Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permalukan Nyonya Wirasena
Ketukan palu terakhir dari pembawa acara resmi menutup sesi lelang amal malam itu.
Pengumuman bahwa seluruh dana miliaran rupiah yang terkumpul akan langsung disalurkan ke Yayasan Lentera Wirasena disambut tepuk tangan riuh. Citra Wirasena Group malam ini benar-benar berada di puncak tertinggi.
Namun, bagi Bianca, kejatuhan Aira adalah satu-satunya hal yang ingin ia lihat.
Wanita bergaun emas itu melirik Ferry yang duduk di sampingnya, lalu melempar senyuman licik yang tersembunyi. Kekalahan di sesi lelang tadi sama sekali tidak membuatnya gentar. Uang hanyalah permulaan, sedangkan panggung yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Alunan musik orkestra yang tadinya megah perlahan berubah. Melodi waltz yang klasik dan mengalir lembut mulai memenuhi seluruh penjuru ballroom.
Lampu kristal raksasa meredup, menyisakan satu sorotan cahaya putih yang langsung mengunci posisi meja utama keluarga Wirasena.
"Hadirin sekalian, mari kita sambut tradisi utama Gala Amal malam ini!" seru pembawa acara dengan nada menggelegar. "Lantai dansa pertama resmi dibuka oleh pasangan utama kita, Tuan Evan Wirasena dan Nyonya Aira Wirasena!"
Jantung Aira mendadak mencelos. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Dansa! Yang bener aja, batin Aira panik.
Jangankan dansa ala bangsawan begini, berjalan seimbang dengan sepatu hak tinggi ini aja rasanya seperti berjalan di atas tali jemuran.
Di sebelahnya, Kakek Baskara memberikan anggukan penuh wibawa, mengisyaratkan agar mereka segera maju. Helena yang duduk di seberang hanya menatap dingin, seolah sedang bersiap menonton pertunjukan komedi dari menantunya yang kampungan.
"Berdiri, Aira. Jangan membuat semua orang menunggu," perintah Evan datar.
Pria itu sudah bangkit lebih dulu, mengancingkan satu kancing jas abu-abu gelapnya dengan gerakan yang sangat tenang.
Aira menarik napas dalam-dalam, menguatkan mentalnya sebelum berdiri tegak. Ketika melangkah ke tengah lantai marmer, tangannya yang terasa dingin ditarik lembut namun tegas oleh Evan.
Satu tangan kokoh pria itu mendarat di pinggang Aira, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya mendominasi indra penciuman Aira. Posisi mereka sangat dekat. Kaku, dingin, tanpa ada kehangatan cinta, namun sorot mata elang Evan mengunci seluruh pergerakan Aira.
"Ikuti langkah saya. Jangan melihat ke bawah," bisik Evan rendah, suaranya terdengar seperti perintah mutlak di dekat telinga Aira.
"Gue nggak bisa dansa, Van. Kalau kaki lo gue injak, jangan salahin gue," balas Aira sengit berbisik, matanya menatap tajam ke dada bidang suaminya demi menghindari tatapan ratusan pasang mata yang menonton di sekeliling mereka.
Evan mengeratkan sedikit dekapannya di pinggang Aira, memaksa tubuh gadis itu gerakan mengikuti ritme. "Kalau sampai kau menginjak kaki saya, itu artinya kau sengaja mempermalukan suami dan dirimu sendiri di depan kamera. Jadi, fokus."
"Fokus mata lo! Lo nggak tahu aja jempol kaki gue udah mati rasa gara-gara sepatu ini," gerutu Aira pelan, tubuhnya menegang saat Evan membawanya berputar setengah lingkaran.
"Tahan sedikit egomu, Aira. Ini hanya tiga menit," timpal Evan tanpa ekspresi, wajahnya tetap menatap lurus ke depan seolah mereka tidak sedang berdebat sengit.
"Tiga menit berasa tiga tahun kalau harus sedekat ini sama cowok kaku kayak lo," balas Aira tidak mau kalah.
Evan tidak menjawab lagi. Tubuh tegapnya mulai bergerak lincah, memandu tubuh Aira berputar mengikuti ketukan musik dengan sangat andal. Keanggunan gerakan Evan membuat kecanggungan langkah Aira perlahan tertutupi dengan rapi.
Hingga akhirnya, melodi waltz berakhir dengan nada penutup yang megah. Tepuk tangan riuh seketika bergemuruh memenuhi seluruh ruangan. Lampu ballroom kembali menyala terang benderang.
Aira mengembuskan napas lega yang amat panjang. Selesai juga siksaannya, batinnya girang, merasa beban beratnya baru saja diangkat.
Sesuai tradisi pesta, para tamu undangan yang berada di pinggir lantai dansa mulai bergerak maju merapat. Mereka mengangkat gelas masing-masing, bersiap untuk bersulang dan membuka obrolan santai dengan pasangan utama malam itu.
Sementara itu, di antara kerumunan tamu yang mulai memadati lantai dansa, Bianca memberikan kode mata yang sangat halus kepada salah satu pelayan yang sedang membawa nampan berisi beberapa gelas red wine merah pekat.
Pelayan itu mengangguk samar, lalu mulai bergerak memotong arus kerumunan tamu. Rencananya sangat matang: memanfaatkan, situasi padat pasca-dansa untuk pura-pura tersenggol oleh tamu lain tepat di dekat Aira.
Trik ini sangat sederhana namun mematikan untuk reputasi seorang wanita di pesta elite. Cukup satu senggolan kecil yang tidak sengaja, maka cairan merah itu akan menodai gaun midnight blue milik Aira, merusak penampilannya, dan membuat cewek itu panik hingga menjadi bahan tertawaan seluruh Jakarta.
Di sudut dekat meja konter minuman, Sean berdiri diam dengan rahang mengeras sempurna. Matanya yang tajam sejak tadi tidak pernah lepas dari Aira. Rasa tidak rela masih mengganjal di dadanya. Dia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan bagaimana kerumunan orang mulai mengepung area tengah lantai dansa.
Di tengah lantai dansa yang mulai ramai, Aira baru saja hendak melangkah mundur untuk kembali ke meja VIP. Namun tepat saat itulah, pelayan pembawa wine tersebut sudah berhasil mendekat dan bersiap mengambil posisi untuk "terpleset" tepat di sisi kanan tubuh Aira.