NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dikhianati

Bangkit Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Kebangkitan pecundang / Menjadi Pengusaha / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.

"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar

"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.

Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?

Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 09

Keesokan hari ketika Alfa baru saja selesai sarapan, terdengar ponselnya berdering. Segera diraihnya benda yang dia letakkan di atas meja tersebut, begitu melihat nama temannya muncul di layar.

“Assalamu'alaikum, Fa. Maaf baru bisa menghubungi. Pak Mandor tadi baru saja datang,” ujar Herman setelah panggilan tersambung.

“Waalaikumsalam. Terus gimana, Bro?” tanya Alfa penuh harap.

“Alhamdulillah, besok kamu bisa masuk kerja. Tapi kalau kamu mau, hari ini juga boleh datang. Kebetulan ada pekerjaan yang sedang dikebut.”

Alfa langsung tersenyum lega. “Aku akan datang hari ini saja.”

“Serius?” tanya Herman.

“Serius, lah" jawab Alfa mantap. "Aku memang sedang butuh pekerjaan.”

“Baiklah. Datang saja ke proyek. Lokasinya di pembangunan apartemen dekat jalan utama. Nanti aku tunggu di pos proyek."

“Siap. Jam berapa?” tanya Alfa selanjutnya.

“Kalau bisa datang sebelum jam delapan.”

“Baiklah, Insya Allah aku sudah sampai di sana.”

Setelah panggilan berakhir, Alfa mengembuskan napas panjang. Akhirnya ada sesuatu yang bisa membuatnya kembali merasa memiliki tujuan. Dia segera masuk ke kamar untuk bersiap. Sesaat kemudian sudah keluar lagi, dengan tas ransel sederhana yang disandang di bahu kirinya. Sebelum berangkat, Alfa menemui kedua orangtuanya yang sedang berada di belakang rumah.

“Yah, Bu,” panggilnya sambil berdiri di dekat pintu.

Bu Mala menoleh. “Kenapa, Nak?”

“Temanku barusan menelepon. Dia mengajakku bekerja.”

Pak Ikhsan yang sedang memotong rumput langsung mengangkat wajah. “Kerja di mana?”

“Di proyek pembangunan apartemen, Yah. Aku kerja bangunan,” jawab Alfa jujur.

Bu Mala tampak terdiam. Dia tahu pekerjaan itu tidak ringan, tetapi ia tak punya pilihan jika sang putra tak keberatan.

“Kamu yakin?” tanyanya pelan.

Alfa mengangguk. “Yakin, Bu.”

“Pekerjaannya berat, Nak.”

“Iya... Aku tahu.”

Pak Ikhsan meletakkan gunting potong. “Nggak apa-apa, Nak. Kamu tidak perlu merasa malu melakukan pekerjaan apa pun. Selama halal, ayah justru bangga kamu mau berusaha.”

“Itu juga yang aku pikirkan, Yah,” sahut Alfa sambil tersenyum.

Bu Mala kemudian berdiri dan menghampiri putranya. “Jaga dirimu baik-baik. Jangan memaksakan diri kalau tubuhmu sudah tidak kuat.”

“Iya, Bu. Aku akan ingat pesan Ibu,” jawab Alfa.

Lantas Bu Mala meraih tangan Alfa dan menggenggamnya erat. “Semoga ini menjadi awal yang baik untukmu, Nak.”

“Aamiin.”

Kemudian Alfa mencium tangan kedua orangtuanya lalu berangkat. Kali ini langkahnya terasa berbeda. Dia memang belum tahu akan seperti apa kehidupannya setelah ini, tetapi setidaknya dia sudah mengambil keputusan untuk bergerak.

***

Sekitar pukul setengah delapan, Alfa tiba di lokasi proyek. Bangunan apartemen yang sedang dikerjakan itu sudah berdiri beberapa lantai. Di sekelilingnya terdapat tumpukan pasir, batu, besi, batu-bata, dan berbagai material bangunan lainnya. Beberapa pekerja tampak mulai sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang membawa barang, sementara sebagian lainnya mengerjakan dinding dan memasang rangka.

Alfa berhenti di depan pintu masuk proyek sambil mencari-cari wajah temannya.

“Alfa...!” terdengar teriak seseorang.

Dia menoleh dan melihat seorang pria melambaikan tangan dari dekat pos keamanan.

“Bro!” Alfa segera menghampirinya.

“Akhirnya datang juga,” sambut Herman senang.

“Iya. Maaf kalau agak mepet.”

“Tidak masalah. Yang penting kamu sudah datang.”

Kemudian Herman membawa Alfa menemui mandor proyek. “Pak, ini Alfa yang kemarin saya ceritakan.”

Mandor tersebut mengamati Alfa dari atas sampai bawah. “Kamu yang mau kerja di sini?”

“Iya, Pak,” jawab Alfa sopan.

“Pernah kerja bangunan sebelumnya?”

Alfa langsung menggeleng. “Belum pernah, Pak.”

“Kalau begitu, tugas kamu untuk membimbing dia, Man," kata mandor yang usianya kira-kira empat puluhan.

“Baik, Pak,” jawab Herman sambil mengangguk.

Mandor itu menyerahkan sebuah helm proyek dan sarung tangan. “Pakai ini. Keselamatan dalam bekerja adalah paling utama.”

Alfa menerima perlengkapan tersebut. “Siap, Pak.”

Selanjutnya Herman mengajak Alfa menuju area tumpukan material. Dia memberi pengarahan kepada Alfa tentang pekerjaan yang harus dilakukannya. "Untuk sementara, kamu membantu mengangkut batu-bata ini di sana," ucapnya seraya menunjuk ke tempat pekerja yang mengerjakan dinding.

Setelah memahami apa yang harus dilakukan, Alfa pun mulai bekerja. Dia mengambil gerobak dorong yang berada tak jauh dari tumpukan material, lalu memasukkan beberapa batu-bata ke dalamnya. Setelah dirasa cukup, Alfa mendorong gerobak tersebut menuju tempat yang tadi ditunjukkan Herman.

Awalnya dia masih mampu mengikuti ritme para pekerja lain. Akan tetapi, setelah beberapa kali bolak-balik, keringat mulai membasahi wajah dan punggungnya. Tangannya pun terasa pegal karena harus terus mengangkat batu-bata dan mendorong gerobak melewati area yang tidak rata. Apalagi panas matahari semakin menyengat ketika hari mendekati siang. Sejenak Alfa berhenti, sambil menyeka keringatnya.

Namun, salah seorang pekerja ternyata memperhatikannya sejak tadi. “Hei, kamu! Kalau kerja yang benar, jangan malas-malasan!” tegurnya.

“Baru kerja segitu saja sudah capek. Dasar pemalas! Jangan karena kamu bawaannya Herman, bisa seenaknya bekerja!”

Alfa menoleh, belum sempat dia menjawab, Herman yang berada tidak jauh dari sana segera menghampiri mereka.

“Ada apa, ini?” tanyanya sambil melihat keduanya bergantian.

Pria itu menunjuk ke arah Alfa. “Temanmu itu, baru beberapa kali mengangkut batu-bata saja, sudah kebanyakan berhenti dari tadi."

Herman melirik Alfa yang masih berdiri sambil memegang pegangan gerobak. “Dia kan, memang baru pertama kali kerja di proyek, ya wajarlah kalau masih menyesuaikan diri,” jelasnya dengan tenang

“Kalau baru, ya, bukan berarti bisa kerja seenaknya,” sahut pria itu.

“Saya paham,” jawab Herman. “Tapi tidak seharusnya kamu berbicara keras padanya. Cukup kasih tahu baik-baik, jangan langsung menyebut dia pemalas.”

Pria itu mendengus lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.

Herman kemudian menatap Alfa. “Maaf ya, Fa. Hari pertama bekerja, kamu justru mendapat perlakuan tidak mengenakkan."

"Kalau kamu mau berhenti tidak apa-apa, karena memang beginilah ritme bekerja di lapangan, penuh tantangan."

Alfa menggeleng. Genggaman tangannya pada pegangan gerobak makin erat. "Aku tidak akan berhenti, Bro. Apalagi menyerah hanya karena teguran seperti itu.”

Herman tersenyum tipis mendengar jawaban tersebut. “Ya sudah. Kalau begitu, lanjutkan pekerjaanmu. Tapi tetap hati-hati, jangan sampai baru hari pertama sudah tumbang.”

Tanpa banyak bicara, Alfa kembali melanjutkan pekerjaannya. memasukkan batu-bata ke dalam gerobak lalu mendorongnya menuju tempat yang tadi. Kali ini langkahnya lebih mantap.

***

Saat jam istirahat tiba, Semua pekerja meninggalkan lokasi proyek untuk makan. Herman menghampiri Alfa dan mengajaknya ke kantin.

"Ayo, ikut aku ke kantin. Di sini kita dapat jatah makan sekali saat makan siang," ujarnya memberitahu. Alfa mengangguk mengikuti Herman ke kantin.

Sesampainya di kantin, keduanya mengambil nasi dan lauk, lalu Alfa berjalan di belakang Herman menuju tempat yang masih kosong, sambil membawa nampan berisi makanan dan segelas air.

Terlalu serius melihat ke depan, hingga Alfa tak menyadari seorang sengaja menjulurkan kaki di jalan yang hendak dia lewati. Akibatnya kakinya tersandung hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Brukk!!

Prang...!!!

Nampan di tangan Alfa terlepas bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh tersungkur ke lantai. Makanan pun berhamburan mengalihkan perhatian semua orang yang berada di tempat tersebut.

1
Nar Sih
alfa...niat yg baik harus di segera kan nih ,biar sgra halal☺️
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
🤭🤭
〈⎳ FT. Zira: /Shhh//Shhh/
total 10 replies
vania larasati
lanjut
Patrick Khan
bener pelan tp pasti aja..👏👏
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huumm
total 1 replies
Patrick Khan
ahhh ayudia sat set ya..takut alfa di gondol wadon liyo👏👏👏🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sekarang jaman emansipasi wanita 🤭
total 1 replies
Nar Sih
tuh alfa udah dilamar duluan sama ayudia ,terima aja yaa mungkin dgn menikah kmu akan sgra tau tentang kesehatan mu
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo
total 1 replies
vania larasati
lanjut
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
wadidaw
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤔🤔🤔🤔🤔
total 1 replies
Nar Sih
hukuman dan balasan yg pas untuk suami mu davina ,dan bntr lgi kmu yg dpt hukum karma nya🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭😥🤭😥🤭😥🤭
total 1 replies
Patrick Khan
wihhh serem jg hukumannya
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: dihhh... gimana sih, 🤭😥🤭😥🤭
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
huh hah!!!
The froge: Mampir juga KA ke novel aku yg berjudul The Silent Detective: Misteri di Balik Kabut London
total 4 replies
Nar Sih
amar sdh mulai kena karma nya ,jgn,,dia punya musuh nih selain dgn alfa
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Esther
Siapa yg memanggil Ammar ?
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: entah lah🤭
total 1 replies
vania larasati
lanjut
Nar Sih
momz kasih juga hukuman buat si davina yg sombong 🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: gantian mam
total 1 replies
Patrick Khan
bu jgn anaknya terus yg sakit..gantian emak ato buapaknya..kasian klo anaknya terus😭😭😭gk tega q..klo emak buapaknya tega q🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ya gantian
total 1 replies
Esther
Belum tahu aja Davina kalau Alfa skrg sudah kembali berjaya
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mommmmm masih kurang karmanya inih
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hahaha.... 🤭
total 3 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
cusss periksa alfa
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siap kak🫰
total 1 replies
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!