Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 36: Mimpi Aneh
#
Malam itu Arkan pulang ke apartemen dengan kepala penuh pertanyaan. Obrolan sama Pastor Andrew masih bergema di telinga.
"Cari kebenaran dengan hatimu."
Tapi... tapi gimana caranya cari dengan hati kalau hati nya sendiri bingung?
Dia mandi. Ganti baju. Rebahan di kasur sambil natap langit-langit yang retak.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Tapi Arkan nggak ngantuk. Matanya terbuka lebar. Pikiran berputar-putar.
"Yesus atau Allah? Kristen atau Islam? Kenapa... kenapa pilihan nya harus sesusah ini..."
Dia ambil telepon genggam. Buka galeri. Foto Zahra. Foto yang udah dia liat ribuan kali tapi tetep aja... tetep aja bikin sakit.
"Zahra... kamu dimana sekarang... apa... apa kamu mikirin aku juga? Apa... apa kamu nyesel udah ninggalin aku?"
Nggak ada jawaban. Cuma... cuma foto diam yang tersenyum.
Arkan taruh telepon genggam. Tutup mata.
"Ya Tuhan... aku capek... aku... aku pengen istirahat sebentar dari semua pertanyaan ini... tolong... tolong kasih aku tidur yang nyenyak..."
Dan perlahan... perlahan kesadaran nya memudar.
Masuk ke dalam kegelapan.
Masuk ke dalam... mimpi.
---
Arkan berdiri di depan masjid. Masjid yang dia kunjungi seminggu terakhir. Tapi suasana nya... suasana nya beda.
Langit sangat biru. Cerah. Nggak ada awan. Matahari bersinar tapi nggak bikin panas. Malah... malah hangat. Nyaman.
"Ini... ini dimana?"
Dia lihat sekelilingnya. Jalanan sepi. Nggak ada orang. Nggak ada mobil. Cuma... cuma dia sendirian.
Tapi aneh nya... aneh nya Arkan nggak takut. Malah... malah dia ngerasa tenang.
"Kenapa... kenapa aku ngerasa pernah kesini?"
Dia jalan masuk masjid. Pintu terbuka sendiri. Kayak... kayak ada yang ngundang.
Dalam masjid kosong. Nggak ada jamaah. Nggak ada ustadz. Cuma... cuma karpet hijau yang bersih. Lampu kristal yang berkilauan. Dan... dan ketenangan yang luar biasa.
Arkan jalan pelan. Langkah kaki nya nggak bunyi meskipun dia pake sepatu.
"Halo? Ada orang?"
Nggak ada jawaban.
Cuma... cuma gema suara nya sendiri.
Dia jalan ke mihrab. Tempat imam biasa sholat. Dan disitu... disitu dia lihat seseorang.
Punggung membelakangi. Berjilbab putih. Duduk bersila. Kayak... kayak lagi berdoa.
Jantung Arkan berdebar.
"Z-Zahra?"
Orang itu nggak gerak.
Arkan jalan mendekat. Pelan. Takut-takut.
"Zahra... itu... itu kamu?"
Orang itu berbalik.
Dan... dan itu Zahra.
Wajahnya... wajahnya bercahaya. Bukan cahaya biasa. Tapi cahaya yang... yang lembut. Hangat. Kayak cahaya bulan.
Mata nya berbinar. Senyum nya... senyum nya teduh.
"Mas... lama nggak ketemu."
Arkan terdiam. Nggak percaya.
"Zahra... ini... ini beneran kamu? Atau... atau aku lagi mimpi?"
Zahra senyum makin lebar. "Mas lagi mimpi. Tapi... tapi mimpi ini penting. Mimpi ini... mimpi ini buat Mas."
Arkan berlutut di depan Zahra. Air mata keluar begitu aja. "Zahra... aku... aku kangen kamu. Kangen banget. Aku... aku udah cari kamu kemana-mana tapi... tapi nggak ketemu. Kamu... kamu dimana sekarang? Kamu... kamu baik-baik aja?"
Zahra ulurkan tangan. Usap pipi Arkan. Lembut. Hangat.
"Zahra baik-baik aja Mas. Zahra... Zahra cuma lagi jauh. Lagi... lagi cari ketenangan. Biar... biar nggak nyakitin Mas lagi."
"Tapi kamu nyakitin aku dengan pergi! Kamu... kamu nggak tau gimana sakit nya aku?!"
"Zahra tau Mas. Zahra ngerasain sakit yang sama. Tapi... tapi ini yang terbaik. Buat Mas. Buat Zahra. Buat... buat masa depan kita."
"Masa depan apa?! Masa depan tanpa kamu itu... itu bukan masa depan! Itu... itu neraka!"
Zahra senyum sedih. "Mas... Zahra nggak muncul di mimpi Mas buat bahas kita. Zahra muncul... muncul buat bilang sesuatu. Sesuatu yang penting."
Arkan diem. Natap Zahra.
"Apa?"
Zahra pegang kedua tangan Arkan. Erat.
"Mas... jangan cari Islam karena Zahra."
Arkan kaget. "A-apa?"
"Jangan cari Islam karena pengen nikah sama Zahra. Jangan... jangan belajar agama cuma buat dapet Zahra balik. Itu... itu salah Mas. Itu... itu nggak tulus."
"Tapi aku... aku mulai belajar Islam karena kamu! Kamu yang... yang bikin aku penasaran! Kamu yang—"
"Dan sekarang Mas harus lanjutin karena Allah. Bukan karena Zahra." Zahra potong. Suara nya lembut tapi tegas. "Mas... kalau Mas masuk Islam cuma karena Zahra... terus suatu hari Zahra hilang... Mas bakal ninggalin Islam juga. Mas bakal... bakal murtad. Dan itu... itu dosa besar Mas. Dosa yang... yang nggak bisa Zahra tanggung jawab."
Arkan nggak bisa ngomong. Kata-kata Zahra... kata-kata Zahra masuk ke hati.
"Tapi... tapi gimana aku bisa yakin aku belajar Islam bukan karena kamu? Gimana... gimana aku tau aku tulus?"
Zahra senyum. Senyum yang... yang penuh kasih sayang.
"Mas tanya ke hati Mas. Tanya... tanya apa yang Mas rasain waktu belajar Islam. Apa... apa Mas ngerasa tenang? Ngerasa deket sama Tuhan? Atau... atau Mas cuma ngerasa kangen Zahra?"
Arkan mikir. Inget momen-momen nya di masjid. Waktu dengerin Ustadz Yusuf. Waktu baca Quran. Waktu... waktu sujud sendirian di apartemen.
Dan dia sadar...
Dia ngerasa tenang. Ngerasa... ngerasa ada yang beda. Ada yang... yang berubah di dalam diri nya.
"Aku... aku ngerasa tenang Zahra. Aku ngerasa... ngerasa ada sesuatu yang... yang bener. Yang... yang cocok sama hati ku. Tapi... tapi aku juga ngerasa bersalah. Bersalah sama Yesus. Bersalah... bersalah ninggalin iman yang udah aku peluk sejak kecil."
Zahra angguk paham. "Itu normal Mas. Semua orang yang cari kebenaran... pasti ngerasain itu. Rasa bersalah. Rasa takut salah pilih. Tapi Mas... Allah itu Maha Pengampun. Kalau Mas ikhlas... kalau Mas tulus cari kebenaran... Allah bakal ampunin semua kebingungan Mas. Bakal... bakal tunjukin jalan yang bener."
"Tapi gimana kalau aku salah? Gimana kalau... gimana kalau jalan ku bukan di Islam? Gimana kalau... gimana kalau aku udah ninggalin Yesus tapi ternyata Yesus yang bener?"
"Kalau Mas tulus... Tuhan nggak bakal biarin Mas salah jalan Mas." Zahra pegang pipi Arkan. Lembut. "Mas... cari Allah dengan hati Mas. Bukan dengan logika. Bukan dengan emosi. Bukan karena Zahra. Tapi karena Mas pengen deket sama Dia. Pengen... pengen ngerti siapa Dia sebenarnya."
Air mata Arkan mengalir makin deras. "Zahra... aku takut. Aku takut... takut aku nggak cukup kuat buat lewatin ini sendirian. Aku... aku butuh kamu. Butuh... butuh kamu di samping aku. Ngedukung aku."
"Zahra selalu di samping Mas." Zahra tunjuk dada Arkan. Tepat di jantung. "Di sini. Zahra... Zahra nggak kemana-mana. Zahra selalu... selalu doain Mas. Selalu... selalu sayang Mas. Meskipun... meskipun Zahra nggak ada di samping Mas secara fisik."
"Zahra... kapan... kapan kita bisa ketemu lagi? Kapan... kapan aku bisa peluk kamu lagi?"
Zahra senyum. Tapi nggak jawab pertanyaan itu.
Malah dia bilang sesuatu yang lain.
"Mas... waktu Zahra udah habis. Zahra... Zahra harus pergi."
"Jangan!" Arkan pegang tangan Zahra erat-erat. "Jangan pergi lagi! Please... please tinggal sebentar lagi... aku... aku belum puas ngomong sama kamu..."
"Zahra harus pergi Mas. Tapi... tapi inget ya. Cari Allah dengan hati. Bukan karena Zahra. Kalau Mas udah nemuin Allah dengan tulus... kalau Mas udah yakin... baru... baru kita bisa ketemu lagi. Baru... baru kita bisa bersatu dengan cara yang berkah."
"Maksud kamu... maksud kamu kalau aku masuk Islam... kita... kita bisa bersama lagi?"
Zahra cuma senyum. Senyum misterius.
"Mas bakal tau jawabannya kalau Mas udah nemuin jalan Mas."
Dan tiba-tiba... tiba-tiba tubuh Zahra mulai memudar. Kayak asap yang tertiup angin.
"ZAHRA! JANGAN! JANGAN HILANG!"
"Zahra sayang Mas. Selamanya."
"AKU JUGA SAYANG KAMU! ZAHRA!"
Tapi Zahra udah hilang. Menghilang jadi cahaya. Cahaya yang... yang naik ke langit.
Dan Arkan... Arkan sendirian lagi.
Di masjid yang kosong.
"ZAHRAAAA!"
---
GREP!
Arkan terbangun. Napas ngos-ngosan. Keringet basahin baju.
Dia duduk di kasur. Lihat sekelilingnya. Apartemen. Kamar nya sendiri. Jam digital nunjukkin pukul tiga pagi.
"Mimpi... itu... itu cuma mimpi..."
Tapi... tapi kenapa mimpi itu terasa... terasa nyata banget?
Kenapa... kenapa kata-kata Zahra masih bergema di kepala?
"Cari Allah dengan hati. Bukan karena Zahra."
Arkan turun dari kasur. Jalan ke jendela. Buka tirai.
Langit masih gelap. Bintang-bintang bertebaran.
"Zahra... apa... apa itu beneran kamu? Atau... atau itu cuma pikiran ku sendiri?"
Tapi entah kenapa... entah kenapa Arkan ngerasa... ngerasa itu bukan cuma mimpi biasa.
Itu... itu kayak pesan. Pesan dari... dari Zahra. Atau mungkin... mungkin dari Tuhan.
"Cari Allah dengan hati."
Arkan ambil wudhu di kamar mandi. Nggak tau caranya yang bener tapi dia coba ingat-ingat gerakan yang dia liat di masjid.
Cuci tangan. Cuci muka. Cuci tangan lagi. Usap kepala. Cuci kaki.
"Ya Allah... kalau Kau ada... kalau Kau dengerin aku... tolong... tolong kasih aku petunjuk yang jelas. Aku... aku nggak kuat lagi dalam kebingungan ini..."
Dia ambil sajadah yang dia beli kemarin. Sajadah sederhana warna hijau. Bentangin di lantai.
Berdiri di atas sajadah. Menghadap kiblat yang dia cari pake aplikasi di telepon genggam.
"Aku... aku nggak tau caranya sholat dengan bener. Tapi... tapi aku mau coba. Aku mau... aku mau ngerasain apa yang Zahra rasain tiap kali dia sholat."
Arkan angkat tangan. Kayak orang takbir meskipun dia belum tau doa nya.
Terus dia berdiri diam. Cuma... cuma berdiri. Ngerasain keheningan.
"Tuhan... siapa pun Kau... aku... aku di sini. Aku lemah. Aku bingung. Aku... aku butuh Kau. Tolong... tolong tunjukin aku jalan yang bener. Jalan yang... yang bisa bawa aku ke Kau. Dan... dan kalau jalan itu Islam... tolong... tolong bukain hati ku. Bikin aku... bikin aku yakin."
Dia rukuk. Nggak tau harus bilang apa. Cuma... cuma diem.
Terus sujud. Jidat nempel di sajadah.
Dan di sujud itu... di keheningan pukul tiga pagi... Arkan nangis.
Nangis sejadi-jadinya.
"Ya Allah... aku... aku nyerahin segalanya ke Kau... aku nggak tau... nggak tau Kau Allah atau Bapa di surga... tapi aku yakin... yakin Kau ada. Kau... Kau dengerin aku. Dan aku mohon... aku mohon ampunin semua kebingungan ku. Ampunin... ampunin semua dosa ku. Dan kasih aku... kasih aku jalan yang bener. Please... please..."
Dia sujud lama. Sangat lama. Sampe punggung pegal. Sampe lutut sakit.
Tapi... tapi dia nggak mau bangun.
Karena di sujud itu... dia ngerasa... ngerasa deket. Deket sama sesuatu yang... yang lebih besar dari diri nya.
"Apa... apa ini yang Zahra rasain? Apa... apa ini kedamaian yang dia bilang?"
Dan perlahan... perlahan Arkan mulai ngerasa... ngerasa ada jawaban.
Bukan jawaban yang pake kata-kata.
Tapi jawaban yang... yang ada di hati.
Jawaban yang bilang: "Ini jalan mu. Ini... ini jalan yang Aku tunjukkan."
Arkan angkat kepala dari sujud. Duduk. Ngelap air mata.
"Aku... aku harus lanjutin. Aku harus... harus belajar Islam lebih serius. Bukan karena Zahra. Tapi karena... karena aku pengen tau. Pengen... pengen deket sama Allah."
Dia berdiri. Gulung sajadah.
Dan untuk pertama kalinya sejak Zahra pergi... Arkan ngerasa punya tujuan.
Punya... punya jalan yang jelas.
"Zahra... makasih. Makasih udah dateng di mimpi ku. Makasih udah... udah ngingetin aku. Aku... aku janji. Aku bakal cari Allah dengan hati. Bukan karena kamu. Dan kalau... kalau aku nemuin... aku... aku bakal jadi muslim yang baik. Muslim yang... yang bisa bikin kamu bangga."
Dia lihat jam. Masih pukul setengah empat pagi.
"Masih ada waktu sampe Subuh. Aku... aku mau ke masjid. Mau... mau sholat berjamaah. Mau... mau mulai perjalanan ini dengan serius."
Arkan ganti baju. Pake baju koko putih yang dia beli kemarin tapi belum pernah dipake.
Ambil kunci mobil.
Dan keluar apartemen.
Menuju masjid.
Menuju... menuju jalan yang Allah tunjukkan lewat mimpi aneh itu.
Jalan yang... yang mungkin bakal bawa dia ke Zahra lagi.
Atau mungkin... mungkin bawa dia ke sesuatu yang lebih besar.
Ke kebenaran.
Ke kedamaian.
Ke Allah.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 37...**