonesia asli yang terlihat teduh, memancarkan ketenangan yang selalu berhasil membuat para pegawainya merasa nyaman.

​"Bu Alana, pesanan kue pengantin untuk wedding organizer Pak Hendra sudah selesai dihias dan siap dikirim," ujar Maya, kepala koki Lumina Bakehouse, sembari mengetuk pintu ruangan yang terbuka separuh.

​Alana tersenyum manis, mengangguk pelan. "Terima kasih, Maya. Tolong pastikan box pendinginnya berfungsi baik, ya. Jangan sampai krimnya meleleh di jalan."

​"Baik, Bu. Oh iya, Bu Alana sudah makan siang? Ini sudah jam dua sore. Tadi Ibu cuma minum air putih dari pagi."

​Pertanyaan sederhana dari Maya membuat jemari Alana yang tengah memegang pena sempat terhenti sejenak. Alana mengulas senyum tipis senyuman yang sudah menjadi tameng terbaiknya selama enam tahun terakhir.

​"Sebentar lagi, Maya. Kamu duluan saja," sahut Alana lembut.

​Begitu Maya pamit dan menutup pintu, senyum di wajah Alana perlahan surut. Tangan kanannya bergerak pelan menuju bagian atas perutnya. Di sana, rasa perih yang melilit mulai menjalar, seperti ada ribuan jarum kecil yang menusuk dinding lambungnya secara bersamaan. Maag akutnya kembali menyapa.

​Alana menghela napas panjang, merogoh laci meja kerjanya yang paling bawah. Di balik tumpukan berkas keuangan dan laporan penjualan, tersembunyi beberapa strip obat pemblokir asam lambung dan obat cair kemasan saset.

Tanpa bantuan air minum, dia merobek ujung saset itu dengan giginya lalu menelan cairan kental beraroma mint tersebut. Dia memejamkan mata rapat-rapat, menunggu hingga rasa panas di tenggorokannya perlahan mereda.

​Di tempat ini di dalam toko kue megah yang dia bangun dari nol Alana adalah sosok wanita berdaya. Dia bos yang dihormati, pengusaha sukses yang dikagumi, dan wanita yang memegang kendali atas hidupnya sendiri. Namun, Alana tahu betul, status megah itu hanyalah gaun indah yang harus dia tanggalkan begitu kakinya melangkah keluar dari pintu toko ini.

​Sebab di luar sana, ada sebuah rumah tempat di mana keberadaannya tak pernah lebih dari sekadar bayangan.

​Lampu jalanan kota mulai menyala satu per satu saat mobil SUV putih milik Alana membelok memasuki pelataran sebuah rumah berarsitektur modern minimalis.

Rumah itu berdiri kokoh, indah, tetapi selalu memancarkan aura dingin yang asing bagi Alana bahkan setelah enam tahun dia menetap di sana.

​Alana mematikan mesin mobil, menarik napas dalam-dalam untuk menata detak jantungnya sebelum melangkah keluar. Begitu pintu depan terdorong pelan, keheningan rumah langsung menyambutnya. Namun, keheningan itu tak bertahan lama.

​"Bunda!"

​Suara pekikan nyaring dan derap langkah kaki kecil yang berlari menuruni anak tangga langsung memecah kesunyian. Seorang anak perempuan berusia enam tahun dengan gaun tidur merah muda berlari kencang, lalu menubruk tubuh Alana. Dua tangan mungilnya melingkar erat di pinggang Alana.

​Rasa lelah dan perih di perut Alana seolah menguap begitu saja. Alana berlutut, menyejajarkan tingginya dengan sang putri, lalu memeluk tubuh mungil itu dengan sangat hangat.

​"Kala... kok belum tidur, Nak? Ini kan sudah jam delapan malam," bisik Alana lembut sembari merapikan poni menyamping milik anak itu.

​Tania anak perempuan cantik dengan mata bulat yang bening menatap Alana dengan raut wajah cemberut yang menggemaskan. "Tania nungguin Bunda.

Kalau belum dicium Bunda, Tania gak bisa bobo."

​Alana tertawa pelan, hatinya berdesir hangat. Dia mencium kedua pipi Tania bergantian, lalu menempelkan dahinya ke dahi anak itu. "Sekarang Bunda sudah pulang. Yuk, Bunda antar ke kamar."

​"Bunda udah makan?" tanya Tania polos saat tangan mungilnya bergandengan erat dengan jemari Alana menuju lantai atas.

​Alana tersenyum tipis. "Sudah, Sayang. Di toko tadi Bunda makan kue." Sebuah kebohongan kecil yang sudah terbiasa meluncur dari bibirnya.

​"Bunda bohong," celetuk Tania tiba-tiba membuat langkah Alana terhenti di depan pintu kamar anak itu. Kala menatap Alana dengan tatapan protektif khas anak kecil. "Perut Bunda suka bunyi kalau belum makan nasi. Bi Sastro bilang Bunda sering lupa makan. Nanti perut Bunda sakit lagi kayak waktu itu..."

​Hati Alana seperti teremas pelan mendengar ucapan Tania. Anak seusia enam tahun ini ternyata begitu peka memperhatikan dirinya. Anak yang dilahirkan oleh almarhumah kakaknya enam tahun lalu anak yang diserahkan kepangkuan nya dalam keadaan merah dan menangis di malam paling berdarah dalam hidup Alana kini tumbuh menjadi benteng pelindung utamanya.

​"Bunda janji nanti habis ini Bunda makan nasi, ya?" janji Alana halus sembari mengelus kepala Tania.

​Setelah membacakan dongeng singkat dan memastikan Tania tertidur lelap di ranjangnya, Alana melangkah keluar kamar. Dia berjalan menuju dapur bersih untuk menyeduh secangkir teh hangat berharap cairan itu bisa menenangkan lambungnya yang kembali bergejolak.

​Saat Alana sedang membelakangi pintu dapur, suara langkah kaki yang berat dan tegas terdengar memasuki rumah. Tak perlu menoleh pun, Alana tahu siapa yang baru saja datang.

​Gema.

​Pria itu berjalan melintasi dapur. Tubuh tingginya terbalut kemeja kerja berwarna abu-abu gelap dengan lengan yang dilipat hingga siku. Parasnya yang tegas tampan namun dingin, tak tersentuh oleh emosi apa pun.

​"Tania sudah tidur?" suara Gema terdengar merdu, namun datar tanpa nada.

​Alana membalikkan badan, memegang cangkir tehnya dengan kedua tangan. "Baru saja. Dia menunggumu pulang dari tadi."

​Gema menghentikan langkahnya sejenak, namun dia tidak menatap mata Alana. Pandangannya hanya tertuju pada cangkir teh di tangan wanita itu.

​"Aku ada meeting luar kota besok lusa. Mungkin tiga hari," ujar Gema formal, menyampaikan informasi seolah Alana adalah seorang sekretaris pribadi yang hanya perlu mencatat jadwalnya.

​"Baik. Baju-bajumu akan kusiapkan di koper besok malam," balas Alana tak kalah formal.

​Hening kembali menyergap. Tidak ada pertanyaan "Bagaimana harimu?, tidak ada sapaan hangat, apalagi sentuhan fisik. Selama enam tahun pernikahan mereka, batas itu berdiri begitu kokoh. Gema memenuhi seluruh kebutuhan finansial rumah tangga dan keperluan Kala tanpa cela, tetapi dia memblokir Alana dari seluruh aspek kehidupannya.

​Bagi Gema, Alana hanyalah adik ipar yang kebetulan memegang status hukum sebagai istrinya demi membesarkan Kala. Cinta, perhatian, dan kehangatan pria itu telah mati dan terkubur bersama almarhumah istrinya enam tahun lalu.

​Gema membalikkan badan, hendak berjalan menuju kamar utamanya kamar yang terpisah dari kamar yang ditempati Alana.

​"Mas Gema," panggil Alana pelan.

​Langkah Gema terhenti, namun dia tidak menoleh. "Ada apa?"

​Alana menatap punggung tegap suaminya itu. Ada bayangan kelelahan yang luar biasa di sana, namun juga ada tembok es yang tak pernah melunak. "Di meja makan ada sup ayam. Tadi Bi Sastro yang buat sebelum pulang. Kalau kamu lapar, bisa dipanaskan."

​Gema diam sejenak. "Aku sudah makan di luar," jawabnya singkat. Tanpa menunggu balasan Alana, pria itu kembali melangkah menuju kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.

​Cklik.

​Suara kunci pintu yang terputar dari dalam kamar Gema terdengar begitu nyaring di tengah sepinya rumah.

​Alana berdiri mematung di tengah dapur yang dingin. Dia menunduk, memandangi pantulan dirinya di permukaan teh hangat. Tidak ada rasa air mata yang menetes malam ini. Air matanya sudah habis di tahun-tahun pertama pernikahan mereka.

​Tangan Alana kembali mencengkeram perutnya yang mendadak melilit hebat. Rasa sakit fisik dari maag akutnya menyengat tajam, berpadu sempurna dengan dinginnya penolakan yang dia terima setiap hari.

​Alana mematikan lampu dapur, menyisakan lampu remang di sudut ruangan. Dia berjalan menuju kamarnya sendiri dengan langkah perlahan. Di dalam hati, Alana berbisik pada dirinya sendiri sebuah janji yang terus dia ulang setiap kali rasa sakit itu datang:

​"Bertahanlah Alana. Demi Tania. Cuma demi Tania." Batin Alana.

1
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
Chintya Ananda
bagus alana pergilah dan raihlah kebahagiaanmu...lanjut thor💪💪
Lee Mba Young: nnti pling juga balikan, biasanya bgitu sih 🤣.
total 1 replies
sutiasih kasih
telatttt gema....
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
sutiasih kasih
bukan tiba" dodol.....
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
sutiasih kasih
keren g tuh......
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
Elina thea
akhirnya Alana membuat keputusan yg benar👍... please Alana setelah ini kamu harus lebih berani kalo di rendahkan ibumu atau orang lain,jangan mudah luluh sampai rujuk lagi kayak cerita kebanyakan yah...
Susi Susanti: ini judul nya mesti di balik🤭
total 1 replies
Elina thea
memang mikirnya harusnya kesana alana...buat apa mempertahankan pernikahan dgn alasan anak kalo diri sendiri udah sakit,sakit secara fisik masih bisa ke dokter untuk bisa sembuh...tapi batin dan jiwa yg sakit,sekalipun bibir berucap sudah ikhlas dan memberikan kesempatan kedua belum tentu bisa sembuh meski dalam waktu yg panjang,karna sakit batin yg tidak terlihat justru akan slalu di ingat dan akan jadi bayangan di dalam pernikahan...
Sri Widiyarti
Ya Allah terbayang diposisi Alana 😭😭😭
Arieee
menguras emosi💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
sutiasih kasih
pdahal alana bukan perempuan biasa lho....
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....
sutiasih kasih: suka heran dgn mereka...
ap lgi ibunya Alana tuh.... g tau malu... minta uang buat selametan kirana... tpi mulutnya paling pintar mncaci dan merendhkn Alana....
kpan sih ibunya Alana kena stroke🙄🙄
total 2 replies
sutiasih kasih
kpan ibu durjananya kena stroke🤔🤔
sutiasih kasih
mau km tebus pke apa.... luks hati istrimu slm ber tahun lamanya....
blcak areng
terima kasih kakak 🙏
Sri Widiyarti
menjadi asing ditengah keramaian Allah nyesek banget Alana semoga kak author kasih pasangan hidup yg memuliakan Alana ..
Sri Widiyarti
dah tinggalin aja Alana kamu berhak bahagia...
Agunk Setyawan
othor love you♥️🥰🥰 novelnya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!