Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doa anak kecil yang terkabul
Akhirnya, Bima dan Ustaz Malik berhenti tepat di hadapan Latifah.
Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara.
Ustaz Umar dan Umi Aisyah tersenyum menyambut Bima, sementara Latifah masih terpaku dengan wajah pucat.
Bima berdiri tegak, berusaha mempertahankan sikap tenangnya meskipun pikirannya dipenuhi begitu banyak pertanyaan.
Ustaz Malik kemudian mengangkat tangannya sedikit, memperkenalkan mereka dengan penuh kebahagiaan.
"Nah, Bima, inilah perempuan yang selama ini kami bicarakan. Calon istrimu."
Bima menahan napas.
Ustaz Malik menoleh kepada Latifah.
"Dan Latifah, Nak, inilah calon suamimu. Namanya Mayor TNI Abimanyu Wicaksono, putra almarhum Pak Ibnu yang sudah lama kami nantikan kedatangannya."
Kemudian, dengan senyum lebar, ia menambahkan,
"Latifah Azalea, putri dari Ustaz Umar dan Umi Aisyah. Bima, mulai hari ini kalian bisa saling mengenal secara langsung."
Bima langsung membeku. Matanya menatap Latifah tanpa berkedip. Seolah-olah ia baru saja mendengar sesuatu yang mustahil dipercaya.
"Bu … Latifah?"
Nama itu keluar dari bibirnya dengan suara rendah dan penuh keterkejutan.
Latifah tidak mampu menjawab. Ia hanya menatap pria di hadapannya dengan mata berkaca-kaca karena terkejut.
"Mayor Abimanyu …?" gumamnya lirih.
Ustaz Malik tertawa kecil.
"Ya, Bima. Ini Latifah. Dan Latifah, ini Abimanyu. Kalian ternyata sudah pernah bertemu sebelumnya, ya?"
Bima dan Latifah saling berpandangan. Untuk beberapa saat, keduanya sama-sama kehilangan kata-kata.
Bima tidak pernah membayangkan bahwa perempuan yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah Latifah, guru mengaji putrinya sendiri.
Sementara Latifah tidak pernah menyangka bahwa pria yang selama ini ia pikir hanya akan menjadi bagian dari kenangan singkatnya bersama Kaning, ternyata adalah laki-laki yang telah dipilihkan keluarganya untuk menjadi suaminya.
Semua teka-teki itu akhirnya terjawab dalam satu momen.
Calon suami yang namanya dirahasiakan.
Pria yang berstatus duda dan memiliki seorang anak.
Keluarga yang selama ini disebut oleh Abi Umar dan Umi Aisyah.
Semuanya mengarah kepada satu nama.
Abimanyu Wicaksono.
Bima akhirnya menghembuskan napas panjang, lalu menatap Ustaz Malik.
"Ustaz … jadi, perempuan yang selama ini dimaksud oleh keluarga Bima adalah Bu Latifah?"
"Iya, Nak." Ustaz Malik mengangguk mantap. "Memangnya kenapa? Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?"
Bima terdiam sesaat.
"Sudah, Ustaz. Kami pernah bertemu di Darussalam. Beliau adalah guru mengaji Kaning."
"Masyaallah!" seru Umi Azizah dengan wajah bahagia. "Berarti Allah sudah mempertemukan kalian jauh sebelum perjodohan ini dilaksanakan."
Beberapa anggota keluarga tersenyum dan mengangguk setuju.
"Benar sekali. Ini pasti bukan kebetulan."
"Masyaallah, rupanya Bima sudah mengenal calon istrinya."
Namun, bagi Bima dan Latifah, kenyataan itu terasa jauh lebih mengejutkan daripada yang dibayangkan keluarga mereka.
Bima kembali menatap Latifah.
Perempuan itu tampak gugup, bahkan jemarinya masih saling menggenggam erat.
Bima ingin bertanya begitu banyak hal. Ia ingin mengetahui apakah Latifah juga baru mengetahui identitas calon suaminya hari ini. Ia ingin memastikan bahwa perempuan itu tidak merasa dipaksa oleh keluarganya.
Namun, di hadapan begitu banyak orang, ia hanya mampu menahan semua pertanyaan itu.
Akhirnya, ia sedikit menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.
"Assalamu'alaikum, Bu Latifah."
Latifah tersentak kecil mendengar suaranya.
"Wa'alaikumsalam, Pak Bima."
Jawaban itu keluar dengan begitu pelan.
Bima mengangkat wajahnya.
"Sepertinya kita bertemu lagi dalam keadaan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya."
Latifah tersenyum canggung.
"Iya, Pak Bima. Saya juga tidak pernah menyangka."
"Bagaimana kabar Ibu?"
"Alhamdulillah, baik. Bagaimana kabar Pak Bima?"
"Alhamdulillah, baik."
Percakapan mereka berhenti di situ.
Keduanya sama-sama tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Sementara itu, keluarga besar yang menyaksikan pertemuan tersebut justru semakin bahagia. Mereka mengira keterkejutan Bima dan Latifah hanyalah reaksi wajar karena ternyata keduanya sudah pernah berjumpa.
Tak seorang pun menyadari betapa banyak hal yang sedang berkecamuk di dalam hati kedua calon mempelai itu..
Di tengah suasana yang dipenuhi kebahagiaan, Kaning sejak tadi memperhatikan ayah dan perempuan yang sangat dirindukannya itu.
Bocah kecil tersebut berdiri di samping Bu Almira, kedua tangannya menggenggam ujung pakaian sang nenek.
Matanya berbinar-binar. Ia melihat Papahnya berdiri tepat di hadapan Bu Latifah.
Ia melihat bagaimana Ustaz Malik memperkenalkan mereka sebagai calon suami dan calon istri.
Dan ia mendengar sendiri nama yang diucapkan sang paman.
Abimanyu Wicaksono.
Latifah Azalea.
Papahnya.
Bu Latifah.
Keduanya akan menikah?
Kaning menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan kegembiraan yang hampir meledak di dadanya.
"Nenek …."
Bu Almira menoleh.
"Ya, Sayang?"
Kaning mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Benarkah, Nek? Papah akan menikah dengan Bu Latifah?"
Bu Almira tersenyum haru, lalu berjongkok di hadapan cucunya.
"Iya, Sayang. Ternyata perempuan yang akan dipertemukan dengan Papah adalah Bu Latifah."
Kaning terdiam beberapa detik.
Kemudian, wajahnya langsung berseri-seri.
"Alhamdulillah!"
Seruan kecil itu membuat beberapa orang menoleh.
Kaning segera berlari menuju Latifah, lalu memeluk pinggang perempuan itu erat-erat.
"Bu Latifah!"
Latifah yang masih terkejut dengan pengungkapan identitas calon suaminya langsung menoleh.
"Kaning?"
Bocah kecil itu mendongak dengan senyum yang begitu lebar.
"Bu Latifah, ternyata calon istrinya Papah adalah Bu Latifah!"
Latifah terdiam.
Bima pun menoleh kepada putrinya.
"Kaning …."
Namun, bocah itu tidak memperdulikan keterkejutan ayahnya. Ia justru semakin erat memeluk Latifah.
"Kaning sudah berdoa setiap hari supaya Papah menikah dengan Bu Latifah. Kaning ingin Bu Latifah menjadi Bundanya Kaning. Dan sekarang Allah mengabulkan doanya Kaning!"
Suara Kaning terdengar begitu tulus, begitu penuh kebahagiaan, hingga beberapa orang dewasa di ruangan itu langsung terdiam.
Umi Aisyah menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca.
Ustaz Umar mengusap janggutnya dengan senyum haru.
Sementara Bu Almira tidak mampu menyembunyikan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.
Bima sendiri tertegun melihat putrinya.
Ia tahu Kaning sangat menyayangi Latifah. Ia tahu putrinya menginginkan seorang ibu yang bisa menemaninya setiap hari. Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa Kaning akan menyambut perjodohan ini dengan kegembiraan sebesar itu.
"Kaning, Sayang," panggil Bima lembut.
Kaning menoleh.
"Iya, Pah?"
Bima berjongkok agar sejajar dengan putrinya.
"Kamu senang kalau Bu Latifah menjadi istrinya Papah?"
Kaning mengangguk cepat.
"Senang sekali, Pah!"
"Kenapa?"
Kaning memandang Latifah sebentar, lalu kembali menatap ayahnya.
"Karena Bu Latifah baik. Bu Latifah selalu menemani Kaning kalau Kaning sedih. Bu Latifah mengajari Kaning mengaji, mengajari Kaning berdoa, dan selalu memeluk Kaning kalau Kaning kangen Papah."
Bocah itu kembali menggenggam tangan Latifah.
"Kaning sayang sekali sama Bu Latifah, Pah. Kaning ingin setiap hari bisa bertemu Bu Latifah. Kaning ingin Bu Latifah menemani Kaning tidur. Kaning juga ingin memanggilnya Bunda."
Kalimat terakhir itu membuat Bima kehilangan kata-kata.
Ia memandang putrinya, kemudian perlahan mengalihkan pandangan kepada Latifah.
Perempuan itu kini menunduk dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan yang semula begitu membuatnya gugup akan berubah menjadi momen yang menyentuh hatinya sedalam ini.
Latifah berjongkok, lalu merengkuh Kaning ke dalam pelukannya.
"Sayang …."
Kaning memeluknya erat.
"Bu Latifah mau menjadi Bundanya Kaning, kan?"
Pertanyaan itu membuat Latifah terdiam.
Ia mengusap kepala bocah itu dengan penuh kasih sayang.
"Kaning, Sayang. Bu Latifah sangat menyayangi Kaning."
"Jadi, Bu Latifah mau?"
Latifah memejamkan matanya sesaat. Ia belum memiliki jawaban untuk seluruh masa depannya. Ia belum tahu apakah dirinya mampu menjadi istri bagi seorang pria yang pernah kehilangan istrinya. Ia juga belum tahu apakah hatinya benar-benar siap menerima perubahan besar yang akan terjadi dalam hidupnya.
Namun, ketika merasakan pelukan Kaning, ada sesuatu yang menghangat di dalam dadanya.
Ia tidak ingin menyakiti anak kecil yang begitu tulus menyayanginya.
Latifah mengecup keningnya Kaning.
"Kita berdoa bersama, ya, Sayang. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita semua."
Kaning mengangguk, meskipun senyumnya tidak memudar sedikit pun.
"Iya, Bu. Kaning akan terus berdoa!"
Bima memperhatikan keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Di hadapannya, perempuan yang selama ini hanya dikenalnya sebagai guru putrinya kini sedang memeluk Kaning dengan kasih sayang yang begitu tulus.
Dan untuk pertama kalinya sejak menyetujui perjodohan ini, Bima merasakan bahwa pertemuan tersebut mungkin tidak sesederhana yang ia bayangkan.
Ia datang ke Bandung untuk memenuhi janji kepada almarhum ayahnya.
Ia datang karena ingin memberikan kesempatan kepada keluarganya untuk memperkenalkan seorang perempuan.
Ia juga datang karena memikirkan masa depan putrinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa perempuan itu adalah Latifah.
Perempuan yang telah lebih dahulu mendapatkan tempat istimewa di hatinya Kaning.
Perempuan yang pernah ia kagumi karena ketulusan dan kesabarannya.
Perempuan yang kini berdiri di hadapannya sebagai calon istrinya.
Bima menarik napas panjang, lalu menatap Latifah yang masih memeluk putrinya.
"Ya Allah.… apakah ini jawaban dari doa-doa yang selama ini dipanjatkan keluargaku?" doanya dalam hati.
Ia tidak tahu.
Namun, satu hal kini menjadi jelas. Pertemuan yang semula ia hadapi dengan keraguan telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti.
Sebab ternyata, sebelum dirinya dan Latifah sempat mempertimbangkan kemungkinan untuk saling mencintai, seorang anak kecil telah lebih dahulu memanjatkan doa agar mereka dipersatukan.
Dan di tengah kehangatan keluarga yang berkumpul pagi itu, doa Kaning menjadi saksi bahwa terkadang, takdir mempertemukan dua orang bukan ketika keduanya siap, melainkan ketika ada hati kecil yang berharap mereka bisa saling melengkapi.
Namun, apakah Latifah mampu menerima Abimanyu sebagai suaminya, sementara sebagian hatinya masih menyimpan nama Ustaz Firman?
Dan apakah Bima bisa membuka hatinya untuk perempuan lain setelah kehilangan Alika, istri yang pernah dicintainya?
Jawabannya masih tersimpan di antara waktu, keikhlasan, dan perjalanan panjang yang baru saja dimulai.
Bersambung...
bentar lagi pasti ud nemplok aja pak mayor😂😂😂,duuuh semoga dech author buat kayak gt,biar asyik laaaa,eh maaf Thor,sok melangkahi pula aq🤭🤭🤭,lanjut ya Thor....
lah emboh lah ..AQ mumet ngerasain km Latifa gak bs tegas rugi dong AQ tadi undangan di pestamu,ud amplop q tebal lagi,🤭🤭🤭🤭
mungkin ustadz firma mau ngasih selamat x atas pernikahan km Ifah