Satu malam. Satu keputusan nekat. Dan hidup Samara berubah selamanya.
Samara Navira hanyalah resepsionis hotel biasa—yatim piatu yang bertahan hidup dengan tenang, menjauh dari masalah. Sampai suatu malam seorang pria asing berlumur darah menggedor jendela mobilnya dan memaksanya menyetir menembus gelap. Pria itu adalah Adam Darmawan: dingin, mematikan, dan ditakuti seluruh dunia hitam. Seorang bos mafia yang baru saja dikhianati kekasihnya sendiri.
Seharusnya Samara pergi begitu saja. Tapi begitu ia menyelamatkan nyawa Adam, ia ikut terseret ke dunianya—dunia penuh senjata, dendam, pengkhianatan, dan kekuasaan yang tak mengenal ampun. Dunia tempat musuh-musuh Adam kini juga memburunya.
Adam tak pernah membiarkan siapa pun mendekat. Tapi perempuan keras kepala yang menolak tunduk padanya ini membangkitkan sesuatu yang ia kira sudah mati: keinginan untuk melindungi, untuk memiliki, untuk mencintai. Dan begitu sang mafioso menjatuhkan hatinya, ia takkan pernah melepaskannya.
Di antara peluru dan gairah, antara bahaya dan hasrat—apakah cinta bisa bertahan di dunia yang dibangun di atas darah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jojo0609, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang ke Rumah
Infus yang dipasang pada Samara sudah habis. Ia menunggu seseorang masuk ke kamar untuk mencabutnya. Ia tak sabar ingin pulang, tak tahan lagi dengan gagasan berlama-lama di rumah sakit ini, terutama dengan kemungkinan Doni bisa kembali kapan saja. Ia tak ingin bicara dengan Doni saat ini, ia butuh menyendiri dengan pikirannya.
Untungnya, yang datang ke kamar untuk mencabut infus adalah Pedro, yang memberinya senyuman lebar begitu masuk. Sungguh melegakan melihat senyum itu. Kehadirannya di sana satu-satunya hal baik di tempat ini.
"Siap?" ucap Pedro bersemangat.
"Lebih dari siap, cabut saja benda itu dari lenganku, aku mau keluar dari sini secepat mungkin."
Pedro menyadari ada yang tak beres dan langsung mengorek.
"Apa yang terjadi sampai kau terburu-buru begini mau pergi? Kau mau bertemu pacarmu itu?" katanya menggoda, memanfaatkan kesempatan untuk masuk ke topik.
"Dia bukan pacarku, tapi dia bosku," kata Samara.
Pedro duduk di tepi ranjang untuk memahami topik itu lebih baik. Infus sudah dicabut, dan saat itu ia benar-benar ingin penjelasan.
"Bagaimana bisa dia bosmu? Ia tampak begitu mengkhawatirkanmu. Kukira Doni dan dia akan saling bantam di kamar ini. Aku merasa seperti ada di dalam sinetron, di mana dua tokoh utama tampan berebut cinta sang nona. Dalam kasusmu, satu tampan, satu bangsat," Pedro tersenyum setelah bicara, tak lengkap rasanya tanpa lelucon.
"Ceritanya panjang, akan kuceritakan nanti. Tapi seperti kubilang, dia bosku dan takkan terjadi apa-apa."
"Kenapa tidak? Kalau dia bosmu, itu bukan berarti kau tak boleh berkencan dengannya," Pedro mempertanyakan, tak paham.
"Aku tak ingin ada yang menyindir bahwa aku kencan dengan bosku demi keuntungan, atau menganggapku pemburu harta," kata Samara sambil ikut duduk di ranjang di sampingnya.
"Sam, kau harus berhenti terlalu mengkhawatirkan omongan orang. Ini hidupmu, jadi tak ada urusannya dengan siapa kau kencan atau tidak. Kalau dia menunjukkan minat, manfaatkan saja. Andai ada pria seperti itu memandangku dan berdebat denganku seperti dia tadi padamu, aku takkan berpikir dua kali untuk berkata ya," ucapnya sambil merapikan rambut Samara.
"Kau terlalu banyak berkhayal, tak ada apa-apa."
"Atau justru kau yang menyabotase dirimu sendiri?" Pedro mengorek.
"Ini tak ada hubungannya dengan menyabotase diri. Aku memang tak menarik baginya seperti itu. Kenapa pula pria semacam dia mau memandangku?"
"Kenapa? Karena kau cantik dan seksi. Sam, jangan merendahkan dirimu sendiri, dan jangan sekali-kali berpikir kau cuma pantas untuk sampah seperti Doni. Ke mana perginya perempuan yang terus-terusan menyuruhku menghargai diriku?"
Menyinggung topik itu, Samara teringat percakapannya dengan Doni. Setidaknya soal Doni ia bisa bercerita.
"Doni bertanya apakah kami akan balikan," kata Samara, menunggu reaksi sahabatnya.
"Apa? Kau tak bilang kau mau balikan, kan? Kau dilarang balikan dengannya, sama seperti kau melarangku balikan dengan Ivan. Kalau kau berani, kutampar kau," ucap Pedro mengancam.
Samara tak sempat menjawab bahwa ia takkan balikan. Doni masuk lagi ke kamar, tetapi kali ini sendirian. Pedro bangkit dari ranjang dan mengambil barang-barangnya, tanpa niat meninggalkan tempat itu dan membiarkan mereka berdua sendirian.
"Sudah bangun?" tanya Doni.
"Aku mau pulang, aku merasa baik-baik saja, tak perlu tinggal di sini."
"Aku mengenalmu, aku tahu kau takkan mau menunggu lebih lama lagi. Jadi akan kutandatangani surat pulangmu."
Pedro mulai keluar dan Samara mengikutinya. Ia berjalan melewati Doni dan berterima kasih; ia tak ingin tinggal di kamar yang sama dengannya. Ketika mereka sampai di koridor, Doni menahan lengannya, membuat Samara menghentikan langkah.
"Sudah ada jawaban untukku?" Doni mengorek.
Samara menarik lengannya sebelum bicara.
"Jangan mencengkeram lenganku begini di koridor. Kalau orang melihat, mereka akan berpikir yang tidak-tidak. Dan aku belum punya jawaban, sudah kubilang aku perlu berpikir," ia menjauh sedikit sambil bicara.
"Tentu, kau benar. Aku tahu kau butuh waktu untuk berpikir, tapi pikirkan baik-baik. Aku masih punya perasaan padamu," ucapnya sambil memberinya senyuman.
Samara berbalik dan menuju resepsi. Ia harus menandatangani berkas dan setelah itu akan pergi. Pedro menemaninya sampai ke luar rumah sakit. Hari sudah sore ketika ia diperbolehkan pulang, dan Pedro kembali memerankan sahabat terbaik.
"Ini, ambil kunciku, pakai mobilku, akan kuantar kau pulang. Tapi sebelum itu, pergilah ke suatu tempat untuk menghibur diri, kau perlu sedikit rileks," katanya sambil mengayun-ayunkan kunci mobil di depan Samara.
"Kau sudah membiarkanku pergi dengannya dari pestamu, aku tak mau merepotkanmu lagi."
"Sayang, aku membiarkanmu merepotkanku sepuasmu. Jadi berhentilah bersikap sungkan padaku, Samara, ambil saja kunci ini dan pergilah dari sini," ucapnya dengan senyum ramah seperti biasa.
Samara mengambil kunci itu dan memberinya kecupan, sesuatu yang selalu mereka lakukan saat berpisah, lalu berjalan menuju mobil. Dari kejauhan Marko mengamati semuanya, memasang helm tak lama kemudian, sebab ia melihat Samara menuju sebuah mobil, dan ia bersiap mengikutinya.
Samara keluar dari rumah sakit dengan niat langsung pulang. Ia tak mau pergi ke mana pun, tak mau bertemu siapa pun seperti saran Pedro. Yang benar-benar ia inginkan hanyalah berendam, ditemani segelas anggur yang enak, dan itulah yang akan ia lakukan.
Samara tak menyadari bahwa dirinya sedang diikuti Marko. Ia melanjutkan perjalanan sampai berhenti di sebuah pom bensin. Sembari mengisi tangki, ia masuk ke minimarket, membeli anggur yang ia butuhkan dan cokelat, sebab ia yakin akan membutuhkannya juga. Setelah itu Samara tak berhenti lagi di mana pun. Ia sampai di rumah saat hari mulai gelap, mengeluarkan barang-barang dari mobil, lalu masuk ke kediamannya.
Marko tiba tak lama kemudian. Ia melihat sebuah mobil terparkir di dekat rumah dan memutuskan memeriksanya. Kedua pria di dalam mobil itu sudah tewas. Ia langsung membayangkan hal terburuk, menarik pistol yang tersimpan di punggungnya, dan menekan perangkat di telinganya, menelepon langsung Adam.
"Adam, kau menaruh orang untuk mengawasi rumah Samara?" tanyanya sambil bergerak menuju rumah.
"Ya, ada apa?" tanya Adam khawatir.
"Telepon dia sekarang juga, dan kirim bala bantuan. Ada seseorang di dalam rumah saat ini, dan orang-orang kita sudah tewas."