Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNDIP TRAGEDI
Di waktu yang sama persis saat Renzo bertemu Ivan Dragos..
"Lepaskan! Lepaskan aku! Aku mohon!"
Tersengar Suara rintihan gadis lirih namun menggema di gudang tua yang sepi, memantul di antara tumpukan barang usang seakan ikut menangis bersama pemiliknya.
"Hahaha...!!! Akhirnya kita berhasil menjebak gadis sombong ini. Sekarang saatnya kita bersenang-senang."
Pemuda tampan itu tertawa terbahak-bahak, suaranya renyah namun dingin bagaikan iblis yang baru saja memakan mangsanya. Namanya Felix, wajah rupawan namun menyembunyikan hati yang busuk dan kejam.
Gadis itu bernama Alyssa. Mahasiswa baru UNDIP, cantik jelita, kulitnya putih bersih, rambut hitam panjang terurai lembut membelai bahunya. Kecantikannya itulah yang justru mendatangkan malapetaka.
Felix ia adalah mahasiswa semester akhir yang kerap berusaha mendekati Alysa, namun Alyssa selalu menolak secara halus. hari itu ia membujuk Alyssa datang larut malam ke kampus dengan kebohongan: ia mengatakan memiliki kenalan pengacara yang bisa meringankan hukuman kakaknya Alyssa agar tak dihukum mati. Ya Alyssa adalah Adik Renzo. Demi kakaknya, Alyssa datang sendirian. Dan kini ia justru terjebak.
Bukan bantuan yang didapatnya, melainkan neraka dunia. Felix bersama ketiga temannya menyekapnya di gudang terpencil.
"Bajingan kalian semua! Kalian benar-benar biadab!" Teriak Alyssa sekuat tenaga, ia terus meronta-ronta walaupun tubuhnya yang lemah dipegangi ketiga pasang tangan kasar.
Melihat Alyssa masih berani melawan, Felix melayangkan tamparan keras hingga kepala Alyssa terhempas ke samping, darah segar seketika mengalir dari sudut bibirnya. Ia tergagap, dunia rasanya runtuh seketika. Mahkota yang dijaganya suci selama delapan belas tahun direnggut paksa malam ini, di tempat kotor ini. Alyssa gemetar, tak percaya manusia bisa sekejam ini.
Di bawah berat tubuh Felix, pandangannya kabur menyapu lantai — dan di sanalah, tak jauh dari jangkauan, tergeletak sebuah pisau cutter tajam.
Dengan sisa tenaga terakhir, tangan kirinya meraih perlahan, nyaris tak terlihat. Ketiga temannya tertawa lebar melihat Alyssa yang makin terdesak tak berdaya. Namun Rangga, salah satu di antaranya, tawa mendadak mati di tenggorokannya. Ia melihat gerakan tangan Alyssa.
"Felix awas..!!!" Teriaknya melengking.
Terlambat.
Alyssa mencengkeram cutter itu sekuat tenaga, matanya memejam rapat, dan menusukkan pisau itu ke perut Felix sekuat tenaga.
"Aaaargghhh...!!!" Felix menjerit histeris, tubuhnya menegang kaku di atas tubuh Alyssa. Ia menekan tangan gadis itu berusaha menjauhkan pisau, wajahnya memerah menahan sakit dan amarah, "k.. ka.. kau menusukku?!"
Ketiga temannya terbelalak kaget, seketika menyerbu ke atas Alyssa merebut paksa pisau itu dari genggamannya. Alyssa terpelanting ke belakang, napasnya memburu, tubuhnya gemetar hebat melihat darah merah pekat perlahan merembes keluar dari luka di perut Felix, jatuh menetes ke lantai membentuk genangan kecil. Ia mundur perlahan, punggungnya menabrak dinding dingin, tak berkedip menatap wajah pucat Felix. Luka di bagian bawah tubuhnya masih berdenyut nyeri membakar kesadarannya, napasnya makin sesak hingga akhirnya pandangannya gelap seketika. Tubuhnya lemas terkulai jatuh ke lantai.
"Cep.. cepat telepon Pak Ramon!!" Seru Pradipta gemetar.
Rangga seketika mengangkat ponsel, jemarinya bergetar hebat menekan nomor itu. Ramon, ayah Felix, bukan orang sembarangan, ia adalah pejabat tertinggi di Jawa Tengah, kekuasaannya menjulang tinggi, tak ada yang tak kenal takut padanya.
Mendengar kabar itu, wajahnya tak berubah sedikit pun dingin dan tenang namun perintahnya keluar tegas dan cepat: tutup rapat, jangan sampai bocor ke publik sedikit pun.
Tak lama kemudian Ramon duduk berhadapan dengan Rektor kampus di ruangan tertutup rapat. Sorot matanya tajam menindih jiwa rektor yang menunduk gemetar.
"Pak Dewa, panggil orang tua gadis itu menghadapku. Aku akan beri mereka ancaman yang cukup pahit agar tak berani membawa masalah ini ke jalur hukum. Sebenarnya aku bisa saja memenjarakan gadis itu karena penusukan itu, namun masalah ini pasti akan mencuat ke publik, orang-orang akan menuntun anakku untuk di penjara dan membebaskan gadis itu.. lalu bagaimana nasib nama baikku? Intinya Jangan sampai satu kata pun keluar dari mulut siapa pun di kampus ini."
Rektor menunduk makin dalam, keringat dingin membasahi punggungnya. Di belakang Ramon berdiri dua orang berjas hitam, tangan mereka bersilang di dada, dan samar terlihat gagang senjata api terselip di pinggang. Ia tak punya pilihan lain selain mengangguk patuh. "Ba.. baik, Pak. Akan saya laksanakan."
Alyssa kini terbaring lemah di ruang kesehatan kampus, jauh dari keramaian. Di samping ranjangnya berdiri seorang dokter wanita — orang kepercayaan Ramon, dipaksa datang ke sini malam ini. Ia perlahan membuka perban di bagian bawah tubuh Alyssa, dan saat melihat lukanya, napasnya tercekat di kerongkongan. Robekan cukup lebar, darah masih merembes pelan. Luka kekerasan yang sangat kejam dilakukan pada tubuh mungil gadis berusia delapan belas tahun ini.
"Ya Tuhan... masih anak-anak..." hatinya menjerit pilu. Ia menjahit luka itu perlahan selembut mungkin, matanya berkabut air mata yang ditahannya. Ia ingin berteriak, ingin melaporkan, ingin memberi keadilan pada gadis tak berdosa ini — namun bayang-bayang ancaman Ramon mencekiknya lebih dulu. Karir, keluarganya, nyawanya sendiri semuanya terancam jika ia berani membuka mulut. Ia tak berdaya. Hanya bisa menangis dalam hati di sela-sela benang jarum yang menusuk daging gadis malang itu.
Setengah jam berlalu. Luka terakhir selesai dijahit. Dokter itu menghela napas panjang lelah. Tak lama kemudian ponselnya berdering nyaring memecah keheningan ruangan. Ia terlonjak dan segera menjawab dengan suara gemetar, "Halo, Tuan."
"Bagaimana keadaan gadis itu?" Suara Ramon dingin tajam menusuk telinga tanpa salam pembuka.
"Lukanya cukup serius, Tuan. Pendarahan belum sepenuhnya berhenti. Menurut saya sebaiknya ia dibawa ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut."
"Tidak! Jangan membawanya kerumah sakit! Dokter-dokter di sana akan langsung tau gadis itu mengalami pemerkosaan, akan sangat merepotkan jika merekabanyak bertanya, bisa-bisa kasus ini akan mencuat ke permukaan. Obati saja gadis itu sebisa mungkin. Aku akan berbicara dengan orang tuanya sekarang..." Sambungan terputus sepihak.
Dokter itu menatap layar ponsel yang mati, lalu menatap wajah Alyssa yang pucat pasi di atas ranjang. Sesak di dadanya makin menyesakkan. Perlahan ia menyentuh punggung tangan gadis itu lembut.. merasakan sentuhan Alyssa tiba-tiba bergerak, matanya terbuka lebar seketika..
"Siapa kamu?! Jangan sentuh aku!! Jangan sentuh aku!! Pergi!!" Alyssa menjerit histeris, tubuhnya meronta-ronta liar di atas kasur, air mata meleleh deras membasahi pipinya, ketakutan menatap dokter itu seakan melihat maut datang kembali, "Jangan dekati aku!! Kumohon!!"
"Nak, tenanglah... aku takkan menyakitimu..." pujuk dokter itu lembut namun Alyssa makin meronta tak terkendali. Dokter itu tak punya pilihan lain, memanggil dua perawat yang menunggu di luar untuk menahan lembut tubuh Alyssa yang terus meronta, sementara tangan sang dokter gemetar menyuntikkan obat penenang ke lengan gadis itu. Perlahan tenaganya luruh, matanya terpejam berat, napasnya perlahan teratur kembali ke dalam mimpi.
Dokter itu menarik selimut menutupinya hingga bahu, memandanginya lama dengan pandangan sendu dan iba yang tak terucap.
"Sebenarnya dia kenapa dok?" Tanya salah satu perawat.
"Sesuai dugaanku, ia mengalami trauma yang mendalam lantaran tragedi yang ia alami malam ini." jawabnya pelan, "bukan sekadar luka fisik. Jiwanya ikut hancur. Dan... aku khawatir, trauma ini takkan hilang begitu saja karena ia tak mendapatkan penanganan yang tepat, harusnya ia segera di bawa kerumah sakit."
Dokter itu kembali menatap wajah pucat Alyssa yang masih basah air mata, "kasihan sekali kamu, nak. Kamu masih remaja 18 tahun, masa depanmu masih sangat panjang, namun kamu terpaksa mengubur semua mimpimu karena tragedi malam ini. Semoga kelak keadilan benar-benar ada untukmu. Entah itu di bawa oleh orang asing, atau orang yang paling kamu sayangi."