NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07. Anak dari Wanita Mana, nih Ar?

*Keesokan harinya*

Suasana di ruang kepala sekolah yang elegan itu mendadak tegang. Wanita di balik meja besar itu bernama Vanya. Ia adalah anak pemilik yayasan sekaligus kepala sekolah, sosok yang terlihat “liar” dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, namun memiliki hati yang sangat setia kawan kepada Arkan.

Vanya menyesap latte-nya, matanya yang berhias bulu mata lentik masih belum lepas dari sosok Maya yang duduk di samping Arkan. Maya tampak begitu kecil di sisi pria itu.

“Hem, aku baru tahu kalau Ar punya anak selain bersama almarhumah Lily,” ucap Vanya dengan nada provokatif. Ia mengusap dagunya yang mulus, menatap Arkan dengan senyum nakal yang sulit diartikan. “Apakah mendiang tahu kalau Ar—”

TAK!

Arkan meletakkan gelas kopinya ke meja kaca dengan tenaga yang cukup besar. Bunyi dentingan keras itu bergema di ruangan yang luas tersebut, membuat Maya tersentak dan bahunya menciut ketakutan.

“Jaga bicaramu, Vanya. Dia bukan siapa-siapaku,” desis Arkan tajam, matanya menatap Vanya dengan peringatan yang sangat dingin. “Dia adalah ibu susu Leon. Dan aku ingin dia sekolah di sini dengan identitas yang bersih.”

Vanya tertawa lepas, tawanya begitu renyah hingga ia berkali-kali memukul pahanya sendiri. Maya hanya bisa mengerjapkan mata, merasa heran melihat ada orang yang berani menertawakan Arkan setelah pria itu baru saja menggebrak meja dengan sangat keras.

Vanya bangkit dari kursinya, melangkah dengan gaya elegan namun santai mendekati Maya. Dengan gerakan yang sangat berani, ia menggunakan ujung penanya untuk mengangkat dagu Maya, memaksa gadis itu menatap wajahnya yang cantik dengan kulit yang tampak tanpa pori-pori.

“Katakan padaku, Ar. Siapa gadis muda ini sebenarnya? Jangan bilang kamu memungutnya di jalanan?” tanya Vanya sekali lagi tanpa melepas pandangannya dari Maya.

Arkan menghembuskan napas panjang, ia sudah terlalu lelah menghadapi drama sahabatnya ini. “Dia adalah ibu susu Leon,” sahut Arkan datar, jujur tanpa ada yang ditutupi.

“APA?!” Vanya memekik, matanya membelalak sempurna hingga penanya hampir jatuh. “Kamu, kamu sudah tidak waras, Ar! Kamu membawa anak di bawah umur untuk menjadi ibu susu? Bagaimana caranya—”

“Ceritanya panjang, Vanya! Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan sejarah medis atau hukum padamu sekarang,” potong Arkan sambil memijat pelipis keningnya, merasa pusing karena ocehan Vanya. “Tugasmu sederhana, cukup terima Maya di sekolah ini, lindungi privasinya, dan jangan biarkan siapapun menyentuhnya. Itu saja.”

Vanya terdiam sejenak, beralih menatap Maya dengan binar mata yang kini dipenuhi rasa simpati sekaligus kekaguman. Ia memberikan senyum manis yang sangat ramah. “Gadis cantik yang begitu lugu,” gumamnya dalam hati. Lalu, ia menoleh kembali ke arah Arkan sebelum beralih ke Maya lagi.

“Maya Sayang, boleh tidak tinggalkan kami berdua sebentar? Aku ingin berbicara empat mata dengan ‘serigala kutub’, ini. Ada urusan orang dewasa yang harus kuselesaikan dengannya,” pinta Vanya dengan kedipan mata yang ramah.

Maya mengangguk patuh. “Baik, Bu. Aku permisi keluar.”

Begitu pintu jati besar itu tertutup rapat dan menyisakan Arkan serta Vanya di dalam, suasana langsung berubah drastis. Vanya tidak lagi tertawa. Ia melipat tangannya di dada dan menatap Arkan dengan tatapan menginterogasi layaknya seorang detektif.

“Sekarang jelaskan padaku, Arkan. Dari mana kamu mendapatkan gadis itu? Dan jangan bohong padaku. Aku tahu kau tipe pria yang akan melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang kau mau. Apakah kau menculiknya dari rumah sakit?”

Arkan bersandar pada kursinya, menatap Vanya dengan dingin. “Aku menyelamatkannya dari neraka, Vanya. Dan sebagai imbalannya, dia menyelamatkan nyawa Leon. Itu kesepakatan yang adil, bukan?”

Vanya terperangah, matanya nyaris melompat keluar mendengar jawaban Arkan yang begitu gamblang dan tidak tahu malu. Ia menghela napas kasar, lalu berdiri tepat di samping Arkan dengan kedua tangan berkacak pinggang. Wajahnya yang cantik kini memerah padam karena amarah yang memuncak.

“Ar! Apa kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu?!” bentak Vanya setengah berbisik namun penuh penekanan. “Lihat dia, Ar! Gadis itu masih sangat kecil, tubuhnya belum matang sepenuhnya. Bahkan…coba kamu lihat buah melonnya, itu masih baru mau tumb—”

Belum sempat Vanya menyelesaikan kalimatnya yang frontal, Arkan menyala dengan suara yang sangat tenang namun berwibawa, tanpa ada sedikit pun rasa canggung atau malu di wajahnya.

“Miliknya memang tidak sebesar milikmu, Vanya,” ucap Arkan sambil menatap lurus ke arah cangkir kopinya yang sudah kosong. “Tapi asupannya untuk memberikan nutrisi bagi Leon melebihi wanita mana pun yang pernah kutemui. Dia punya kualitas yang tidak dimiliki orang lain.”

Arkan kemudian berdiri, memperbaiki letak jam tangan mewahnya, lalu menatap Vanya dengan tatapan tajam yang mengunci. “Gadis itu masih dalam masa pertumbuhan. Dia bisa tumbuh lebih dari itu, jadi jangan pernah sepelekan tubuhnya saat ini. Tugasku adalah menjaganya agar dia tumbuh dengan baik.”

Vanya mematung. Wajahnya yang tadi merah karena amarah, kini berganti mejadi merah karena malu sekaligus syok. Bibirnya bergetar, mencoba mencari kata-kata untuk membalas ucapan Arkan yang terlalu jujur dan liar itu.

“Kamu…kamu benar-benar bereng*sek, Arkan! Dokter ca*bul berdarah dingin!” umpat Vanya kejam, namun ia tahu ia tidak bisa menang berdebat dengan pria ini. “Bisa-bsanya kamu membahas ukuran tubuh anak itu dengan wajah sedatar itu!”

Arkan hanya mengangkat bahu sekilas, seolah pembicaraan barusan adalah hal medis yang biasa baginya. “Aku hanya bicara fakta sebagai dokter, Vanya. Jadi, apakah urusan administrasi sekolahnya sudah selesai?”

Vanya mendengus, ia mengambil map di atas meja dan melemparkannya ke arah Arkan dengan kesal. “Sudah! Dia masuk kelas unggulan. Tapi ingat, kalau sampai aku mendengar ada desas-desus aneh tentangmu dan dia, aku sendiri yang akan melaporkanmu pada Gavin!”

“Urus saja urusanmu sendiri,” sahut Arkan datar, mengabaikan umpatan Vanya. Ia melangkah keluar dengan wibawa yang tak tergoyahkan, seoalah percakapan tentang “anatomi” tadi hanyalah diskusi medis biasa.

Begitu pintu terbuka, ia mendapati Maya yang sedang berdiri menyandar di dinding lorong. Wajah gadis itu tampak cemas, jari-jemarinya saling bertautan dengan gelisah.

“May,” panggil Arkan lembut, kontras dengan suaranya saat berbicara pada Vanya tadi.

Maya tersentak dan segera berlari kecil menghampiri Arkan. “Ba-bagaimana, Pak Dokter? Apa aku diterima?” tanya Maya gugup. Ia sempat melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka, melihat Vanya yang sedang mencoret-coret kertas dengan wajah dongkol dan bibirnya yang masih menggerutu.

Arkan mengangguk tipis. “Mulai besok kamu sudah bisa masuk sekolah. Semuanya sudah diatur. Apakah kamu gugup?” tanya Arkan, ada nada kekhawatiran yang terselip dalam suaranya. Ia tahu lingkungan sekolah bisa sangat kejam bagi jiwa yang rapuh seperti Maya.

Maya menggeleng pelan, meski matanya berkata lain. “Aku akan berusaha, Dok.”

“Bagus. Setelah ini, ikut aku membeli perlengkapan sekolahmu. Dan kita juga perlu membeli beberapa kebutuhan tambahan untuk Leon.”

Maya mengangguk patuh. Mereka berdua berjalan berdampingan menyusuri lorong sekolah yang mewah itu. Setiap pasang mata guru atau staf yang berpapasan dengan mereka pasti menoleh, terpesona sekaligus penasaran melihat dokter tampan yang membawa seorang gadis belia dengan tatapan yang begitu protektif.

Sesampainya di parkiran, Arkan membukakan pintu mobil Pajero sportnya untuk Maya. Saat Maya hendak masuk, ia sempat berhenti sejenak dan menatap gedung sekolah itu dengan binar harapan yang baru.

“Terima kasih, Pak Dokter. Aku tidak tahu bagaimana membalas semua ini,” bisik Maya sebelum duduk di kursi penumpang.

Arkan menutup pintu dengan perlahan, lalu ia masuk ke kursi pengemudi. Sambil menyalakan mesin, ia melirik Maya yang kini sudah duduk manis dengan sabuk pengaman terpasang.

“Cukup pastikan kamu sehat dan bahagia, Maya. Karena jika kamu sedih, nutrisi untuk putraku akan terganggu. Jadi, anggap saja ini investasi untuk kesehatan Leon,” ucap Arkan beralasan, meski jauh di lubuk hatinya, ada keinginan lain yang mulai tumbuh untuk menjaga gadis itu tetap di sisinya selamanya.

Maya mengangguk pelan, jemarinya meremas tali tas yang melingkar di bahunya. “Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk putra Anda, Pak Dokter.”

Arkan terdiam sejenak, tangannya yang sudah berada di kemudi tampak ragu untuk segera menginjak pedal gas. Mesin mobil menderu halus, mengisi keheningan di antara mereka.

“Hem, May. Boleh tidak aku mengatakan sesuatu?” tanya Arkan tanpa menoleh, matanya lurus menatap kaca depan.

“Katakan saja, Pak Dokter.”

Arkan menghembuskan napas panjang. “Bisa tidak, jangan panggil aku Pak Dokter? Terkesan sangat formal dan jauh.”

Maya mengerjapkan mata, sedikit bingung. “Lalu, aku harus panggil apa?”

“Panggil saja Arkan, atau Abang, atau… kak Arkan,” pinta Arkan dengan nada yang tenang namun tegas, tanpa keraguan sedikit pun.

Maya merasakan wajahnya mendadak memanas. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan rona merah yang muncul di pipinya.

“Tapi, rasanya itu tidak sopan. Anda adalah penolongku, dan posisi Pak Dokter jauh di atasku,” bisik Maya malu.

Arkan segera memotong sebelum Maya melanjutkan keberatannya. “Jika kau terus memanggilku Pak Dokter di depan umum, terutama di sekolah atau di mall nanti, mereka semua akan salah paham. Mereka akan mengira ada hubungan aneh di antara kita. Jadi, panggil saja aku Kak Arkan. Mengerti?”

Melihat ketegasan di mata Arkan, Maya akhirnya hanya bisa mengangguk patuh. “Baik…Kak Arkan.”

****

Sementara itu, di lantai atas gedung yayasan, Vanya berdiri di balik jendela besar kantornya. Ia melipat kedua tangan di depan dada, memperhatikan mobil hitam itu perlahan menghilang dari pandangannya.

“Arkan, Arkan, kau pikir aku tidak tahu?” gumam Vanya pelan. “Kau memberikan baju Lily padanya, membawanya ke sekolahku. Kau sedang membangun sarang untuk burung kecil itu agar dia tidak bisa terbang lagi.”

Vanya menghela napas panjang, ada gurat kecemasan di wajahnya yang cantik. “Aku hanya berharap gadis muda itu baik-baik saja di tangan pria sepertimu, Ar. Karena jika dia terluka lagi, dia tidak akan pernah bisa sembuh.”

...❌ Bersambung ❌...

1
Evi Lusiana
zavier terlalu sadis thor
Dewi Payang
Tak semudah itu Din.... kamu bukan siapa² upssaa🙈🙈🙈🙈🙈🙈
Dewi Payang
Awas ye berantem
Dewi Payang
Aku mencium aroma kecemburuan disini, ahayyyuuuu
Dewi Payang
Sepwrtinya, apa saja sslalu enak di lidah Zavier😂
Dewi Payang
Setuju sama kamu Zavier, tetaplah bahagia walau hati menangis😂😂😂😂
Dewi Payang
Zavierrrr mau bakso nahhhhh😂
Dewi Payang
Ratu apaan😂😂😂
Dewi Payang
Si oria pasti mokondo🤭🤭🤭🤭
Dewi Payang
11 12 lah mereka berdua🤭
Dewi Payang
Ya ampun dodolnya si Sofia, jelas² Anggun ngaku gak bisa ngerawat bayi, masih aja mau di jadikan menantu, hadehhhhhhhh....
Akaaaaaaaaaak Sariiiiiiiiiii, aku eamosis sama dua perempuan ituuuuuuhhhhhh.....
Dewi Payang
Duh ini si emaak, dah tau anaknya kagak syka di jodohin.....
~~N..M~~~
Mam*pus!!!! Bagaimana rasanya. Pasti sakit sekali, kayak gitulah yang dirasakan Maya. Bahkan lebih dari sakit. Sudah perut maya dibelah, anak m3ninggal, dll.
~~N..M~~~
Good job zavier👍👍👍👍👍
~~N..M~~~
Anak orang kaya, punya segalanya, tapi kenapa kelakuannya kayak iblis?
~~N..M~~~
Ternyata kita semua sama. Kalau tak sengaja m3ndengar klip video dengan suara begitu./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Evi Lusiana
boleh gk sih thor si fadly tuh jd guru ny maya biar jd wanita tangguh yg lepas dr traumany dn gk mudah d tindas
Evi Lusiana
dasar mnsia sampah,
Evi Lusiana
arkan umur brp sih thor,dan msa iy d rmh arkan gk puny ART
Dewi Payang
Aku juga ikut terharu🥹🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!