NovelToon NovelToon
Prince Of The Wind

Prince Of The Wind

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng yang Jatuh

Langkah Reyd melambat. Aula sudah di depan mata. Cahaya dari dalam memancar keluar, diiringi suara percakapan para bangsawan.

Namun—ia berhenti.

Dari sudut lorong—sebuah bayangan berdiri.

Reyd menyipitkan mata.

“Iselle.”

Wanita itu berdiri jauh dari aula, tidak masuk, tidak juga benar-benar bersembunyi.

Reyd mendekat tanpa suara. Langkahnya ringan. Hampir tak terdengar.

Iselle tidak menyadarinya. Fokusnya hanya ke dalam aula.

Dan tepat saat ia hendak membuka mulut—tap.

Reyd menutup mulutnya dari belakang.

Hening.

Iselle sedikit terkejut. Matanya melebar. Namun sebelum ia bereaksi—Reyd berbisik pelan.

“Diam.”

Suaranya rendah.

Iselle berhenti bergerak. Beberapa detik. Lalu—perlahan ia mengangguk.

Reyd melepaskan tangannya. Namun tetap di sampingnya.

“Lihat.”

Bisiknya.

Iselle mengalihkan pandangan kembali ke aula.

Di dalam—jamuan masih berlangsung. Para bangsawan berbicara. Tertawa kecil. Seolah semuanya normal.

Namun—tidak bagi mereka.

Di salah satu sisi—Seyron berdiri. Dekat dengan utusan berjubah hitam itu. Tidak terlalu mencolok. Namun cukup dekat—untuk berbicara.

Namun—tangan Seyron bergerak sedikit seperti isyarat.

Utusan itu—membalas. Dengan gerakan kecil. Hampir tidak terlihat.

Namun—sinkron.

Seperti… kode.

Reyd menyipitkan mata. Tatapannya berubah.

“Apa yang mereka rencanakan?”

Bisiknya pelan.

Iselle juga terdiam. Matanya mengikuti setiap gerakan kecil itu.

Tidak ada suara. Tidak ada kata. Namun percakapan itu—jelas terjadi. Dan—bukan percakapan biasa.

Beberapa detik. Lalu—Seyron kembali berdiri normal. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Utusan itu juga kembali tenang. Duduk. Menyentuh gelasnya.

Semua kembali seperti semula.

Namun—Reyd tahu. Ia melihatnya.

Angin berhembus pelan.

Reyd menatap lurus ke depan.

“Dia bukan utusan biasa.”

Nada suaranya rendah. Namun pasti.

Iselle tidak menjawab. Namun—senyum tipis muncul di bibirnya. Bukan karena senang. Namun karena—sesuatu mulai menarik.

“Kamu menyadarinya, ya.”

Ucapnya pelan.

Reyd meliriknya sekilas.

“Aku bahkan tidak yakin…”

Ia kembali menatap aula.

“Orang itu benar-benar dari Magicia.”

---

Aula masih dipenuhi cahaya dan kemewahan. Tawa kecil para bangsawan terdengar, meski sebagian mulai mereda.

Seolah—ada sesuatu yang tidak beres.

Dan dalam satu detik—semuanya pecah.

BRAK!

Pintu aula terbuka keras. Seorang prajurit terjatuh masuk. Tubuhnya penuh luka. Darah menetes di lantai.

Semua orang terdiam.

“P–Prajurit?!”

Beberapa bangsawan mundur. Panik mulai menyebar.

Prajurit itu merangkak. Dengan sisa tenaga. Matanya mencari—Raja.

“Yang… Mulia…”

Suaranya serak. Hampir tidak terdengar.

Raja Ryvons berdiri.

“Bicaralah!”

Prajurit itu terbatuk. Darah keluar dari mulutnya.

“Pa… pasukan…”

Napasnya terputus-putus.

“Bervala…”

Seluruh aula membeku.

“…menyerang…”

Sunyi. Tidak ada suara.

“Mereka… sudah masuk…”

Tangannya gemetar.

“Ke wilayah… kerajaan…”

Kalimat itu selesai. Dan—tubuhnya terjatuh.

Namun hanya sesaat.

“APA?!”

“Serangan?!”

“Bagaimana bisa—?!”

Kepanikan langsung meledak. Para bangsawan mulai berteriak. Prajurit bergerak. Suasana berubah kacau.

Namun—di tengah semua itu—satu orang berdiri.

Ia perlahan bangkit dari kursinya. Gerakannya pelan. Namun—cukup untuk menarik perhatian.

“Ini waktunya.”

Bisiknya pelan.

Raja menatapnya tajam.

“Apa maksudmu?”

Utusan itu mengangkat kepalanya. Bayangan di wajahnya perlahan menghilang. Senyum tipis terlihat.

“Sudah waktunya kita berhenti berpura-pura.”

Kalimat itu membuat suasana kembali membeku.

Utusan itu mengangkat tangannya sedikit. Dan dalam sekejap—beberapa sosok muncul dari bayangan.

Mereka menarik seseorang ke depan.

Seorang gadis tertidur. Namun—disandera.

“NONA LEIN!”

Suara itu terdengar dari berbagai arah. Namun semuanya terlambat.

Lein sudah berada di tangan mereka. Pisau didekatkan ke lehernya.

Reyd yang berada di lorong—membeku.

Matanya melebar.

Bajingan.

Iselle di sampingnya juga terdiam. Namun matanya tetap mengamati keadaan.

Di dalam aula—Raja mengepalkan tangannya.

“Lepaskan dia!”

Suaranya penuh tekanan.

Utusan itu tertawa kecil.

“Tenang, Yang Mulia.”

Nada suaranya santai.

“Selama Anda tidak bertindak bodoh…”

Ia melirik Lein.

“Dia akan tetap hidup.”

Sunyi. Ketegangan mencapai puncaknya.

Utusan itu melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Lalu berhenti.

“Perkenalkan…”

Ia membuka sedikit jubahnya. Menunjukkan simbol tersembunyi.

“Aku bukan utusan Magicia.”

Senyumnya melebar tipis.

“Melainkan perwakilan dari Raja Irleke Rissnet.”

Nama itu menggema di aula. Raja Bervala yang baru. Yang mengambil alih takhta.

“Tidak mungkin…”

Beberapa bangsawan bergumam.

Namun kenyataan sudah jelas.

Utusan itu menatap langsung ke arah Raja.

“Perang sudah dimulai, Yang Mulia.”

Raja Ryvons menggertakkan giginya. Tatapannya beralih ke Lein yang masih tidak sadar.

“Jangan sakiti dia.”

Suaranya menurun, bukan sebagai raja. Namun sebagai seseorang yang memohon.

“Dia…”

Ia berhenti sejenak.

“Akan menjadi menantuku.”

Sunyi.

Utusan itu tersenyum tipis.

“Justru itu bagus.”

Ia menatap Lein. Lalu kembali ke Raja.

“Kalau begitu… dia akan sangat berguna sebagai ancaman.”

Jawabannya dingin.

Kekacauan semakin besar. Prajurit bersiap. Bangsawan panik.

Namun tidak ada yang berani bergerak sembarangan. Karena satu kesalahan—bisa mengorbankan Lein.

Di atas—Seyron berdiri tenang. Tidak bergerak. Tatapannya lurus ke depan. Melihat semua itu.

Namun—di dalam dirinya—ia tersenyum tipis.

1
Protocetus
Min belum kontrak min?
Mr. Wilhelm
Ini beda penulis sama novel² sebelumnya, kah?

soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?

what happen?
Apin Zen: Gk om, Setiap novel pakai editor.
Soalnya malas revisi, meski dikit juga sih yang baca tapi seru nulis novel fantasy, hehe.
total 3 replies
Mr. Wilhelm
Keknya mending dihapus narasi yg sebelumnya deh, soalnya hampir sama dengan dialog ini.
Mr. Wilhelm
Emmm harusnya Ayahnya kan yg pewaris dan Seyron jdi ahli waris?
Mr. Wilhelm
Keknya harus upload ulang, paragrafnya jdi jelek, langsung copas, kah?
Apin Zen: baca ulang lagi bab 1 nya Mr, apa masih kurang🤔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!