NovelToon NovelToon
Benih Jenius Sang Miliarder

Benih Jenius Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Mafia
Popularitas:18.7k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
​Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
​Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.

Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
​Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.

​"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5 Lima tahun kemudian

Waktu terus bergulir tanpa kompromi. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan pun luluh menjadi tahun. Lima tahun telah berlalu sejak malam kelam itu, malam di mana dua takdir bersilangan di kamar hotel mewah sebelum kembali terputus bagaikan benang yang tergerus zaman.

Kala itu, di bawah temaram lampu kamar, paras mereka tak terlihat utuh hingga detail terkecil. Namun, ada satu hal yang terpatri abadi di memori masing-masing, satu-satunya hal yang tak sanggup dihapus oleh pengaruh obat, maupun sapuan waktu: 'sorot mata'. Mata abu-abu yang tajam milik Alexio bersibobok lurus dengan iris cokelat jernih milik Clara. Tatapan yang menembus kegelapan malam itulah yang menjadi satu-satunya identitas yang tersisa.

Selama lima tahun, Alexio Van Der Berg tak pernah berhenti berburu. Di ruang kerjanya yang dingin, pria itu memandangi sebuah sketsa buatan tangan. Gambar itu hanya menampilkan sepasang iris cokelat jernih yang memancarkan ketakutan sekaligus keberanian. Ratusan pelukis telah ia pekerjakan hanya untuk menyempurnakan detail mata itu dari ingatannya.

"Nihil lagi, Tuan," suara Reno memecah keheningan, meletakkan tumpukan map tebal di atas meja.

Tanpa membukanya, Alexio menepis map itu hingga berserakan di lantai. Ia telah mengerahkan seluruh jaringan kekuasaannya yang kian membentang menembus benua. Namun, gadis bernama Clara Jasmine itu seolah lenyap bak ditelan bumi.

Kegagalan demi kegagalan perlahan menempa Alexio menjadi pribadi yang makin dingin, tertutup, dan tak tersentuh. Kesibukan menjadi benteng pelariannya. Ia menenggelamkan diri dalam tumpukan ekspansi bisnis hingga namanya makin disegani dan ditakuti di panggung dunia. Banyak wanita elok berusaha mendekat, mengincar pesona dan takhta hartanya. Namun, tak satu pun sanggup menggetarkan hatinya. Bagi Alexio, mereka semua sama saja, tidak ada yang memiliki sepasang mata jernih yang terus menghantuinya setiap malam.

****

****

Sementara itu, di kota Bern yang udaranya sejuk dan tenteram, wanita yang membawa lari separuh jiwa Alexio justru sedang menata hidup yang jauh lebih indah.

Keberhasilan Clara melarikan diri dari kediaman keluarga Smith lima tahun lalu bukanlah akhir, melainkan awal petualangan baru. Satu bulan setelah tiba di Swiss, sebuah kenyataan mengguncang dunianya: ia hamil. Dan bukan hanya satu nyawa yang tumbuh di rahimnya, melainkan dua sekaligus. Anak kembar, buah dari pertautan singkat malam itu.

Clara sempat berada di ambang putus asa membayangkan masa depan mereka. Namun, naluri keibuannya membakar tekad untuk bertahan. Beruntung, Clara dikaruniai kecerdasan dan bakat seni yang luar biasa. Ia mulai melamar pekerjaan di salah satu perusahaan desain ternama di Swiss dan diterima sebagai desainer lepas yang bekerja dari rumah. Berkat tangan dingin dan ide-ide jeniusnya, hidup Clara perlahan tertata rapi, jauh dari kemiskinan maupun kemewahan palsu keluarga Smith.

Kini, kedua malaikat kecilnya, Kenzie dan Keysha telah berusia empat tahun. Meski masih balita, si kembar memiliki sepasang iris mata berwarna abu-abu terang yang indah, persis seperti potongan langit berkabut di pagi hari. Warna mata itu adalah warisan paling nyata dari sosok ayah dari anak-anaknya yang hanya pernah Clara tatap sekali.

Tak hanya fisik, kecerdasan Ken dan Key pun melesat jauh melampaui anak-anak seusianya. Di saat balita lain baru belajar merangkai kalimat dasar, mereka sudah mampu melahap buku ensiklopedia. Jemari mungil mereka cekatan menari di atas papan ketik, membedah data dan menguasai teknologi seolah perangkat itu sudah menyatu dengan sel otak mereka sejak lahir. Namun, di balik kejeniusan tersebut, bagi Clara mereka tetaplah dua bocah yang merindukan sosok pahlawan keluarga.

Siang itu, di ruang tengah yang hangat, Clara sedang melipat pakaian si kembar. Di sisi lain ruangan, Ken dan Key sibuk membolak-balik buku tebal dari rak.

Keheningan terpecah saat Ken menutup buku 'Astrophysics for Young People' miliknya dengan ketukan pelan. Ia menoleh ke arah Clara, dahi kecilnya berkerut layaknya seorang filsuf muda.

"Mama," panggil Ken seraya mendorong kacamata baca kecil yang melorot di pangkal hidungnya. "Secara logis, waktu yang dihabiskan Papa untuk bekerja di luar negeri sudah melampaui batas kewajaran. Apakah ada kemungkinan sistem navigasi Papa bermasalah hingga ia tersesat? Atau ... probabilitas terburuknya, Papa sengaja membangun keluarga baru dan mengabaikan kita?"

Key yang duduk bersila di atas karpet menoleh cepat, meletakkan tablet di pangkuannya. Suaranya melengking namun artikulasinya sangat jelas. "Hipotesis Ken sangat masuk akal, Ma. Key butuh bukti valid berupa wujud fisik Papa. Key harus mematahkan klaim tak berdasar Caca dan Onci di taman bermain yang terus berasumsi bahwa kita tidak memiliki sosok Papa."

Clara tersenyum haru mendengar celoteh itu, meski dadanya berdenyut nyeri. Gaya bicara anak-anaknya memang seperti miniatur orang dewasa, tetapi inti dari ucapan mereka tetaplah keluguan seorang anak yang mendambakan ayahnya. Ia berjalan mendekat, lalu mengusap lembut kepala kedua buah hatinya.

"Sabar ya, Sayang ... Papa sedang bekerja keras menyelesaikan proyek besarnya agar nanti kita semua bisa tinggal bersama dengan stabil secara finansial," jawab Clara lembut, berusaha membalut kenyataan.

Jujur, batin Clara berkecamuk. Ia sering bertanya-tanya: Haruskah ia mencari pria asing itu demi anak-anaknya? Namun ia tak tahu nama, alamat, maupun petunjuk apa pun selain sepasang mata abu-abu.

Sebuah keputusan yang telah lama ia pertimbangkan kini siap dieksekusi demi membuka lembaran baru. Tawaran posisi sebagai Creative Director dari sebuah agensi besar di Jakarta akhirnya mendorong Clara mengambil langkah berani.

"Bagaimana kalau besok kita pergi ke pameran seni sebentar, lalu lusa ... kita terbang ke Indonesia? Mama akan memimpin tim baru di sana," tawar Clara pelan namun mantap.

"Indonesia? Menarik. Kita bisa mengamati langsung keanekaragaman hayati iklim tropis!" seru Ken, matanya berbinar cerah.

"Dan kita akan naik pesawat!" tambah Key girang. Namun sedetik kemudian, kening gadis kecil itu berkerut dalam, bibirnya mengerucut. "Tunggu dulu, Ma. Kalau kita melakukan relokasi ke benua lain, persentase Papa menemukan kita akan turun drastis!"

Ken membelalakkan mata di balik kacamatanya, menepuk dahi kecilnya. "Ah, benar! Variabel itu luput dari perhitunganku. Kalau begitu kita batalkan saja penerbangannya, Ma. Kita menetap di sini agar koordinat kita tidak berubah saat Papa melacak kita."

Clara terkekeh pelan, hatinya menghangat melihat betapa anak-anaknya sangat memikirkan pria yang bahkan belum pernah mereka temui. "Tenang saja. Mama akan mengirimkan pesan rahasia agar Papa tahu koordinat baru kita. Nanti Papa akan menyusul ke Indonesia, dan kita akan tinggal bersama selamanya."

"Janji, Ma?" mata si kembar menatap selidik namun penuh harap.

"Tentu." Clara mengusap pipi mereka dengan lembut.

"Horeee! Key jadi tidak sabar!" seru Key sambil melompat-lompat kecil bersama Ken, kembali menunjukkan sisi balita mereka.

Clara menghela napas halus menatap punggung kedua buah hatinya yang kembali asyik bermain. Lagi-lagi ia terpaksa memberi harapan semu. Jauh di dalam lubuk hatinya, rasa bersalah itu kian menggunung.

"Maafkan Mama, Nak ... Mama juga ingin sekali mempertemukan kalian. Tapi Mama sama sekali tidak tahu siapa dan di mana ayah kalian berada ...."

Bersambung ...

1
Munas Tuti
anak2 heibat ....sapa sangka anak TK ternyata melebihi org dewasa kepintarannya 👍👍
Munas Tuti
wuiiis hebatnya anak2 Alexio 👍👍
Munas Tuti
waduuuh gimana ni...Alexio gak ada, emang gak keditex sama c kembar
Ariany Sudjana
puji Tuhan, penerbangan Alexio berhasil diselamatkan dan Clara juga selamat, semua karena ke jeniusan si kembar.... bravo Ken dan key

asli part ini bacanya seru
Umi Zein
waalaikumsalam... Alhamdulillah baik kak Ri🤗 sehat2 selalu juga buat kak othornya 🥰Ok ka siaap 🫡😄
Rani R.I
gpp byk musuh tapii jgn biarkan si terkalahkan,,membaca sambil bersitegang 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rani R.I
sgtt Seruuu dan menegangkan thourr 🤣🤣🤣🤣🤣,, terimakasih thourr 👍💪🔥,, semangat up thourr dan sehat slalu 🤲🤲🤲🔥🔥🔥
riniandara: terima kasih kak/Kiss/
total 1 replies
Siti Nurhayati
cerita y sangat menarik sprti d film
riniandara: terima kasih kak/Applaud/
total 1 replies
Ariany Sudjana
waduh kok bisa Alexio kecolongan dan pergi ke eropa? semoga si kembar bisa menangani kejadian di mansion dan menangkap pelakunya
Siti Nurhayati
hebat bner si kembar bsa melindungi keluarga y Mantappp
Umi Zein
kak maaf kyanya kalo umur 4th agak aneh klo anak seusia mereka bisa mengendalikan komputer seorang hacker suhu. walau cm Novel, klo usia 7th masuk akal😄😄
Rani R.I
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 duhhh Dimitri nama mu bagus tapii syg harus jadi musuh yang harus di musnah kan oleh si kembar,,hmmm Baru permulaan yea 🤣🤣🤣,,, kita lihat sampai mana kemampuan mu tuan Dimitri 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Munas Tuti
gaaaaass teroooos 💪💪
Munas Tuti
buseeeet...dasar bocil genius
Rani R.I
wowww musuh sudah mulai mendekat,, Ayuk ken dan key jgn biarkan siapapun mendekati mama dan adek kalian 🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪
Rani R.I
wowww kerennn ken dan key,, lindungi mamah dan adek bayi 💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Munas Tuti
perang pewaris di mulaiii
Munas Tuti
👍👍👍👍👍
Ariany Sudjana
puji Tuhan, si kembar bisa mengatasi gangguan di rumah sakit. fixed mereka keturunan Alexio yang sangat jenius dan calon mafia masa depan. tapi kok Alexio Dan Reno bisa kecolongan ya?
Bu Kus
sih kembar emang ada aja akalnya cerdas dan jenius
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!