NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PhepipoOrevi

"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Rencana Balas Dendam

Sam?" panggil Matthew yang seketika membuyarkan lamunan Samantha "Kenapa kamu melamun?"

​Samantha tersentak kecil, lalu tertawa pelan. Ia meletakkan cangkirnya kembali ke atas nampan perak tanpa menimbulkan suara.

​"Aku cuma sedang membayangkan betapa menyedihkannya wajah Cedric minggu depan," sahut Samantha santai, melipat kakinya dengan gaya khas bangsawan kelas atas. "Pria itu sangat percaya diri bahwa tipu muslihatnya tidak akan tercium oleh kita. Dia bahkan sempat mengirimkan sejuta bunga mawar ke kediamanku kemarin sore untuk berpura-pura menjadi tunangan yang manis."

​Evelyn memasang raut muak. "Dia selalu menggunakan cara-cara klise seperti itu untuk menutupi niat busuknya."

​"Dan mawar-mawar itu langsung kubakar di pekarangan belakang," potong Samantha dingin. "Sama seperti kita yang bakal membakar habis seluruh reputasi keluarga Ashworth sampai tak tersisa."

​Matthew mengangguk puas. "Cedric mengirimkan surat ke mansion ini. Dia tahu Evelyn ada disini. Dan surat balasan dari Evelyn sudah kita siapkan, Sam. Kita akan membiarkan Cedric percaya kalau Evelyn termakan umpannya dan mau bertemu di kafe tua pinggiran kota. Dan, aku ingin kamu membawa ini, Eve." Matthew menyerahkan cincin berbentuk stampel dengan naga emas bersayap pada ukiran stampel nya. "Cincin ini adalah cincin segel tiruan Eve yang sengaja kusiapkan agar Cedric percaya, aku tergila-gila padamu dan menyerahkan cincin Grand Duke ini padamu."

Evelyn memandang cincin itu dengan seksama kemudian ia mengambil tangan Matthew dan melihat cincin yang sama persis. Evelyn menatap kedua cincin itu dengan seksama dan setelah menelitinya, ia tahu ada perbedaan diantara keduanya.

"Apakah tidak apa-apa kalau cincin ini kupakai Matthew?" Evelyn terlihat cemas, tapi Matthew segera memasangkan cincin tersebut di ibu jari Evelyn.

"Bagian aku tergila-gila padamu itu benar, Eve. Tapi ini cincin stampel pewaris keluarga. Sebelum kita menikah, tidak akan kuberikan padamu. Jadi ini cukup untuk mengelabui Cedric. Dan memang bagian dari rencana ku dan Samantha" sahut Matthew tenang sambil mencium tangan Evelyn.

​Samantha berdiri dari duduknya, merapikan gaun biru navy-nya. Ia menatap Evelyn lurus-lurus, sorot matanya kini tidak hanya memancarkan keangkuhan bangsawan, tetapi juga rasa hormat yang tulus.

​"Jaga dirimu baik-baik di sini, Evelyn," kata Samantha pelan, suaranya melunak. "Jangan biarkan pria posesif di sampingmu ini membuatmu stres. Aku akan kembali ke Mansion utama untuk memastikan panggung pesta dansa minggu depan siap menjadi kuburan bagi Ashworth."

​"Terima kasih, Sam... untuk semuanya," bisik Evelyn tulus.

​Samantha hanya mengangguk pelan, melangkah pergi meninggalkan ruang tamu dengan langkah tegas. Namun, sewaktu melewati ambang pintu dan membelakangi pasangan itu, Samantha memejamkan matanya erat-erat. Air mata dingin menetes di pipinya sebelum ia usap dengan cepat.

​‘Aku tidak akan biarkan sejarah berulang, Kak... Evelyn... kali ini, aku akan mempersiapkan rencana ini dengan matang.

Malam yang ditentukan akhirnya tiba. Angin dingin meniup dedaunan kering di sepanjang jalan berbatu yang sepi. Di sebuah sudut gelap pinggiran kota, berdiri sebuah kafe tua yang memiliki penerangan remang-remang. Bangunan kayu itu tampak lapuk, tempat yang sempurna bagi siapapun yang ingin melakukan transaksi terlarang tanpa tercium oleh mata publik.

Di dalam kafe yang sunyi, Cedric Ashworth duduk di sudut paling belakang. Mengenakan kemeja hitam yang rapi dan wangi untuk memikat lagi gadis yang dianggapnya bodoh itu. Ia berulang kali menatap jam saku emasnya, mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja kayu yang kasar. Menunggu Evelyn datang untuk membawakan sesuatu untuknya. Seikat bunga mawar merah dan perhiasan mahal, gaun serta undangan sudah terjajar rapi diatas meja yang sudah disiapkan khusus untuk membujuk Evelyn agar kembali ke sisinya.

Cedric langsung berdiri, matanya berbinar penuh ketamakan saat melihat sosok wanita yang sangat ia tunggu-tunggu.

"Eve! Kamu akhirnya datang juga..." panggil Cedric dengan nada suara manis yang dibuat-buat, setengah berbisik. Ia melangkah maju, hendak meraih tangan Evelyn yang disambut Evelyn dengan hangat, bahkan Evelyn memeluknya dan mulai memasang muka manis, seolah tidak tahu apapun yang direncanakan Cedric.

Cedric tersenyum puas dan mulai memesan kopi favorite Evelyn kemudian menyodorkan seikat mawar merah, kotak berisi perhiasan dan kotak berisi gaun warna merah maroon. Cedric bilang bahwa minggu depan ada undangan pesta dansa, dan Cedric ingin Evelyn datang bersamanya. Evelyn menanggapinya dengan tersenyum dan bersedia ikut. Cedric kemudian mencium Evelyn. Demi sandiwara yang sempurna, Evelyn membalas ciuman itu.

Matthew memandang adegan itu dari cctv kedai. Ada amarah yang luar biasa dalam dirinya. Ingin sekali ia mendobrak pintu kedai dan meninju pria sialan itu. Tapi Matthew menahan diri.

Demi misi balas dendam ini aku harus diam.

Cedric tersenyum penuh kemenangan. Di matanya, Evelyn masihlah gadis lugu yang begitu mudah dimanipulasi dan dimanfaatkan. Cedric tahu, wajah mempesonanya pasti akan membuat Evelyn bertekuk lutut kepadanya meski dia sempat membuat heboh dan mempermalukan dirinya di kampus beberapa waktu yang lalu. Dia akan memaafkannya. Demi rencana yang sudah disusun ibunya, Cedric akan merendahkan harga dirinya agar Evelyn percaya padanya.

"Maafkan aku, sayang. Aku hanya terlalu mengkhawatirkan mu," sahut Cedric, memasang raut wajah penuh keprihatinan yang palsu. "Matthew Pendragon itu pria yang berbahaya. Dia hanya memanfaatkan mu untuk menekan keluargaku. Kamu harus percaya padaku, Eve. Cuma aku yang benar-benar mencintaimu."

Evelyn menahan rasa mual mendengar kata 'mencintaimu" dari mulut pria yang telah membunuhnya di beberapa loop kehidupan lalu. Sungguh sandiwara yang sangat menjijikan.

"Aku juga mengkhawatirkan mu, Cedric," bisik Evelyn dengan intonasi lembut yang dirancang sempurna. Ia menyandarkan kepalanya sejenak di dada Cedric, pura-pura mencari perlindungan, sembari secara halus mengangkat ibu jari tangannya tepat di mana cahaya lampu remang kafe dapat menyorot ukiran naga emas bersayap pada cincin yang melingkar di jarinya.

Mata Cedric seketika tertuju pada kilau emas itu. Napasnya tertahan. Sebagai seorang aristokrat, ia mengenali ukiran khas itu—stempel kewenangan Grand Duke Harrington yang amat legendaris.

"Eve... cincin itu..." bisik Cedric dengan nada suara yang tertahan, matanya membelalak penuh ketamakan yang tak lagi sanggup ia sembunyikan.

Evelyn buru-buru menarik tangannya kembali, memasang raut wajah panik dan bersalah. "A-aku... aku mengambilnya saat Matthew sedang tidur, Cedric. Dia sangat percaya padaku dan meletakkannya begitu saja di meja rias. Dia bahkan bilang dia tergila-gila padaku... tapi aku tahu dia cuma mau memanfaatkan ku untuk melawan keluargamu."

Evelyn lalu melepaskan dan membiarkan Cedric melihat cincin itu. Evelyn melihat raut muka penuh kemenangan di wajah pria di sampingnya. Evelyn menyembunyikan senyum kemenangannya kemudian pura-pura ke kamar mandi. Letak kamar mandi kedai itu ada di bagian belakang tapi agak memutar ke belakang karena terpisah dari area kedai. Disana Matthew menunggunya dengan raut muka yang tidak bisa digambarkan.

Matthew menggandeng Evelyn ke dalam kamar mandi, menutup kamar mandi tersebut. Kemudian ia memeluknya erat sebelum mencium bibirnya. Evelyn tahu, pria ini sedang cemburu berat, jadi Evelyn membiarkan Matthew menciumnya.

"Jangan pernah... mencium pria itu lagi, Eve. Bahkan untuk sandiwara sekalipun," bisik Matthew rendah, suaranya terdengar putus asa. "Aku hampir kehilangan akal sehatku, Eve. Aku sudah berniat masuk dan membunuh bajingan itu." Evelyn mulai mengelus wajah pria itu, kemudian mencium pipi dan keningnya sebelum keluar dan melangkah kembali ke dalam kedai.

Sesuai dugaan keduanya, Cedric membawa pergi cincin itu dan meninggalkan Evelyn dengan sebuah catatan di meja bertuliskan :

Eve, sayangku.

Aku ada urusan mendadak, tolong jangan tunggu aku dan aku akan menjemputmu seminggu lagi untuk jamuan pesta dansa, Eve.

I love you, darling

Evelyn kemudian berjalan menuju kasir dan bertanya apakah benar pria yang tadi bersamanya sudah benar-benar pergi dan ke arah mana dia berjalan. Setelah mendapat keterangan yang dibutuhkan, Evelyn kembali ke meja tempat dia duduk dan minum kopi pesanannya. Kemudian ia mengeluarkan iphone pemberian Matthew dan mulai memotret dan mengirimkan foto tersebut kepada Matthew.

Evelyn membawa semua barang-barang yang diberikan Cedric dan berjalan ke arah taxi yang sudah di pesannya. Dia tahu ada yang membuntutinya sehingga dia harus naik taxi. Sedangkan Matthew mengejarnya dibelakang mobil yang sedang membuntuti Evelyn. Ketika taxi sudah berhenti di depan apartemen Evelyn, mobil hitam yang membuntutinya itupun pergi. Evelyn kemudian berlari ke arah mobil Matthew dan mereka kembali ke mansion milik matthew.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!