Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si halu rara
Cahaya matahari sore menerobos menerpa dedaunan di luar jendela, membiaskan bayangan lembut di atas meja kayu kelas. Di saat teman-teman sekelasnya sibuk mencatat penjelasan dosen atau sekadar mengobrol santai menunggu jam kuliah berakhir, Rara justru berada di dunianya sendiri. Gadis berusia 19 tahun itu menopang dagunya dengan sebelah tangan, sementara jemarinya yang lain lincah mengusap layar ponsel yang memancarkan pendar terang.
Matanya berbinar-binar, pupilnya melebar setiap kali untaian kata di layar itu berganti. Rara adalah tipe gadis yang tidak hanya membaca novel, tetapi juga "menghirup" setiap adegannya. Baginya, fiksi adalah pelarian terbaik dari realita yang membosankan. Begitu ada deskripsi visual tokoh pria yang rupawan, fokusnya langsung terkunci total. Tak heran jika di usianya yang menginjak akhir belasan ini, daftar mantan kekasihnya masih bersih melompong—nol besar. Mana sempat berpikir untuk berpacaran di dunia nyata kalau standar pria di kepalanya setinggi langit akibat ribuan karakter pria fiksi yang ia konsumsi setiap hari?
"Sensual, misterius, tinggi 185 sentimeter..." gumam Rara pelan, bibirnya komat-kamit membaca paragraf deskripsi tokoh utama pria dalam novel yang sedang hits di platform favoritnya.
Jemarinya memperbesar ilustrasi visual yang tertera di bab tersebut. Tatapannya terpaku pada struktur rahang yang tegas, mata tajam seolah sanggup menembus jiwa, dan potongan rambut hitam yang jatuh sempurna di dahi sang karakter.
"Bahu lebar, garis tubuhnya tegas dan kekar... Anjirrr," umpatnya refleks, suaranya sedikit melengking di tengah keheningan kelas. Matanya melongo lebar, benar-benar terpesona sampai mengabaikan sekitar.
Tanpa sadar, ia menepuk mejanya pelan sembari menghembuskan napas berat yang penuh damba. "Kalau di dunia nyata ada yang modelan begini, gua juga mau banget, ya Tuhan! Langsung gua lamar sendiri!"
Puk!
Sebuah gulungan buku tulis melayang mulus dan mendarat tepat di belakang kepalanya. Benturan itu memang tidak terlalu keras, namun cukup sukses memecahkan gelembung fantasi indah yang sedang ia bangun.
"Aduh, Caa!" meringis pelan, Rara langsung mengelus bagian belakang kepalanya yang agak panas. Matanya mendelik tajam menatap gadis di sampingnya yang sedang bersedekap dada. "Elo ganggu banget, sih! Sedikit lagi gua hampir bisa ngerasain aura ketampanannya!"
Caca menghela napas berat, menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya yang sudah berada di tahap kronis itu. Ia membetulkan posisi duduknya dan menatap Rara dengan pandangan penuh rasa prihatin sekaligus geli.
"Jangan kebanyakan halu, Raa," potong Caca tegas, menunjuk layar ponsel Rara yang masih menampilkan gambar karakter pria bergaya webtoon tersebut. "Bangun dari tidur siang lu! Pria modelan begitu tuh cuma ada di imajinasi penulis sama gambar ilustrator. Di dunia nyata, cowok tinggi bahu lebar begitu kalau nggak atlet profesional, ya sudah punya orang. Lu nungguin yang kayak gitu muncul di depan kampus, sampai kita lulus juga kagak bakal ketemu!"
Rara memanyunkan bibirnya, merajuk karena gelembung khayalannya dihancurkan secara brutal oleh realita yang dilemparkan Caca. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memeluk ponselnya erat-erat di dada seolah melindungi harta karun berharga.
"Yaudah, sih!" sahut Rara bersungut-sungut, matanya memutar malas. "Kan cuma berandai-andai, Caca sayang. Nggak dosa juga khayalin cowok ganteng. Lagian siapa tahu aja, kan? Namanya juga hidup, ajaibnya nggak ada yang tahu!"
Sinar matahari siang menjelang sore membakar kulit saat bel sekolah menandakan berakhirnya jam pelajaran terakhir di kelas 12. Rara melangkah keluar dari gerbang sekolah dengan tas punggung yang terasa jauh lebih ringan. Rentetan ujian akhir yang melelahkan akhirnya usai sudah. Meskipun rasa cemas masih sedikit mengganjal—karena pengumuman kelulusan universitas impiannya belum keluar—rasa lega jauh lebih mendominasi pikirannya hari ini.
Ada satu agenda penting yang harus ia tuntaskan sore ini: berburu gaun untuk acara perpisahan kelulusan. Rara sudah lama mengincar sebuah toko pakaian kecil di seberang jalan raya dekat kompleks pertokoan. Toko sederhana itu terkenal menjual baju-baju trendi dengan harga yang relatif ramah di kantong pelajar.
Jalanan siang itu cukup padat. Deretan kendaraan bermotor lalu lalang menimbulkan kebisingan khas kota. Rara berjalan menyusuri trotoar menuju tempat penyeberangan jalan. Saat ia bersiap melangkah menyeberangi zebra cross, sebuah tepukan lembut di lengannya membuat Rara menghentikan langkah.
Ia menoleh dan mendapati seorang nenek tua berdiri tepat di sampingnya. Nenek itu mengenakan selendang lusuh, kulit wajahnya dipenuhi kerutan halus, namun matanya memancarkan pendar yang sangat jernih dan tak biasa.
"Perjalananmu baru saja dimulai, Nak... Berhati-hatilah," ucap sang nenek dengan suara serak namun terdengar sangat tegas di antara hiruk-pikuk suara klakson kendaraan.
Rara berkedip bingung, menatap nenek itu dengan kening berkerut. Namun, bukannya memberikan penjelasan tambahan, sang nenek hanya mengulas senyum tipis yang penuh misteri.
Ahh... mungkin maksud si Nenek ini gara-gara gue bentar lagi mau lulus dan masuk dunia kuliah kali ya? Dunia kampus kan emang katanya lebih keras, batin Rara berusaha merasionalkan pesan tersebut.
Rara membalas senyuman sang nenek dengan sopan, menyunggingkan kurva tipis di bibirnya. "Makasih ya, Nek," gumamnya pelan sebelum akhirnya melangkah menyeberangi jalan saat lampu penyeberangan berganti hijau.
Begitu sampai di seberang, Rara langsung berjalan menuju pintu toko pakaian pilihannya. Langkah kakinya penuh semangat. Ia memegang gagang pintu kaca toko yang seingatnya sedikit berdebu dan bertuliskan plang diskon sederhana lalu mendorongnya ke dalam.
Kring!
Bunyi denting bel pintu terdengar sangat nyaring dan bergema mulus, tidak seperti bel pintu toko biasa. Begitu kakinya melangkah melewati ambang pintu, aroma parfum mawar yang sangat elegan dan mewah langsung menyergap indra penciumannya.
Rara membeku di tempat. Matanya membelalak lebar, melongo menatap pemandangan di hadapannya.
Ruangan di sekelilingnya sama sekali bukan toko baju langganannya yang sempit dengan deretan gantungan besi murah. Tempat ia berdiri sekarang adalah sebuah butik yang luar biasa megah. Lantainya terbuat dari marmer putih mengkilap yang memantulkan bayangan tubuhnya. Lampu gantung kristal berukuran raksasa menggantung anggun di langit-langit setinggi belasan meter, memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Di sekelilingnya terpesona deretan gaun-gaun malam berdesain mahal yang dipajang di manekin kelas atas.
"Anjir... perasaan kagak begini deh tokonya..." bisik Rara panik, suaranya tercekat di tenggorokan.
Jantungnya mulai berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, Rara buru-buru berbalik arah. Ia memegang kembali gagang pintu kaca yang baru saja ia lewati dan mendorongnya lebar-lebar untuk kembali ke trotoar jalan raya yang bising.
Namun, saat pintu itu terbuka, napas Rara terhenti seketika.
Di luar pintu bukan lagi jalan raya, tidak ada deretan sepeda motor, tidak ada bau polusi, dan tidak ada nenek tua yang tadi menyapa. Pintu itu justru terbuka menuju sebuah lorong luas berkubah megah sebuah pusat perbelanjaan atau mall mewah berarsitektur klasik Eropa yang sangat megah dan sama sekali asing baginya. Orang-orang yang berlalu-lalang di luar sana mengenakan pakaian berdesain mewah bagai bangsawan, sama sekali bukan gaya busana orang-orang di kotanya.