Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Di ruang makan yang luas itu, lampu kristal menyala temaram. Hidangan makan malam sudah tersaji lengkap di atas meja, tapi tak ada satu pun yang tersentuh.
Revan duduk sendirian di kursi meja makan, kemeja putihnya digulung sampai siku. Di depannya, piring‑piring itu mulai dingin.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 19.47. Lalu ia menoleh ke arah tangga marmer yang sepi.
Sejak mobilnya berhenti di halaman siang tadi, Alina belum turun sama sekali. Pintu kamar utama di lantai dua itu tertutup rapat. Bahkan suara langkah kaki pun tidak terdengar.
Revan menghela napas panjang. Alina bahkan belum makan siang. Setelah kejadian di restoran, wanita itu langsung mengurung diri di dalam kamar.
Tangannya mengepal pelan di atas meja. Jika Rafael di sini, pria itu pasti akan membiarkannya. Seperti biasa. Menganggap tangisan Alina hanya sikap kekanak‑kanakan yang akan reda sendiri besok pagi.
Akhirnya ia berdiri. Langkah kakinya pelan saat naik ke lantai dua. Lorong itu gelap, hanya diterangi lampu temaram dari ujung koridor.
Ia berhenti di depan pintu kamar Alina. Tangannya terangkat, ragu sejenak, sebelum akhirnya mengetuk pelan.
Tok. Tok.
Tidak ada jawaban.
"Nyonya," panggilnya rendah, suaranya sengaja dibuat formal, menjaga jarak. "Makan malam sudah siap."
Hening.
Revan menempelkan dahinya sedikit lebih dekat ke pintu, suaranya melembut tanpa sadar.
"Nyonya Alina… saya tahu Anda tidak ingin bertemu siapa pun. Tapi Anda belum makan apa pun sejak siang."
Masih hening. Hanya terdengar isakan pelan yang tertahan dari dalam.
"Setidaknya… makan sedikit. Kalau tidak, nanti lambung Anda sakit lagi."
Ia menunggu. Detik demi detik berlalu, sampai akhirnya dari dalam terdengar suara serak, pelan dan bergetar.
"...Pergi, Revan."
Revan tidak bergerak. Tangannya masih menggantung di depan pintu.
"Saya akan pergi setelah Anda makan, Nyonya," jawabnya pelan, tapi tegas. Nada asisten yang patuh, tapi ada sesuatu yang posesif di baliknya. "Saya akan taruh nampan di depan pintu. Saya tidak akan masuk. Saya janji."
Revan baru saja berbalik hendak turun ke bawah untuk mengambil nampan makanan, ketika bunyi gesekan pintu terdengar perlahan dari belakangnya.
Ia berhenti sejenak lalu menoleh ke belakang. Pintu kamar terbuka sedikit, lalu terbuka lebih lebar. Alina berdiri di ambang pintu dengan piyama tidur berwarna krem yang lembut, rambutnya terurai acak‑acakan, dan kedua matanya tampak sembab.
"Revan," panggilnya dengan suara masih serak. "Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
Ia menunduk sebentar sebelum mendongak lagi menatap wajah pria itu. "Soal wanita yang bersama Rafael tadi siang… apakah benar mereka hanya membicarakan tentang pekerjaan?"
Revan terdiam sejenak, pandangannya menyapu wajah Alina yang tampak rapuh itu.
"Benar, Nyonya," jawabnya dengan nada tenang dan profesional. "Nona Amara memang model yang terpilih untuk peluncuran merek baru perusahaan. Dia baru kembali dari London sekitar sebulan yang lalu. Itu data yang saya peroleh untuk ditunjukkan pada Tuan Rafael beberapa hari lalu."
Ia melangkah sedikit mendekat, tapi tetap menjaga jarak satu meter, seperti asisten pada umumnya.
"Kenapa Anda bertanya seperti itu?"
"Aku tidak tahu…" bisik Alina pelan, suaranya pecah. "Tapi Rafael bahkan belum pernah tertawa seperti itu padaku. Di depan wanita itu, senyumnya tampak begitu alami, begitu tulus."
Revan menghela napas pelan. Tangannya yang semula mengepal di samping, kini sedikit mengendur.
"Alina," panggilnya pelan. Kali ini bukan panggilan 'Nyonya'. "Kamu mau jawaban jujur sebagai asistennya Tuan Rafael, atau jawaban jujur sebagai Revan?"
Alina menatapnya bingung, air mata masih menggantung di sudut matanya. "Apa bedanya?"
"Kalau sebagai asistennya Tuan Rafael," Revan menjawab datar, seperti laporan kerja. "Saya akan bilang, Tuan Rafael dan Nona Amara memang hanya rekan kerja. Tidak lebih. Tolong jangan berpikiran yang aneh‑aneh, Nyonya."
Alina menggigit bibirnya. Jawaban yang sudah ia duga. "Lalu… kalau sebagai Revan?"
Revan menatapnya lama. Tatapannya yang biasanya tenang, kini terlihat jujur dan sedikit berat.
"Kalau sebagai Revan…" suaranya turun, hanya cukup didengar Alina di lorong yang sepi itu. "Saya akan bilang, saya tidak tahu perasaan Tuan Rafael ke Nona Amara. Saya baru enam bulan di sini, Alina. Saya tidak berhak menilai urusan pribadi Tuan Rafael."
Alina terdiam.
"Yang saya tahu, selama enam bulan saya bekerja, saya belum pernah melihat Tuan Rafael tersenyum seperti tadi siang. Bahkan di kantor pun tidak pernah."
Alina merasakan dadanya sesak lagi.
"Jadi… memang ada yang berbeda?" bisiknya.
Revan tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menatap Alina lebih dalam, dan untuk pertama kalinya, nada posesifnya yang lembut itu keluar.
"Tapi satu hal yang saya tahu pasti, Nyonya."
"Apa?"
"Anda tidak pantas menangis sendirian seperti ini," ucapnya pelan, tapi tegas. "Hanya untuk seseorang yang bahkan tidak pulang untuk memastikan Anda sudah makan atau belum."
Kata‑kata itu menghantam Alina tepat di jantungnya. Benar. Rafael belum pulang. Sudah hampir jam delapan malam. Bahkan setelah mempermalukannya di restoran tadi, suaminya itu tidak ada telepon, tidak ada pesan.
Yang ada di sini, yang mengetuk pintunya, yang mengingatkannya makan… hanya Revan. Asisten yang baru enam bulan ia kenal.
Alina menunduk, bahunya bergetar hebat menahan isak.
Revan melihat jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap wajah Alina.
"Jam 19.52," katanya pelan. "Saya tunggu di bawah sampai jam 20.30. Kalau sampai jam segitu Anda belum turun, saya akan naik lagi dan membawa Anda turun dengan paksa."
Ia menatap Alina terakhir kali.
"Jangan hukum lambung Anda karena kesalahan orang lain, Nyonya Alina."
Setelah itu Revan berbalik dan melangkah turun, langkahnya pelan dan teratur, kembali ke ruang makan yang temaram itu.
Alina masih berdiri mematung di ambang pintu. Kata‑kata Revan barusan terus terngiang di kepalanya.
Membawanya turun dengan paksa?
Selama dua tahun menikah, tidak pernah ada yang bicara seperti itu padanya. Rafael selalu berkata 'terserah kamu, Alina' lalu pergi. Tidak pernah ada yang benar‑benar peduli apakah ia makan atau tidak.
Tangannya gemetar memegang gagang pintu. Untuk pertama kalinya, ancaman itu tidak terasa menakutkan. Justru… terasa seperti diperhatikan.
Di bawah, Revan kembali duduk di kursi meja makan. Pandangannya lurus ke arah tangga, seperti penjaga. Lalu suara yang ia tunggu, sekaligus tidak ia harapkan terdengar.
Brum.
Suara mesin mobil yang familiar memasuki halaman. Pintu utama terbuka dengan kasar. Rafael masuk dengan wajah lelah, dasinya longgar, jas digenggam di tangan.
Langkahnya terhenti di ruang makan saat melihat Revan masih duduk di sana dengan dua piring yang masih utuh dan dingin.
"Revan? Kamu belum pulang?" tanya Rafael, mengerutkan kening. "Di mana Alina?"
Revan berdiri perlahan. Sikapnya kembali menjadi asisten yang sempurna, formal, dingin. Tidak ada jejak Revan yang tadi berbicara lembut di depan pintu kamar.
"Nyonya Alina belum makan sejak siang, Tuan," jawab Revan datar. "Saya menunggu beliau turun."
Rafael mendengus pelan, melempar jasnya ke atas sofa. "Sikap kekanak‑kanakannya lagi. Biarkan saja, nanti juga dia turun sendiri kalau sudah lapar."
Ia berjalan menuju tangga, hendak naik. Tepat saat itu, dari atas tangga, terdengar langkah kaki pelan.
Alina turun. Ia sudah mengganti piyamanya dengan dress rumah berwarna putih gading, rambutnya disisir rapi meski matanya masih sembab.
"Akhirnya kamu turun juga," ucap Rafael. "Revan bilang kamu belum makan."
Alina berhenti di anak tangga terakhir, menatap Rafael dengan nada dingin.
"Masih ingat pulang?" sindirnya.
"Alina, jangan memulai," potong Rafael cepat, suaranya lelah dan sedikit meninggi. "Aku pulang bukan untuk berdebat denganmu."
Rafael berbalik ke arah Revan yang masih berdiri di samping meja makan. "Revan, kamu pulang saja dulu. Besok pagi‑pagi sekali datang lagi ke sini."
Revan mengangguk patuh, tatapannya sempat menyapu wajah Alina sebentar sebelum ia menunduk hormat.
"Baik, Tuan."
Ia melangkah menuju pintu utama tanpa menoleh lagi. Suara pintu tertutup perlahan, meninggalkan Alina dan Rafael berdua di ruangan yang luas dan temaram itu.
Keheningan sejenak menyelimuti mereka. Hanya terdengar detak jam dinding dan dengung lembut pendingin ruangan.
Rafael melepaskan dasinya dengan kasar, lalu duduk di kursi ujung meja makan.
"Kenapa kamu harus buat drama seperti tadi siang di restoran?" Rafael akhirnya buka suara, suaranya rendah menahan emosi. "Amara itu aset penting untuk merek baru. Kamu membuatku malu di depannya, Alina."
Alina yang masih berdiri di anak tangga terakhir, tertawa kecil — tawa yang hambar tanpa kegembiraan.
"Aku membuatmu malu?" ulangnya pelan. "Atau kamu yang malu punya istri seperti aku?"
Rafael mendongak, alisnya terkerut. "Apa maksudmu?"
"Jawab jujur, Rafael," Alina melangkah maju hingga berdiri di seberang meja, menatap suaminya dengan tatapan yang tegas meski matanya masih sembab. "Selama dua tahun ini, pernah tidak sekali saja kamu bangga mengenalkan aku sebagai istrimu di depan semua orang?"
Rafael terdiam, memutar cincin pernikahan dijari manisnya.
"Besok adalah ulang tahun pernikahan kita yang kedua," lanjut Alina dengan suara yang lebih tenang. "Aku sudah memesan tempat di kafe. Kamu akan datang, kan?"
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰