Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Pertama
Jam 10 tepat, lonceng pesantren Darunnajah berbunyi dua kali. Itu tanda semua santri sudah harus duduk rapi di dalam masjid megah yang karpetnya hijau tua itu untuk Sholat Dhuha berjamaah.
Gus Azam sudah berdiri di mihrab dengan gamis putih dan peci hitamnya yang khas. Suaranya yang berat dan khusyu menggema saat takbiratul ihram, diikuti ratusan santri putra di belakangnya, lalu santri putri yang terpisah oleh tabir tipis.
Dan di saf paling depan santri putri — yang paling dekat dengan tabir — berdirilah tiga sosok yang kalau anak santri bilang adalah Tiga Bidadari Darunnajah.
Ning Ummah di paling kanan, dengan mukena putih polosnya yang anggun dan wibawa seperti biasanya. Di tengah, Ning Latifah dengan mukena putih yang ada renda-renda kecilnya, bibirnya komat-kamit baca doa tapi matanya sesekali ngelirik ke arah mihrab, ke suaminya.
Dan di paling kiri, yang paling kecil, paling pendiam, Ning Sopiah. Mukena putihnya kebesaran sedikit, karena memang itu mukena pemberian Ning Ummah. Kepalanya tertunduk dalam, hanya kening putihnya yang sesekali terlihat saat sujud. Khusyu sekali.
Sholat Dhuha dua rakaat selesai dengan salam. Tidak bubar. Seperti biasa, dilanjutkan dengan dzikir pagi yang dipimpin Gus Azam sendiri.
"Subhanallah... Subhanallah..."
Suara dzikir ratusan santri bersahutan, menggema di kubah masjid. Ning Sopiah memejamkan mata, air matanya menetes tanpa sadar. Ia memang begitu, kalau sudah dzikir, hatinya lembut sekali. Gus Azam dari mihrab, lewat celah tabir yang sedikit terbuka karena angin, melihat itu. Melihat bahu kecil istrinya yang bergetar menahan tangis karena khusyu.
Setelah dzikir, murojaah Qur'an. Lalu Gus Azam berdiri untuk memberikan khutbah singkat.
Khutbah hari ini tentang "Menjadi Cahaya di Tengah Kegelapan". Gus Azam bicara dengan tenang, tapi setiap kalimatnya menusuk hati. Para santri dan Asatidz Asatidzah mendengarkan dengan hikmat, beberapa mencatat.
Ning Sopiah mendengarkan sambil menunduk, tapi di dalam hatinya ia berbisik, "Gus kalau khutbah gini gagah banget ya Allah... pantesan aku mau aja jadi yang ketiga..."
Selesai pengajian, semua jamaah berdiri untuk bermushofahah. Satu per satu santri menyalami Gus Azam, lalu berbaris menyalami tiga Ning.
Masjid perlahan sepi. Santri sudah kembali ke asrama masing-masing untuk persiapan sekolah diniyah. Tinggal sisa aroma minyak wangi dan sajadah yang belum dilipat.
Tinggal empat orang. Gus Azam dan tiga istrinya.
Seperti kebiasaan, Ning Ummah maju duluan, mencium punggung tangan Gus Azam dengan takzim.
"Gus," sapa Ning Ummah lembut.
Gus Azam mengangguk, mengusap kepala Ning Ummah. "Ummah sudah pinter hari ini, khutbahnya didengerin ya?"
Ning Ummah tersenyum. "Selalu, Gus."
Giliran Ning Latifah. Kalau Ning Latifah ini beda. Ia tidak langsung salim, tapi narik tangan Gus Azam, terus ciumnya lama sambil ngedip-ngedip genit.
"Gus, tangan Gus wangi... habis pegang apa? Hati aku ya?"
Gus Azam langsung melot. "LATIFAH. Ini masjid."
Ning Latifah ngak. "Ih kan bener, Gus. Hati Latifah kan Gus yang pegang."
Ning Ummah cuma geleng-geleng sambil senyum, "Ya Allah Latifah, di masjid juga gombal."
Tinggal Ning Sopiah. Yang paling terakhir. Langkahnya kecil-kecil, mukenanya masih terpasang sempurna, hanya wajahnya yang bulat dan matanya yang sembab bekas nangis dzikir tadi yang terlihat.
Ia membungkuk, hendak mencium punggung tangan Gus Azam seperti biasa. Keningnya — yang masih tertutup tipis kain mukena putih bagian dalam — menempel di punggung tangan Gus Azam yang hangat.
Dan di situlah Gus Azam berhenti.
Tangannya yang tadi akan langsung ditarik, tiba-tiba menahan. Matanya menatap sangat dalam kening Ning Sopiah yang menempel itu. Lama.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Harusnya cuma sekilas.
Ning Ummah dan Ning Latifah saling pandang.
Gus Azam dengan gerakan yang sangat pelan, mengusap ubun-ubun kepala Ning Sopiah yang masih tertutup mukena putih itu. Elusannya lembut, seperti sedang mengusap sesuatu yang sangat berharga.
"Ning..." suara Gus Azam pelan, tapi berat.
Ning Sopiah masih menunduk, jantungnya berdegup kencang sampai kedengeran di telinganya sendiri. Deg... deg... deg...
"Nggih, Gus?" suaranya hampir tidak terdengar.
Gus Azam menarik nafas panjang. Ia menatap dua istrinya yang lain sekilas, lalu kembali ke Ning Sopiah.
"Ning, tunggu saya di ruangan saya ya. Ada yang ingin saya bicarakan. Penting."
Deg. Jantung Ning Sopiah seperti mau loncat. Tunggu di ruangan? Ruangan kerja Gus Azam yang pintunya dari kayu jati itu? Yang cuma boleh dimasuki kalau ada urusan pesantren?
Ning Latifah yang dari tadi nahan, langsung nyeletuk dengan suara cempreng manjanya,
"HMMMMM CIIIIEEEEE MAU LANJUT YANG SEMALAM YA GUS????"
Seketika suasana khusyu tadi buyar jadi lucu.
Gus Azam langsung membulatkan matanya, menatap Ning Latifah tajam.
"LATIFAH! Kamu ya... mulutmu itu kalau tidak dijaga, nanti saya jahit pakai benang jahit mukena kamu itu!"
Ning Latifah langsung tutup mulut dengan kedua tangannya, tapi matanya masih ngakak, "Ampun Gus... ampun... Latifah cuma nebak..."
Ning Ummah mencubit pelan lengan Ning Latifah, "Sudah ah, jangan digodain adikmu."
Gus Azam berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya sebagai pemimpin pesantren. Ia menatap Ning Sopiah yang mukanya sudah merah padam, merahnya sampai ke telinga, kontras dengan mukena putihnya.
"Tidak, Ning. Saya mau memberikan tugas mengajar pada Ning Sopiah, sebelum dia melanjutkan studi kuliahnya bulan depan. Ini amanah."
Ning Sopiah mengangguk cepat, masih menunduk, "Nggih Gus, Sopiah tunggu di ruangan..."
Ia pun berjalan cepat-cepat keluar dari masjid, mukenanya berkibar-kibar kecil, seperti dikejar. Meninggalkan Gus Azam yang masih berdiri menatap punggungnya.
*DI RUANGAN KERJA GUS AZAM - 10 MENIT KEMUDIAN*
Ruangan itu tidak besar, tapi wangi kayu dan kitab. Di dinding ada rak kitab kuning yang tinggi, di tengah ada meja kayu jati dengan tumpukan proposal pembangunan asrama baru. Di sudut ada sajadah kecil yang selalu dipakai Gus Azam untuk sholat sunnah.
Ning Sopiah duduk di kursi tamu, masih dengan mukena putihnya. Ia tidak berani melepas, tidak berani duduk senderan, duduknya tegak, tangannya meremas-remas ujung mukena. Gugup.
Tok. Tok. Tok.
Pintu diketuk dari luar, lalu terbuka. Gus Azam masuk, sudah melepas pecinya, rambutnya sedikit berantakan.
"Ning," sapanya.
Ning Sopiah langsung berdiri. "Gus!"
"Duduk, duduk. Jangan berdiri."
Gus Azam duduk di kursi kebesarannya, di depan Ning Sopiah. Ia menatap istrinya yang ketiga ini lama. Mukena putih, wajah polos tanpa make up, mata sembab.
"Sopiah," Gus Azam memulai, suaranya kini tidak seperti di masjid. Lebih pelan, lebih pribadi, "Kamu tau kenapa saya panggil kamu ke sini?"
Ning Sopiah menggeleng pelan.
"Karena tadi... waktu kamu salim, kening kamu nempel di tangan saya... saya merasa... khusyu saya yang dari tadi saya jaga, runtuh."
Ning Sopiah kaget, "Sopiah salah ya Gus? Sopiah minta maaf..."
"Bukan salah kamu, Ning. Salah saya."
Gus Azam berdiri, berjalan memutari meja, lalu berjongkok di depan Ning Sopiah. Posisi mereka kini sejajar. Gus Azam menatap mata Ning Sopiah dari bawah mukenanya.
"Tadi waktu khutbah, saya bilang jadi cahaya di tengah kegelapan. Saya suruh santri jadi cahaya. Tapi saya sendiri... saya gelap kalau tidak ada kamu di saf depan. Kamu tau gak, Ning? Tadi saya hampir salah baca surat. Harusnya Ad-Dhuha, yang keluar malah An-Nisa. Ayat tentang wanita."
Ning Sopiah membelalak, "Gus..."
Gus Azam tersenyum, senyum yang jarang sekali ia tunjukkan, senyum yang hanya untuk tiga istrinya.
"Saya mau kasih kamu tugas mengajar. Tapi bukan mengajar santri putri. Saya mau kamu mengajar saya."
Ning Sopiah bingung, "Mengajar Gus? Sopiah kan masih kecil ilmunya..."
Gus Azam mengangguk, lalu dengan sangat hati-hati, ia mengangkat tangannya, menyentuh ujung mukena putih Ning Sopiah, merapikannya yang tadi agak miring.
"Kamu ajari saya bagaimana caranya dzikir sampai nangis seperti kamu tadi. Kamu ajari saya bagaimana caranya murojaah sampai hati bergetar. Karena sejak kamu jadi istri saya, saya baru tau... ternyata khusyu itu tidak hanya di sajadah. Khusyu itu juga waktu melihat istri sendiri sedang berdoa dengan mukena kebesaran."
Ning Sopiah sudah tidak bisa berkata-kata, air matanya menetes lagi, tapi kali ini bukan karena dzikir, karena malu dan terharu.
Gus Azam menghapus air mata itu dengan punggung jarinya, masih lewat kain mukena.
"Ning Sopiah, tugas mengajar kamu mulai sore ini. Kamu pegang kelas Tahsin Qur'an putri. Itu tugas resmi dari pesantren. Tapi tugas tidak resmi dari suamimu..."
Gus Azam mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di dekat ubun-ubun yang masih tertutup mukena putih itu, wangi melati dari mukena Ning Sopiah tercium lembut.
"Tugas tidak resmi kamu adalah... temani saya di ruangan ini setiap habis Dhuha. Pakai mukena putih ini. Jangan dilepas dulu. Karena saya mau lihat bidadari Darunnajah saya yang ketiga ini... berlama-lama di ruangan saya. Boleh?"
Ning Sopiah menunduk, suaranya gemetar tapi ada senyum di sana,
"Boleh, Gus... asal Gus janji tidak bulatin mata lagi kayak tadi sama Kak Latifah, Sopiah takut..."
Gus Azam tertawa, tawanya lepas, khusyu dan romantisnya bercampur jadi satu. Ia menarik kursi, duduk kembali, tapi tangannya tetap memegang ujung mukena Ning Sopiah, tidak dilepas.
"Janji. Sekarang, Ustadzah Sopiah, kita mulai rapat tugas mengajar ya. Rapatnya berdua saja. Pintunya biar saya kunci dulu, biar Kak Latifah tidak ngintip dan teriak 'cie' lagi."
Ning Sopiah tertawa kecil, untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan.
Dan di luar, Ning Latifah yang memang lagi ngintip dari jendela langsung berbisik ke Ning Ummah, "Kak Ummah! Dikunci! Beneran dilanjut yang semalam!"
Ning Ummah hanya tersenyum sambil menarik jilbab Ning Latifah, "Sudah, biarkan. Adikmu itu butuh ruang untuk jadi cahaya Gus Azam juga."
---Bersambung---