seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENJATA SANG BAYANGAN
Sektor 9 adalah distrik paling bising dan berasap di seluruh penjuru kota. Tempat ini dipenuhi oleh deretan pabrik pengolahan material monster dan tungku-tungku peleburan mana-crystal. Asap kelabu tebal selalu membumbung ke langit, menghalangi cahaya matahari siang hingga Sektor 9 selalu terlihat seperti berada di waktu senja yang abadi. Bunyi dentingan palu raksasa dan mesin pemotong magis menggema di sepanjang jalanan berbatu.
Kendaraan hovercraft mewah milik Keluarga Valerius berhenti di depan sebuah gang sempit yang gelap, sangat kontras dengan desain futuristik Sektor Pusat.
Bastian melompat turun lebih dulu, mengenakan pakaian kasual tanpa zirah tebalnya. Ia memandang bangunan-bangunan kumuh di sekitarnya dengan kening berkerut. "Kau yakin ini alamat yang diberikan Marcus? Tempat ini lebih mirip markas penyelundup artefak ilegal daripada bengkel pandai besi terbaik di kota."
Andre keluar dari kendaraan dengan tenang, matanya menatap tajam ke ujung gang. "Para penempa ahli sejati jarang peduli pada desain etalase toko. Mereka hanya peduli pada suhu tungku dan kualitas darah monster."
Mereka berdua berjalan menyusuri gang yang dipenuhi bau kerak besi dan belerang tersebut. Di ujung jalan buntu, terdapat sebuah pintu kayu ek tua yang sangat besar dan tebal, dilapisi oleh lempengan baja yang berkarat. Tidak ada papan nama. Tidak ada penjaga. Hanya ada sebuah bel pintu kuno berwujud palu kecil berbahan perunggu.
Andre meraih palu perunggu itu dan memukulkannya ke lempengan baja.
TENG!
Suaranya tidak terdengar seperti besi beradu, melainkan seperti gelombang sihir yang menembus langsung ke tulang. Pintu kayu ek itu berderit pelan dan bergeser terbuka secara otomatis. Gelombang hawa panas yang setara dengan suhu padang pasir ekstrem langsung menerpa wajah mereka.
Bastian mundur selangkah, mengibaskan tangannya di depan wajah. "Astaga, tempat ini seperti simulasi neraka tingkat pertama."
Di dalam ruangan raksasa berdinding batu bata tahan api itu, terdapat tiga tungku peleburan berukuran masif yang menyala dengan api berwarna biru pucat. Di tengah ruangan, seorang pria tua bertelanjang dada sedang memukul bongkahan logam merah menyala di atas sebuah landasan (anvil) hitam. Otot-otot pria tua itu tampak seperti jalinan kawat baja yang dilapisi oleh kulit tembaga yang dipenuhi bekas luka bakar. Rambut putih panjangnya diikat asal-asalan ke belakang.
[Identitas: Master Blacksmith - Vulcan]
[Estimasi Level: 85 (Third Job Senior)]
Informasi itu berkedip sesaat di retina Andre sebelum ia abaikan. Vulcan tidak menoleh sedikit pun saat Andre dan Bastian memasuki bengkelnya. Ia terus mengayunkan palu seberat ratusan kilogram itu dengan ritme yang sempurna.
Klang! Klang! Klang!
"Kami mencari penempa bernama Vulcan," ucap Bastian setengah berteriak untuk mengalahkan suara bising dari tungku. "Direktur Marcus yang mengirim kami."
Vulcan melempar palu raksasanya ke sudut ruangan hingga menghantam dinding batu dan menciptakan kawah kecil. Pria tua itu mengambil kain kotor, menyeka keringat di wajahnya, lalu berbalik menatap kedua tamunya dengan pandangan menyelidik.
Matanya yang berwarna abu-abu tajam pertama-tama menatap Bastian. "Lambang singa perak di sabukmu. Valerius, eh? Jadi rumor itu benar. Tuan Muda Valerius bermain-main menjadi pahlawan bersama seorang kuli panggul."
Tatapan Vulcan kemudian beralih pada Andre. Saat mata mereka bertemu, pria tua itu terdiam selama beberapa detik. Ia tidak melihat seorang remaja berusia sembilan belas tahun. Insting pandai besinya yang telah diasah selama puluhan tahun merasakan tekanan yang sangat padat dan mengerikan dari pemuda berbaju hitam itu. Tekanan aura yang menyerupai pedang telanjang.
"Marcus bilang ada anomali yang membelah Jenderal Iblis di Sektor 3 kemarin," gumam Vulcan, melangkah mendekat. Ia menatap telapak tangan kanan Andre, mengamati kapalan halus yang terbentuk dari cara memegang gagang pedang secara absolut. "Kuli panggul First Job? Omong kosong. Kau adalah monster yang terjebak di dalam kulit manusia."
"Aku tidak butuh penilaian tentang identitasku," jawab Andre datar, mengeluarkan gagang pedangnya yang sudah hancur lebur dan meletakkannya di atas meja batu di dekatnya. "Aku butuh senjata. Senjataku sebelumnya hancur berkeping-keping saat aku mengayunkannya. Logam biasa tidak bisa menahan aliran manaku."
Vulcan mengambil sisa gagang pedang itu, mencium sisa energi di pangkalnya, lalu mendengus meremehkan. "Tentu saja benda sampah ini hancur. Ini pedang produksi massal berbahan baja ringan. Untuk seseorang dengan aliran aura sepekat dirimu, memegang senjata ini sama saja dengan mencoba mewadahi lahar gunung berapi menggunakan gelas plastik."
Pria tua itu berjalan menuju lemari besi raksasa di ujung bengkel. Ia menekan beberapa kombinasi sihir, lalu pintu lemari itu terbuka. Ia menarik keluar tiga buah pedang yang masing-masing memancarkan aura magis tingkat tinggi dan menancapkannya ke lantai batu di depan Andre.
"Pedang pertama, Crimson Fang. Terbuat dari tulang punggung naga api tingkat Hard. Menambah atribut Strength sebesar lima puluh persen dan mengabaikan pertahanan sihir musuh," Vulcan menunjuk pedang berwarna merah darah itu.
"Pedang kedua, Windshear. Ditempa dari bulu sayap Ratu Harpy. Sangat ringan. Setiap tebasan memicu pisau angin tak kasat mata di sekitarnya."
"Pedang ketiga, Paladin’s Oath. Baja suci murni yang diberkati. Cocok untuk menangkis serangan mematikan." Vulcan melirik Bastian. "Teman Tanker-mu mungkin lebih menyukai yang ini."
Bastian bersiul takjub melihat deretan senjata tingkat High Grade tersebut. Di pasar pelelangan elit, masing-masing pedang itu bisa dihargai hingga miliaran koin emas.
Namun, Andre sama sekali tidak terkesan. Pemuda itu berjalan santai, menendang perlahan pangkal pedang Crimson Fang dengan ujung sepatunya.
Kraaaak.
Retakan panjang seketika muncul di bilah pedang naga api tersebut. Vulcan membelalakkan matanya dengan syok. Andre bahkan tidak menggunakan auranya secara penuh, ia hanya mengalirkan sedikit tekanan Swordmaster melalui ujung kakinya, dan pedang High Grade bernilai miliaran itu sudah menjerit kesakitan.
"Lemah," ucap Andre dingin. "Senjata-senjata ini memang bagus untuk prajurit biasa. Tapi aku tidak mencari pajangan. Jika aku menggunakan salah satu dari ketiganya dengan kekuatan penuh, mereka akan hancur sebelum sempat menyentuh tulang musuh."
Vulcan menelan ludah. Rasa marahnya karena pedangnya dirusak terkalahkan oleh rasa takjub yang gila. Ia menatap pemuda itu dengan mata berbinar. Ia menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan petarung kelas puncak, seseorang yang membutuhkan mahakarya sejati.
"Kau punya syarat khusus?" tanya Vulcan, suaranya kini dipenuhi rasa hormat.
"Tiga hal," jawab Andre, mengangkat tiga jarinya. "Pertama, pedang itu harus bisa menyerap dan menahan kekuatan Strength murni yang menembus batas maksimal, tanpa pecah. Kedua, bilahnya tidak boleh memantulkan cahaya. Ia harus bisa menyatu dengan bayangan. Dan ketiga, bobotnya harus terasa seperti sehelai bulu, mengimbangi Agility absolutku."
Vulcan terdiam cukup lama. Ia menggaruk jenggot kasarnya, berpikir keras. Permintaan Andre sangat paradoks. Sebuah pedang yang mampu menahan kekuatan fisik brutal biasanya terbuat dari logam super berat yang akan mengorbankan kecepatan. Membuatnya ringan sekaligus tahan banting adalah pelanggaran terhadap hukum fisika material.
"Ada satu bahan..." gumam Vulcan pelan, matanya menatap lantai batu. "Satu-satunya material di planet ini yang mungkin bisa memenuhi syarat gilamu itu."
"Katakan," desak Bastian penasaran.
"Bijih Meteorit Obsidian yang direndam dalam Darah Naga Kegelapan (Dark Dragon)," ucap Vulcan serius. "Bijih dari luar angkasa itu mampu menyerap jumlah mana yang tidak terbatas tanpa pernah pecah. Dan darah naga kegelapan akan menghilangkan bobot fisiknya sekaligus mengubah bilahnya menjadi hitam absolut penyerap cahaya."
"Sempurna. Buatkan," perintah Andre tanpa ragu.
Vulcan tertawa sinis, menggelengkan kepalanya. "Mudah untuk mengatakannya, Nak! Kau pikir bahan-bahan itu dijual di supermarket? Bijih Meteorit Obsidian sangat langka, tapi aku menyimpannya satu bongkahan kecil di brankas utamaku sebagai warisan. Masalahnya ada pada darahnya. Aku butuh darah segar langsung dari jantung naga kegelapan yang belum mati lebih dari satu jam."
Pria tua itu menunjuk ke sebuah peta dunia hologram di dinding bengkelnya. "Ada seekor spesies mutan Dark Dragon yang dilaporkan menempati Dungeon 'Puncak Keputusasaan' di ujung utara Sektor 8. Itu adalah Dungeon tingkat Nightmare yang belum pernah ditaklukkan oleh guild mana pun selama lima tahun terakhir. Level monster di sana di atas 80. Asosiasi menyegelnya agar naganya tidak keluar."
Bastian mengerutkan kening. "Nightmare level 80? Kita baru saja membersihkan Hard level 45 dan anomali 75. Ini loncatan yang gila, Andre."
Andre tidak menjawab Bastian. Ia memandang peta hologram itu dengan tatapan predator yang menemukan mangsa buruannya. Senyum tipis yang mematikan muncul di sudut bibirnya.
"Berapa lama kau bisa menempa pedang itu setelah aku membawakan darahnya?" tanya Andre kepada Vulcan.
"Jika kau membawakan jantung naga itu kepadaku dalam keadaan masih berdenyut..." Vulcan tersenyum lebar, menampakkan gigi-giginya yang kekuningan. "Tiga hari. Aku akan menciptakan senjata yang akan membuat seluruh dewa di planet ini menangis."
Andre mengangguk. Ia memutar badannya dan berjalan menuju pintu keluar bengkel yang panas itu.
"Bastian," panggil Andre tanpa menoleh. "Panggil adikku."
Bastian terkesiap, berlari menyusul rekannya. "Tunggu, kau serius? Kau mau membawa Marvin ke dalam Dungeon tingkat Nightmare? Dia masih rookie!"
"Dia adalah Healer dan Venomancer. Kita butuh regenerasi gila-gilaan untuk menahan racun naga kegelapan, dan kutukannya akan berguna untuk melemahkan sisik naga itu dari dalam," jawab Andre dengan nada tenang dan rasional. "Sudah waktunya Rishing Guild bergerak dengan kekuatan penuh. Kita akan mengajari dunia bagaimana cara menaklukkan mimpi buruk."