NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Obsesi / Bad Boy / Antagonis / Enemy to Lovers / Playboy
Popularitas:139
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luluh di Lampu Merah

River menghentakkan standar motor besarnya dengan bunyi logam yang keras, lalu meraih helm cadangan dari jok belakang.

Ia menatap Every yang masih berdiri di samping motor dengan wajah cemberut, menatap jok motor yang tingginya hampir mencapai pinggangnya sendiri.

"Apalagi sekarang, Every? Tadi di ruang rapat lo kayak naga, sekarang liat motor gue aja kayak liat hantu," sindir River sambil menarik tali helm.

"Motor lo ini diskriminasi fisik, River!" Every mengedumel, tangannya sibuk mengangkat rok span mahalnya agar tidak robek. "Gue baru saja memenangkan harga diri ribuan mahasiswa di depan Pierre Emmerson, dan sekarang gue harus kehilangan martabat gue cuma buat manjat mesin raksasa ini? Lo sengaja kan bikin gue kelihatan kayak pemain sirkus tiap kali mau naik?!"

River tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mendekat, menarik Every hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter, lalu memakaikan helm ke kepala Every dengan gerakan yang sedikit kasar tapi pas.

"Bisa pelan-pelan nggak sih?! Rambut gue baru aja di-blow tadi pagi, River!" Every meronta kecil saat River dengan kasar memasangkan helm full-face ke kepalanya.

"Rambut lo nggak bakal bikin lo selamat kalau aspal ini nyium kepala lo, Every. Diem dulu," sahut River datar. Tangannya bergerak ke bawah dagu Every, menarik tali pengunci helm itu sampai terdengar suara klik

"Diem. Lo terlalu banyak protes buat orang yang baru saja dapet kemenangan besar," River mengencangkan tali helm di bawah dagu Every. "Kepala lo itu isinya cuma pasal-pasal sama ego. Sekali-kali isi sama pemandangan jalanan."

"Ego gue yang bikin lo tetep punya pekerjaan di BEM, ya!" Every membalas pedas, menatap River dari balik visor helm yang transparan. "Dan jangan tarik tali ini terlalu kencang! Lo mau cekik gue?!"

Every mendongak kaku, wajahnya yang mungil terlihat hampir tenggelam di dalam helm besar itu. "Tetap aja! Dan lo liat nggak ini apa?" Every menunjuk rok span mahalnya. "Ini harganya lebih mahal dari ganti oli motor butut lo ini! Kenapa gue harus manjat kayak mau naik tebing cuma buat pulang ke rumah?!"

"Motor ini bukan barang butut, *Madam President*. Ini mesin 1200cc yang bisa bikin lo sampai rumah dalam sepuluh menit sebelum lo sempat maki-maki gue lebih banyak lagi," River menyeringai, ia menepuk jok belakang dengan provokatif. "Buruan naik. Atau lo mau gue gendong lagi di depan anak-anak BEM yang masih nongkrong di sana?"

"Jangan berani-berani lo sentuh gue!" Every mendesis, matanya berkilat tajam di balik kaca helm. "Gue bisa naik sendiri! Gue cuma menyatakan fakta kalau kendaraan lo ini nggak punya etika buat perempuan berkelas!"

Every mulai melakukan ritual 'memanjat' yang menyebalkan itu. Ia memegang bahu River sebagai tumpuan, mengangkat kakinya tinggi-tinggi dengan gerakan yang jauh dari kata anggun.

Every menggeram, ia terpaksa mencengkeram bahu kokoh River dan mengayunkan kakinya dengan susah payah hingga akhirnya duduk di belakang. "Gue benci motor ini. Gue benci lo. Dan gue benci fakta kalau gue harus pegangan sama lo!"

River menyalakan mesin yang menderu keras, membuat Every terlonjak kaget dan otomatis mencengkeram pinggang River. "Tuh kan, belum apa-apa udah nempel."

---

Sepanjang sisa perjalanan, River mencoba mengajak Every bicara, namun deru angin dan suara knalpot membuat komunikasi mereka menjadi bencana komunikasi yang lucu.

"EVE! MAU MAKAN DULU NGGAK?!" teriak River setengah menoleh.

"APA?! JALANNYA BERLUBANG?! YA PELAN-PELAN DONG, BEGO!" balas Every teriak, suaranya teredam helm.

River menggelengkan kepalanya frustrasi. "BUKAN BERLUBANG! GUE TANYA LO LAPER NGGAK?!"

"HAH?! APA?! JANGAN BALAPAN?! SIAPA YANG MAU BALAPAN?!!" Every malah semakin kencang mencengkeram pinggang River karena mengira pria itu akan mengebut.

"SABAR BANGET GUE PUNYA KETUA KAYAK LO!" River berteriak lagi, kali ini lebih kencang.

Every mendadak menarik telinga River dari luar helm. "RIVER! JANGAN TERIAK-TERIAK! GUE NGGAK DENGER LO NGOMONG APA! KALAU MAU NGOMONG ITU BERHENTI, JANGAN SAMBIL JALAN!"

"GUE TANYA MAU MAKAN DI MANA, EVERY RIANA!"

"APA?! MAU KE MANA?! GUE MAU PULANG KE RUMAH! LO TULI YA?!" Every mulai memukul-mukul punggung River dengan tangan kecilnya karena merasa River tidak mendengarkannya.

River akhirnya menyerah. Ia memacu motornya lebih kencang, membiarkan Every terus mengomel panjang lebar di belakangnya tentang betapa tidak efisiennya mengobrol di atas motor, sementara River hanya bisa tertawa sendiri karena menyadari bahwa si "Madam President" ini benar-benar tidak berdaya melawan kebisingan jalanan.

"Dasar naga budek," bisik River, yang tentu saja tidak didengar oleh Every.

"RIVER! LO BARUSAN NGOMONG APA?! JANGAN NGOMONG DI BELAKANG GUE!"

---

Sepuluh menit kemudian, motor besar itu berhenti di sebuah perempatan lampu merah yang padat. Udara sore yang panas bercampur dengan polusi kendaraan.

Every masih sibuk menggerutu di balik helmnya tentang betapa buruknya kualitas udara yang harus ia hirup. "Lo denger nggak sih? Gue bilang besok-besok gue bakal bawa sopir pribadi dan—" Ucapan Every terhenti.

Di samping motor mereka, seorang anak laki-laki kecil, mungkin usianya belum genap tujuh tahun, sedang berdiri dengan kotak kayu berisi kue-kue tradisional yang sudah mulai mengeras.

Baju anak itu kebesaran, wajahnya kusam oleh debu jalanan, tapi matanya menatap setiap jendela mobil dengan harapan yang tipis.

River melirik dari spion. Ia melihat Every mendadak diam. Melalui pantulan kaca helm Every yang sedikit terbuka, River melihat mata gadis itu berubah. Ketajaman dan keangkuhan yang biasanya ada di sana lenyap, digantikan oleh tatapan yang begitu dalam, lembut, dan sarat akan kesedihan.

River bisa merasakan cengkeraman tangan Every di jaketnya melonggar. Every membuka kaca helmnya, lalu merogoh tasnya.

"Dek," panggil Every lembut. Suaranya berubah total—hilang sudah nada arogansi dan mulut pedasnya. "Sini. Kakak beli semuanya."

Anak itu mendekat dengan mata berbinar. Every mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya tanpa menghitung, lalu menyerahkannya begitu saja. "Ini buat kamu. Kuenya kamu bawa pulang aja buat adik-adik kamu di rumah, ya? Jangan jualan sampai malam lagi."

River memperhatikan pemandangan itu dari balik kacamata hitamnya. Ia melihat sisi "Riana" yang sebenarnya—kemanusiaan yang tak pernah Every akui di depan rapat pleno.

Saat lampu hijau menyala, Every kembali menutup kaca helmnya dan memeluk punggung River dengan erat, seolah menyembunyikan sisi lembutnya yang baru saja bocor.

"Lo liat apa?! Jalan!" bentak Every saat River sengaja tidak langsung memacu motornya.

"Nggak ada. Gue cuma baru tahu kalau naga ternyata suka makan kue pasar," gumam River sambil tersenyum tipis di balik helmnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!