Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Santi menangis tergugu, laki - laki yang begitu patuh dan tunduk pada nya selama 8 tahun ini kini memperlakukan diri nya dengan sangat buruk. Gibran melihat nya seperti sampah yang virus menular yang menjijikkan.
"Mas, kenapa kau setega ini pada ku?" Tanya Santi sambil meratap.
"Pergi lah Santi!!! Jangan pernah muncul di hadapan ku lagi, aku muak melihat mu!" Bentak Gibran dengan kasar.
"Mas, bagai mana dengan rumah itu mas? Kau dan ibu mu sudah berjanji mau melunasi nya, tapi kenapa kini kalian ingkar janji?" Tanya Santi lagi.
"Itu balasan yang pantas untuk kalian semua karena sudah menipu ku selama bertahun - tahun, kalian juga menolak mengembalikan semua yang telah aku berikan. Jadi sekarang silahkan tebus saja rumah itu sendiri!" Gibran berkata sambil memamerkan seringai tipis di sudut bibir nya.
"Mas, aku dan orang tua ku tidak ada yang bekerja. Jadi bagai mana kami bisa menebus nya?" Kembali Santi bertanya.
"Bukan urusan ku, pergi kau dari rumah ini!" Gibran mengusir Santi.
Setelah berkata seperti itu, Gibran langsung menutup pintu gerbang rumah ibu nya. Dia membiarkan Santi yang masih berada di luar.
"Enak saja, minta aku menebus rumah itu. Dia sudah membohongi ku selama bertahun - tahun dan sekarang dia masih berusaha untuk memanfaatkan aku, tidak akan ku biarkan!" Guman Gibran.
Santi terpaksa pergi dari sana dengan perasaan kecewa, kini dia dan keluarga nya harus bersiap kehilangan rumah itu sekaligus harga diri mereka di hadapan warga kampung. Dulu semua orang menyanjung mereka sebagai orang terkaya di sana, tapi kini semua nya berbalik 180 derajat.
Sementara itu di tempat yang berbeda, di rumah kontrakan bu Siti.
"Pak, aku sudah menemukan rumah yang bagus di komplek sebelah. Rumah nya memiliki 3 kamar tidur, rumah itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Aku mau rumah yang itu!" Ujar bu Siti sambil memberikan sebuah brosur pada pak Burhan.
"Boleh sayang, mas ikut saja mau yang tipe nya berapa saja!" Jawab Pak Burhan sambil tersenyum.
"Tapi pak, orang nya mau Dp nya terlebih dahulu, jika tidak maka rumah itu akan di berikan pada orang lain!" Jelas Bu Siti.
"Sayang, tunggu lah beberapa hari lagi sampai uang dari penjualan tanah itu cair!" Pak Burhan membujuk Bu Siti.
"Tidak mas, pokok nya uang muka rumah itu harus di bayar secepat nya. Jika tidak, maka orang lain yang akan memiliki nya!" Bu Siti berkata dengan wajah cemberut.
"Sayang, berapa Uang muka nya?" Tanya pak Burhan pada akhir nya.
"30 juta!" Jawab bu Siti sambil mengerucut kan bibir nya.
"Baik lah, aku akan pinjam uang sama Gibran. Nanti setelah uang dari hasil penjualan tanah itu cair, kita akan lunasi semua nya!" Jawab Pak Burhan.
"Terima kasih sayang, aku bahagia sekali mendengar nya!" Ucap Bu Siti sambil memeluk tubuh pak Burhan dengan erat.
Pak Burhan langsung menghubungi putra nya agar datang ke rumah bu Siti, dia akan membahas masalah uang muka rumah yang di inginkan oleh bu Siti.
Ceklek.
Pintu terbuka, dan Gibran langsung masuk ke dalam rumah.
"Ayah, ada hal penting apa yang mau ayah bicarakan dengan ku?" Tanya Gibran dengan tidak sabar.
"Begini Gibran, Ayah dan bu Siti akan membeli rumah baru. Tapi orang nya meminta pelunasan uang muka sekarang juga, saat ini Ayah sedang tidak punya uang. Jadi Ayah mau pinjam uang mu dulu sebelum uang hasil penjualan tanah itu cair!" Pak Burhan mengutarakan maksud nya pada Gibran.
"Ayah, saat ini aku juga sedang tidak memiliki uang. Semua uang ku sudah aku habiskan untuk Santi, jadi aku tidak bisa meminjami ayah uang!" Jawab Gibran.
"Gibran, masa kamu tidak punya uang tabungan sama sekali? Bukan kah selama ini gaji mu cukup besar?" Pak Burhan tidak percaya dengan ucapan anak nya.
"Semua uang tabungan ku aku berikan pada Santi, aku juga tidak menyangka jika semua nya akan menjadi seperti ini!" Gibran berkata sambil menjambak rambut nya sendiri.
"Gibran, kenapa kamu sebodoh ini? Lalu apa kau sudah tanya sama ibu mu, kapan uang penjualan tanah itu cair?" Pak Burhan kembali bertanya.
"Belum pak!" Jawab Gibran sambil menggelengkan kepala nya.
Pak Burhan dan bu Siti menjadi kecewa, rumah impian mereka akan di ambil oleh orang lain jika mereka tidak segera membayar uang muka nya hari ini.
"Sayang, selama ini aku sering membelikan mu banyak perhiasan. Untuk sementara kamu jual saja dulu perhiasan kamu itu, aku akan ganti semua nya setelah uang nya cair!" Pak Burhan memberikan solusi atas permasalahan mereka.
"Tapi mas, sayang banget kalau aku harus menjual semua perhiasan itu! Aku mengumpul kan nya sedikit demi sedikit!" Bu Siti keberatan dengan usul dari pak Burhan.
"Sayang, ini hanya sementara. Aku akan membelikan mu lebih banyak perhiasan lagi saat uang dari penjualan tanah itu aku dapatkan nanti!" Pak Burhan meyakin kan bu Siti.
Bu Siti tampak terdiam, dia memikirkan apa yang di katakan oleh suami nya.
"Baik lah mas, tapi janji belikan aku perhiasan yang jauh lebih banyak dan lebih bagus ya nanti!" Pinta bu Siti.
"Iya sayang, aku janji! Apa sih yang tidak aku berikan pada mu, kita hanya perlu sedikit bersabar!" Ucap Pak Burhan sambil membelai pipi bu Siti.
"Mas, aku sudah tidak sabar lagi untuk pindah ke rumah itu. Kalau begitu, ayo temani aku menjual perhiasan itu. Setelah itu kita akan langsung membayar uang muka nya!" Ajak Bu Siti.
"Iya sayang, kita akan segera menempati rumah baru kita dalam waktu dekat ini!" Pak Burhan kembali meyakinkan bu Siti.
"Gibran, ayah dan bu Siti mau pergi dulu. Kamu jangan lupa desak ibu mu, pastikan jika uang dari penjualan tanah itu cepat cair. Agar kita bisa segera menyelesaikan semua ini!" Pak Burhan berkata pada putra nya.
"Iya pak, aku ini adalah putra ibu satu - satu nya. Akan ku pastikan semua harta ibu akan menjadi milik ku!" Jawab Gibran sambil mengangguk kan kepala nya.
"Bagus, kau memang putra ku. Ayah akan segera menceraikan ibu mu dan kita akan hidup bahagai bersama bu Siti, tapi setelah uang nya menjadi milik kita!" Pak Burhan berkata sambil menepuk bahu putra nya.
Pak Burhan dan Gibran memang memiliki niat jahat terhadap bu Meri, pak Burhan sendiri akan meresmikan pernikahan nya dengan bu Siti setelah dia berhasil menguasai semua uang nya bu Meri.
Padahal Gibran adalah putra kandung nya sendiri, tapi dia lebih mendukung pak Burhan dan wanita selingkuhan nya di bandingkan dengan melindungi ibu kandung nya sendiri.
klo g pngen hidup susah..... krja dunk santi....
wloupun g bikin kaya.... stidknya klo krja punya uang untuk mnyambung hidup.... bisa beli mkanan untuk ankmu...