Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Mobil black SUV yang dikendarai Ardio melaju di jalanan malam dengan kecepatan tinggi.
Di dalam kabin mobil, jari Ardio mengetuk-ngetuk kemudi dengan tidak sabar.
"Cepat sedikit, Diki! Adel masih menangis di rumah," perintah Ardio pada sopir pribadinya.
"Baik, Bos! Ini sudah kecepatan maksimal tanpa bikin mobil terbalik di tikungan," sahut Diki panik sembari semakin menekan pedal gas.
Hanya butuh delapan menit bagi Ardio untuk sampai di kediaman mewahnya.
Tanpa menunggu pintu mobil dibukakan, Ardio melompat keluar dan langsung melangkah lebar menaiki tangga menuju lantai dua.
Di depan pintu kamar, terdengar suara tangisan Adel makin kuat. Ardio mendorong pintu dengan pelan agar tidak mengejutkan sang buah hati.
"Bi Inah," panggil Ardio cepat.
Bi Inah yang sedang menggendong Adel sambil terus berjalan bolak-balik langsung bernapas lega.
"Ya Tuhan... Tuan Ardio, akhirnya Tuan pulang!" ujar Bi inah.
"Sini, berikan Adel padaku," Ardio mengulurkan kedua tangannya.
Begitu Adel berpindah ke pelukan hangat Ardio, suara tangisan Adel perlahan berubah menjadi isakan-isakan kecil.
Kepala mungilnya langsung bersandar di dada Ardio, mencari aroma tubuh sang ayah yang membuainya dengan rasa aman.
"Ssshh... Pa-pa di sini, Sayang. Papa di sini," bisik Ardio penuh kelembutan.
Ia mengusap lembut punggung kecil Adel. "Siapa yang bikin Putri Papa menangis, hm? Maafkan Papa ya, bikin Adel menunggu."
"Tuan, Non Adel tadi panasnya sempat naik. Tapi sepertinya begitu mendengar suara Tuan, beliau langsung tenang," kata Bi Inah seraya menyodorkan botol susu hangat yang sudah disiapkan.
Ardio mengambil botol susu itu lalu duduk di kursi goyang dekat jendela. "Terima kasih, Bi. Bi Inah boleh istirahat sekarang. Biar malam ini Adel aku yang jaga."
"Tapi Tuan pasti lelah setelah urusan kantor..."
"Tidak apa-apa, Bi. Tugas terpentingku ada di kamar ini. Selamat malam, Bi," kata Ardio diiringi senyum tipis.
"Baik, Tuan. Selamat malam." Bi Inah membungkuk hormat lalu keluar ruangan, membiarkan sang King Mafia menikmati momen berharga bersama putri tunggalnya.
Ponsel di saku Ardio bergetar singkat. Satu pesan masuk dari Reno: "Bram sudah bicara, Bos. Nama-nama dalangnya sudah di tangan kita. Mau dieksekusi malam ini juga?"
Ardio menatap Adel yang kini mulai menyusu dengan tenang, matanya terpejam.
Jari mungil Adel menggenggam erat kerah kemeja Ardio, seolah takut ayahnya akan menghilang lagi.
Ardio membalas pesan Reno hanya dengan satu tangan: "Tahan mereka sampai besok pagi. Malam ini jangan ada yang menggangguku. Putriku sedang tidur."
Ardio menyandarkan kepalanya di kursi goyang, sambil menimang putri kecilnya.
Ardio masih setia memangku putri kecilnya yang kini sudah terlapisi selimut bulu lembut berwarna merah muda.
Jari Ardio yang dipenuhi bekas luka tembak dan sabetan senjata tajam mengusap perlahan pipi cabi Adel yang miring menempel di dadanya.
Pintu kamar mendadak terdorong sedikit. Langkah kaki yang hampir tak terdengar mendekat, itu Reno. Tangan kanan Ardio itu menunduk dalam, memegang sebuah map hitam tebal di tangannya.
"Bos," bisik Reno dengan suara yang sangat dipelankan, takut membuat tangisan sang bayi lagi.
"Laporan mengenai pergerakan kelompok musuh yang menyuruh Bram sudah siap. Kami menemukan indikasi mereka mulai mengintai area perumahan ini," bisiknya di telinga Ardio.
Ardio tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju pada wajah polos Adel.