Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Toko pertama Lastri Cecrem dibuka dua hari setelah akta ditandatangani. Elang tidak membangunnya dari nol. Ia menyewa sebuah ruko kecil di pinggir jalan ramai yang sebelumnya dipakai penjual es krim lama sebelum bangkrut, lalu membayar tukang untuk mengecat dinding menjadi putih bersih dan memasang papan nama dengan logo pita biru di tengahnya. Mesin pendingin dan etalase kaca sudah ada di sana, tinggal dibersihkan, dan stok pertama mereka datang dari pabrik kecil yang Elang pesan dengan harga lebih tinggi supaya selesai dalam dua hari.
Siang itu ia duduk di meja pojok dengan kotak hitam terbuka di depannya, memeriksa laporan penjualan yang terus berubah tiap beberapa menit. Di balik etalase, Lastri berdiri memakai celemek putih dengan pita biru di rambutnya. Ia memegang buku catatan kecil dan pena, dan matanya tidak lepas dari pintu masuk.
"Kamu tidak perlu ikut jaga toko," kata Elang tanpa mengangkat kepala. "Kasir sudah ada dua."
"Aku mau melihat," jawab Lastri sambil menulis sesuatu di bukunya. "Kemarin kamu bilang rasa-rasanya belum punya nama yang bagus. Aku mau memberinya nama sendiri."
"Nama untuk rasa?" Elang akhirnya menoleh. "Kau mau mengarang nama untuk vanila?"
"Bukan mengarang." Lastri menunjuk ke arah pintu dengan ujung pena. "Aku mau melihat orang-orang yang membelinya dulu. Nama itu harus cocok dengan yang makan."
Pintu terbuka, dan seorang anak laki-laki berseragam sekolah masuk bersama ibunya. Anak itu langsung menempelkan hidung ke kaca etalase dan menunjuk dengan jari. "Yang putih, Bu. Tapi yang banyak taburannya."
"Vanila dengan taburan warna-warni," kata Lastri kepada kasir, lalu menulis sambil tersenyum. Setelah anak itu duduk di meja dekat jendela dan mulai makan dengan mata berbinar, ia menunjukkan bukunya pada Elang. "Lihat? Namanya Pesta. Dia makan seperti sedang merayakan sesuatu."
Elang membaca tulisan itu, lalu mengangkat satu alis. "Itu es krimmu sendiri yang kau sebut pesta kemarin."
"Mungkin." Lastri tertawa kecil. "Tapi anak tadi juga setuju."
Satu jam berikutnya ia terus mengamati pelanggan satu per satu. Seorang bapak berjaket ojek daring memesan cokelat pekat tanpa tambahan apa pun dan memakannya pelan di pinggir trotoar, menatap jalan seperti baru selesai bekerja delapan jam.
Lastri menulis Pulang Kerja. Dua perempuan muda berbisik-bisik sambil memilih stroberi, dan salah satunya minta ditambah saus karamel sambil tertawa. Ia menulis Hari Baik. Seorang nenek yang datang sendirian meminta rasa kelapa dalam cone kecil, menolak sendok, dan memakannya dengan hati-hati, dan Lastri lama menatapnya sebelum menulis satu kata, Kenangan.
Elang memperhatikan semuanya dari balik layar kotak hitamnya, dan tanpa sadar berhenti mengetik. Sesekali ada pelanggan yang menatapnya agak lama, sebagian berbisik dan mengarahkan ponsel, tetapi ia hanya mengangguk singkat dan mereka kembali pada es krim masing-masing.
"Nama-nama itu akan kutaruh di kemasan," katanya setelah beberapa waktu. "Dan di menu."
Lastri menoleh dengan mata melebar. "Kamu serius?"
"Aku tidak pernah bercanda soal bisnis." Elang menutup laporan di layarnya. "Lagi pula, orang suka membeli sesuatu yang namanya punya cerita."
Lastri tidak menjawab. Ia hanya memeluk buku catatannya di dada dan tersenyum lebar sekali, lalu buru-buru berbalik pura-pura merapikan toples topping supaya Elang tidak melihat wajahnya.
...------...
Menjelang sore, tokonya mulai sepi. Lastri melepas celemek dan menggantungnya di paku dekat kasir, lalu duduk di kursi di seberang Elang dengan segelas es krim vanila yang ia ambil sendiri.
"Nanti malam," katanya sambil mengaduk es krimnya dengan sendok kecil. "Kamu tetap datang, kan?"
"Aku sudah bilang pada ayahmu aku akan datang."
"Aku tahu. Tapi Ray dan Intan juga diundang." Lastri menunduk menatap gelasnya. "Ayah tidak mau mencoret mereka dari daftar karena proyeknya masih berjalan. Aku hanya... tidak enak kalau terjadi sesuatu."
"Tidak akan terjadi apa-apa." Elang menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kalau terjadi sesuatu, aku yang selesaikan."
"Kamu tidak khawatir sama sekali?"
"Tidak." Elang menjawab dengan tenang. "Jadi pakai saja gaun yang kau suka, dan tidak perlu memikirkan orang-orang itu."
Lastri tertawa, dan ketegangan di bahunya turun. Ia menghabiskan es krimnya dengan beberapa suapan cepat, lalu berdiri dan menarik napas panjang. "Aku harus pulang dulu. Ayah mau aku dandan dari jam tiga, dan penata riasnya sudah menunggu."
"Aku akan datang pukul tujuh."
"Aku tunggu." Lastri berhenti di ambang pintu, menoleh sekali dengan tangan memegang gagang, dan tersenyum. "Jangan terlambat, ya."
Mobil Wijaya sudah menunggu di depan toko, dan sopirnya membukakan pintu. Elang memperhatikannya sampai mobil itu hilang di tikungan, kemudian menutup laptop kecilnya dan menyimpan kotak hitam ke dalam tas.
Ia berpesan pada kasir untuk menutup toko jam enam, lalu keluar dan masuk ke mobilnya sendiri. Sopir mansion sudah menunggu dengan kunci di tangan.
"Pulang dulu, Tuan?"
"Pulang." Elang memejamkan mata sebentar sambil bersandar. "Aku butuh ganti baju sebelum ke acara."
Mobil meluncur pelan, dan ponselnya bergetar di saku jas. Pesan dari sekretaris Pak Wijaya masuk dengan satu baris tambahan.
Tuan Elang, mohon maaf, ada satu tamu tambahan malam ini, Pak Hartono Subagyo dari kelompok distribusi makanan beku. Beliau meminta bertemu langsung dengan Anda.
Elang membaca pesan itu dua kali, lalu tersenyum tipis dan memasukkan ponselnya kembali ke saku.