Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Kenapa sih?" tanya Jesica pada Arnold yang baru saja datang ke rumahnya.
"Kangen sama kamu, seharian kamu nggak ada nongol ke kantor Jay," rengek Arnold memelubadan Jesica.
"Ya kan aku sibuk di kantor aku sendiri sayang, kenapa? ada masalah lagi?"
Arnold mengangguk pelan dan mempererat pelukanya. "Mantan Nadia itu yang mencoba melakukan penculikan sama temen Nadia itu, sekarang udah bebas, dan yang ngebebasin adalah Jams, sinting nggak tuh orang yank? Bisa bisanya dia ngebebasin orang yang mau nyelakain adik iparnya sendiri." oceh Arnold panjag lebar
"Terus gimana? Jay udah tahu?"
Arnold mengangguk lagi, "Udah yank, makanya sekarang kita lagi sibuk banget, sibuk di kantor, sibuk nyari informasi kenapa Jams milih bebasin itu orang, motif mereka apa coba? Mau jatuhin Jay? ya kali pake si curut Kevin, agak lain emang si Jams mah."
"Mungkin Jams tahu kalau kelemahan Jay adalah Nadia, makanya dia sengaja bebasin Kevin. Jams mau jadiin Kevin kambing hitam untuk semua kejahatan yang akan dia lakuin, jadi dia nggak perlu repot lagi kan buat ngotorin tangan dia ngancurin Jay?"
Arnold tampak sebentar berpikir, " Kamu pinter banget sih sayang, jadi makin sayang deh aku sama kamu."
"Cih, ngegombal lagi, aku tuh lebih butuhnya jari kamu sama tongkat sakti kamu, dari pada gombalan kamu, bikin aku terbang meleyang malam ini please, aku juga kangen, kangen pengen teriak sambil jambakin rambut kamu," satu jari Jesica menggeliar di da da Arnold dari balik kemeja yang cowok itu kenakan.
Arnold menyeringai, dia suka jika Jesica dalam modeArnold menyeringai, dia suka jika Jesica dalam mode agresif seperti sekarang ini.
"Aku juga kangen denger kamu manggil nama aku sambil busungin da da, beraksi li ar di atas badan aku, sambil nen dan itu buat kamu makin cantik."
Jesica tak mau membuat waktu lagi dengan langsung naik di atas pangkuan Arnold, sedikit menggerakan pinggulnya untuk mengg ges ek tongkat sakti milik Arnold.
"Yakin mau di sini?" tanya Arnold karena kini mereka berada di ruang tamu.
"Kenapa nggak yakin? di rumah ini kan cuma ada aku dan kamu aja," Jesica semakin menggerakan pinggulnya, dan itu membuat Arnold memejamkan matanya, merasakan sensai yang langsung membuat tongkat sakti miliknya On seketika.
"I really like it baby, esshhh...." tongkat sakti yang sudah sangat keras dan sempit itu serasa ingin sekali masuk ke dalam gawangnya.
"Jadi kita berangkat kapan?" tanya Nadia yang saat ini mereka baru saja selesai mandi.
"Kemana?" sahut Jay pura - pra bingung.
Bugh.
"Ngeselin tahu nggak, malah lupa!" Nadia cemberut dan memunggungi Jay.
"Bercanda dong sayang, masa aku lupa sih?gimana kalau lusa? biar besok aku beresin kerjaan aku dulu, jadi pas kita pergi honeymoon, nggak akan ada kerjaan yang ganggu kita."
"Kirain beneran lupa, kalau lupa aku tabok sepuluh kali!"
"Taboknya pake bi bir ya?" goda Jay.
"Dasar tukang mesum!"
"Mesumnya kan sama istri sendiri, jadi nggak apa-apa kan? masa aku malah mesum sama cewek lain sih?"
Seketika tatapan Nadia menajam. "Coba aja kalau berani, paling aku potong tongkat sakti milik kamu, biar tahu rasa!"
Jay terkekeh mendengar Nadia mengomel karena cemburu, "ciee yang cemburu, ngaku juga kan kalau kamu itu sebenernya sayang sama aku."
"Uweeeekkk.... jangan kepedean!"
"Jadi nggak sayang?" Jay melonggarkan pelukanya dan mentaap Nadia dengan sendu, bahkan Jay memberikan ekspresi dengan bi bir yang ia buat - buat agar terlihat sedih.
"Ohh... astaga!!! aku baru tahu kalau kamu jadi semanja ini," deh Nadia. "Eh.. tapi tadi aku liat ada satu karyawan kamu yang ngeliat aku sinis gitu," imbuh Nadia mencoba mengingat wajah wanita tadi.
"Di kantor?"
"Ya iyalah di kantor, kan aku bilang karyawan kamu!!!" Tegas Nadia geram.
Jay terkekeh," Kamu lucu kalau lagi marah-marah begini," Jay mencubit hidung Nadia.
"Serius Jayde!! Tadi ada cewek yang ngeliatin aku kaya nggak suka gitu," adunya lagi.
"Biarin aja sayang, mungkin dia iri karena kamu punya suami yang ganteng, dan gagah, CEO lagi."
Nadia memutar bola matanya malas ketika dia harus mendengar Jayden narsis.
"Terserah aja deh, tapi awas aja kalau aku sampe liat kamu deket sama cewek itu!" Nadia menggerakan jari jempolnya di lehernya seolah akan memo tong leher Jayden.
Cup. "Gemes kalau kamu marah-marah begini, On kan jadinya si dede," Jay kembeli merayu.
Nadia terhenyak dan terbelalak, "aduhhh laper banget deh," Nadia pura-pura tam mendengar dan berjalan keluar kamar menuju meja makan.
"Awas kamu ya habis makan," monolog Jay kemudian mengikuti Nadia menuruni anak tangga dan yang juga menuju meja makan untuk makan malam.
Di ruang tamu, Jesica terus bergerak li ar di atas badan Arnold, meliuk indah dengan mata terpejam, teriakan dan bahkan le ngu han seolah memenuhi ruangan itu sebagai saksi bahwa mereka tengah tenggelam dalam balutan gai rah yang membara.
"You are so sexy baby, ouughhh..." Desis Arnold sesekali menj ilat buliran berwarna pink yang ada di depanya.
Dua bukit kembar yang terombang-ambing indah di depan mata Arnold, membuat cowok itu semakin bergai rah.
"Mau pipis sayang...!!" Erang Jesica dengan ekspresi yang sudah parau.
Dan sata itu Arnold menggerakan jarinya pada sebuah benjolan kecil di area itu yang akan membuat Jesica semakin merasakan terbang tinggi.
Badan Jesica bergetar dengan hebat saat ia mencapai puncaknya. Wanita itu ambruk dan memeluk Arnold.
Nafas keduanya sama-sama terengah, tapi sesekali Arnold masih saja mengecup pipi Jesica.
"Kamu belum keluar?" Tanya jesica dan Arnold menggeleng.
"Mau makan sosis?" Tanya Arnold dan Jesica mengangguk dengan cepat.
Keduanya berlanjut makan sosis dan memasukan sosis hingga keduanya kembali ambruk karena getaran yang hebat.
"I love you baby," bisik Arnold mengecup kening Jesica dengan dalam.
.
.
.
.
Pagi ini begitu cerah, itu terlihat dari ekspresi wajah Jay dengan sedikit menarik sudut bibirnya. Dan seperti biasa, para karyawan perusahaan mulai berbisik untuk bergosip.
ya?" "Kayaknya akhir-akhir ini pak Jay sering keliatan senyum
"Iya bener, mungkin karena sekarang udah beristri juga, istrinya juga cantik anjir."
"Iya cantik banget, mana keliatan masih muda banget istrinya juga cantik anjir."
"Iya cantik banget, mana keliatan masih muda banget kan ya."
Semuanya berbisik membicarakan Nadia yang akhir-akhir ini terlihat di perusahaan.
Tapi ada satu wanita yang tak suka mendengar semua cerita temanya itu yang sedang memuji kecantikan Nadia.
"Apanya yan cantik? cantikan juga gue kemana-mana," gumam seorang wanita dengan paras yang tak kalah cantik dengan Nadia
Namanya Wilona. Wanita cantik yang telah lama menyukai Jayden, wanita itu mencoba terus mendekati Jayden sejak dulu tapi tak pernah Jay tanggapi.
Maka saat Wilona mendengar bahwa Jayden sudah menikah, wanita itu masih saja tak terima, apa lagi saat melihat Nadia datang berkunjung ke perusahaan, raanya Wilona ingin sekali mencakar wajah Nadia sampai terlihat jelek, agar Jayden tak lagi menyukainya.
Hari ini Wilona sengaja memakai pakaian yang minimdengan dua kancing kemejanya ia buka, masuk ke ruangan Jay dengan alasan untuk meminta tanda tangan.
Tok tok tok.
"Masuk," tegas Jay yang tengah fokus dengan beberapa berkas yang hari ini harus ia selesaikan.
"Maaf pak, ada beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani," ucap Wilona dengan menggeser sedikit kemejanya agar Jay melihatnya.
Jay mengambil berkas tersebut dan langsung menandatangani, kemudian mneyerahkan begitu saja tanpa melihat ke arah Wilona.
"Rapikan pakaian mu atau kamu ingin keluar dari perusahaan saya!" tegas Jay yang tahu niat buruk Wilona.
"Ba- baik pak, saya minta maaf atas sikap saya ini," sahut Wilona sedkit takut karena aura Jay langsung berubah menyeramkan.
"Keluar!" atu kata da itu memebuat Wilona bergidik ngeri.
Saat Wilona keluar, ia berpapasan dengan Arnold dan Jesica yang masuk ke dalam ruangan Jayden.
Dasarnya Arnold yang memang terkenal mata keranjang melihat hal itu langsung menoleh secara spontan.
Plak!
Jesica memukul lengan Arnold dengan kencang. "Mata lo mau gue colok? hah!?" ketus Jesica.
"Maaf sayang, nggak sengaja liat," Arnold pun panik.
"Colok aja colok!" seru Jayden mengomporo sepasang kekasih itu agar ribut.
"Sia lanlo Jay, gue lembur ini buat lo anjir, harusnya lo bantuin gue" protes Arnold.
"Temenya Jayden ukan cuma lo!" Jesica menimpali.
Jay terbahak mendengar keduanya terlibat ribut.
"DIAM!!!' tegas Arnold dan Jesica secara bersamaan "Gue lembur gara-gara lo nih!" imbuhnya yang juga secara bersamaan.
"cih. sok kompak lagi, gue buat kalian lembur juga karena Nadia minta lo kalian ikut buat liburan ke bali ya! makasih lo sama Nadia, karena kalau bukan dia yang minta! gue ogah ngajak lo semua! nggak tahu apa kalau gue pengen
Perkataan Jay ymembuat Arnold juga Jesica sumringah seketika. "Serius nih? liburan kita?" tanya mereka berdua bareng lagi.
"Iya! puas kan lo berdua!?"
"Wahhh... kita harus makasih ni sama Nadia," kata Jesica. "Arga ikut kan?" imbuh Jesica bertanya.
Mereka sampai lupa sudah beberapa hari ini Arga tak ada kabar dengan mereka.
"Nadia sih maunya Arga juga ikut buat nemenin sahabatnya itu."
"Oh... kiya iya gue inget, yang waktu itu jadi korban pencuikan kan?" Jay mengangguk membenarkan.
"Arga belum keliatan deket sama cewek lagi kan?
kayaknya dia lagi deketin sahabatnya Nadia itu deh, Nadia takut kalau Mela akan kecewa nantinya kalau tahu Arga masih punya cewek, tapi Mela tahu nggak ya kalau Arga itu duda?"
kata Jay mengingat status Arga bukan perjaka lagi.
"Nggak tahu juga kalau yang itu, tapi kalau cinta mah trabas aja sih, mau dia duda atau janda juga gasss aja terobos boss," ujar Arnold dan mereka tertawa bersama.
"Makanya buruan beresin semua pekerjaan hari ini, jangan sampai ada yang terlewat karena gue nggak mau pusing sama kerjaan untuk beberapa hari ke depan."
Jay. "Siapp boskuh!!" Tegas Arnold melakukan hormat pada
"Gue kasih tahu Arga ya, biar dia juga bisa siap-siap," Jesica mulai membuka layar ponselnya dan mengirim pesan pada Arga.
***