Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Tak lama setelah pria asing itu pergi, suara deru mobil Pak Minto terdengar berhenti di depan ruko.
Pak Minto melangkah masuk membawa beberapa kantong plastik besar berisi barang-barang yang diminta Gladys.
"Bu Gladys, ini belanjaannya sudah lengkap semua," ujar Pak Minto seraya meletakkan kantong-kantong tersebut di atas meja bar.
Gladys menyambutnya dengan senyum lega, melupakan kekesalan akibat insiden kecil tadi.
"Terima kasih banyak ya, Pak Minto. Yuk, kita bereskan bersama."
Dengan telaten, Pak Minto membantu Gladys merapikan sirup-sirup flavouring, menyusun cangkir-cangkir takeaway di rak kayu, hingga mengelap meja dan kursi.
Suasana kafe yang tadinya sepi perlahan mulai terlihat hidup dan menawan.
Di tengah-tengah kesibukan mereka, Gladys mengambil sebuah papan nama kayu minimalis berukiran estetis yang baru saja selesai ia rapihkan.
Papan itu bertuliskan nama yang sudah lama ia impikan bersama almarhumah Dewi: DeGla Cafe—paduan manis dari nama Dewi dan Gladys.
"Pak Minto, tolong bantu saya memasang papan nama DeGla Cafe ini di bagian depan ya," minta Gladys lembut.
Pak Minto menerima papan nama itu dengan sigap.
"Siap, Bu Gladys. Saya akan memasangnya di atas kanopi depan supaya kelihatan jelas dari jalan."
Gladys mengangguk puas, matanya berbinar menatap sekeliling ruangan yang kini siap menyambut lembaran baru dalam hidupnya.
"Besok kita buka cafenya, Pak."
Mendengar hal itu, Pak Minto menghentikan langkahnya sejenak.
Ia menatap Gladys dengan raut ragu namun penuh harap.
"Maaf, Bu. Apakah Ibu tidak berencana mencari pegawai untuk membantu di kafe? Kalau iya, saya mempunyai seorang putri yang baru saja lulus sekolah dan sedang mencari pekerjaan," tutur Pak Minto sopan.
Gladys tersenyum hangat. Memiliki pegawai yang bisa dipercaya dari orang terdekat tentu akan sangat membantunya, terutama di hari pertama pembukaan.
Gladys menganggukkan kepalanya mantap. "Boleh banget, Pak. Besok pagi suruh datang ke kafe ya, Pak. Nanti biar langsung belajar bareng saya."
Wajah Pak Minto seketika berbinar gembira. Ia membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda rasa terima kasih yang mendalam.
"Terima kasih banyak, Bu Gladys! Nanti malam langsung saya beri tahu anak saya."
Setelah semua sudut kafe tertata rapi dan papan nama DeGla Cafe terpasang anggun di depan ruko, Gladys mematikan lampu utama dan mengunci pintu kaca rapat-rapat.
Hari sudah beranjak sore, dan tubuhnya mulai terasa lelah setelah seharian bergerak.
"Sudah selesai semua, Pak. Ayo kita pulang ke rumah," ajak Gladys lembut seraya melangkah menuju mobil.
Pak Minto membukakan pintu belakang dengan cekatan.
"Baik, Bu Gladys."
Mobil pun melaju meninggalkan Jalan Ahmad Yani, membawa Gladys kembali ke rumah keluarga Devandra—tempat di mana kenyataan dingin pernikahan transaksionalnya dengan Raka telah menanti.
Sesampainya di halaman rumah keluarga Devandra, Gladys melangkah turun dari mobil dengan perlahan.
Di teras depan, tampak Papa Devandra sedang duduk santai menikmati udara sore.
Gladys menghampiri sang mertua dengan senyum santun, lalu membungkuk dan mencium punggung tangan Papa Devandra dengan penuh hormat.
"Bagaimana urusan pekerjaanmu, Nak?" tanya Papa Devandra lembut, menatap menantu barunya dengan raut perhatian.
"Sudah selesai semua dengan lancar, Pa. Gladys juga sudah mengurus tempat untuk usaha baru Gladys di Jalan Ahmad Yani," jawab Gladys tenang dan sopan.
Papa Devandra mengangguk-angguk penuh apresiasi.
"Baguslah kalau begitu. Ingat, kalau butuh bantuan apa pun, jangan sungkan cerita sama Papa, ya."
"Baik, Pa. Terima kasih banyak," balas Gladys.
Setelah berbincang singkat, Gladys pamit dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Ia menuju ke kamarnya untuk melepas lelah sejenak, menaruh tas kerja di atas meja, lalu mengganti pakaiannya dengan busana rumah yang lebih santai.
Tanpa membuang waktu, Gladys segera turun menuju area dapur untuk menyiapkan makan malam bagi keluarga.
Bagi Gladys, kesibukan di dapur selalu menjadi caranya untuk menenangkan pikiran dari kepenatan seharian.
Melihat kehadiran Gladys di dapur, Bibi—asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di sana—dengan sigap membantu menyiapkan bahan-bahan makanan yang tersimpan di dalam kulkas.
"Bi, tolong cuci ayamnya sampai bersih, ya. Nanti mau aku bumbui untuk makan malam," ucap Gladys ramah seraya menyingsingkan lengan bajunya dan bersiap mengolah bumbu-bumbu dapur.
"Baik, Bu Gladys," sahut Bibi cekatan sambil membawa wadah berisi potongan daging ayam segar menuju wastafel.
Gladys dengan telaten mengiris bawang bombai tipis-tipis di atas talenan.
Aroma khas bawang yang segar menyeruak pelan di area dapur, siap menyempurnakan hidangan ayam kecap yang sedang ia racik.
Bibi yang sudah selesai mencuci potongan daging ayam segera menghampiri wajan di atas kompor.
Dengan cekatan, sang asisten rumah tangga membantu memenaskan sedikit minyak dan memasukkan irisan bawang bombai tersebut.
"Biar Bibi yang tumis bawang bombainya sampai harum ya, Bu Gladys," ujar Bibi ramah.
"Iya, Bi, terima kasih ya," balas Gladys hangat dengan senyuman tipis.
Sembari menunggu tumisan bawang mematang, Gladys meraih dua buah cangkir keramik elegan dari rak piring.
Ia menyeduh dua cangkir kopi hitam hangat kesukaan Papa Devandra dan Raka, memastikan takaran gula dan kopi persis seperti yang biasa disajikan di rumah itu.
Uap aroma kopi yang khas dan menenangkan menyebarkan kehangatan di sudut dapur.
Brummm...
Suara deru mesin mobil Raka terdengar memecah keheningan sore dari arah garasi.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang berwibawa namun berat melintasi ruang tengah.
Raka melangkah masuk ke dalam rumah. Saat melewati lorong yang berbatasan langsung dengan area dapur transparan, pandangannya secara tak sengaja bertaut pada sosok Gladys yang sedang sibuk menyeduh kopi dengan celemek melekat di tubuhnya.
Raka sempat terdiam sejenak. Tatapan matanya yang dingin dan sulit ditebak menyapu sosok wanita yang kini sah menjadi istrinya itu.
Namun, alih-alih menyapa atau mendekat, Raka hanya memalingkan wajahnya kembali.
Ia melanjutkan langkah kakinya secara kaku menuju lantai atas, melangkah masuk ke dalam kamar utama dan menutup pintunya rapat-rapat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Gladys yang sempat menyadari kehadiran suaminya hanya bisa menghela napas pelan.
Ia menatap cangkir kopi hangat di tangannya, berusaha menata hatinya agar tetap tenang menjelang jam makan malam.
Raka melangkah masuk ke dalam kamar mandi, membiarkan kucuran air dingin menyegarkan tubuhnya yang lelah setelah seharian bergelut dengan urusan bisnis di kantor.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu kamar terdengar lembut dari luar, disusul oleh suara Gladys.
"Mas, makan malam sudah siap," ucap Gladys pelan dari balik pintu.
"Iya, Gladys," sahut Raka singkat seraya mematikan kran shower.
Beberapa saat kemudian, Raka yang sudah mengenakan pakaian santai keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang makan.
Di sana, Papa Devandra sudah duduk menunggu di kursi utama, sementara Gladys sibuk menata hidangan ayam kecap yang harum di atas meja.
Gladys membawa dua cangkir kopi yang baru diseduhnya, lalu meletakkannya dengan sopan di dekat piring mertua dan suaminya.
"Ini Pa, Mas, kopinya."
"Terima kasih, Nak," ucap Papa Devandra tulus seraya tersenyum hangat pada menantunya.
Raka hanya menganggukkan kepalanya singkat tanpa bersuara.
Gladys kemudian mengambil piring Raka dan Papa Devandra, mengisikan nasi hangat beserta lauk-pauk hasil masakannya sendiri sebelum akhirnya duduk di kursinya.
Suasana di ruang makan terasa begitu hening. Hanya terdengar dentingan halus antara sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.
Di tengah keheningan itu, Raka yang memecah kesunyian tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.
"Apakah kamu sudah mengundurkan diri dari pekerjaanmu?" tanya Raka datar.
Gladys tersentak pelan, lalu mengangguk. "S-sudah, Mas. Dan aku tadi sudah membeli ruko untuk usaha kafe."
Mendengar hal itu, gerakan tangan Raka terhenti sejenak.
Ia mendongak, menyapu wajah Gladys dengan tatapan dinginnya yang sulit ditebak. Sementara itu, Papa Devandra menghentikan suapannya, memandang Gladys dengan binar penuh rasa bangga dan dukungan atas kemandirian menantunya.
"Jangan lupa dengan pekerjaan rumah tangga. Aku tidak mau kamu melupakannya," celetuk Raka dingin, menegaskan batasan yang ia inginkan tanpa ada nada kehangatan sedikit pun.
Papa Devandra yang mendengar ucapan putranya seketika mengkerutkan kening.
Raut wajah beliau berubah menjadi tegas, menatap tajam ke arah Raka dengan rasa tidak puas atas sikap kaku putranya.
"Raka! Gladys ini istrimu, bukan pembantumu," tegur Papa Devandra dengan nada berat dan penuh penekanan.
"Jangan bersikap dingin dan tidak sopan seperti itu pada istrimu sendiri."
Mendengar teguran keras dari sang ayah, Raka mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Atmosfer meja makan mendadak semakin tegang. Tanpa menghabiskan sisa makanannya, Raka meletakkan sendoknya, bangkit dari duduknya, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang makan tanpa mengucap sepatah kata pun.
Gladys menunduk pelan, meremas jemarinya di bawah meja.
Papa Devandra menghela napas panjang, menatap menantunya dengan raut penuh rasa penyesalan.
"Maafkan Raka ya, Gladys. Papa yakin suatu saat hati anak itu akan melunak," bisik Papa Devandra lembut mencoba menenangkan suasana.
"Iya, Pa, tidak apa-apa," ucap Gladys pelan sambil memaksakan sebuah senyuman tipis untuk menenangkan mertuanya.
Setelah selesai makan malam, Gladys merapikan beberapa piring kotor lalu meminta tolong kepada Bibi untuk melanjutkan membersihkan sisanya.
Dengan langkah perlahan, ia melangkah masuk ke dalam kamar.
Gladys mendudukkan diri di tepi tempat tidur. Jemari lentiknya menyentuh lembut bagian belakang kepalanya yang masih terasa sedikit benjol akibat terbentur meja tadi siang.
Kenangan akan insiden kocak bersama pria asing yang percaya diri dan gombal di kafenya mendadak berputar kembali di benaknya.
Tanpa sadar, Gladys tersenyum sendiri mengingat betapa konyolnya kejadian itu di tengah hari-harinya yang penuh tekanan.
Sementara itu, di sudut jalanan malam Jalan Ahmad Yani yang mulai lengang, sebuah mobil sport mewah terparkir mulus di pinggir jalan.
Praduta berdiri menyandar di kap mobilnya. Pandangan matanya yang tajam menatap lekat ke arah papan nama DeGla Cafe yang terpasang anggun di atas ruko yang kini sudah terkunci rapat dan gelap.
Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang dingin nan sarat makna.
Tatapan matanya membayangkan kembali raut wajah polos dan binar mata teduh milik wanita yang tadi siang mencubit lengannya.
"Gladys, ternyata kamu cantik sekali," bisik Praduta serak pada angin malam.
Plak!
Sebuah pukulan mendarat cukup keras di pundaknya, memecahkan lamunan pria itu.
Nayla berdiri di sampingnya dengan kedua tangan bersedekap dan alis terangkat.
"Hei! Melamun apa sih?" tegur Nayla curiga seraya memperhatikan arah pandang Praduta yang tertuju pada kafe baru tersebut.
Praduta segera menguasai ekspresi wajahnya. Senyum dingin di bibirnya seketika berganti menjadi kekehan santai khas dirinya.
Ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak ada apa-apa, Nay. Cuma lagi lihat ruko baru," sahut Praduta santai seraya merangkul bahu Nayla dan mengajaknya kembali masuk ke dalam mobil.