Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
.
Keesokan harinya, Selena benar-benar datang ke Wijaya Kusuma Group bersama Tuan Gunawan. Sejak pagi, gadis itu sudah mempersiapkan dirinya dengan baik mungkin agar terlihat sempurna di mata Tuan Nathan. Ia mengenakan dress elegan dengan potongan sederhana yang tetap memperlihatkan kesan anggun, rambutnya ditata rapi, sementara riasan wajahnya dibuat lembut agar menampilkan kesan polos dan tidak berlebihan.
Begitu sampai di lobi perusahaan, mereka segera menuju meja resepsionis.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis yang melihat kedatangan mereka.
Tuan Gunawan menganggukkan kepala dengan sikap tenang. “Kami dari Bagaskara grup, kedatangan kami karena ingin bertemu dengan Tuan Nathan Wijaya Kusuma."
Resepsionis itu memperhatikan keduanya dengan lebih teliti. Dan ia mengenali sedang berhadapan dengan siapa. "Apakah sebelumnya sudah membuat janji dengan Tuan Nathan?"
"Belum," jawab Tuan Gunawan.
Resepsionis itu tersenyum sopan. "Baik, kalau begitu saya akan menghubungi asisten pribadi Tuan Nathan terlebih dahulu untuk memastikan apakah beliau bisa menerima Anda."
"Silakan," jawab Tuan Gunawan singkat.
Wanita itu kemudian mengambil telepon yang berada di atas mejanya dan menghubungi nomor internal. "Selamat pagi, Mbak Alena. Ada Tuan Gunawan dan Nona Selena dari Bagaskara Group yang ingin bertemu dengan Tuan Nathan. Tetapi mereka belum memiliki janji sebelumnya."
Selena yang mendengar nama Alena disebut langsung mengangkat wajahnya. Ada sedikit rasa iri yang muncul di sorot matanya. Sementara Tuan Gunawan hanya berdiri diam menunggu.
Beberapa detik kemudian staf tersebut menutup sambungan teleponnya. "Silakan menunggu sebentar. Saya sudah menghubungi asisten Tuan Nathan dan akan menyampaikan kedatangan Anda."
"Baik. Terima kasih," jawab Tuan Gunawan.
Selena tersenyum tipis, tetapi di dalam hatinya mulai muncul rasa tidak nyaman. Alena. Bahkan sebelum bertemu dengan Nathan, mereka harus melewati Alena terlebih dahulu. Dan entah mengapa, hal itu membuat Selena merasa kesal.
Tak lama kemudian, resepsionis mengatakan pada mereka bahwa tuan Nathan bersedia menerima. Mereka pun segera menuju lift yang ditunjukkan oleh resepsionis.
Di dalam lift yang tertutup rapat, Selena terpaksa menahan rasa kesalnya. Andai saja tidak sedang bersama dengan papanya, pasti gadis itu sudah memanggil seluruh penghuni kebun binatang yang ada di dunia.
*
Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif, Selena langsung memperbaiki posisi tas kecil yang menggantung di lengannya. Ia berjalan di samping Tuan Gunawan dengan langkah anggun, sementara beberapa pasang mata karyawan yang mereka lewati sesekali memperhatikan keberadaan mereka.
Tidak lama kemudian, seorang staf membawa mereka menuju ruang kerja Nathan.
"Silakan menunggu sebentar. Saya akan memberitahukan kedatangan Anda kepada Nona Alena," ucap staf tersebut sebelum meninggalkan mereka di ruang tunggu.
Lagi-lagi nama Alena disebut dan itu membuat Selena semakin kesal. Namun, apa daya? Gadis itu hanya bisa mengangguk sambil tersenyum lembut. Namun begitu staf itu pergi, ekspresi di wajahnya berubah sedikit. Kenapa harus Alena yang berada di sisi Tuan Nathan?
Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja Nathan terbuka.
"Silakan masuk. Tuan Nathan sudah bisa menerima Anda."
Tuan Gunawan segera berjalan masuk lebih dahulu, diikuti oleh Selena. Begitu memasuki ruangan tersebut, Selena langsung melihat Nathan yang duduk di balik meja kerjanya. Pria itu mengenakan setelan formal berwarna gelap dengan kemeja putih yang membuat penampilannya terlihat semakin berwibawa.
Namun yang membuat Selena sedikit kecewa adalah Nathan sama sekali tidak menunjukkan perubahan ekspresi ketika melihatnya. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan hangat. Apalagi saat melihat Alena yang berdiri sedikit di belakang pria itu. Selena benar-benar ingin menjambak rambut Alena.
Nathan mengangkat wajahnya menatap ke arah Tuan Gunawan. "Selamat pagi, Tuan Gunawan. Silakan duduk," ucap Nathan formal.
Selena menggigit bagian dalam pipinya. Ia sudah berdandan sebaik mungkin, tetapi pria itu bahkan tidak meliriknya sama sekali.
"Terima kasih, Tuan Nathan," jawab Tuan Gunawan sambil mengambil tempat duduk.
Selena ikut duduk di samping papanya dengan senyum yang tetap terpasang di wajahnya.
Nathan menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya. "Ada keperluan apa sampai Tuan Gunawan datang langsung ke sini?" To the point. Tanpa basa-basi. Memang seperti itulah rumor tentang Nathan.
Tuan Gunawan menarik napas panjang. Ada rasa kesal dalam hatinya melihat Alena yang sama sekali tidak menyapanya. Namun, mereka sedang berada di Wijaya Kusuma. Bukan Bagaskara grup dimana ia bisa berteriak seenaknya pada Alena. Akhirnya tuan Gunawan menyampaikan maksud kedatangannya.
"Saya datang untuk membicarakan Alena."
Mata Nathan langsung berubah sedikit lebih tajam. "Alena?"
"Ya." Tuan Gunawan mengangguk. "Saya ingin membawanya kembali ke Bagaskara Group."
Ruangan itu mendadak hening.
Alena diam-diam memperhatikan Nathan, menunggu reaksi pria tersebut. Ia berharap Nathan akan menolak. Namun apa yang kemudian keluar dari mulut pria itu justru membuatnya terkejut.
"Boleh."
Tiga orang yang menunjukkan reaksi berbeda. Alena mengepalkan tangannya dengan wajah mengeras. Selena mengerjapkan mata. Tuan Gunawan bahkan tampak tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. Semudah itu?
"Benarkah?" tanya tuan Gunawan memastikan.
Nathan mengangguk santai. "Jika Tuan Gunawan ingin membawa Alena kembali, saya tidak akan menghalanginya."
Selena yang sejak tadi duduk tenang spontan menoleh ke arah Alena. Seringai kemenangan muncul di sudut bibirnya.
"Tetapi…”
Satu kata itu membuat Tuan Gunawan kembali menatapnya.
Nathan membuka laci meja kerjanya dengan tenang. Lalu mengambil sebuah map berwarna hitam dari dalam laci, kemudian meletakkannya di atas meja.
"Alena tidak bisa begitu saja meninggalkan perusahaan ini."
"Kenapa? Saya adalah papanya. Dan saya berhak membawanya."
"Dia mungkin putri Anda. Tapi dia sudah menjadi karyawan Wijaya Kusuma grup. Dan dia sudah menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan ini,” jawab Nathan sambil membuka map tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen lalu menghadapkannya pada Tuan Gunawan.
Selena dengan cepat mengambil dokumen tersebut membacanya perlahan dan seketika itu wajahnya berubah. Senyum kemenangan yang tadi menghias wajahnya lenyap.
"Kontrak kerja selama lima tahun,” gumamnya pelan.
Tuan Gunawan langsung mengambil dokumen itu dari tangan Selena. Matanya bergerak cepat membaca beberapa bagian yang tercantum di dalamnya. Dan semakin lama, wajah pria itu semakin berubah, sama seperti Selena.
"Ini..." gumamnya. "Sepuluh milyar?” tanyanya dengan suara bagai tercekat di tenggorokan.
Nathan bersandar santai bahkan menyilangkan dua tangannya di depan dada. Sementara Alena yang berdiri di belakangnya seketika tersenyum tipis. Ada gunanya juga dia menandatangani kontrak tersebut.
"Itu adalah biaya penalti yang harus dibayar oleh Alena jika dia mengundurkan diri sebelum masa kontraknya berakhir.”
Tuan Gunawan langsung mengangkat wajah seraya menelan ludahnya kasar. "Ini tidak masuk akal!" serunya dengan suara meninggi. "Ini pasti hanya akal-akalan Anda untuk mempertahankan Alena di perusahaan ini."
Nathan tidak menunjukkan sedikit pun perubahan emosi. "Terserah Anda mau berkata apa. Tapi kontraknya sudah ditandatangani oleh Alena. Ada tanda tangannya di setiap halaman yang membutuhkan persetujuan. Dan jika Anda ingin mengambil karyawan saya dengan paksa tanpa mengikuti prosedur kontrak, saya bisa membawa ini ke jalur hukum.”
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣