Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Semburat emas matahari pagi perlahan menyusup dari celah tirai sutra Presidential Suite, jatuh tepat di atas ranjang raksasa yang tampak sedikit berantakan.
Di tepi ranjang itu, Jiang Muchen sudah terduduk sejak fajar menyingsing. Tangannya yang besar bergerak sangat pelan, menyeka poni Ziyue yang menutupi mata, lalu membetulkan selimut tebal yang menutupi punggung Zihan. Senyum hangat tak henti-hentinya terukir di bibir pria itu.
Semua yang terjadi semalam memang terasa gila, seperti ilusi indah yang bisa hancur kapan saja. Namun, kelembutan selimut angsa di bawah telapak tangannya ini sangat nyata, dan deretan angka sepuluh juta Yuan di layar ponselnya adalah kenyataan absolut yang tak terbantahkan.
'Mulai pagi ini... dan setiap pagi setelahnya, Ayah pastikan kalian akan selalu sehangat ini,' batin Muchen. Matanya memancarkan tekad baja.
Pria itu perlahan beranjak dari kasur agar tidak membangunkan si kembar. Ia berjalan tanpa suara menuju nakas kayu mahoni di samping ranjang. Sesuai notifikasi sistem yang ia terima semalam, tangannya menarik laci pertama.
Sreek...
Klotak.
Sebuah kunci fisik berukuran cukup tebal tergeletak di atas lapisan beludru laci. Lambang huruf 'Z' yang agresif dari Dartz Motorz terpampang jelas di permukaannya, bersisian dengan tumpukan dokumen legalitas kendaraan berstempel resmi. Muchen meraup kunci itu. Sensasi dingin logam dan bobotnya yang mantap di telapak tangan seakan menjadi penjangkar kewarasannyahadiah dari sistem ini sungguh nyata.
Ting-tong...
Alunan melodi bel pintu terdengar elegan memecah keheningan. Muchen segera meletakkan kembali dokumen-dokumen itu, lalu melangkah lebar melintasi ruang tengah yang luas. Ia memutar gagang pintu ganda yang berat tersebut.
Di ambang pintu, berdirilah Su Qingxue.
Wanita itu tampak jauh lebih memukau dibandingkan semalam. Ia mengenakan setelan bisnis abu-abu muda berpotongan pas badan yang membingkai lekuk tubuh sempurnanya. Penampilannya memancarkan kombinasi mematikan antara aura CEO yang mengintimidasi sekaligus pesona feminin yang anggun. Di belakangnya, dua asisten wanita mengekor sambil mendorong rak pakaian beroda yang sarat dengan setelan jas pria bespoke dan gaun anak-anak dari desainer ternama.
"Selamat pagi, Tuan Jiang." Qingxue menyapa lembut. Senyum manis terbit di bibirnya, membuat dua asisten di belakangnya nyaris jantungan karena saling bertukar pandang tak percaya. Manajer Umum mereka yang terkenal sedingin gunung es, kini tersenyum ramah bagaikan seorang istri yang menyambut suaminya. "Saya harap Anda dan putra-putri Anda bisa beristirahat nyenyak semalam. Sesuai instruksi Anda, saya telah menyortir pakaian ganti dengan material terbaik yang ada di butik hotel kami."
"Masuklah, Manajer Su. Terima kasih sudah repot-repot mengurus ini sepagi ini," sahut Muchen santai, membukakan pintu lebih lebar.
Qingxue melangkah masuk dengan anggun. Ia memberi isyarat singkat pada asistennya untuk memindahkan pakaian-pakaian itu ke ruang ganti, lalu segera menyuruh mereka keluar. Untuk tamu level setinggi ini, ia harus turun tangan secara pribadi.
"Tuan Jiang," Qingxue kembali membuka suara, nadanya sedikit lebih hati-hati. "Maaf jika saya lancang, namun saya perhatikan Anda mungkin membutuhkan tempat tinggal yang lebih permanen jika berniat menetap di Jiangcheng. Kebetulan, Keluarga Su memiliki andil di proyek kawasan Dragon Bay. Itu adalah kompleks perumahan paling elit dengan sistem keamanan militer di kota ini. Sangat ideal untuk menjaga privasi dan kenyamanan tumbuh kembang anak-anak. Jika Anda berkenan, saya bisa menemani Anda melihat-lihat beberapa unit terbaik hari ini."
Muchen diam sejenak. Sepasang mata tajamnya menatap lurus ke dalam manik mata Qingxue, seolah menelanjangi isi pikiran wanita itu.
Muchen tahu persis, Su Qingxue sedang melempar kail. Wanita cerdas ini sedang berusaha membangun jembatan koneksi, penasaran dengan latar belakang pria misterius pemegang kartu hitam di hadapannya. Namun, Muchen sama sekali tidak keberatan. Kawasan elit Dragon Bay memang sudah masuk dalam daftar incaran utamanya hari ini.
"Tawaran yang menarik," jawab Muchen tenang. "Aku memang berencana mencari rumah hari ini. Atur saja jadwalnya. Kita akan berangkat setelah anak-anak selesai sarapan."
"Baik, Tuan Jiang. Ini akan menjadi kehormatan bagi saya," balas Qingxue cepat. Ia sedikit menundukkan wajahnya, menyembunyikan semburat rona merah tipis yang tiba-tiba menjalar di pipinya akibat ditatap begitu intens oleh Muchen.
Tak lama berselang, suara lenguhan kecil terdengar dari arah ranjang. Zihan dan Ziyue akhirnya terbangun.
Mata si kembar langsung berbinar-binar kegirangan menyadari mereka benar-benar tidur di kamar sebesar lapangan. Kebahagiaan mereka semakin meluap saat melihat jejeran baju baru yang sudah berjejal di ruang ganti.
Setelah memilih dengan antusias, Ziyue menjatuhkan pilihan pada gaun putih bersih dengan detail renda bermotif stroberi kecil yang membuatnya terlihat seperti boneka porselen hidup. Sementara itu, Zihan memilih kemeja kasual yang rapi, seketika menyulapnya menjadi pangeran cilik yang tampan dan cool.
Di sisi lain, Muchen keluar dari kamar mandi mengenakan kemeja hitam yang dijahit khusus (custom-tailored). Kain mahal itu mencetak jelas bahunya yang lebar dan otot-otot tubuhnya yang proporsional. Penampilan gembel basah kuyup semalam telah musnah tak bersisa. Dengan pakaian yang pantas dan aura dominasi bawaannya, pesona pria itu melonjak gila-gilaan, membuat Qingxue tanpa sadar menahan napas selama beberapa detik.
Setelah menikmati sarapan kelas atas yang diantar langsung oleh Executive Chef ke kamar mereka, ketiganya turun ke lantai dasar.
Qingxue berjalan di depan, memandu Muchen dan si kembar menyusuri lorong menuju garasi VIP bawah tanah area sakral yang hanya bisa diakses oleh segelintir tamu dengan kualifikasi tertinggi di Grand Jiangcheng.
"Tuan Jiang," tawar Qingxue seraya memencet tombol lift garasi. "Apakah Anda ingin saya menyiagakan sopir pribadi hotel untuk mengantar kita ke Dragon Bay?"
"Tidak perlu," tolak Muchen santai. "Aku akan menyetir mobilku sendiri."
Pintu lift garasi berdenting terbuka, menampilkan area parkir khusus yang sangat luas dan steril.
Di sana, deretan supercar terparkir rapi. Mulai dari Ferrari merah menyala, Lamborghini pipih, hingga Rolls-Royce Phantom milik para taipan Jiangcheng. Namun, di antara lautan mobil miliaran Yuan yang mengkilap elegan itu... ada satu kendaraan yang langsung menyedot paksa seluruh atensi.
Sebuah Dartz Motorz Prombron berwarna hitam matte.
Mobil SUV raksasa itu benar-benar terlihat seperti tank tempur yang disulap menjadi istana berjalan. Ukuran ban kasarnya nyaris mencapai dada orang dewasa. Bodinya berlapis baja tebal anti-peluru, dengan kaca pelindung setebal beberapa inci yang konon sanggup menahan hantaman proyektil kaliber besar. Terparkir di tengah deretan sportcar ceper yang cantik, tunggangan baru Muchen ini memancarkan aura monster predator purba yang siap melindas dan meremukkan apa saja yang berani menghalangi jalannya.
Langkah Qingxue terhenti. Napasnya langsung tercekat di tenggorokan.
Sebagai putri konglomerat top, ia tahu persis benda gila apa yang ada di depannya ini. Ini bukan lagi sekadar soal mampu membuang uang puluhan juta Yuan! Untuk bisa menyelundupkan dan memarkir kendaraan taktis militer berlapis baja seperti ini secara legal di pusat kota, dibutuhkan koneksi tingkat dewa. Pikiran Qingxue berkecamuk liar.
'Siapa sebenarnya Jiang Muchen ini? Apakah latar belakangnya menyentuh pusaran petinggi militer pusat? Atau... dia penguasa dunia bawah tanah?'
Beep! Beep!
Muchen menekan remote di tangannya tanpa beban.
Lampu depan LED SUV raksasa itu menyala terang, mengaum pelan layaknya monster mekanik yang baru saja dihidupkan.
"Ayah! Mobilnya besar sekali!" Ziyue bersorak kegirangan, melompat-lompat menunjuk ban raksasa di depannya. "Persis seperti robot di TV!"
Bahkan Zihan yang biasanya selalu berusaha menjaga imej ketenangannya pun tak kuasa menutupi rasa takjubnya. Mata bulat bocah laki-laki itu berbinar terang mengagumi lekuk agresif sang monster baja. "Ini... keren banget, Ayah."
Muchen terkekeh pelan. Ia menarik tuas pintu belakang yang tebal dan beratnya sama sekali tidak normal itu.
Berbanding terbalik dengan eksteriornya yang brutal, interior di dalamnya adalah definisi kemewahan mutlak yang sesungguhnya. Joknya berlapis kulit buaya asli yang sangat empuk, dilengkapi minibar, dan sistem hiburan layar sentuh canggih di setiap kursi. Dengan kelembutan penuh, Muchen mengangkat Ziyue dan Zihan masuk, lalu memasangkan sabuk pengaman mereka satu per satu.
Setelah memastikan si kembar duduk nyaman bak raja dan ratu kecil, Muchen memutar tubuhnya. Ia menoleh menatap Qingxue yang masih berdiri mematung layaknya patung es di tengah garasi.
Sebuah senyum miring yang tipis namun penuh percaya diri terbit di bibir Muchen.
"Manajer Su," tegur Muchen dengan nada sedikit menggoda. "Apa kau berencana berdiri melamun di situ sampai siang, atau kau mau ikut naik?"