NovelToon NovelToon
Alencio

Alencio

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.

Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.

Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.

Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 20

Part 20

Cio dan Amanda masih bercanda seperti biasa, tanpa tahu bagaimana Farel menatap keduanya penuh bersalah. Sampai saat Cio terdiam, menahan rasa sakit di kepalanya yang terasa berdenyut secara tiba-tiba. Matanya yang sayu itu memejam dengan sesekali meringis kesakitan. Amanda yang menyadari hal itu seketika berhenti, menatap khawatir ke arah Cio yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.

"Kamu kenapa?" tanyanya khawatir.

"Tidak apa-apa, kepalaku hanya sedikit pusing." Cio menjawab lirih, terlihat sangat tidak nyaman kali ini.

"Apa kamu sakit? Kalau sakit, kenapa harus ke kampus? Lebih baik kamu istirahat saja di rumah." Amanda berujar khawatir, namun di detik berikutnya, Cio justru menyengir seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ciye, khawatir ya?" godanya dengan bersikap seperti biasa, seolah apa yang baru terjadi padanya adalah lelucon untuk bahan menggoda Amanda. Dan itu cukup berhasil, karena Amanda terlihat kesal kali ini.

"Kamu bohongi aku ya?" keluh Amanda kesal dengan mencubit perut Cio hingga empunya meringis kesakitan.

"Sakit. Iya-iya, aku minta maaf. Tolong hentikan!" keluh Cio memohon yang langsung dihentikan oleh Amanda meski tatapan kesalnya masih terlihat di wajahnya.

"Dasar, Babi. Kalau begitu, aku ke kelas dulu." Amanda berujar sebal lalu berjalan ke arah kelasnya, meninggalkan Cio yang terdiam dengan berusaha menahan kepalanya yang terasa berat untuk tetap dia sanggah.

"Aduh, ini kepala kenapa sih?" Cio bergumam lirih sembari memijat pelipisnya sesekali. Sampai saat Alex datang tergesa-gesa ke arahnya, setelah menyadari gerak-geriknya yang aneh.

"Cio, kamu kenapa?" tanyanya khawatir sembari berusaha menahan pundak temannya itu untuk tetap terjaga.

"Kepalaku pusing, Lex."

"Kamu sakit? Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang." Alex meletakkan tangan Cio pada pundaknya, membopong temannya itu sekuat tenaganya, sangking lemahnya tubuh Cio saat ini.

"Terserahlah, aku benar-benar merasa tidak enak badan sekarang."

"Kalau kamu merasa tidak enak badan, kenapa harus kuliah sih? Kamu malah menyusahkan diri kamu sendiri." Alex menjawab sebal sembari terus melangkah dengan membopong tubuh Cio yang kian melemah.

"Aku minta maaf," jawabnya lirih, yang hanya ditanggapi embusan nafas oleh Alex. Merasa tidak bisa terus memarahi Cio, karena kondisinya yang terus melemah.

Sesampainya di mobilnya, Alex langsung memasukkan Cio ke dalamnya, tepatnya di samping tempatnya menyetir. Lelaki itu sudah terlihat tidak baik sekarang, terlihat dari bibirnya yang kian memucat dengan sesekali memijat kepalanya yang terasa kian berdenyut sakit.

"Aku akan mengantarkan kamu ke rumah sakit," ujar Alex setelah masuk ke dalam mobil.

"Tidak perlu. Kamu antarkan saja aku ke rumah lama Mamaku, aku kan tinggal di sana sekarang." Cio menjawab lirih, namun ucapannya itu justru mendapat pertentangan dari Alex yang begitu mengkhawatirkan kondisinya.

"Tapi kamu harus berobat dulu," tentang Alex yang lagi-lagi tak membuat Cio ingin menurutinya.

"Tidak usah. Aku cuma mau istirahat saja di rumah, aku sangat lelah. Mungkin karena itu, aku sekarang sakit."

"Apa kamu lelah karena bekerja? Padahal aku sudah bilang ke pamanku untuk memberimu pekerjaan yang ringan saja seperti kasir. Tapi kenapa kamu sampai sakit seperti ini?"

"Aku ikut lembur di bagian penataan barang sampai pagi, lalu aku pulang dan membersihkan diri." Cio menjawab tanpa semangat, terlihat sangat lemah sekarang.

"Astaga, kenapa kamu bisa ikut lembur sih? Dari dulu kamu kan paling tidak bisa bekerja kasar, tubuhmu lemah dengan hal-hal seperti itu. Kamu kan pintar, makanya aku merekomendasikan kamu ke bagian kasir saja." Alex benar-benar merasa tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Temannya itu ikut lembur semalaman, selain tubuhnya tidak kuat, tentu saja Cio pasti harus begadang semalaman, dan itu pasti sangat melelahkan untuk tubuh Cio yang paling tidak bisa bekerja seperti itu.

"Aku butuh uang lebih." Cio menjawab alasannya, namun tentu saja hal itu tidak bisa Alex terima.

"Untuk apa?"

"Aku juga ingin membelikan sesuatu untuk Amanda, selama ini dia sudah cukup baik padaku, apalagi orang tuanya begitu ramah menerimaku. Setidaknya aku harus membalasnya," jawab Cio lesuh.

"Kamu bisa memintanya padaku kan? Kenapa harus menyiksa diri hanya karena hal itu." Alex berdecap tak percaya sembari terus menyetir, merasa tidak mengerti dengan apa yang temannya pikirkan itu.

"Kamu temanku, seharusnya kamu tahu bagaimana aku kan?" Cio menjawab penuh arti tanpa mau menatap ke arah Alex yang terlihat frustrasi dengan pendiriannya.

"Maaf. Tapi, Papamu tidak akan membiarkan kamu terus-terusan hidup seperti ini, apalagi kalau sampai Papamu tahu kamu sakit seperti ini. Kamu ini ahli waris keluarga Alexandra, Cio. Seharusnya kamu tidak perlu sampai seperti ini," keluh Alex terdengar frustrasi, merasa bingung harus berbuat apalagi sekarang, karena Papa dari temannya itu sempat memberinya pilihan yang tidak mungkin bisa Alex tolak semuanya.

"Kenapa kamu selalu yakin sih kalau Papaku akan memperdulikan aku? Toh, setelah kepulanganku dari London saja, Papaku tidak pernah berniat menemuiku kan. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku begitu berlebihan, aku sakit pun semua karena pilihanku." Cio menjawab keras kepala sembari menahan rasa sakit di tubuh sekaligus kepalanya yang kian tak nyaman untuknya, terlihat dari caranya meringis kesakitan beberapa kali.

"Aku mengerti. Tapi tidak bisa kah kamu tinggal di rumahku saja?" Alex bertanya dengan kegelisahannya dan itu cukup memuakkan untuk Cio yang sudah cukup sering mendengar Alex menawarkannya untuk tinggal di rumahnya.

"Lex, aku sudah pernah bilang kan? Aku tidak mau tinggal di rumahmu dan merepotkanmu." Cio menjawab tanpa minat, merasa sudah cukup lelah menjelaskan semuanya.

"Aku tahu, tapi ... ini ...." Alex menghentikan ucapannya, merasa ragu memberitahukan ke Cio bila papanya itu sudah menemuinya.

"Sudahlah." Alex melanjutkan ucapannya, merasa tidak bisa mengatakan semuanya terlebih lagi di saat kondisi Cio yang sedang tidak baik.

"Memang akan lebih baik bila kamu tidak mengkhawatirkan aku, tapi terima kasih untuk tawaranmu, dan maaf aku tidak bisa menurutinya." Cio menjawab menyesal yang hanya ditanggapi anggukan oleh Alex yang terdiam, dengan terus melajukan mobilnya. Di dalam hati, Alex merasa bingung harus bagaimana lagi membujuk Cio untuk pulang atau setidaknya terus memastikan keadaannya baik-baik saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!