NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...

​Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.

Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.

​Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.

​Bagaimana kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Kamis, 3 November 2016 — New York

Arthur Sterling terbangun beberapa menit sebelum alarm ponselnya berbunyi.

Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai apartemen kecilnya di Queens. Dari luar jendela, suara kendaraan yang melintas dan percakapan para pejalan kaki mulai memenuhi jalanan. Tidak ada yang istimewa dari pagi itu. Tidak ada berita besar yang mengubah dunia, tidak ada panggilan dari seseorang yang menawarkan kesempatan luar biasa, dan tidak ada alasan untuk percaya bahwa hidupnya akan berubah dalam semalam.

Namun, Arthur tahu bahwa masa depan yang besar sering kali dibangun dari hari-hari yang tampak biasa.

Ia duduk di tepi tempat tidur, mengambil buku catatan dari meja kecil, lalu membuka halaman yang berisi rencana keuangannya.

Uang hasil penjualan sebagian besar opsi Aurelia Therapeutics masih tersimpan dengan aman di rekeningnya. Dibandingkan dengan keadaan keuangannya beberapa minggu lalu, kondisinya memang jauh lebih baik. Namun, jumlah itu masih terlalu kecil untuk memberinya kebebasan penuh.

Ia belum menjadi pengusaha sukses.

Ia juga belum menjadi investor yang layak mengelola dana besar.

Saat ini, ia hanyalah seorang mahasiswa berusia dua puluh tahun yang memiliki sedikit modal, satu usaha kecil bersama temannya, dan ingatan tentang masa depan yang tidak selalu bisa diandalkan.

Arthur menulis tiga baris di buku catatannya.

Pertama, pertahankan cadangan uang.

Kedua, bangun sumber pendapatan yang dapat diulang.

Ketiga, jangan mengambil risiko hanya karena takut kehilangan kesempatan.

Ia berhenti sejenak, membaca kembali tulisannya, lalu menutup buku tersebut.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia telah menghabiskan puluhan tahun mengejar angka yang terus bertambah. Ia mengira bahwa semakin besar kekayaannya, semakin banyak pula kebebasan yang akan dimilikinya.

Pada akhirnya, ia menyadari bahwa kebebasan tidak hanya ditentukan oleh jumlah uang.

Kebebasan juga berarti memiliki pilihan, memiliki waktu, dan tidak harus mengorbankan semua hal penting demi sesuatu yang bahkan tidak bisa dibawa ketika seseorang meninggal.

Arthur mengambil jaketnya dan meninggalkan apartemen.

Hari itu, ia memiliki beberapa hal yang harus diselesaikan.

Dan untuk pertama kalinya setelah kembali ke masa lalu, ia ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambilnya benar-benar memiliki alasan.

Pukul sembilan pagi, Arthur tiba di kampus.

Daniel Brooks sudah menunggunya di sebuah meja dekat pintu masuk gedung fakultas. Di hadapannya terdapat laptop, secangkir kopi, dan beberapa lembar kertas yang penuh dengan tulisan.

Begitu Arthur mendekat, Daniel mengangkat kepalanya.

"Akhirnya datang juga. Aku hampir mengira kau memutuskan menjadi investor profesional dan meninggalkan teman lamamu yang miskin ini."

Arthur menarik kursi.

"Kalau aku menjadi investor profesional, orang pertama yang akan kuajak bekerja sama adalah seseorang yang tidak menghabiskan uang untuk kopi setiap pagi."

Daniel menatap cangkir di tangannya.

"Kopi ini investasi untuk produktivitas."

"Berapa tingkat pengembaliannya?"

"Belum diketahui. Penelitiannya masih berlangsung."

Arthur tertawa kecil.

Percakapan sederhana itu membuatnya teringat pada kehidupan sebelumnya. Dulu, ia dan Daniel pernah duduk di sebuah restoran mahal, membahas kesepakatan bernilai jutaan dolar. Namun, bahkan setelah menjadi pengusaha besar, Daniel tetap memiliki kebiasaan melemparkan lelucon buruk pada waktu yang tidak tepat.

Arthur tidak ingin kehilangan bagian kehidupan itu lagi.

"Apa yang kau kerjakan?" tanyanya sambil menunjuk laptop Daniel.

"Daftar calon pelanggan kita." Daniel memutar layar laptopnya. "Aku sudah memperbarui daftar yang kita buat beberapa hari lalu. Ada dua belas bisnis yang mungkin membutuhkan bantuan, tetapi aku hanya memilih lima yang menurutku layak dihubungi terlebih dahulu."

Arthur memperhatikan daftar tersebut.

Di dalamnya terdapat beberapa restoran, toko bahan makanan, salon kecil, dan sebuah bengkel mobil. Daniel juga menambahkan kolom mengenai kondisi situs web, keakuratan informasi bisnis, serta masalah yang mungkin dihadapi masing-masing pemilik.

Arthur mengangguk puas.

"Ini jauh lebih baik."

"Aku belajar dari kesalahan kita."

"Kesalahan yang mana?"

"Yang membuatku menelepon pemilik toko selama sepuluh menit hanya untuk mengetahui bahwa dia mengira aku sedang menawarkan pinjaman."

Arthur tertawa.

"Itu bukan kesalahan yang sepenuhnya buruk. Sekarang kita tahu bahwa penjelasan kita harus lebih jelas."

Daniel menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Baiklah, Pak Direktur. Menurutmu, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"

Arthur tidak langsung menjawab. Ia membaca daftar itu sekali lagi sebelum menunjuk sebuah toko bahan makanan kecil.

"Mulai dari yang ini. Informasi jam bukanya berbeda antara situs web dan halaman bisnisnya. Kalau pelanggan datang ketika toko seharusnya buka, tetapi menemukan pintu terkunci, mereka bisa kehilangan kepercayaan."

Daniel mengangguk sambil mengetik catatan.

"Kita bisa menawarkan pembaruan informasi dan foto."

"Benar. Namun, jangan langsung menjanjikan peningkatan penjualan. Kita belum tahu apakah masalah utamanya memang informasi daring."

"Jadi, kita menjual pekerjaan yang bisa kita lakukan, bukan hasil yang tidak bisa kita jamin."

"Tepat."

Daniel memandang Arthur beberapa saat.

"Kau tahu, terkadang kau terdengar seperti orang yang sudah mengelola perusahaan selama tiga puluh tahun."

Jantung Arthur berdetak sedikit lebih cepat.

Namun, ekspresinya tetap tenang.

"Mungkin karena aku terlalu sering membaca laporan bisnis."

Daniel mengangkat bahu.

"Kalau begitu, aku harus membaca lebih banyak laporan bisnis."

Arthur tersenyum, tetapi tidak melanjutkan pembicaraan itu.

Ia harus selalu berhati-hati. Kemampuan analisis yang terlalu matang mungkin mengundang kekaguman, tetapi jika ia mulai menunjukkan pengetahuan yang tidak masuk akal untuk usianya, kekaguman itu bisa berubah menjadi kecurigaan.

Mereka menghabiskan hampir satu jam menyempurnakan daftar calon pelanggan. Setelah itu, Daniel berangkat menuju kelas berikutnya, sedangkan Arthur pergi ke perpustakaan untuk menyelesaikan tugas kuliah.

Sebelum berpisah, Daniel mengingatkannya bahwa mereka harus mengunjungi toko Peter Lawson pada sore hari.

"Peter mengirim pesan tadi pagi," kata Daniel. "Dia bilang sudah menyiapkan catatan transaksi tambahan."

"Bagus. Kita lihat apakah data baru itu membantu."

"Dan kalau ternyata tidak?"

Arthur memasukkan buku ke dalam tasnya.

"Berarti kita masih belum memiliki jawaban."

Daniel menggelengkan kepala.

"Jawaban yang sangat tidak memuaskan."

"Tetapi lebih baik daripada jawaban yang salah."

Di perpustakaan, Arthur memilih tempat duduk dekat jendela.

Ia membuka buku mengenai analisis laporan keuangan, tetapi perhatiannya beberapa kali beralih ke dokumen investasi Aurelia Therapeutics yang tersimpan di laptop.

Ia sudah merealisasikan sebagian besar keuntungan dari transaksi tersebut. Keputusan itu memberinya cadangan uang yang lebih baik, tetapi bukan berarti semua persoalan selesai.

Ia masih menyimpan sebagian kecil opsi yang nilainya dapat berubah drastis. Jika harga saham terus naik, ia mungkin memperoleh keuntungan tambahan. Sebaliknya, jika pasar berbalik arah atau waktu kedaluwarsa semakin dekat tanpa kenaikan yang memadai, nilai opsi tersebut dapat menyusut dengan cepat.

Arthur tidak berniat membiarkan posisi kecil itu menguasai pikirannya.

Ia membuka catatan transaksi dan menambahkan satu paragraf.

Hasil positif tidak menghapus kelemahan proses. Ukuran posisi awal terlalu besar dibandingkan kemampuan keuangan pribadi. Keputusan menjual sebagian besar posisi memperbaiki likuiditas, tetapi keberhasilan akhirnya tidak boleh dijadikan alasan untuk mengulangi risiko yang sama.

Ia membaca kalimat itu sekali lagi.

Dalam kehidupan sebelumnya, Arthur sering mendengar orang menyebut seorang investor jenius setelah melihat keuntungan besar. Mereka jarang bertanya berapa banyak risiko yang diambil, berapa kali keputusan serupa gagal, atau apakah keuntungan tersebut sebenarnya sepadan dengan modal yang dipertaruhkan.

Ia tidak ingin menjadi salah satu dari mereka.

Sebuah notifikasi email muncul di sudut layar.

Pengirimnya adalah Richard Coleman.

Arthur membuka pesan tersebut.

Richard mengucapkan terima kasih atas pembaruan analisis yang dikirim Arthur sebelumnya. Ia juga menanyakan apakah Arthur bersedia mengirimkan catatan keputusan investasinya dalam format yang lebih sistematis jika ingin terus berdiskusi mengenai pasar.

Tidak ada tawaran pekerjaan. Tidak ada janji keuntungan. Richard hanya membuka kemungkinan untuk melanjutkan percakapan profesional mereka.

Arthur mempertimbangkan jawabannya sebelum mulai mengetik.

Ia menyatakan bersedia menyusun catatan tersebut, tetapi menegaskan bahwa dokumen itu merupakan evaluasi pribadi berdasarkan informasi publik yang tersedia baginya. Ia tidak memiliki informasi nonpublik mengenai perusahaan dan tidak menganggap satu transaksi yang berhasil sebagai bukti bahwa seluruh penilaiannya selalu benar.

Setelah mengirim email, Arthur menutup laptop sejenak.

Kesempatan dari Richard mungkin berguna untuk belajar. Namun, Arthur tidak boleh membiarkan dirinya terobsesi untuk mendapatkan pengakuan dari Wall Street.

Tujuannya bukan membuktikan bahwa dirinya lebih pintar daripada orang lain.

Tujuannya adalah membangun kehidupan yang berbeda dari kehidupan sebelumnya.

Pukul dua siang, Arthur menemukan Clara Vance di meja yang sama tempat mereka biasanya belajar.

Clara mengenakan sweter berwarna krem dan sedang membaca beberapa lembar catatan. Rambut gelap sebahunya tergerai di sisi wajah, sementara sebuah pena bergerak perlahan di antara jari-jarinya.

Ketika Arthur mendekat, Clara mengangkat kepala.

"Kau datang lebih awal."

"Aku tidak ingin membuatmu menunggu."

"Aku baru tiba sepuluh menit lalu."

"Berarti aku berhasil."

Clara tersenyum tipis.

Arthur duduk di seberangnya dan mengeluarkan buku pelajaran. Mereka mulai membahas tugas mengenai penilaian perusahaan, tetapi percakapan itu perlahan beralih ke hal yang lebih praktis.

"Aku memikirkan tabel keuangan yang kita buat untuk restoran Samuel," kata Clara.

"Apakah ada masalah?"

"Bukan masalah besar. Aku hanya menyadari bahwa tabel itu mungkin tidak cukup membantu kalau Samuel harus menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengisinya."

Arthur mengangguk.

"Itu masuk akal. Alat yang terlalu rumit justru bisa membuat orang berhenti menggunakannya."

"Aku ingin membuat versi yang lebih sederhana. Mungkin hanya beberapa kolom yang benar-benar perlu diperiksa setiap hari."

"Seperti jumlah penjualan, jumlah transaksi, pengeluaran utama, dan makanan yang terbuang?"

"Ya. Kemudian, kalau Samuel menemukan sesuatu yang tidak biasa, dia bisa menambahkan catatan."

Arthur memperhatikan Clara dengan penuh minat.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah menghabiskan jutaan dolar untuk membeli sistem analisis yang rumit. Sebagian sistem itu menghasilkan laporan tebal yang hanya dibaca oleh beberapa eksekutif, sementara pemilik bisnis kecil sering kali tidak memiliki alat sederhana untuk mengetahui ke mana uang mereka pergi.

Clara memahami persoalan itu tanpa perlu pengalaman puluhan tahun.

"Aku rasa itu bisa membantu," katanya. "Tetapi kita perlu meminta pendapat Samuel sebelum mengubah formatnya."

"Aku sudah berpikir untuk menghubunginya besok."

Clara menuliskan sesuatu di buku catatannya.

"Aku bisa membantu menguji versi sederhananya, kalau kau dan Daniel tidak keberatan."

"Kami tidak keberatan. Namun, aku ingin memastikan satu hal."

Clara menatapnya.

"Apa?"

"Kalau pekerjaan ini mulai memerlukan banyak waktu dan menjadi sesuatu yang rutin, kita harus membicarakan kompensasi yang pantas untukmu. Aku tidak ingin kau merasa harus membantu hanya karena kita berteman."

Clara terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil.

"Kau benar-benar memikirkan hal itu."

"Karena waktumu juga berharga."

"Sebagian orang akan mengatakan bahwa aku seharusnya membantu secara gratis karena ini hanya proyek kecil."

"Sebagian orang juga mengira pekerjaan kecil tidak membutuhkan keterampilan."

Clara menatapnya beberapa saat.

Ada sesuatu dalam ekspresinya yang membuat Arthur merasa bahwa kalimat sederhana itu menyentuh bagian dari kehidupannya yang tidak pernah ia ceritakan.

Namun, Arthur tidak bertanya.

Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menjadikan kepeduliannya sebagai alasan untuk mendesak Clara membuka rahasia.

Setelah beberapa menit, Clara kembali melihat catatannya.

"Aku akan membuat versi sederhana malam ini. Besok kita bisa melihat apakah formatnya masuk akal."

"Baik."

Mereka kembali belajar.

Di tengah pembicaraan mengenai angka dan asumsi, Clara tiba-tiba bertanya, "Arthur, apakah kau pernah merasa bahwa kau harus selalu melakukan sesuatu yang besar agar hidupmu dianggap berarti?"

Pertanyaan itu membuat Arthur terdiam.

Ia pernah menghabiskan enam puluh tahun untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan cara yang salah.

"Aku pernah berpikir bahwa hidup yang berarti harus menghasilkan sesuatu yang luar biasa," jawabnya perlahan. "Sekarang aku mulai berpikir bahwa mungkin yang lebih penting adalah apakah kita memahami alasan di balik hal-hal yang kita lakukan."

Clara memutar penanya.

"Jadi, seseorang tidak harus menjadi luar biasa?"

"Seseorang boleh memiliki ambisi besar. Tetapi dia tidak harus mengorbankan seluruh hidupnya hanya untuk membuktikan bahwa dirinya layak dihargai."

Clara tidak segera menjawab.

Kemudian, ia tersenyum samar.

"Aku suka jawaban itu."

Arthur membalas senyumnya, meskipun di dalam hati ia berharap dapat mengatakan lebih banyak.

Ia ingin memberitahu Clara bahwa ia tidak perlu menghadapi semuanya sendirian. Ia ingin mengatakan bahwa masa depan yang menunggunya tidak harus menjadi masa depan yang sama seperti sebelumnya.

Namun, ia tidak memiliki hak untuk membuat janji mengenai sesuatu yang belum dipahaminya.

Untuk saat ini, ia hanya bisa berada di sana, mendengarkan, dan membiarkan Clara menentukan sendiri seberapa banyak yang ingin ia ceritakan.

Menjelang pukul empat sore, Arthur bertemu Daniel di luar perpustakaan.

Mereka berjalan menuju toko bahan makanan milik Peter Lawson dengan membawa laptop dan buku catatan. Udara November mulai terasa lebih dingin, sementara langit di atas New York perlahan berubah kelabu.

Peter menyambut mereka di dekat meja kasir.

"Aku sudah menyiapkan beberapa catatan," katanya sambil mengeluarkan sebuah map. "Tapi aku tidak yakin apakah ini yang kalian butuhkan."

Arthur menerima map tersebut.

"Selama catatannya dibuat berdasarkan transaksi yang benar-benar terjadi, kita bisa mulai dari sana."

Mereka duduk di ruang kecil di belakang toko.

Catatan Peter menunjukkan jumlah transaksi pada beberapa rentang waktu, total penjualan, serta sejumlah barang yang tidak tersedia ketika pelanggan mencarinya. Namun, pencatatan itu belum dilakukan secara konsisten. Ada hari ketika jumlah transaksi tercatat lengkap, sementara pada hari lain hanya total penjualan yang diketahui.

Daniel membandingkan beberapa angka di laptopnya.

"Penjualan setelah pukul empat memang terlihat lebih rendah pada beberapa hari," katanya. "Tetapi kita belum punya cukup data untuk menyimpulkan bahwa jumlah pelanggan adalah penyebabnya."

Arthur mengangguk.

"Bagaimana dengan rata-rata nilai pembelian?"

Daniel menghitung kembali angka yang tersedia.

"Belum cukup konsisten. Ada hari dengan transaksi lebih sedikit tetapi nilai penjualan tidak turun sebanyak yang kita perkirakan."

Peter mengusap dagunya.

"Jadi, apa yang harus saya lakukan? Memberikan diskon?"

Arthur tidak langsung menjawab.

Ia tahu bahwa dalam kehidupan sebelumnya, banyak pemilik bisnis membuat keputusan berdasarkan perasaan. Ketika penjualan turun, mereka segera memotong harga. Ketika biaya meningkat, mereka mengurangi jumlah karyawan. Kadang-kadang langkah tersebut berhasil, tetapi tidak jarang justru memperburuk keadaan.

"Untuk saat ini, saya belum menyarankan diskon," jawab Arthur. "Kita belum tahu apakah pelanggan berkurang karena harga, barang yang tidak tersedia, persaingan, atau faktor lainnya."

Peter menghela napas.

"Saya berharap ada jawaban yang lebih cepat."

"Saya mengerti. Namun, kalau kita mengambil tindakan yang salah, Bapak bisa kehilangan uang tanpa menyelesaikan masalahnya."

Daniel menambahkan, "Kami bisa memperbaiki pencatatan untuk beberapa hari ke depan. Kami juga akan memisahkan data transaksi, nilai pembelian, dan barang yang tidak tersedia."

Peter memandang mereka bergantian.

"Berapa lama sampai kalian bisa memberikan rekomendasi?"

"Kami akan mengevaluasi data berikutnya setelah terkumpul," kata Arthur. "Kalau datanya masih belum cukup, kami akan mengatakan demikian. Saya tidak ingin menjanjikan kesimpulan yang belum bisa kami pertanggungjawabkan."

Peter tampak belum sepenuhnya puas, tetapi akhirnya mengangguk.

"Baiklah. Saya akan meminta pegawai mencatatnya dengan lebih teratur."

Setelah meninggalkan toko, Daniel berjalan beberapa langkah tanpa berbicara.

Kemudian, ia mengembuskan napas panjang.

"Aku mulai mengerti mengapa pekerjaan konsultasi tidak selalu menyenangkan."

Arthur menoleh.

"Kenapa?"

"Kadang-kadang pelanggan membayar kita karena menginginkan jawaban, sementara kita justru harus mengatakan bahwa kita belum tahu."

Arthur tertawa kecil.

"Itulah alasan kita harus membedakan antara memberikan jawaban dan memberikan jawaban yang benar."

Daniel menggelengkan kepala, tetapi kali ini ia tersenyum.

"Kalau suatu hari kita punya perusahaan besar, aku akan mencetak kalimat itu di dinding kantor."

"Kalau suatu hari kita punya kantor, kita harus memastikan biaya sewanya tidak menghabiskan keuntungan."

"Dan kau akan tetap menjadi orang yang merusak semua leluconku."

"Setidaknya aku melakukannya tanpa menarik biaya konsultasi."

Mereka tertawa sepanjang perjalanan menuju halte.

Bagi Arthur, percakapan itu jauh lebih berharga daripada yang bisa ia jelaskan kepada Daniel.

Ia tidak hanya sedang membangun sebuah bisnis.

Ia sedang mencoba membangun kembali persahabatan yang dahulu pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Kali ini, ia tidak ingin membiarkan kesuksesan membuatnya lupa untuk menjaga orang-orang yang berjalan bersamanya.

Malam telah tiba ketika Arthur kembali ke apartemennya.

Ia makan malam sederhana, menyelesaikan sebagian tugas kuliah, lalu membuka dokumen rencana bisnis yang disusunnya bersama Daniel.

Daftar calon pelanggan mereka masih pendek. Pendapatan usaha belum cukup untuk menopang kehidupan mereka. Proyek Peter Lawson belum menghasilkan kesimpulan yang dapat dibanggakan, sementara Thomas Miller bahkan belum menyetujui proposal yang telah mereka kirimkan.

Namun, mereka memiliki sesuatu yang tidak mereka miliki beberapa minggu lalu.

Mereka mulai memahami cara bekerja dengan pelanggan, cara mengukur hasil, dan cara mengakui batas pengetahuan mereka sendiri.

Arthur menambahkan catatan baru ke dalam rencana bisnis.

Jangan memperluas usaha hanya karena ada peluang. Perluas ketika proses yang ada sudah cukup baik untuk diulang.

Ia kemudian membuka kalender dan menandai beberapa hal yang perlu diselesaikan pada hari berikutnya: menghubungi Samuel, memeriksa proposal untuk Thomas, meninjau data Peter, serta menyiapkan tugas kuliah.

Sederhana. Tidak spektakuler.

Tetapi semuanya nyata.

Sebelum mematikan laptop, Arthur memeriksa email sekali lagi.

Tidak ada pesan baru dari Richard Coleman. Tidak ada kabar mengenai perkembangan Aurelia yang mengharuskannya mengambil keputusan segera. Tidak ada pula pesan dari Clara.

Ia meletakkan ponsel di meja.

Dalam kehidupan sebelumnya, Arthur selalu menganggap masa depan sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan. Ia menyusun rencana jangka panjang, mengendalikan perusahaan, dan mencoba mengantisipasi setiap kemungkinan yang dapat mengancam kekuasaannya.

Namun, bahkan dengan semua kekayaan dan pengaruh yang dimilikinya, ia tidak mampu kembali ke satu hari ketika ia masih memiliki kesempatan untuk mengatakan kepada Clara bahwa ia mencintainya.

Kini, ia kembali memiliki kesempatan itu.

Akan tetapi, kesempatan bukanlah jaminan.

Clara tetap memiliki pikirannya sendiri, keluarganya sendiri, dan keputusan-keputusan yang tidak bisa diambilkan oleh Arthur. Daniel tetap bisa menghadapi nasib yang tidak diketahui. Usaha kecil mereka masih mungkin gagal. Bahkan pengetahuan Arthur tentang masa depan dapat menyesatkannya jika ia menganggap ingatan sebagai pengganti bukti.

Ia harus belajar menjalani kehidupan ini, bukan sekadar memanfaatkannya.

Arthur mematikan lampu meja dan berbaring.

Di luar jendela, suara kota perlahan mereda, meskipun New York tidak pernah benar-benar tidur.

Besok, ia akan kembali bekerja. Ia akan menghadapi angka yang belum lengkap, pelanggan yang belum yakin, dan peluang yang mungkin tidak pernah berkembang.

Ia akan terus mendekati Clara tanpa memaksanya, membangun bisnis bersama Daniel tanpa mengambil semua keputusan sendirian, dan belajar dari orang-orang yang memiliki pengalaman lebih banyak darinya.

Tidak ada jaminan bahwa semua itu akan membawanya menuju masa depan yang ia inginkan.

Namun, untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, Arthur tidak merasa harus mengetahui seluruh jawaban sebelum melangkah.

Ia hanya perlu memastikan bahwa langkah berikutnya layak diambil.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

1
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
saras
keren siiib ceritanya👍👍👍
saras
👍
saras
semangaaaaaat💪💪💪💪💪👍
saras
ssemangat tor
saras
🙏🙏💪
saras
👍
saras
👍💪
saras
👍
saras
novel yang bagus. lanjutkan tor semangat bikin cerita yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!