"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Malam di Milan tidak pernah benar-benar tenang, sama seperti kepala Jimmy yang nyaris pecah. Pria itu mencengkeram kemudi mobil sportnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Sialan," umpatnya dengan suaranya serak, khas pria yang sedang menahan ledakan emosi.
Ponsel di dasbor kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari anak buahnya.
[Nona Leana masuk ke kamar 404, Hotel Grand Paragon. Dia bersama aktor itu, Sir. Namanya Rian. Pintu dikunci dari dalam]
Jimmy menginjak pedal gas lebih dalam. Sejak Leana memutuskan pindah ke apartemen dengan alasan memberikan ruang untuk kakaknya, yang baru menikah, hidup Jimmy berubah menjadi neraka.
Gadis itu tidak hanya mencari kebebasan, dia mencari masalah. Dan Jimmy, sebagai pria yang sudah berjanji pada ayah Leana untuk menjaganya, terseret dalam pusaran pergaulan bebas yang memuakkan ini.
"Memberi privasi untuk Alex berkembang biak?" Jimmy terkekeh sinis, mengingat alasan konyol Leana. "Kau hanya ingin membuatku gila, Lea."
Di dalam kamar hotel yang cukup remang, aroma parfum mahal bercampur dengan ketegangan yang sengaja diciptakan.
Leana duduk di atas pangkuan Rian, seorang aktor yang sedang naik daun. Leana tahu pria ini bersih. Dia sudah mengecek latar belakangnya, tidak ada skandal, tidak ada mantan kekasih yang merepotkan. Hanya wajah rupawan yang bisa digunakan sebagai alat.
Jemari lentur Leana merambat di rahang tegas Rian, lalu turun ke leher pria itu. Rian terengah, matanya menggelap karena hasrat, namun Leana hanya memberikan kecupan-kecupan ringan yang menggoda. Ia tidak berniat melakukan lebih. Ia hanya sedang menunggu badai datang.
Brak!
Pintu kamar hotel tidak diketuk, melainkan dibuka paksa dengan kunci duplikat yang didapat Jimmy dari resepsionis dalam hitungan detik.
Leana tidak terkejut. Ia justru semakin menekan tubuhnya pada Rian, membiarkan rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian wajah sang aktor. Ia ingin Jimmy melihat pemandangan ini. Ia ingin pria kaku itu meledak.
Sayangnya, yang terjadi justru di luar ekspektasi Leana.
Jimmy tidak berteriak. Ia tidak menarik Rian keluar. Pria dengan setelan jas hitam yang selalu rapi itu berjalan tenang menuju sofa tunggal di sudut kamar.
Dengan gerakan elegan yang mematikan, Jimmy duduk, menyilangkan kaki, dan mengeluarkan pemantik. Api menyala, membakar ujung rokoknya. Asap pun mengepul tipis di udara.
Jimmy mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu menatap adegan di depannya dengan mata sedingin es.
"Sudah selesai?" tanya Jimmy dengan santai dan tanpa emosi, seolah sedang menonton pertunjukan teater yang membosankan.
Leana membeku di tempat. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena pria di bawahnya, melainkan karena tatapan Jimmy yang meremehkan.
"Kenapa? Kau ingin bergabung, Jim?" tantang Leana dengan berani, meski tangannya sedikit terkepal erat.
Jimmy mengembuskan asap rokok ke udara, matanya tak lepas dari mata Leana.
"Bergabung? Untuk melihatmu bermain sandiwara dengan bocah ini? Tidak, terima kasih. Seleraku jauh lebih tinggi dari ini."
"Brengsek kau!" Leana turun dari pangkuan Rian, merasa harga dirinya diinjak-injak. "Kau tidak punya hak mengaturku! Kau hanya asisten papa sekaligus pengawalku Jim!"
Jimmy berdiri perlahan. Tinggi badannya yang dominan membuat atmosfer kamar yang luas itu terasa menyempit. Ia berjalan mendekat, seolah setiap langkahnya terdengar seperti detak jam menuju ledakan.
Rian, sang aktor yang tadi merasa hebat, kini mendadak pucat dan menciut melihat aura predator yang dipancarkan Jimmy.
"Keluar," perintah Jimmy pada Rian. Singkat, padat, dan tidak bisa dibantah.
"T—tapi..."
"Kubilang keluar sebelum aku memastikan kariermu berakhir malam ini juga," ancam Jimmy.
Rian segera menyambar kemejanya dan lari tunggang langgang, meninggalkan Leana yang kini berdiri sendirian menghadapi kemarahan yang tertahan di balik wajah tenang Jimmy.
Jimmy berhenti tepat di depan Leana. Jarak mereka sangat dekat, hingga Leana bisa mencium aroma tembakau dan parfum maskulin yang selalu menjadi candunya.
"Kalau sudah selesai bermain, mari kita pulang, Nona," ucap Jimmy dingin. Ia mengulurkan tangan untuk mencengkeram lengan Leana, namun gadis itu menepisnya.
"Aku tidak mau pulang! Aku mau di sini! Kenapa kau selalu menghalangi kesenanganku?" teriak Leana frustrasi. "Semua ini karena kau yang tidak pernah memandangku sebagai wanita! Apa aku begitu menjijikkan di matamu?"
Jimmy terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Ia mematikan rokoknya di asbak meja dengan gerakan kasar. Matanya yang tajam menatap bibir Leana yang masih kemerahan akibat sandiwaranya tadi.
"Kau ingin dianggap wanita?" Jimmy maju satu langkah lagi, mengunci tubuh Leana di antara dirinya dan pinggiran ranjang. "Wanita tidak bersikap seperti anak kecil yang mencari perhatian dengan cara murahan seperti ini, Leana."
Wajah Leana memanas merasakan hembusan nafas Jimmy yang menerpa wajahnya.
"Kalau begitu tunjukkan padaku bagaimana cara wanita bersikap!"
Tangan Jimmy tiba-tiba bergerak, mencengkeram pinggang Leana dan menariknya hingga dada mereka bersentuhan. Napas Jimmy terasa panas di telinga Leana saat pria itu berbisik dengan suara rendah yang menggetarkan tulang.
"Jangan menantang ku, Lea. Karena jika aku berhenti menganggap mu sebagai putri sahabatku, kau tidak akan kuat menghadapi apa yang akan kulakukan padamu di tempat tidur ini," bisik Jimmy seraya menekan pinggang Leana semakin erat hingga gadis itu mendesah pelan.
Leana menelan ludah. Untuk pertama kalinya, ia melihat kilatan gelap di mata Jimmy, sesuatu yang bukan sekadar tugas atau kesetiaan.
"Pulang. Sekarang!" perintah Jimmy sekali lagi, kali ini dengan nada yang tak menerima bantahan.
Leana tidak melawan lagi. Ia berjalan mengekor di belakang Jimmy dengan bibir mengerucut ke depan. Ia berhasil menarik perhatian pria itu, tapi ia tidak sadar bahwa ia baru saja membangunkan singa yang selama ini berpura-pura tidur.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁