NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 — Putri Jualan di Pasar

Bab 3 — Putri Jualan di Pasar

Keesokan harinya, sebuah meja kecil muncul di sudut pasar Wanunggalih.

Tidak ada lambang kerajaan. Tidak ada hiasan mewah. Hanya sebuah papan kayu sederhana yang ditulis tangan dengan arang, hurufnya agak miring karena Rania menulisnya sambil duduk di lantai semalaman:

MINUMAN MANIS

Rania berdiri di belakang meja, mengenakan kain yang sengaja ia lilit sederhana agar tidak terlalu mencolok meski tetap saja terlihat terlalu rapi untuk ukuran pedagang kaki lima. Di sampingnya, Sari berdiri dengan wajah tegang, sesekali melirik ke kanan-kiri seolah takut ada mata-mata istana yang mengintai.

"Putri... apakah ini benar-benar perlu?"

"Perlu," jawab Rania mantap, sambil merapikan deretan gelas bambu di atas meja. "Namanya juga usaha."

Belum sempat ia duduk dengan nyaman, seorang anak kecil berlari mendekat, matanya penasaran menatap panci besar berisi cairan santan yang mengepul harum.

"Ini apa?"

"Es cendol."

"Manis?"

"Manis."

"Dingin?"

"Dingin."

"Pedas?"

Rania mengernyit, yakin telinganya salah dengar. "...Pedas?"

Anak itu mengangguk serius, seolah baru saja mengajukan permintaan yang sangat masuk akal.

"Mau pedas."

Rania menatap Sari. Sari menatap balik dengan tatapan sama bingungnya.

Akhirnya Rania menggeleng pelan. "Tidak ada cendol pedas, Dik."

Anak itu pergi dengan wajah kecewa berat, seperti baru saja kehilangan sesuatu yang berharga.

Belum lima menit berlalu, pembeli lain datang—seorang bapak-bapak dengan caping di kepala.

"Saya pesan satu."

"Baik," Rania sudah bersiap dengan gelas.

"Tanpa cendol."

Rania berhenti menuang, tangannya melayang di udara.

"...Terus mau apa, Pak?"

"Kuahnya saja."

Rania menatapnya lama, mencoba mencerna logika di balik permintaan itu.

"Bapak mau santan gula doang?"

"Iya."

"Itu namanya bukan es cendol lagi, Pak."

"Tidak apa-apa."

Rania menghela napas panjang, menyerah pada logika pasar yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.

"Baik. Satu santan gula tanpa cendol."

Sari menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar menahan tawa yang nyaris meledak.

Belum selesai satu pesanan itu dituang, seorang perempuan paruh baya datang dengan langkah percaya diri, membawa kain belanjaan di tangan.

"Saya mau dua."

"Baik."

"Yang satu manis."

Rania mengangguk, mulai mencatat di kepala.

"Yang satu tidak manis."

"Baik."

"Yang satu pakai santan."

Rania mengangguk lagi, mulai merasa seperti sedang ikut ujian dikte.

"Yang satu jangan pakai santan."

"Baik."

Perempuan itu berpikir sebentar, jarinya mengetuk dagu.

"Yang manis jangan terlalu manis."

Rania menatap kosong ke depan, tangannya berhenti total di udara.

"..."

"Kenapa, Putri?"

"Tidak apa-apa," Rania mengambil gelas dengan gerakan pelan, seperti seorang prajurit yang baru saja menerima misi mustahil. "Ini bukan pesan minuman. Ini ujian hidup."

Kerumunan kecil yang mulai berkumpul di sekitar meja tertawa serentak.

Seorang pemuda dengan senyum lebar ikut maju, tampaknya cukup terhibur dengan tontonan gratis itu.

"Saya pesan satu."

Rania sudah siap dengan sigap, seperti kasir yang sudah terlatih. "Manis atau tidak?"

"Manis."

"Pakai santan?"

"Pakai."

"Cendol?"

"Pakai."

"Es?"

"Pakai."

Rania mengangguk lega, hampir meneteskan air mata haru. "Akhirnya. Manusia normal."

Pemuda itu tersenyum lebih lebar. "Tapi gulanya diganti madu."

Rania langsung mengangkat wajah, harapannya runtuh seketika.

"...Kenapa baru bilang sekarang?!"

Pemuda itu tertawa puas. "Biar menarik."

"Menarik kepala saya dari leher," gerutu Rania sambil mengaduk-aduk mencari madu yang untungnya masih tersisa sedikit di kendi.

Sari buru-buru membalikkan badan, pura-pura merapikan gelas karena sudah tidak sanggup lagi menahan tawa di depan pembeli.

Pesanan berikutnya, jika mungkin, bahkan lebih aneh dari sebelumnya.

"Saya mau satu cendol."

"Baik."

"Jangan pakai gelas."

Rania terdiam, menatap tumpukan gelas bambunya yang tadi ia bangga-banggakan.

"Terus pakai apa?"

"Batok kelapa."

Rania melirik ke sudut meja, kebetulan masih ada beberapa batok kelapa bekas yang belum dibuang.

"...Bisa sih."

Ia menuangkan cendol ke dalam batok kelapa itu dengan hati-hati. Pembeli itu menerimanya dengan bangga, seolah baru saja memenangkan sesuatu, lalu berjalan pergi sambil menyeruput isinya dengan gaya yang berlebihan.

Rania menatap punggungnya yang menjauh, menghela napas panjang.

"Kenapa aku merasa baru saja buka restoran kekinian pakai kemasan estetik."

Satu jam kemudian, di tengah antrean yang mulai memanjang, muncul seorang nenek dengan tongkat kayu, berjalan pelan namun mantap.

"Nduk."

"Iya, Nek?" Rania langsung memasang senyum paling ramah.

"Bisa dibuat hangat?"

Rania membeku, tangannya berhenti di atas panci.

"Cendol, Nek?"

"Iya."

"...Hangat?"

"Iya."

Rania menoleh kepada Sari dengan tatapan minta pertolongan.

"Bikin saja," katanya pasrah.

Sari mengangguk sambil menahan senyum yang sudah dari tadi tidak berhasil ia sembunyikan sepenuhnya.

Beberapa saat kemudian, cendol hangat—entah bagaimana caranya itu terdengar salah secara alami—disajikan dalam mangkuk kecil. Nenek itu mencicipinya perlahan, mengunyah dengan khidmat seperti sedang menilai masakan istana.

"Enak."

Rania tersenyum lega, dadanya terasa ringan. "Nah, kan."

Namun nenek itu belum selesai. Ia menatap Rania dengan mata berbinar penuh semangat, seperti baru saja menemukan ide brilian.

"Besok saya mau yang asin."

Rania hampir menjatuhkan sendok yang dipegangnya.

"...Cendol asin, Nek?"

Nenek itu mengangguk polos. "Boleh?"

Rania menatap langit sore yang mulai jingga, seolah mencari jawaban dari sana.

"Boleh, Nek," jawabnya akhirnya, dengan nada pasrah seorang pejuang yang sudah kehabisan tenaga untuk melawan. "Besok kita lihat dunia ini mau sejauh apa membawa saya."

[Ting!]

[Sistem mendeteksi kreativitas pasar.]

Rania mengangkat alis curiga. "Jangan ikut-ikutan bikin pesanan aneh."

[Tidak.]

"Syukurlah."

[Namun ide cendol pedas berhasil disimpan sebagai data.]

Rania langsung menatap kosong ke udara, seolah sistem punya wajah yang bisa ia tatap tajam.

"...Hapus."

[Tidak tersedia.]

"HAH?!"

Kerumunan di sekitar meja kembali tertawa, tidak tahu bahwa tawa mereka bukan hanya karena tingkah putri yang aneh berjualan di pasar tapi juga karena pertengkaran kecil yang sedang berlangsung antara seorang putri dan suara di kepalanya yang tidak bisa mereka dengar sama sekali.

Matahari mulai condong ke barat. Panci cendol yang tadi penuh kini menyisakan separuh, dan kantong kecil tempat Rania menyimpan koin-koin receh hasil jualan hari itu terasa jauh lebih berat daripada saat ia berangkat pagi tadi.

Rania menghitung koin-koin itu satu per satu dengan wajah puas, sesekali menyeka keringat di dahinya.

"Sari."

"Iya, Putri?"

"Besok kita buka lagi."

Sari tersenyum, meski masih setengah tidak percaya harus menemani seorang putri kerajaan berjualan cendol di pinggir pasar.

"Siap, Putri."

Rania menatap kantong koinnya sekali lagi, lalu tersenyum puas ke arah sistem yang meski menyebalkan setidaknya kali ini tidak banyak protes.

Latte, tunggu aku.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!