Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.Batas Suci
Naya baru saja hendak memejamkan mata dan menikmati empuknya kasur kelas atas yang selama dua bulan ini disia-siakan oleh Naya Fiksi, ketika suara engsel pintu kamar berdecit pelan. Dalam keheningan malam yang sunyi, derap langkah kaki yang teratur dan tegas melangkah masuk.
Naya menyibak selimut mewahnya dengan gerakan malas, lalu memiringkan tubuh. Di bawah temaram lampu tidur, ia mendapati sosok Damar Diksara sedang berdiri tegap. Pria itu masih mengenakan kemeja putih yang lengannya sudah digulung kaku sampai ke siku, menampakkan lengan kokoh dan jam tangan bernilai ratusan juta yang melingkar di pergelangan tangannya. Di tangan kirinya, Damar membawa sebuah bantal ekstra dan selimut tebal.
Naya mengerutkan dahi, menopang dagunya dengan sebelah tangan seraya menatap pria itu penuh rasa heran.
"Loh? Kok balik lagi, Mas?" tanya Naya dengan nada santai tanpa ada riak ketakutan sedikit pun. "Mas Damar tadi pendengarannya bermasalah ya? Kan saya udah bilang dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, silakan tidur di kamar tamu atau di kantor sekalian. Lagian kantor Mas kan pasti punya sofa yang lebih mahal dari harga diri saya, kan?"
Damar melangkah mendekati sisi kanan tempat tidur. Ia meletakkan bantalnya di sana dengan gerakan yang sangat kaku. Garis rahangnya menegang, dan ekspresi wajahnya tetap datar bak papan gilas yang baru diampelas. Namun, jika dilihat lebih jeli, ada kedutan halus di pelipisnya—tanda bahwa pria itu sedang menahan rasa kesal yang luar biasa.
"Ini kamar saya," ujar Damar dengan suara berat, dingin, dan penuh penekanan mutlak. "Papah bisa curiga kalau saya tidur di kamar tamu. Kita masih harus bersikap seperti pasangan suami istri yang normal di depan orang rumah dan publik sampai empat bulan ke depan."
Naya mengembuskan napas panjang, meratapi betapa klisenya alasan pria di depannya ini. Ia menatap Damar dengan pandangan meremehkan, persis seperti seorang ibu yang sedang melihat anak balitanya beralasan agar tidak disuruh mandi sore.
"Aduh, Mas Kulkas... Alasan klasik banget, deh," cibir Naya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bilang aja gengsi atau enggak mau rugi, kan? Yaudah deh, berhubung saya ini orangnya baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung, saya izinkan Mas tidur di sini. Tapi ingat ya, batas wilayah kedaulatan berlaku malam ini!"
Tanpa membuang waktu, Naya meraih guling besar berukuran tebal milik Damar. Dengan gerakan dramatis, ia meletakkan guling tersebut tepat di tengah-tengah kasur king size yang sangat luas itu.
"Ini batas suci!" tegas Naya sambil menunjuk guling pembatas dengan jari telunjuknya. "Mas di sebelah kanan, saya di sebelah kiri. Lewat seujung kuku aja dari guling ini, kena denda sepuluh juta per sentimeter! Kalau Mas berani nyentuh saya, denda berlipat ganda jadi seratus juta. Paham?"
Damar membelalakkan matanya tipis. Selama dua bulan pernikahan mereka, jangankan membuat hukum batas teritorial, Naya Fiksi justru selalu tidur meringkuk di ujung kasur paling luar karena takut menyenggol atau mengganggu Damar. Jangankan menuntut denda uang, berbicara saja suara Naya dulu seperti bisikan gaib yang nyaris tak terdengar. Sekarang? Cewek ini malah berani membuat hukum undang-undang darurat di atas tempat tidur milik Damar sendiri!
"Terserah kamu. Pikiran kamu makin hari makin absurd," dengus Damar pendek. Pria itu langsung merebahkan tubuh tingginya di sisi kanan kasur, memunggungi Naya tanpa berniat menyentuh guling pembatas itu sedikit pun.
Namun, harapan Damar untuk bisa langsung tidur nyenyak terhempas seketika. Bukannya ikut mematikan lampu dan tidur, Naya justru beranjak bangkit dari kasur. Dengan langkah santai dan sedikit berdendang, ia berjalan menuju meja rias mewah yang terletak di sudut kamar. Meja rias yang selama dua bulan ini hanya berdebu karena Naya Fiksi terlalu takut untuk menggunakannya.
Naya menarik kursi berbusa empuk, duduk tegak di depan cermin raksasa berukir emas, lalu menekan tombol lampu meja rias.
CEKLEK!
Seketika itu juga, sederet lampu bohlam kuning bercahaya terang benderang menyinari seluruh sudut ruangan. Damar yang baru saja memejamkan mata langsung tersentak. Silau yang mendadak itu membuat matanya menyipit tajam. Pria itu menggeram pelan, membalikkan badannya, lalu menatap punggung Naya dengan tatapan menusuk dari atas kasur.
"Naya! Kamu mau diapain lagi lampu jam satu malam begini?!" protes Damar, suaranya sarat akan kekesalan yang ditahan.
Naya yang sedang membuka salah satu botol kaca dari deretan produk perawatan wajah mewah hanya melirik dari pantulan cermin. "Lagi night routine lah, Mas! Skincare adalah investasi masa depan! Biar nanti pas empat bulan lagi kita cerai dan saya dapet uang kompensasi dua miliar, muka saya udah kinclong kayak ubin mesjid! Jadi janda kaya raya itu harus tetap berkelas!"
"Naya, matikan lampunya. Saya mau tidur!" perintah Damar dingin.
"Ssst! Bising banget sih, Mas!" potong Naya cepat tanpa rasa takut sedikit pun, membuat kalimat perintah Damar mendadak tertahan di tenggorokan. "Jangan bikin saya stres ya. Kalau saya stres, serum hyaluronic acid harga jutaan ini enggak bakal meresap sempurna ke dalam pori-pori. Mas mau ganti rugi kalau muka saya kusam?"
Damar mematung. Ditinggalkan dalam kondisi terbungkam oleh istri yang dua bulan lalu selalu gemetaran di depannya benar-benar pukulan telak bagi gengsinya.
Tanpa memedulikan Damar yang sedang menatapnya murka dari tempat tidur, Naya mulai mempraktikkan ritual kecantikannya. Ia menepuk-nepuk toner ke wajahnya dengan irama yang heboh.
Puk! Puk! Puk! Puk!
Suara tepukan tangan Naya memecah keheningan kamar. Setelah toner, ia mengoleskan beberapa tetes serum konsentrasi tinggi. Naya mengusap wajahnya dengan gerakan memutar yang sangat telaten, lalu mengambil sebuah alat pemijat wajah dari batu giok murni (guasha). Dengan gaya yang sangat narsis, Naya memijat garis rahangnya ke arah atas sambil tersenyum-tersenyum sendiri menatap pantulan dirinya di cermin.
"Gila... Naya, Naya..." bisik Naya pada dirinya sendiri, namun suaranya cukup nyaring untuk terdengar di dalam kamar yang sunyi. "Lo sebenernya cantik banget kalau kagak cengeng dan kagak nangisin cowok es batu kayak gitu. Kulit udah kenyal begini, tinggal dipoles sedikit besok di salon mahal, makin cetar membahana deh gue. Dadah masa lalu kelam!"
Damar yang mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Naya langsung tercengang di atas kasur. Cewek ini... memuji dirinya sendiri di depan cermin jam satu malam? Dan dia bilang 'nangisin cowok es batu'? batin Damar tidak percaya.
Manusia dari belahan bumi mana yang sedang merasuki tubuh istrinya ini? Kenapa kepribadiannya bisa melompat seratus delapan puluh derajat dari sosok yang depresif menjadi sosok yang kelewat narsis, percaya diri, dan sama sekali tidak punya tata krama ketakutan?
Selesai dengan urusan pemijatan wajah, Naya membuka laci meja rias. Ia menemukan sebuah botol parfum kaca berdesain elegan beraroma vanilla-jasmine yang sangat manis dan feminin. Tanpa ragu-ragu dan tanpa rasa hemat, Naya menyemprotkan parfum itu secara brutal ke seluruh tubuh, leher, hingga ke udara di atas kepalanya.
CRAT! CRAT! CRAT! CRAT! CRAT!
Aroma manis yang sangat pekat langsung menyebar cepat, memenuhi seluruh sudut kamar yang biasanya beraroma maskulin, dingin, dan steril khas Damar.
Damar yang tidak siap dengan serangan udara itu langsung tersedak. Pria itu duduk tegak di atas kasur sambil menutupi hidung dan mulutnya dengan telapak tangan, terbatuk-batuk pelan karena aroma manis yang mendadak menusuk inderanya.
"Naya! Kamu nyemprot parfum atau lagi mau mengasapi ruangan dengan pembasmi serangga, hah?!" protes Damar dengan suara serak, matanya menatap tajam ke arah Naya.
Naya mematikan lampu meja rias, membuat ruangan kembali meredup hanya disinari lampu tidur. Ia menoleh ke arah Damar sambil mengibaskan tangannya di udara dengan santai.
"Aduh, Mas Damar. Ini tuh parfum mahal! Biar wangi," sahut Naya tanpa dosa. "Wangi itu sebagian dari iman, Mas. Biar kalau kita tidur, mimpi kita indah dan malaikat senang mendekat. Daripada kamar ini baunya dingin dan menyedihkan kayak ruang jenazah?"
Damar benar-benar kehilangan kata-kata. Kalimat-kalimat tajam nan tengil yang keluar dari mulut Naya seolah tanpa penyaring. Pria itu hanya bisa menarik selimutnya tinggi-tinggi sambil menatap Naya yang kini melangkah anggun kembali ke arah tempat tidur.
Naya melompati guling pembatas dengan gerakan lincah, lalu merebahkan tubuhnya di sisi kiri tempat tidur. Ia menarik selimut tebalnya sampai ke batas dada, mengatur posisi bantal agar nyaman, dan memunggungi Damar sepenuhnya.
"Mas," panggil Naya tiba-tiba dari balik guling.
Damar menegang. Akhirnya dia mau minta maaf? Atau mau menawarkan hal lain? batin Damar menanti.
"Apa?" sahut Damar dingin.
"Jangan lupa besok pagi suruh sopir siapin mobil ya. Saya mau pergi ke mall paling mahal di kota ini buat belanja baju baru pakai kartu kredit Mas. Good night, Mas Kulkas!" ujar Naya riang.
Setelah mengucapkan kalimat yang makin membakar emosi Damar itu, Naya benar-benar mengabaikan keberadaan sang suami. Tidak ada pertanyaan "Mas Damar sudah mau tidur?", tidak ada tawaran "Mau dibuatkan teh hangat dulu?", dan tidak ada lirikan mata memohon perhatian. Nihil! Dalam hitungan tiga menit, napas Naya sudah terdengar teratur dan halus. Gadis itu benar-benar langsung tertidur pulas tanpa beban sedikit pun!
Sementara itu, Damar Diksara berbaring menegang di sisinya.
Malam yang makin larut tidak membuat pikiran pria itu tenang. Aroma wangi vanilla-jasmine yang lembut kini perlahan melingkupi indera penciumannya, terasa begitu manis dan mengusik. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan pernikahan mereka—bahkan mungkin untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Damar Diksara—ia tidak bisa memejamkan mata.
Pria yang biasanya selalu dipuja, dikejar-kejar, dan diperebutkan perhatiannya oleh wanita-wanita kalangan atas kini justru diabaikan secara total oleh istri sahnya sendiri di atas tempat tidur yang sama. Rasa gengsinya yang setinggi langit terasa koyak dan tercabik-cabik, tetapi di saat yang bersamaan, rasa penasaran yang luar biasa besar mulai menggerogoti dadanya.
Damar memiringkan tubuhnya, melirik ke arah guling pembatas yang memisahkan mereka. Di balik benteng guling itu, Naya tertidur sangat tenang dengan wajah yang kini terlihat bersih dan merona.
Dia beneran langsung tidur nyenyak? Enggak ada niat mau narik perhatian saya sedikit pun? batin Damar tercengang.
Pria itu membolak-balikkan tubuhnya berulang kali di atas kasur empuk itu. Dinginnya malam yang biasanya bersumber dari sikap kaku Damar, kini berbalik seratus delapan puluh derajat. Justru gadis di balik guling itulah yang memancarkan hawa dingin, cuek, dan tidak peduli yang luar biasa padanya. Dan malam itu, sang pengusaha sukses nan dingin sukses dibuat tidak bisa tidur nyenyak sampai fajar menyingsing hanya karena memikirkan perubahan ajaib istrinya.
_Bersambung