NovelToon NovelToon
Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.

Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.

Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.

Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.

Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.

Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…

Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Api dan Bara

Langit baru saja selesai menandatangani beberapa dokumen ketika pintu ruangannya diketuk pelan. 

“Masuk.”

Bimo muncul di ambang pintu dengan wajah yang tidak biasa.

Langit langsung menyadari sesuatu tidak beres. “Ada apa?”

Bimo menutup pintu di belakangnya sebelum berjalan mendekat..“Pak… saya baru dapat kabar dari bagian Sekretaris Presiden Direktur.”

Langit mengangkat alis. “Kabar apa?”

Bimo terlihat ragu sejenak, lalu berkata pelan, “Pak Rama sudah tahu alamat rumah Bapak.”

Tangan Langit yang sedang memegang pena berhenti. “Dari siapa?”

“Pak Pram.”

Langit menghela napas pendek. Ia sudah menduga ini akan terjadi, hanya tidak menyangka secepat ini. “Apa saja yang dia tahu?”

Bimo menelan ludah. “Semua.”

Langit menatapnya tajam. “Semua?”

“Iya, Pak. Tentang rumah itu… dan tentang Ibu Ishani.”

“Dan sekarang?” tanya Langit pelan.

Bimo menghela napas. “Pak Rama sedang menuju ke sana.”

Langit berdiri begitu cepat hingga kursinya sedikit terdorong ke belakang. “Sekarang?”

“Iya, Pak. Mereka sudah berangkat.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Langit meraih kunci mobilnya.

“Pak–”

“Batalkan semua jadwalku hari ini,” kata Langit cepat. Ia sudah berjalan menuju pintu.

Bimo hanya bisa menatap punggungnya.

Dalam beberapa detik Langit sudah keluar dari ruangan, berjalan cepat menyusuri koridor kantor. Begitu sampai di parkiran, ia langsung masuk ke mobilnya. Mesin dinyalakan. Mobil itu melesat keluar dari gedung kantor.

Sepanjang perjalanan, tangan Langit menggenggam kemudi dengan kuat.

Satu pikiran terus berputar di kepalanya. Ishani. Ia tahu betul seperti apa ayahnya. Dingin. Keras. Tidak pernah peduli dengan perasaan orang lain.

Dan tiba-tiba bayangan lama muncul di kepalanya. Ibunya berdiri di ruang tamu. Wajahnya pucat. Suara ayahnya yang keras memenuhi rumah itu.

Langit kecil berdiri di tangga, menggenggam tangan Biru. Mereka hanya bisa mendengar. Tidak bisa melakukan apa-apa.

Langit mengatupkan rahangnya. Tidak. Ia tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi lagi. Mobilnya melaju semakin cepat menuju kompleks rumah itu.

Sementara itu di rumah.

Sore hari terasa hangat dan tenang.

Ishani sedang duduk di ruang tamu bersama Bu Rani. Beberapa kotak pakaian bayi baru saja datang dari toko. Mereka sedang melipat baju-baju kecil itu.

“Lucu sekali ini, Bu,” kata Ishani pada Bu Rani sambil tersenyum. Ia mengangkat sebuah baju bayi kecil berwarna putih.

Bu Rani mengangguk. “Iya.”

“Bu Ishani benar-benar membeli banyak sekali.”

Ishani tertawa kecil. “Namanya juga anak pertama.”

Tiba-tiba suara mobil terdengar di depan rumah. Ishani langsung menoleh ke arah pintu. “Sepertinya Kak Langit pulang.”

Ia berdiri perlahan dan berjalan ke arah teras. Namun ketika pintu dibuka, mobil yang berhenti di depan rumah bukan mobil Langit. Sebuah mobil hitam besar.

Pintu mobil terbuka. Seorang pria paruh baya turun dari kursi belakang. Di belakangnya, Pram juga keluar dari mobil.

Ishani berdiri sedikit bingung. “Maaf…?” 

Tatapan pria itu turun dari wajah Ishani ke perutnya yang membesar, lalu kembali naik dengan ekspresi dingin.

“Bapak Siapa…?” tanya Ishani sopan.

Pram melangkah sedikit ke depan. “Ibu Ishani?”

“Iya.”

Pram menoleh pada pria di sampingnya. “Pak, ini orangnya.”

Ishani menatap pria itu lagi. Ada sesuatu dalam wajahnya yang terasa… familiar.

Lalu Pram berkata pelan, “Ini Pak Rama Wicaksana.”

Jantung Ishani berdegup kencang. Ayah Langit. Dan juga… Ayah Biru.

Untuk sesaat ia seperti kehilangan suara.

Refleks, Ishani menunduk sedikit dan mengulurkan tangannya. “Pak…”

Ia hendak mencium tangan pria itu. Namun sebelum sempat menyentuhnya, Pak Rama menarik tangannya dengan kasar. Ishani membeku. Tatapan pria itu dingin.

“Jadi kamu orangnya.”

Ishani tidak mengerti. “Maaf, Pak?”

Pak Rama mendengus. “Perempuan yang menjebak anak saya.”

Ishani tertegun. “Apa?”

“Jangan pura-pura tidak tahu,” kata Pak Rama dengan suara keras. “Kamu pikir dengan mengandung anaknya kamu bisa masuk ke keluarga Wicaksana?”

Suara itu cukup keras hingga beberapa tetangga mulai mengintip dari balik gorden rumah mereka.

Ishani menggeleng cepat. “Pak, Bapak salah paham–”

“Berapa yang kamu mau?” potong Pak Rama tajam.

Ishani membeku. “Pak?”

“Uang? Rumah?” lanjutnya dingin. Ia menatap perut Ishani dengan sinis. “Atau kamu memang berharap Langit menikahimu supaya bisa hidup dari hartanya?”

Beberapa tetangga mulai keluar rumah. Bisikan pelan terdengar di sekitar mereka.

Wajah Ishani memucat. “Tidak… Pak… saya tidak–”

Tiba-tiba suara mobil berhenti dengan keras di depan rumah. Langit keluar dari mobilnya hampir berlari. “Ishani!”

Ia langsung berdiri di depan Ishani, tubuhnya menghalangi perempuan itu. “Ayah.”

Pak Rama menatapnya dengan tajam.

“Jadi ini yang kamu sembunyikan?”

Langit tidak menjawab. Tangannya refleks menyentuh lengan Ishani di belakangnya.

“Masuk ke dalam,” katanya pelan tanpa menoleh.

“Aku harus menjelaskan–” kata Ishani.

“Masuk.”

Nada suara Langit kali ini tidak memberi ruang untuk ditolak. Ishani ragu beberapa detik. Namun akhirnya ia mundur perlahan ke dalam rumah.

Begitu pintu tertutup, Langit kembali menatap ayahnya dengan tajam. “Ayah tidak berhak menghina dia.”

Pak Rama mendengus.

Plak!

Tangan Pak Rama mendarat di pipi Langit.

Suara tamparan itu terdengar jelas.

Di balik jendela, Ishani yang mengintip terkejut.

“Beraninya kamu melawan! Perempuan seperti itu tidak perlu dihormati.”

Tetangga mulai berbisik lebih keras.

Pak Rama menunjuk Langit dengan marah. “Kamu mempermalukan keluarga!”

Langit mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya dingin. “Bukan aku yang membuat keluarga kita malu. Aku hanya sedang bertanggung jawab. Berbeda dengan beberapa orang di keluarga i–”

Plak!

Tamparan kedua. Darah terlihat mengalir dari sudut bibir Langit. 

Di balik tirai jendela, Ishani menutup mulutnya sendiri. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.

Pak Rama menatapnya tajam. “Lepaskan perempuan itu,” kata Pak Rama marah. “Kembali ke keluarga. Kembali ke perusahaan.”

Langit menggeleng, menatap lurus ke matanya.  “Aku tidak akan membuat pilihan seperti Ayah dulu.”

Tangan Pak Rama terangkat lagi.

Namun sebelum tamparan itu mengenai pipi langit…  Pintu rumah terbuka. Ishani berlari keluar dan berdiri di depan Langit.

“Cukup, Pak.”

Suasana langsung hening.

Ishani menatap Pak Rama dengan wajah pucat, tapi suaranya tegas. “Ini di luar.”

Ia melirik sekeliling. Beberapa tetangga sudah berkumpul di jalan. “Orang-orang melihat.”

Pak Rama menoleh. Baru sekarang ia menyadari banyak mata memperhatikan.

Rahangnya mengeras. Ia menatap Langit sekali lagi sebelum berbalik.

“Ayo,” katanya pada Pram.

Mereka masuk ke mobil. Beberapa detik kemudian mobil itu keluar dari halaman rumah.

Begitu mobil itu menghilang di ujung jalan,  tubuh Ishani tiba-tiba lemas. Ia hampir jatuh. Namun Langit langsung menangkapnya.

“Ishani!”

Bu Rani berlari keluar dari rumah.

Langit mengangkat tubuh Ishani dengan cepat. “Ambilkan air,” katanya. Ia membawa Ishani masuk ke kamar.

Begitu sampai di dalam, Langit menurunkannya di atas tempat tidur.

Ishani masih gemetar. Langit menatapnya dengan ekspresi tegang.

“Apa yang kamu lakukan tadi?”

Ishani menatapnya bingung. “Aku hanya–”

“Berdiri di depanku?” potong Langit tajam.

Ishani terdiam.

“Jangan kamu ulangi lagi,” kata Langit keras. Ia menatapnya lurus. “Aku bisa melindungi diriku sendiri.”

Namun jauh di dalam dirinya, Langit tahu. Yang paling ia takutkan bukan dirinya terluka. Melainkan… Ishani.

“Mana ada? Kakak sampai berdarah gini,” Ishani mengusap darah di sudut bibir Langit. 

Langit terpaku. Tangan lembut itu menyentuh wajahnya. Perlahan membersihkan darah di bibirnya. Sapuan napas Ishani terasa hangat di wajahnya.

Deg deg deg

Jantung Langit seakan ingin melompat keluar. Sudah lama sekali tidak ada yang menyentuhnya dengan selembut itu.

Langit merebut tisu dari tangan Ishani. “Aku bisa membersihkannya sendiri.” Ia melangkah ke depan cermin. 

“Kak…,” panggil Ishani setelah beberapa saat. “Ayah… apa ada hubungannya sama masa lalu ibu? Karena itu kak Langit tidak memberitahukan siapa aku sebenarnya.”

Langit menoleh, memperhatikan Ishani. Ia menimbang-nimbang sampai mana Biru menceritakan masa lalu keluarganya pada Ishani. 

“Belum saatnya mereka tahu,” Langit membuang tisu ke tempat sampah. “Aku akan memberitahu mereka pada saatnya nanti.”

“Aku…,” Ishani menunduk. “Tidak ingin jadi masalah buat Kak Langit.”

Langit duduk di samping Ishani, memberanikan diri mengenggam tangannya. “Kamu bukan masalah buatku. Dan tidak akan pernah jadi masalah.”

Ishani merasakan telapak tangan Langit hangat. Ibu jarinya diam di punggung tangannya. 

Ishani mengangkat wajahnya. Menatap mata Langit. Ishani melihat ada yang berbeda dari tatapannya, yang sebelumnya tidak pernah muncul.

Pikiran Ishani melayang pada Biru. 

Genggaman keduanya sama-sama hangat. Tapi genggaman Biru selalu penuh keyakinan, cinta yang menyala. Sedangkan milik Langit lebih terasa seperti perlindungan, menjaga dengan tenang. 

Kalau tatapan Biru berkata ‘aku akan membuatmu bahagia'. Sementara tatapan Langit mengatakan ‘aku akan ada kalau kamu jatuh'. 

Untuk pertama kalinya, Ishani tidak merasa bersalah bersama dengan Langit. 

Ia baru mengerti.

Langit dan Biru identik dalam bentuk fisik, tapi memiliki hati berbeda. Cinta Biru adalah api, menghangatkan, menyala cepat, penuh impian. Sedangkan kehadiran Langit adalah bara, diam, sabar tapi bertahan lebih lama. 

Api bisa menyala terang, tapi juga cepat padam. Bara tidak berteriak, tidak memaksa dilihat. Namun ia tetap hidup, diam-diam menjaga hangatnya.

Ishani membalas genggaman itu. Sedikit saja. Cukup mengatakan ‘aku merasakanmu'.

Dan di saat itu, Ishani tahu, menerima Langit bukan berarti melupakan Biru. Melainkan mengizinkan hidup datang kembali dengan bentuk yang berbeda. 

POV Langit

Langit memberanikan diri menggenggam tangan Ishani. Pelan. Setenang mungkin.

Bukan karena ia takut ditolak, tapi karena ia tahu… tangannya bukanlah yang dicari Ishani. Setidaknya bukan yang pertama.

Mata Ishani menatapnya. Tapi Langit tidak sepenuhnya yakin Ishani benar-benar melihatnya. Ada jeda di dalam tatapan itu.

Ruang kecil yang dulu pernah ditempati Biru.

Dan sekarang… Langit hanya berdiri di ambangnya. Di dalam kepalanya satu kalimat terus berulang.

Jangan bergerak terlalu jauh.

Ia tidak ingin memaksa. Tidak ingin mengambil tempat yang belum siap diberikan.

Saat Ishani membalas genggamannya, dada Langit menghangat. Ishani tidak melepaskan. Dan untuk seseorang seperti Langit, itu sudah lebih dari cukup.

Namun tiba-tiba wajah Pak Rama kembali terlintas di pikiran Langit. Tatapan dingin itu. Tamparan tadi. Dan kata-kata yang lebih menyakitkan daripada pukulan.

Rahang Langit mengeras. Ia tahu ayahnya tidak akan berhenti sampai di sini. Langit menatap perut Ishani yang membesar. Tangannya tanpa sadar berpindah, menutupinya dengan hati-hati. Seolah melindungi sesuatu yang sangat rapuh.

Suara hatinya berbisik pelan. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh kalian. Tidak ayahnya. Tidak siapa pun.

Karena kali ini… Langit tidak akan gagal melindungi orang yang ia sayangi.

1
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
langit cuma ga pede aja, bukan benci sama permintaan tolong si biru. yakin
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
yang penting kacamata yaudalah maaaa ... 😭 maaf reflek ingat meme itu
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
laki2 pujaan, bertanggungjawab atas milik sahabatnya. kelak akan menjadi bapak tiri yang sayangnya bukan kepalang. aamiin
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
semoga tekad ini akan berjalan sebagaimana yang terniatkan 👍
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
karena ishani sadar diri. langit hanya saudara suaminya, tapi bukan siapa-siapa baginya
Mentariz
Biru pasti udah tenang di sana, langit pasti akan jaga kamu dan bayimu, ishani
Mentariz
Biru udah punya firasat sejak awal 😭
PrettyDuck
semoga menjadi lebih baik
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
PrettyDuck
apa ini berarti ishani setuju nikah sama langit??
PrettyDuck
Biru udah punya ketakutan ini dari awal 🥲
Filan
Nanti juga Langit akan dipandang sebagai Langit yang mengisi hati Ishani. Bukan pengganti Biru.
Semangat!
Filan
Itu toh alasannya?
Miu Nuha.
hidup terus dijalanin ish, Allah sudh atur semuany untuk kamu. semangat ya, masih banyk yg sayang sama kamu ❤
Miu Nuha.
bener, hiks 🤧
Miu Nuha.
baru kabar hamil aja udh bilang gitu, emang udh dapet tanda ya kalo bakal pergi 😫
Three Flowers
nyesek membayangkan perasaan Ishani... tapi apa daya, takdir berkata lain. mungkin jodohnya dengan biru memang sudah selesai, dan kemungkinan langit lah jodoh ishani berikutnya
Three Flowers
waduh... laki-laki mana yang tidak tertarik pada wanita cantik? yakin deh langit yang bucin duluan 😄
@dadan_kusuma89
Ishani, sesuatu yang mendesak terkadang tak perlu butuh banyak berpikir, tapi yang dibutuhkan adalah tindakan segera.
@dadan_kusuma89
Ingat, Ishani! semua demi kebaikan kamu dan janin dalam kandunganmu. Siap nggak siap, harus dipaksa.
@dadan_kusuma89
Ishani, langkah yang diputuskan Langit insya Allah sudah tepat. Kau tak perlu banyak mikir, ikuti saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!