Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Niat Memancing, Malah Terpancing".
"Ga... Galang," panggil Fiora, berusaha menetralisir kegugupan di dadanya.
"Ayo bangun, kau ikut atau tidak?" tanya Galang balik dengan suara serak khas bangun tidur, matanya yang tajam menatap Fiora yang sudah duduk tegak di pinggir kasur.
Fiora segera berdiri, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Ayo Fio, berani! Tunjukkan kelasmu!" batin Fiora menyemangati dirinya sendiri agar tidak lagi terlihat "kecil" di depan Galang.
"Maaf, Tuan Galang tercinta," ucap Fiora dengan nada sarkas namun tetap elegan. "Tapi aku harus mengurus bisnis butik dan salonku bersama teman-temanku. Tunanganmu ini punya usaha sendiri untuk dijalankan, tidak seperti 'debu' yang Tuan temukan itu—yang kerjanya hanya jatuh-jatuh di depan kaki orang untuk mencari simpati."
Fiora melirik Galang lewat cermin, memastikan pria itu mendengarkan setiap katanya.
"Oh ya, tunanganku," lanjut Fiora sambil tersenyum miring. "Besok aku akan mengajak semua karyawanku untuk berlibur ke Taman Safari. Jadi, apakah kamu ingin ikut? Atau kamu lebih memilih menjaga 'debu' kesayanganmu itu agar tidak terbang ditiup angin?"
Galang hanya diam, masih berbaring dengan tangan menyangga kepala, mengamati tunangannya yang baru saja "menyerang" balik.
"Taman Safari, ya?" gumam Galang pelan, tatapannya sulit dibaca.
"Ya. Tapi ingat, kalau kau ikut, jangan harap aku akan mengizinkanmu membawa asisten pribadimu yang 'sangat malang' itu. Aku ingin berlibur, bukan ingin menonton latihan akrobat," pungkas Fiora sebelum melangkah ke kamar mandi dengan langkah anggun yang penuh kemenangan.
Pada hari Kamis ini, Fiora baru saja mendeklarasikan perang terbuka. Ia tidak lagi menggunakan amnesia sebagai senjata, melainkan menggunakan jati dirinya sebagai pengusaha sukses yang jauh lebih tinggi derajatnya daripada Mira.
"Baik, sayang. Aku akan ikut," ucap Galang dengan nada suara yang kini terdengar jauh lebih dalam dan posesif.
Tanpa aba-aba, Galang menarik pinggang Fiora hingga tubuh mereka menempel sempurna. Ia memiringkan kepalanya dan berbisik di telinga Fiora, "Kau tidak akan menyesal, Fiora."
"Astaga!" pekik Fiora terkejut. Jantungnya serasa mau copot, tangannya refleks mencengkeram lengan kokoh Galang.
"Ga... Galang, jangan seperti ini!" protes Fiora dengan napas yang mulai tidak teratur. Wajahnya sudah merah padam sampai ke telinga.
Galang tidak langsung menjauh. Ia justru semakin mempererat pelukannya, menatap mata Fiora dengan tatapan intens yang membuat Fiora salah tingkah.
"Kenapa? Bukankah ini yang kau inginkan dari dulu, Fiora?" bisik Galang tepat di depan bibir Fiora. "Kamu sudah berjuang sangat keras untuk mendapatkan perhatianku, bukan? Sekarang, nikmati hasilnya."
Fiora hanya bisa terpaku dengan napas memburu. Sialan, batinnya. Galang benar-benar sudah berubah. Pria yang tadinya kaku seperti papan itu, sekarang justru menjadi sosok yang sangat pandai membuat pertahanan Fiora runtuh hanya dengan satu sentuhan.
"Mampus gue, kali ini beneran nggak bisa kabur," gumam Fiora dalam hati sambil menatap mata Galang yang berkilat penuh kemenangan.
Ponsel Galang yang tergeletak di atas nakas berdering nyaring, memecah ketegangan di antara mereka pada pagi ini. Galang melirik layar ponselnya, di mana nama Mira terpampang jelas.
Galang mengangkat telepon itu sambil tetap mengunci pinggang Fiora. "Halo Mira, ada apa?" tanya Galang dengan nada suara yang kembali tenang namun penuh perhatian.
"Pak... tolong saya, Pak! Tolong... ada seseorang yang membuntuti saya saat ingin berangkat ke kantor! Saya takut sekali, Pak!" suara Mira terdengar gemetar dan terengah-engah di seberang telepon, seolah ia benar-benar dalam bahaya besar.
Fiora yang mendengar suara melengking Mira langsung memutar bola matanya. 'Halah, jurus lama keluar lagi! Pagi-pagi sudah jualan drama ketakutan,' batin Fiora geram.
Tak ingin kalah, Fiora sengaja mendekatkan bibirnya ke dada bidang Galang dan mengeluarkan suara manja yang sedikit keras agar terdengar sampai ke seberang telepon.
"Ahhh..." Fiora menyuarakan sesuatu dengan nada manja, sengaja agar terdengar oleh Mira. Ia tersenyum penuh arti.
Mendengar suara Fiora, Galang menatap Fiora dalam-dalam, senyum tipis terukir di bibirnya.
"Pak? Pak Galang? Itu suara siapa? Tolong saya, Pak!" suara Mira terdengar semakin panik di telepon.
Galang tetap menatap Fiora sambil memegang ponselnya. "Tunggu di tempat yang ramai, Mira. Saya akan... urus semuanya," jawab Galang singkat.
Galang menaruh ponselnya kembali ke atas nakas tanpa memutuskan kontak mata sedikit pun dari Fiora. Bukannya langsung panik dan lari menolong Mira seperti biasanya, ia justru mendekatkan wajahnya, mengunci Fiora di antara kedua lengannya yang kokoh.
"Kenapa kau menyuarakan suara seperti itu di dekat telingaku, Fiora?" tanya Galang dengan nada suara bariton yang dalam dan getaran yang berbahaya.
Fiora membeku, tidak menyangka rencananya untuk memanasi Mira malah menjadi bumerang.
"Kau sangat menggoda," bisik Galang lagi, senyum misterius masih menghiasi bibirnya.
Glekkk!
Fiora menelan ludahnya dalam-dalam. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai telinganya bisa mendengar suara detaknya sendiri. ‘Bloon banget gue ini! Niatnya mau bikin si Mira panas, malah gue sendiri yang masuk ke lubang buaya!’ batin Fiora merutuki kebodohannya.
"Ga-Galang, kan ada Mira... dia lagi ketakutan, katanya ada yang buntutin," ucap Fiora terbata-bata, mencoba mengalihkan perhatian Galang ke asistennya yang "malang" itu.
Galang hanya menatap Fiora tanpa berkedip, seolah panggilan dari Mira tadi hanyalah gangguan kecil yang tidak lebih penting dari tunangannya yang sedang berada di depannya sekarang. "Mira bisa menunggu. Tapi rasa penasaran saya terhadapmu... sepertinya tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Fiora."
Fiora merasa hari ini akan menjadi hari yang sangat sulit bagi harga dirinya. Ia baru menyadari bahwa Galang yang sekarang bukanlah Galang yang bisa ia setir dengan mudah. Sang "Emas" kini benar-benar terperangkap dalam genggaman sang "Predator" yang ia cintai.