Cakiya dan Baruna, dua pendekar muda yang paling dicari-cari keberadaannya di kerajaan. Salah satu alasan dua pendekar itu begitu diburu karena mereka dituduh mencuri tiga dari Delapan Senjata Pusaka milik Kerajaan, yaitu gada Aqni Samaja, kujang Nagacita dan keris Rudra Arutala.
Mereka berdua juga diincar orang-orang dari Perguruan Harimau Bulan dan Perguruan Harimau Matahari, dua perguruan aliran putih terbesar di Kerajaan. Takdir seperti apa yang akan menanti mereka? Apakah mereka tertangkap? Akankah Baruna & Cakiya berhasil memulihkan nama baik mereka? Atau mereka justru bergabung bersama para pendekar dari golongan hitam?
Catatan : Boleh promosi karya di kolom komentar, mohon maaf kalau saya lambat merespon atau malah lupa merespon di kolom komentar 🙇♂️🙇♂️. Mari sesama pegiat industri kreatif saling mendukung...✊✊✊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersa Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Cara Bertahan Hidup
Mendengar apa yang ditanyakan oleh Baruna, Cakiya tertawa. “Emas yang kurampas dari Macan
Mawa adalah emas rampasan dari orang-orang yang ditindas oleh anggota Perguruan Harimau Matahari. Sepanjang perjalanan dari tempatku tinggal menuju Kota Lamunarta, aku hanya mencuri dan para pencuri, merampas dari para perampas dan merampok dari para perampok. Lagi pula aku tidak mengambil seluruh milik Macan Mawa, hanya kurampas setengah barang bawaannya yang kira-kira didapatkannya dengan cara-cara yang tidak terpuji. ”
“Dari mana kau mengetahui bahwa barang-barang itu hasil rampasan atau didapatkan dengan cara-cara yang buruk?” Tanya Baruna.
“Hm…mungkin, dari bentuk dan tekstur barang berharga itu.”
“Apa maksudmu?”
“Hampir semua barang berharga milik Macan Mawa merupakan jenis perhiasan yang dibuat dalam periode dan tempat yang berbeda-beda. Ada perhiasan berharga yang baru ditempa, ada juga perhiasan dari emas lama yang usianya mungkin beberapa generasi. Demikian pula tulisan serta gaya bahasa yang terukir pada berbagai perhiasan itu juga berbeda-beda. Ada perhiasan milik keluarga bangsawan tertentu yang masih ada hingga kini. Tapi, ada juga perhiasan milik keluarga atau klan yang hilang dan juga sudah musnah. Ada perhiasan milik Macan Mawa yang dibuat oleh para perajin perhiasan dari barat Kerajaan berdasarkan bentuknya, ada juga perhiasan
dengan bentuk khas dari pengrajin perhiasan dari timur wilayah Kerajaan. Menurutmu dari mana Macan Mawa bisa mendapatkan perhiasan yang memiliki bermacam-macam model serta bentuk ini selain dari merampas atau mencuri dari orang lain?”
Baruna mengangguk sambil melirik wajah Cakiya dengan kagum. Ia tidak menyangka jika pendekar berusia belasan tahun tersebut memiliki rentang pengetahuan yang dalam mengenai seni kriya dan perhiasan. Cakiya dapat membedakan dengan cermat mana perhiasan lama dan baru, bentuk yang merupakan ciri khas atau aliran seorang pengrajin juga tidak luput dari pengamatan Cakiya. Pengetahuan tersebut, bukan merupakan jenis pengetahuan yang dapat didapatkan begitu saja di tempat-tempat sembarangan.
“Rupanya dirimu mengerti banyak tentang perhiasan.” Komentar Baruna.
“Saat berada di Pancadaha, aku bekerja sebagai asisten pandai besi yang juga mengerjakan pesanan seni-seni kriya seperti perhiasan. Meski demikian, pengetahuanku tentang seni kriya dan seni tempa sangatlah sedikit, sangat jauh jika dibandingkan dengan para pengrajin dan para pandai besi.” Jawab cakiya dengan sedikit malu mendengar pujian dari Baruna.
“Oh begitu.” Baruna mengangguk-angguk. “Tapi menurutku pengetahuanmu tentang seni kriya itu cukup baik menurutku. Katamu tadi, selama kau bisa mengambil semua yang ada di alam, kau tidak mengkhawatirkan masa depanmu. Namun, kenyataannya kau justru mengambil barang-barang Lalu, apa yang akan kaulakukan dengan barang berharga rampasan itu Cakiya?”
“Sebagian besar akan kugunakan untuk membantu orang-orang yang miskin dan kesulitan.”
“Siapa saja orang-orang yang kau anggap sedang mengalami kesulitan itu?” Baruna menyilangkan kedua tangannya di dada dengan ekspresi serius. “Siapa saja yang masuk kriteria miskin dan kesulitan.”
“Banyak. Tidak bisa kusebutkan satu persatu.” Kekeh Cakiya. “Termasuk kita juga.”
Baruna sedikit kaget mendengarkan jawaban dari Cakiya. “Apa maksudnmu?”
“Kita ini termasuk orang miskin, rapuh dan merana kawan. Makan seadanya, rumah tidak ada. Keluarga dan sanak apa lagi. Kita seperti halnya sebagian besar orang-orang muda pada zaman ini, hanya memiliki kelebihan tubuh yang sehat dan sedikit keterampilan dalam hal bela diri. Memang sepanjang kita sehat, kita bisa mengambil apa saja yang tersedia di alam jika kita mampu mengolahnya dengan benar. Tapi, jika kita misalnya terkena penyakit mematikan atau celaka saat dalam perjalanan hingga cacat, habislah kita menjadi gelandangan peminta-minta, lalu menjadi tak berdaya hingga ajal. Berjaga-jaga untuk sebuah ketidakpastian pada zaman seperti ini bukanlah sebuah ide yang buruk.” Kekeh Cakiya.
Baruna menghela nafas pelan sambil menutup mata, Baruna juga kurang setuju pada jalan hidup Cakiya yang merampas harta dari orang lain, sekali pun orang tersebut adalah orang-orang itu tidak bermoral dan layak diperlakukan demikian. Akan tetapi diam-diam Baruna juga setuju cara berpikir Cakiya untuk selalu berjaga-jaga dalam situasi tidak terduga. Selama dalam pelarian tiga tahun lamanya, banyak kejadian tidak terduga yang membuat Baruna mengalami banyak kesulitan. Akan tetapi ketangguhan serta semangatnya untuk terus bertahan dari yang terburuk membuat Baruna mampu selamat dari apa pun. Baruna memang bukan perencana yang baik, namun dirinya tetap yakin bahwa suatu saat akan terjadi hal yang baik akan menghampiri dirinya. Sekali pun rasa putus asa dan kesedihan akibat rasa sepi sebagai seorang pelarian yang diburu oleh pihak Kerajaan seringkali membebani hati Baruna.
“Lalu bagaimana kau selama ini bertahan hidup sebagai pelarian?” Cakiya tiba-tiba.balik bertanya. “Bertahun-tahun mengembara tentu membutuhkan sumber daya tidak sedikit. Memang jika soal makan, alam bisa menyediakannya. Akan tetapi, bila bersembunyi di kota-kota, tentu dirimu membutuhkan dana yang tidak sedikit
untuk soal mengisi perut dan menginap.”
“Aku selama ini hanya mendapat sebagian atau seluruh harta orang-orang yang memburuku. Sebagian besar memang saudara-saudara seperguruanku, mereka memang bukan orang berada, akan tetapi aku terpaksa menerima itu untuk bertahan hidup. Aku sendiri baru mengetahui jika ada semacam kode etik di kalangan para pemburu buronan sepertiku, dimana saat gagal memburu mereka akan menyerahkan sebagian atau seluruh hartanya sebagai permohonan agar nyawa mereka diampuni. Setelah menyerahkan sebagian harta mereka, biasanya para pemburu itu tidak berani menampakkan diri di depanku lagi. Entah sejak kapan tradisi ini dimulai, akan tetapi ketika pertama kali mengalaminya, aku sangat canggung,” Papar Baruna.
“Berarti kau sama saja denganku.” Komentar Cakiya sambil tersenyum.
“Tidak, aku mengambil karena memenangkan pertarungan, dengan usaha yang bahkan mempertaruhkan nyawa. Selain dari pertarungan, beberapa kali aku menerima pemberian dari kerabat maupun saudara seperguruanku yang sudah mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya tentang statusku sebagai buronan Kerajaan. Berbeda denganmu yang mencuri dan merampok dimana hal itu jelas-jelas merampas hak orang lain. Mohon maaf bila aku berkata kasar…memang orang-orang yang kau rampas hartanya merupakan orang jahat, akan tetapi bukan berarti kita bebas melakukan apa pun pada orang-orang seperti itu.”
Cakiya hanya tersenyum, lalu berkata kepada Baruna di sela-sela suara kayu bakar yang meretih-retih lalu pecah karena panasnya api unggun. “Baiklah, jika demikian, meski terdapat perbedaaan, selama perjalanan mencari ketiga perempuan itu, kita sebaiknya saling menghormati cara hidup masing-masing saja.” Usul Cakiya.
“Setuju.” Balas Baruna.
“Bagaimana selama sementara ini kita membuat perjanjian seperti ini.” Usul Cakiya. “Aku hanya boleh mencuri dari orang-orang yang menurutmu jahat. Mulai hari ini aku tidak akan merampok atau merampas lagi, sekali pun orang itu adalah orang bermoral rendah. Kau juga boleh menangkap dan menghukumku jika suatu saat aku mencuri lagi dari orang-orang lemah dan tidak berdaya, seperti janda maupun anak yatim. Tetapi, sewaktu dirimu sedang bertarung dengan para pemburumu, aku bebas membantu dirimu. Jika kita berdua berhasil mengalahkan para pemburumu, saat mereka menyerahkan sebagian hartanya, aku boleh menerima harta dari lawan yang kukalahkan dengan tanganku sendiri. Bagaimana Kawan?” Cakiya menyeringai menunjukkan senyum lebar.
Baruna mendesah sambil memandang Cakiya dengan ekspresi jengkel bercampur geli mendengar persyaratan dari Cakiya yang menurutnya cukup ganjil. “Itu perjanjian yang menguntungkan buatmu Cakiya. Tapi terserah padamu saja, karena sepertinya diriku memang tidak memiliki pilihan lain.”
“Kau jelas-jelas untung Baruna. Jika aku bergabung, orang-orang yang memburumu akan lebih mudah dan cepat untuk segera dikalahkan. Makin cepat lawan kalah, semakin efektif pula pelarian kita. Semakin efektif, semakin banyak waktu luang untuk memikirkan cara membersihkan namamu sebagai seorang buronan Kerajaan.”
Baruna pun terpaksa menyetujui perjanjian yang ditawarkan Cakiya, meski sorot matanya masih diliputi keraguan untuk menyetujui usul dari Cakiya. Meski Baruna kurang setuju dengan cara bertahan hidupnya selama ini, Baruna tidak memiliki banyak pilihan. Mendapat sekutu seperti Cakiya saat dalam masa-masa pelarian seperti ini, bagi Baruna merupakan sebuah berkah yang tidak ternilai. Di dalam hatinya Baruna sangat senang dapat memperoleh sekutu seorang pemilik salah satu dari Delapan Pusaka Suci dan juga ahli dalam bela diri seperti dirinya. Meski berbeda sifat serta memiliki kebiasaan yang tidak sepenuhnya nyaman bagi Baruna.
“Apakah saat berada di tempat asalmu kau juga mencuri seperti ini?” Tanya Baruna mengganti topik pembicaraan.
“Tidak selalu. Tapi jarang kulakukan. Biasanya barang yang kucuri adalah perhiasan atau uang milik para pelariian atau penjahat yang kelakuannya cukup buruk. Biasanya orang-orang yang kucuri hartanya adalah jenis orang-orang yang hanya soal waktu mereka akan diusir dari Pancadaha atau dihukum mati karena melakukan kejahatan. Biasanya yang kulakukan adalah bekerja di rumah seorang pandai besi atau pun membantu berburu para pemburu di hutan.”
“Oh Begitu….kupikir pekerjaan pokokmu di Pancadaha adalah seorang pencuri.”
“Tentu tidak.” Kekeh Cakiya. “Pancadaha adalah sebuah daerah yang memiliki hukum cukup ketat. Pencuri di sana bisa dihukum potong tangan. Sedangkan kasus pencurian yang sangat berat bisa diganjar hukuman mati di alun-alun dengan cara dipenggal. Bahkan untuk pelanggaran ringan, penguasa di Pancadaha memberikan hukuman berat tanpa ampun bagi siapa pun. Tanpa terkecuali. Sekitar satu tahun yang lalu di Pancadaha ada peristiwa menggegerkan, anak seorang algojo kedapatan mencuri uang yang jumlahnya cukup besar. Anak Algojo itu pun dihukum potong tangan, dan ayahnya sendiri yang mengeksekusinya. ”
“Aku pernah mendengarnya. Sepertinya cukup menyakitkan bila seseorang harus menghukum saudaranya yang bersalah.”
“Sepertinya saudara-saudara seperguruamu dari Perguruan Harimau Bulan juga cukup dilanda kesusahan yang bercampur aduk. Di satu sisi mereka mungkin marah dan dendam atas kematian Guru mereka, tapi di sisi lain mereka sedih harus menghukum saudara seperguruan yang dahulu selalu bersama-sama dalam susah dan senang saat belajar ilmu bela diri di Perguruan Harimau Bulan.” Komentar Cakiya.
“Mungkin juga.” Baruna mengangguk muram. “Kudengar, setelah kematian Guruku, sebagian besar murid-murid perguruan Harimau Bulan berpencar ke seluruh penjuru negeri untuk mencari jejak dan memburuku hidup atau mati demi membalaskan kematian mendiang Guru.”
Cakiya mengangkat kedua alisnya serta terlihat begitu tertarik mengenai saudara-saudara seperguruan Baruna yang berniat memburunya. “Sudah berapa banyak murid-murid dari Perguruan Harimau Bulan itu memburu dirimu.”
“Ratusan mungkin. Satu tahun dalam pelarianku usai kematian mendiang Guru, aku selalu menghitung berapa banyak orang-orang dari Perguruan Harimau Bulan yang berusaha menangkapku. Tetapi, karena terlalu banyak dan juga pikiranku lelah, aku berhenti menghitungnya begitu mencapai angka delapan puluh.”
Cakiya bersiul dengan nada tinggi memberi tanggapan. Ia begitu kagum pada Baruna yang masih baik-baik saja setelah delapan puluh orang pendekar memburunya. “Delapan puluh orang pendekar memburumu dan dirimu selalu menang saat menghadapi mereka. Bukan main!?”
“Tidak, tidak semua orang yang memburu diriku merupakan pendekar atau saudara seperguruanku dari Perguruan Harimau Bulan. Ada juga pemburu hadiah yang amatiran maupun yang sudah mengenal asam garam sebagai pemburu buronan. Dari jawara, penipu yang pandai berkata-kata dan bersandiwara, penyihir dengan mantra maupun
berbagai ramuan, hingga ksatria atau pun wiracaya yang sedang mencari uang tambahan uang dengan mencoba
menangkapku.”
“Kalau begitu sebelum hingga delapan puluh, dirimu sudah mengalahkan ratusan orang!?” Teriak Cakiya dengan penuh kekaguman. “Bukankah itu lebih hebat lagi, pantas kau tidak perlu mencuri atau melakukan hal lain untuk mendatangkan uang saat dalam perjalanan. Rupanya uang sendiri yang mendatangimu.” Seloroh Cakiya.
“Tapi terpaksa kulakukan." Bantah Baruna. "Pilihannya mati, atau hanya terus bertarung melawan mereka semua. Bertarung untuk bertahan hidup bukan sesuatu yang patut dibanggakan menurutku.”
“Tapi mereka semua gagal bukan?”
Baruna mengangguk. “Sebagian besar berakhir dengan kegagalan karena kalah bertarung melawanku. Sebagian
kecil karena mereka mengurungkan niat ketika menyadari bahwa diriku bukan merupakan pembunuh guruku yang sebenarnya, ada juga yang karena keberuntungan aku berhasil selamat dari para pemburuku.
“Beruntung?”
“Ya, beruntung.” Baruna tersenyum sambil memejamkan mata sewaktu mengingat peristiwa yang dialaminya beberapa waktu yang lalu. “Suatu hari, ada enam orang wiracaya serta delapan pemanah yang mencoba memburuku. Mereka sudah menghitung dan memperkirakan bahwa aku akan melewati sebuah jalan pada hari itu. Keempat belas orang itu berniat untuk mencegat serta menyergapku secara dalam sebuah serangan mendadak. Akan tetapi, sehari sebelum melewati jalan itu, aku mengalami keracunan pada bagian pencernaan hingga terpaksa aku kembali lagi ke kota sebelumnya, lalu mencari tabib atau penjual tanaman obat yang mau mengobati diriku. Beruntung aku menemukan seorang tabib yang berbaik hati menyembuhkan diriku meski tabib itu mengetahui bahwa aku adalah seorang pelarian dari Perguruan Harimau Bulan. Dua hari kemudian aku sembuh, lalu melanjutkan lagi perjalanan. Saat aku, melewati jalan yang digunakan untuk menyergapku, seorang wiracaya tiba-tiba terjatuh dari atas pohon. Rupanya, wiracaya itu terlalu lelah karena menghadangku selama berhari-hari. Aku pun bisa lolos dari sergapan mereka. Setelah itu, aku bertarung melawan empat belas orang yang sudah
menungguku selama dua hari dua malam itu. Sembilan orang berhasil kubuat tidak berdaya, sedangkan sisanya melarikan diri. ”
Cakiya tertawa mendengar cerita dari Baruna. Lalu tiba-tiba, muncul sebuah pertanyaan dari benak Cakiya. “Selama diburu banyak orang, adakah pengalaman yang paling menakutkan menurutmu?.”
oke thor tlg masukan dr para reader yg. sekiranya itu membangun tlg di aplikasikan.
kita sangat menghargai perih payah author dlm membangun cerita dan klopun ada kata2 yg kasar dari kami ya itu semata2 Krn kami ingin sajian yg memanjakan imaginasi.
kalau cepat hasil ceritanya tidak akan bagus, seru dan menarik jadi pembaca harus sabar ya