NovelToon NovelToon
LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Dia tersenyum melihat Cakra yang masih memegangi tangan Lula.

"Mama, ini anak siapa? Kenapa ada di rumah kita?" tanya Cakra dengan penasaran.

Arini mengelus rambut Lula dengan sayang.

"Perkenalkan anak-anak, ini adik bungsu kalian yang baru, namanya Lula Ayodhya."

Pengumuman mendadak itu membuat ketiga saudara laki-laki itu mematung.

Bastian membetulkan kacamatanya yang hampir melorot.

Cakra membuka mulutnya lebar-lebar saking terkejutnya.

Sedangkan Dewa menatap ibunya dengan tatapan horor.

"Adik bungsu? Sejak kapan Mama hamil dan melahirkan?" teriak Dewa tidak percaya.

"Lula ini anak angkat keluarga kita, Papa kalian sudah setuju mengadopsinya tadi pagi."

"Lula menyelamatkan nyawa Mama kemarin siang dari serangan jantung."

Bastian langsung berjalan mendekati ibunya dengan wajah serius.

"Serangan jantung? Mama serius? Kenapa Mama tidak bilang padaku?"

"Mama sudah tidak apa-apa Bastian, Lula punya keajaiban yang bisa menyembuhkan orang."

"Bahkan tadi pagi Lula menyelamatkan perusahaan Papa dari kontrak jebakan."

Ketiga pemuda itu saling berpandangan.

Sulit dipercaya ada anak berumur lima tahun yang bisa melakukan semua hal mustahil itu.

"Ah sudahlah, yang penting sekarang aku punya adik perempuan!" sorak Cakra gembira.

"Akhirnya aku tidak perlu lagi menjadi kakak dari monster pemarah seperti Dewa."

Dewa mendelik tajam ke arah kakaknya.

"Siapa yang kau panggil monster, dasar kakak bodoh!" umpat Dewa kesal.

Di tengah pertengkaran itu, mata Lula tiba-tiba menatap lekat ke arah perut Dewa.

Lula melihat ada kabut tipis berwarna merah pudar di balik seragam sekolah Dewa.

Itu bukan kabut kematian, tapi itu adalah tanda luka fisik yang sedang ditahan.

Lula berjalan pelan mendekati Dewa yang masih sibuk memelototi Cakra.

"Kakak yang galak, perutnya berdarah ya?" tanya Lula tiba-tiba.

Dewa tersentak kaget dan langsung mundur selangkah sambil memegangi perut kirinya.

"A-apa maksudmu? Jangan bicara sembarangan anak kecil!" sergah Dewa gugup.

Arini dan Bastian langsung menatap Dewa dengan curiga.

"Dewa, kamu berkelahi lagi di sekolah?" tegur Arini dengan suara sedikit meninggi.

"Tidak Ma, mana mungkin aku berkelahi," elak Dewa sambil membuang muka.

Lula memiringkan kepalanya dengan polos.

"Tapi kulit di perut Kakak sobek terkena besi, kalau tidak diobati nanti ada cacing putih yang masuk."

Wajah Dewa langsung berubah pucat pasi mendengar deskripsi mengerikan itu.

Bastian berjalan cepat ke arah adiknya dan langsung menarik paksa kancing seragam Dewa.

Sret!

Kemeja putih itu terbuka dan memperlihatkan luka gores memanjang di perut Dewa yang tertutup perban seadanya.

Darah segar masih merembes dari balik perban itu.

"Astaga Dewa! Luka sedalam ini kenapa kau diamkan saja!" bentak Bastian marah.

Cakra yang tadinya suka bercanda langsung mengubah ekspresinya menjadi serius.

"Siapa yang melakukan ini padamu? Anak dari SMA Garuda lagi?" tanya Cakra dingin.

Dewa menunduk dan menggigit bibir bawahnya menahan sakit.

"Tadi ada yang mendorongku saat di halte bus, perutku terkena ujung pagar besi yang tajam."

Arini menutup mulutnya karena kaget dan panik.

"Cepat bawa ke ruang perawatan, Bastian, tolong obati luka adikmu."

"Ayo ikut aku ke dalam," perintah Bastian sambil menarik lengan Dewa.

Sebelum Dewa berjalan masuk, dia menoleh ke arah Lula yang sedang menatapnya khawatir.

"Kenapa kau bisa tahu kalau aku terluka?" tanya Dewa penasaran sekaligus bingung.

"Lula bisa melihat warna merah di perut Kakak," jawab Lula jujur.

Dewa terdiam sejenak lalu membuang muka untuk menutupi rasa gengsinya.

"Dasar anak aneh, jangan sok peduli padaku," gumam Dewa pelan lalu berjalan mengikuti Bastian.

Cakra tertawa geli melihat kelakuan adiknya yang keras kepala itu.

"Dewa itu memang mulutnya jahat, tapi aslinya dia cengeng, Lula jangan takut padanya ya."

Lula mengangguk mengerti.

"Kak Dewa mirip kucing jalanan yang suka mendesis kalau didekati, padahal dia cuma minta dielus."

Cakra terbahak-bahak mendengar perumpamaan itu sampai dia memegangi perutnya.

"Benar sekali! Mulai sekarang kau adalah adik kesayanganku Lula!"

Cakra kembali mengangkat Lula dan kali ini mendudukkannya di atas bahunya.

"Ayo kita masuk, aku akan mengambilkanmu sekotak besar es krim cokelat sebagai tanda perkenalan."

Lula bersorak gembira sambil memegangi rambut Cakra agar tidak jatuh.

Ini pertama kalinya ada orang yang mengajaknya makan es krim seenak itu.

Arini menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Cakra yang selalu seenaknya.

Namun ada senyum lega di bibir wanita paruh baya itu.

Ketiga putranya yang biasanya sibuk sendiri kini mulai menaruh perhatian pada kehadiran Lula.

Meskipun dengan cara mereka yang aneh dan canggung.

Malam itu meja makan keluarga Ayodhya terasa lebih ramai dari biasanya.

Baskoro dan Adrian belum pulang dari kantor karena masih mengurus sisa masalah kontrak.

Hanya ada Arini, Bastian, Cakra, Dewa, dan Lula.

Dewa duduk di ujung meja dengan perut yang sudah diperban rapi oleh Bastian.

Wajah Dewa masih terlihat sedikit pucat, tapi dia terus melirik ke arah piring Lula.

Lula sedang kesulitan memotong daging ayam di piringnya menggunakan pisau kecil.

Tangan kecilnya tidak cukup kuat untuk menekan pisau itu.

Lula baru saja mau menyerah dan memakai tangannya saja.

Tiba-tiba piringnya ditarik dari depan wajahnya.

Dewa mengambil piring Lula tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Dengan wajah datar, Dewa memotong-motong daging ayam itu menjadi ukuran kecil yang mudah dikunyah.

Setelah selesai, Dewa menggeser kembali piring itu ke depan Lula.

"Makanlah, jangan menatapku seperti itu," ucap Dewa sinis sambil memalingkan wajahnya.

Lula tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit menjadi garis lengkung.

"Terima kasih, Kak Dewa galak," ucap Lula gembira.

"Berhenti memanggilku galak, dasar bocah cerewet," balas Dewa pelan meski telinganya memerah.

Bastian dan Cakra saling bertukar pandang lalu tersenyum penuh arti.

Dewa yang biasanya paling benci direpotkan kini malah melayani anak kecil dengan sukarela.

Keajaiban Lula rupanya bukan hanya bisa menyembuhkan penyakit dan melihat nasib buruk.

Kehadirannya secara perlahan mulai mencairkan sifat-sifat keras dari para pria di keluarga Ayodhya ini.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni support nya🙏
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak heni🙏
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: kemana aja kak Heni
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak kemna aja kak kok baru kelihatan 🤭
Astiana 💕
mampir Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!