Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
“Kalian berdua ini punya otak dipakai atau tidak?!” bentak Arvin, menatap tajam Damian dan Jovan.
“Kalian sudah besar! Damian, kamu sudah kelas dua SMA! Jovan, kamu sudah kelas satu SMP! Cuma menjaga adik kalian saja kenapa tidak becus, sih?!”
Damian hanya berdiri mematung. Tatapannya lurus menatap lantai, hampa. Tak ada bantahan, tak ada raut takut. Rasa lelah dan muak yang sudah menumpuk berhitung tahun membuat dadanya kebas. Sudah terlalu sering ia dan Jovan menjadi sasaran amarah sang papa atas hal-hal kecil yang tidak sepenuhnya kesalahan mereka.
Melihat Damian hanya diam, Arvin justru semakin tersulut.
“Jawab, Damian! Jangan cuma diam kayak patung! Kamu itu anak sulung, harusnya bisa diandalkan!” suara Arvin kian meninggi, menunjuk muka Damian.
Jovan, yang sejak tadi mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih, tiba-tiba menepis tangan sang papa yang menunjuk kakaknya.
“Cukup, Pa! Cukup salahkan Bang Damian!” teriak Jovan, membuat ruangan seketika hening. Bahkan isak tangis Kenzo mendadak terhenti karena kaget.
“Jovan! Berani kamu membentak Papa?!” Arvin terperanjat.
“Jovan capek, Pa! Kita semua capek!” Jovan menunjuk Kenzo yang gemetar di sudut ruangan. Air mata Jovan akhirnya menetes, meluapkan seluruh rasa sakit yang dipendamnya.
“Papa selalu menyalahkan kita! Tapi Papa lupa siapa penyebab semua ini? Dia, Pa! Anak itu pembawa sial!” bentak Jovan tepat ke arah Kenzo.
“Gara-gara dia lahir, kita harus kehilangan Mama! Gara-gara dia ada di dunia ini, Mama meninggal! Bang Damian sama Jovan harus kehilangan sosok Mama cuma demi melahirkan anak pembawa sial itu! Kalau bisa memilih, Jovan lebih baik tidak pernah punya adik daripada harus kehilangan Mama!”
PLAK!
Suara tamparan keras membelah keheningan ruangan. Wajah Jovan terlempar ke samping. Udara di ruangan itu seketika terasa membeku. Jovan memegangi pipinya yang panas dan memerah, menatap papanya dengan rasa tak percaya.
“Lancang kamu!” geram Arvin dengan napas memburu.
Kenzo semakin menjerit ketakutan di sudut ruangan, menutup telinganya rapat-rapat. Sementara Damian seketika tersentak dari diamnya, langsung pasang badan menarik Jovan ke belakang tubuhnya, melindungi sang adik dari amarah sang papa.
“Papa nampar aku?” bisik Jovan lirih.
Belum sempat Arvin menjawab, Kenzo yang sejak tadi menangis di sudut ruangan perlahan bergerak. Anak kecil itu merangkak mendekat, berlutut tepat di depan sang papa sambil jemari kecilnya mencengkeram erat bagian bawah celana Arvin.
“Pa… hiks… maafin Kenzo…” isak si bungsu dengan suara serak. Air mata dan ingusnya bercampur, memperlihatkan wajah polosnya yang sangat ketakutan.
“Jangan marahi Bang Damian sama Bang Jovan lagi, Pa… Ini salah Kenzo. Kenzo yang nakal, Kenzo yang jatuh…” Kenzo menengadah, menatap Arvin dengan mata bulatnya yang sembap.
“Kenzo janji bakal jadi anak baik. Kenzo janji nggak bakal nakal lagi…… jangan pukul Bang Jovan lagi, hiks… kasihan Bang Jovan…” panggilnya lirih.
“Nggak usah sok baik!” dengus Jovan dingin, menyapu air mata di pipinya kasar.
Tanpa memedulikan panggil Arvin atau tatapan cemas Damian, Jovan berbalik dan berlari keluar rumah. Ia menyambar kunci motor yang tergeletak di atas meja ruang tamu.
“Jovan! Mau ke mana kamu?! Kembali!” teriak Arvin dari ambang pintu.
“Jovan, tunggu!” Damian ikut berteriak, hendak mengejar adiknya.
Namun Jovan mengabaikan semua panggilan itu.
Arvin mengusap wajahnya kasar, menarik napas panjang untuk meredakan emosinya yang masih membumbung tinggi. Derung suara motor Jovan yang semakin menjauh di kegelapan malam meninggalkan kesunyian yang berat dan mencekik di dalam rumah.
Ia menatap Damian yang berdiri kaku dengan raut wajah dingin, lalu beralih melirik Kenzo yang masih gemetaran dan terisak pelan di lantai sambil memegangi lututnya.
"Sudah... masuk kamar kalian semua!" perintah Arvin.
Damian tidak menjawab sepatah kata pun. Dengan gerakan perlahan namun tegas, ia membungkuk dan menggendong Kenzo ke dalam pelukannya. Si kecil Kenzo menyembunyikan wajahnya yang sembap di ceruk leher sang kakak.
Arvin perlahan melangkah lunglai menuju sofa dan langsung terduduk pasrah. Ia menyandarkan punggungnya yang terasa amat berat, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Pikirannya benar-benar kacau. Padahal tadi ia hanya berniat menegur dan menegaskan kedua putranya agar lebih peduli dan menjaga adik kecil mereka. Namun, emosinya yang lepas kendali justru membuat segalanya berantakan hingga tega melayangkan pukulan pada Jovan.
Menjadi seorang ayah sekaligus ibu sejak ditinggal mendiang istrinya bukanlah hal yang mudah bagi Arvin. Beban pekerjaan, rasa kehilangan yang belum usai, dan tanggung jawab membesarkan tiga anak sendirian kerap membuatnya kewalahan dan kehabisan kesabaran.
"Tuan... mau saya buatkan teh hangat atau minum yang lain?" tanya seorang pelayan paruh baya yang melangkah pelan mendekatinya dari arah dapur dengan raut khawatir.
"Tak usah, Bi," ucap Arvin singkat dengan suara serak dan lesu.
Pria itu kemudian bangkit dari sofa, memilih melangkah meninggalkan ruang tamu yang dingin lalu masuk dan mengunci diri di dalam kamarnya.