Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Storm
Dari restoran, mereka tidak langsung pulang. Berhubung tidak ada beban apa pun yang harus ditanggung esok hati, ketiganya sepakat untuk menikmati malam ini benar-benar untuk bersenang-senang.
"Aku tidak tahu bagaimana dengan kalian," kata Mia ketika mereka melangkah keluar dari restoran, "tapi saat ini aku sedang ingin berjoged."
Joana dan Sena saling pandang, lalu kompak menaikkan alis, setuju dengan ide itu.
"Hongdae?" usul Joana. Dia menatap dua temannya bergantian. Di seluruh Korea ini, ada banyak distrik hiburan yang seru, tapi Hongdae jelas akan menjadi pilihan nomor satu kalau tujuannya memang untuk bersenang-senang.
Mia mengangguk dengan seringai kecil, dan Sena menyambutnya dengan tepuk tangan.
"Let's go!" seru Mia, dan ketiganya sontak bersorak senang, lantas mulai berjalan beberapa blok ke arah deretan bar dan kelab yang berjejer. Lampu-lampu neon dan dentuman musik yang terdengar dari kejauhan menawarkan malam yang menakjubkan, dan ketiganya berjalan menyusuri jalan itu sebelum akhirnya memilih sebuah kelab yang ramai, penuh orang, dan punya suasana yang pas dengan keinginan mereka.
Mereka menghabiskan waktu sejenak di bar, mengamati suasana sambil menikmati minuman. Mia dan Sena terbahak saat Joana nyaris adu jotos untuk mengusir beberapa pria yang mendekatinya. Alasan punya pacar jelas tidak mempan bagi mereka, karena pada kenyataannya para gadis itu datang ke kelab tanpa pacar yang mereka sebutkan. Hanya tidak masuk di logika para pria itu, seorang gadis yang punya pacar akan berkeliaran di kelab tanpa pasangan.
Joana menolak mereka satu per satu tanpa melirik sedikit pun, tetap santai menyesap minumannya sambil mengobrol dengan teman-temannya. Ini bukan hanya soal setia, tapi setelah mengenal Jeremy, pria lain sudah otomatis tampak buram di matanya.
Di sisi lain, Sena yang masih lajang merasa tidak ada salahnya untuk menerima sedikit perhatian dari para pria di sana. Terumata, satu pria yang mendekatinya dengan sopan, tanpa memaksa, mengajaknya untuk menari. Mia menyikut lengannya pelan, dan Sena akhirnya mengangkat bahu sambil berkata, "Kenapa tidak?" sebelum menggenggam tangan pria itu dan mengikutinya ke lantai dansa.
Mereka saling melemparkan senyuman. Pria tadi meletakkan tangannya di pinggang Sena, sementara Sena mulai menggerakkan pinggulnya mengikuti irama musik. Pertama kalinya Sena membiarkan seseorang menyentuh pinggangnya, terlebih itu adalah orang asing. Jika bukan karena efek alkohol, ia pasti akan merasa canggung. Apalagi saat dihadapkan pada tatapan intens pria di depannya. Sena menggigit bibir bawahnya, mengikuti nalurinya untuk melingkarkan lengan di leher pria itu, menariknya lebih dekat di tengah tarian mereka dikelilingi lautan manusia.
Entah karena efek alkohol, dorongan hormon sehabis datang bulan, atau karena suasana yang mendukung, Sena menggila. Secara impulsif, dia mengikis jarak. Kakinya berjinjit, menarik kepala pria di depannya untuk semakin dekat dan dekat lagi. Sang pria, menyeringai, lantas menyambut keinginan Sena dengan menarik pinggangnya mendekat. Dan begitulah bibir mereka akhirnya bertemu.
Saat Sena menarik diri sejenak, pria itu tersenyum miring padanya dan mengecup lehernya sekali lagi sebelum merambat naik ke telinga.
"Mau ke tempatku?"
Sebelum sempat Sena menjawab, satu tangan tiba-tiba mencengkeram pergelangannya dan menariknya menjauh dengan gerakan tegas.
"Baiklah," sela Joana dengan suara keras agar terdengar di tengah dentuman musik. "Cukup untuk malam ini."
Mia menoleh pada pria tadi dan tersenyum sopan. "Maaf, kami harus pulang. Selamat malam." Lalu bersama Joana, dia menyeret Sena keluar dari kelab.
Udara malam yang dingin langsung menyentuh wajah Sena, membuatnya berkedip dan mulai sedikit tersadar. Ia tampak kebingungan untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Joana tersenyum geli, sementara Mia tampak mengerutkan alis seakan sedang mencerna ulang situasi.
"Kau..." Mia memulai, tapi hanya sebatas itu.
"Mencium pria asing yang baru kau temui di kelab," sahut Joana sambil terkikik geli. "Iya. Kau tadi melakukannya."
Tangan Sena langsung terangkat membekap mulut. Pusing bercampur mual terasa saat kilasan kejadian di lantai dansa kembali melintas di kepalanya.
Melihat betapa Sena masih sedikit terhuyung, Mia merangkul bahunya, dan mereka bertiga mulai berjalan menyusuri jalan untuk mencari taksi yang akan membawa mereka pulang.
...****************...
Keesokan paginya, dengan kepala yang masih terasa pusing, Sena harus menghadapi betapa ributnya ponsel yang terus berdenting tanpa henti. Ketika ia mengecek apa yang terjadi, rupanya Joana baru saja memasukkannya ke dalam grup chat bertajuk JCC (Jeremy's Child Center). Grup itu dihuni oleh beberapa member Elements, Mia, Joana, dan sekarang bertambah Sena.
Pada barisan chat yang dikirim di awal, semua anggota grup itu heboh menyapa kehadiran Sena. Salah seorang, yang kemudian Sena tahu adalah Logan, memperkenalkan grup itu sebagai ruang bagi Jeremy mengasuh 'para bocah', sebab Jeremy adalah yang tertua di Elements. Sena tertawa seraya membalas sapaan mereka satu persatu.
Sebagian lalu datang menggoda, menggunakan status pertemanan Sena dan Andy sebagai bahan meledek. Di sana, Andy dan Sena mendadak kompak, saling back up menangkal serangan yang datang bertubi-buti. Sejenak, room chat itu dilingkupi keceriaan.
Sampai tibalah momen di mana Mia mengatakan sesuatu yang membuat semua orang menegang, penasaran. Gadis itu bilang punya sesuatu untuk ditunjukkan. Sena mengerutkan kening, sama sekali tidak punya bayangan apa yang hendak Mia tunjukkan. Hanya dengan ucapan Mia itu saja, grup chat menjadi semakin heboh. Para anggota di dalamnya berbondong-bondong menagih, penasaran setengah mati tentang hal 'mengejutkan' yang katanya Mia miliki.
Sena juga penasaran, tapi dia cenderung lebih pasif, cukup diam menunggu sampai Mia bergerak sendiri.
Bersiap, guys. Tulis Mia, sesaat sebelum dia mengirimkan sebuah foto.
Sena menyandarkan punggungnya pada bantal yang tertumpuk di belakangnya. Foto yang Mia kirimkan, dia unduh.
"Oh My!" serunya tertahan. Tenryata, Mia mengirimkan foto dirinya yang tengah mencium pria asing di kelab semalam.
Kau punya fotonya? Oh My God! Sena mengetik cepat, tapi tidak lebih cepat daripada respons anggota JCC yang lain.
Mia membalas dengan, Ya. Kupikir cukup lucu, jadi aku foto untuk kenang-kenangan. Sena menggeleng pelan, tersenyum malu. Sehabis foto tadi dikirim, JCC menjadi riuh. Semua orang heboh. Meledek, menggoda, ada pula yang menginterogasi dirinya. Sena menanggapinya dengan perasaan yang terasa menggelitik. Benar kata Mia, kejadian semalam itu lucu, tidak ada salahnya memang untuk mengabadikannya.
Tapi dari semua respons heboh nan lucu yang kemudian Sena tanggapi dengan cara serupa, ada satu manusia yang tiba-tiba membawa hal ini menjadi serius. Ialah Andy, yang langsung menodong Sena layaknya seorang tersangka dalam kasus berat. Tidak seperti semua orang yang menganggap kejadian Sena mencium pria asing saat mabuk adalah satu hal yang lucu, Andy menilai itu adalah tindakan sembrono dan berbahaya.
Ia berkata, Bagaimana jika dia adalah pria jahat, yang memanfaatkan situasi mentang-mentang kau sedang tidak sadar? Bagaimana jika kau terbangun di tempat asing, sendirian, dalam keadaan yang tidak pernah kau bayangkan, hanya karena kau tidak bisa mengendalikan dirimu atas pria asing yang kau temui saat mabuk?
Sena beku, dia tidak menduga reaksi Andy akan seperti itu. "Aku tidak...." Bahkan ucapannya sampai tidak bisa selesai.
Aku tidak bermaksud begitu. Lagipula, Joana langsung menarikku pergi. Dia menuliskannya dengan kepala berapi-api.
Balasan Andy datang secepat kilat. Dari yang awalnya lebih sering menjadi pengamat, pria itu mendadak rajin mengetik. Lalu itu bisa dibenarkan? Kau seharusnya tidak ceroboh begitu, Lara.
Sena mengepalkan tangan, kesal. Kenapa kau kelihatan marah sekali? Ini toh bukan hal besar. Dia terus membalas, dan Andy pun melakukan hal serupa.
Grup chat semakin memanas, hanya saja kini fokusnya bukan lagi pada Sena dan pria yang diciumnya asal, melainkan pada respons Andy yang tidak terduga. Semuanya sepakat Andy terlalu ambil serius, jadi pada dasarnya Sena tidak sendiri. Perdebatan di sana tampak seperti Andy versus everybody, tapi Andy sama sekali tidak terlihat gentar. Ia terus membalas, membantah pembelaan Sena dengan segala kata yang ada di kepalanya.
Semakin jauh, perdebatan itu mulai merembet ke mana-mana. Puncaknya, ketika Andy mulai membawa soal pertemanan mereka, menjadi sok tahu hanya karena mereka adalah teman kecil. Sena menegaskan bahwa ada waktu yang cukup panjang di mana mereka tidak saling berteman, dan itu adalah waktu yang cukup untuk membuat banyak hal berubah. Setelahnya, Andy tidak membalas lagi. Pria itu mendadak diam, bak hilang ditelan bumi.
Suasana hati Sena langsung berantakan. Dia tidak lagi berselera untuk membahas hal lain, tidak berniat berlama-lama lagi di room chat itu setelah Andy merusak suasana. Akhirnya Sena pamit undur diri, mengatakan butuh waktu untuk beristirahat lebih banyak. Para anggota JCC mempersilakannya pergi, dan turut ikut undur diri. Setelah sebelumnya heboh, grup chat itu kini sepenuhnya sunyi.
Bersambung....