Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTEMU KENALAN LAMA
“Terimakasih umi, kue-kue yang umi bawa sangat lezat”, ucap beberapa orang kompak ketika mereka mencoba kue bikinan umi Sholicha yang memang dibuat sangat banyak dan beraneka ragam, melengkapi beberapa camilan ringan diatas meja.
Aneka macam kue basah disandingkan dengan aneka camilan seperti keripik singkong, kripik talas, kacang kulit dan beberapa gorengan seperti heci, tahu isi, pisang goreng, singkong goreng, ketela goreng dan tape goreng, malam ini memang disediakan sebagai teman minum teh dan kopi semua orang setelah gladi bersih dilakukan agar semua orang bisa mengisi perut mereka sambil berdiskusi santai mengenai acara puncak esok malam.
Umi Sholicha dan Fitri sengaja mencari sosok Vallery diantara kerumunan warga, tapi tak berhasil menemukannya padahal mereka sempat melihat sekilas seorang gadis yang paras aslinya lebih cantik daripada yang ada di foto, di hp Dirga, yang sejak awal memang sibuk mendokumentasikan kegiatan gladi resik ini baik melalui jepretan kamera dan juga video yang akan diedit dan diunggah dalam acara puncak Agustusan yang aka diadakan di akhir bulan.
Sebagai seksi dokumentasi, Vallery dan Rohim yang memang memiliki keahlian mengambil angle foto yang bagus dan bisa mengedit video menjadi orang yang didapuk untuk mengabadikan moment penting ini.
Kicau kicau kicau mania.
Gas pol ndangak.
Di gas pol ndangak-ndangak.
Kepala Vallery mantuk- mantuk melihat orang-orang, baik yang tua, maupun yang muda hingga anak-anak bergoyang ala artis TT mendengar musik penuh semangat tersebut.
Setelah mengabadikan moment apik tersebut, Vallery pun segera bergabung dengan warga yang tengah duduk bersila di atas tikar yang sengaja dibentangkan dihalaman balai desa sambil bergosip.
Melihat Vallery ada diantara ibu-ibu dan para gadis muda, umi Sholicha dan Fitri pun ikut nimbrung.
Semua orang spontan memberi keduanya tempat disisi kiri dan kanan dimana Vallery duduk sehingga kini cucu nenek Gendhis itu diapit oleh ibu dan adik Dirga.
Vallery yang tak mengenal keduanya hanya bersalaman dan menyapa dengan sopan, memperkenalkan dirinya.
Melihat perangai santun Vallery, rasa suka umi Sholicha pun semakin bertambah sehingga ia tanpa sadar mengenggam satu tangan Vallery sambil menepuk punggung tangannya dengan lembut beberapa kali dan berguman “Anak baik”.
Vallery yang tak tahu maksud ucapan umi Sholicha pun hanya bisa memberikan senyum tipis yang bagi umi Sholicha dan Fitri ditanggapi sebagai senyum malu-malu, sebuah kesalahpahaman kecil yang nantinya berujung manis.
Semua orang pun berbincang ringan sambil menikmati hidangan sederhana yang tersedia hingga tepat pukul sepuluh malam, satu persatu warga mulai kembali kerumah masing-masing untuk beristirahat.
Umi Sholicha yang melihat Vallery hendak pulang segera memanggil Dirga untuk mengantarnya.
“Vallery bisa pulang sendiri umi”, tolak Vallery saat mendengar umi Sholicha meminta bantuan Dirga untuk mengantarnya pulang.
“Ini sudah larut malam. Bahaya anak gadis pulang sendiri, nduk”, respon umi Sholicha.
Melihat Dirga masih terdiam, umi Sholicha merasa gemas sehingga iapun menghampiri putra sulungnya itu.
“Ayo mas, cepat antar Vallery pulang biar ia bisa cepat sampai rumah dan beristirahat”, umi Sholicha berkata sambil mendorong anaknya agar segera pergi mengambil motornya.
Begitu Dirga datang dengan mengendarai motor maticnya, Vallery yang tak enak hati terus menolak permintaan umi Sholicha pun segera naik keatas motor Dirga.
“Vallery pulang dulu ya umi. Assalamualaikum…”, pamit Vallery.
“Waalaikumsalam…Iya, hati-hati di jalan”, jawab umi Sholicha.
Begitu motor yang dikendarai Dirga melesat menembus kesunyian malam, umi Sholicha yang melihat suaminya datang menghampiri pun segera mengapit lengannya dan mengajaknya untuk pulang.
“Anakmu itu mas, jan nggak ada inisiatif nya sama sekali. Sudah tahu Vallery mau pulang sendiri, eh dia masih ngobrol sama teman-teman nya. Jika bukan karena umi, mana bisa ia memiliki kesempatan untuk mengantar Vallery”, omel umi Sholicha kesal melihat putra sulungnya yang terlewat acuh itu.
Abah Munir yang diprotes oleh istrinya hanya terkekeh pelan karena ia memang sejak dulu selalu bersikpa pasif, sama seperti Dirga.
Jika saja dulu keluarganya tidak ikut campur menjodohkan keduanya, mungkin Abah Munir tak akan pernah bisa mendapatkan umi Sholicha karena ia hanya memendam perasaannya dalam hati saja dan baru mengungkapkannya setelah perjodohan dua keluarga dilakukan.
Kali ini, melihat putra sulungnya sudah memiliki inisiatif untuk mengejar gadis yang disukainya, bagi Abah Munir ini sudah merupakan kemajuan yang pesat, hanya saja mungkin karena kurang berpengalaman jadinya pergerakan Dirga agak lamban.
Tanpa kedua orang tuanya ketahui, Dirga bukanlah lamban bergerak, ia hanya saja menahan diri agar tak menunjukkan perhatian yang berlebihan sebab takut membuat Vallery merasa tak nyaman seperti sebelumnya.
.
.
Malam keesokan harinya, setelah sholat magrib, semua warga sudah berkumpul di balai desa, siap menyambut dewan juri yang datang ke desa mereka.
“Tenang saja Bu, Pak, jangan gugup. Anggap saja bapak bertemu dengan tetangga sehingga perasaan akrab dan nyaman terasa. Jika gugup, coba tarik nafas dalam beberapa kali dan hembuskan secara perlahan. Dan terus ulangi hingga hati bapak dan ibu kembali tenang”, Vallery berkata dengan lembut, membuat beberapa warga yang sempat tegang mulai merasa rileks dan tak segugup sebelumnya.
Disepanjang jalan, Vallery pun menyapa semua warga yang bertugas dengan hangat sambil sesekali kamera SLR nya mengabadikan moment apik tersebut dengan lincah.
Setelah dirasa cukup mengambil gambar, Vallery pun bergabung dengan kepala desa dan seluruh perangkat desa di pintu gerbang desa untuk menyambut kedatangan dewan juri yang bertugas karena sudah menjadi tugasnya untuk mendokumentasikan moment kedatangan tersebut sementara Rohim sendiri stanby di tengah-tengah kerumunan untuk mengambil gambar dari sudut lain agar keduanya bisa saling melengkapi moment perlombaan hias desa ini.
Begitu iring iringan dewan juri tiba, semua orang segera menegakkan badan dan memasang senyum ramah, siap menyambut.
Dirga sebagai kepala Desa Maju Bersama adalah orang yang pertama maju dan menjabat tangan ketiga dewan juri yang terdiri dari Pak Bupati, Kabag tata kota dan Kabag dinas pariwisata kabupaten Santosa, kemudian membawa ketiganya memasuki desa.
Vallery yang bertindak sebagai sie dokumentasi segera bergerak cepat mengabadikan moment-moment penting tersebut menggunakan kamera SLR miliknya, takut jika ia lengah sedikit, moment berharga yang ada akan terlewatkan.
Ketiga dewan juri pun segera mengeluarkan kertas penilaian yang di capit diatas map kayu sebagai alas untuk menulis, memberikan penilaian berdasarkan point-point penting yang telah mereka rumuskan sebelumnya.
Selian konsep tema yang diusung, hiasan, tata letak serta keserasian kondisi lingkungan dengan tema menjadi point penting dalam penilaian.
Melihat jika semua hal yang paling penting tampaknya telah berhasil dipenuhi oleh Desa Maju Bersama, ketiga dewan juri pun merasa puas.
Andreas yang sejak tadi penasaran dengan sosok gadis yang mendokumentasikan kegiatan tersebut, setelah penilaian selesai dilakukan, ketika tim juri hendak pergi ke desa selanjutnya, di gapura pintu gerbang Desa Maju Bersama, iapun berjalan menghampiri Vallery.
“ Miss V, Anda disini?”, tanya Andreas sedikit terkejut begitu ia memastikan jika ya g ada dihadapannya benar-benar orang yang dikenalnya.
Vallery yang memang sejak tadi merasa jika wajah Bupati Santosa ini sedikit familiar pun mulai memutar memorinya hingga sebuah nama terlintas dikepalanya, “Anda, putranya Pak Surya?”.
Begitu kalimat tersebut keluar, Andreas pun segera menjabat tangan Vallery dengan erat.
“Saya tak menyangka bisa bertemu dengan Miss V disini. Apakah…”, kalimat Andreas tergantung.
“Ya, Desa Maju Bersama adalah kampung halaman papa saya dan kebetulan saya tengah berlibur disini jadi ikut meramaikan acara Agustusan di Desa Maju Bersama”, jawab Vallery menjelaskan rasa penasaran Andreas, membuat senyum Bupati Santosa itupun semakin lebar.
“Jadi, konsep lomba kali ini, apakah ini ide Anda?”, tebak Andreas.
Vallery yang tak ingin tinggi hati hanya menjawab dengan bijak, “Ini semua hasil pemikiran dari tim karang taruna Desa Maju Bersama jadi semuanya adalah hasil kerja keras dari warga Desa Maju Bersama untuk memeriahkan peringatan HUT kemerdekaan tahun ini”.
Andreas yang memang mengetahui sifat Vallery yang selama ini tak suka tampil menonjol hanya tersenyum tipis melihat kerendahan hati gadis cantik itu.
“Jika Miss V sedikit senggang, bisa mampir kekantor pemerintahan kabupaten. Saya rasa sebagai warga asli kabupaten Santosa, Miss V bisa urun rembuk untuk memajukan kabupaten ini agar lebih baik dan lebih maju dari sebelumnya”, ucap Andreas penuh arti.
“Siap. Jika saya main ke kabupaten, Bapak akan saya hubungi terlebih dahulu”, jawab Vallery dengan sikap layaknya seorang prajurit yang berdiri tegap menerima tugas dari pimpinannya.
“Baik, saya tunggu kabar dari Miss V”, setelah mengatakan kalimat tersebut ketiga dewan juri pun segera naik ke mobil untuk melanjutkan menilai desa selanjutnya yang ada dalam daftar peserta lomba.
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA