Xavier, king Mafia yang tak terkalahkan, ditangkap musuh dan terkena tembakan di dada hingga pingsan. Ketika sadar, dia terkejut melihat dirinya mengenakan hanfu kuno megah dan duduk di singgasana tinggi di lingkungan asing.
Dia menyadari dirinya seharusnya sudah mati, namun doanya terkabul dalam bentuk reinkarnasi. Kini dia berada di tubuh pemimpin sekte iblis yang dingin dan bijaksana, dengan perpaduan unik antara kekerasan masa lalunya sebagai Mafia dan kebijaksanaan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata Pedang, Hati Baja
Pertanyaan itu menggantung berat di udara yang masih dipenuhi sisa-sisa debu dan energi ledakan. Suasana di dalam gua menjadi hening total. Hanya suara gemuruh air terjun yang terdengar samar di kejauhan, seolah alam sendiri ikut menunggu jawaban dari gadis muda itu. Xiao Ling berdiri tegak. Napasnya yang tadinya memburu perlahan mulai teratur kembali. Dia menunduk menatap bilah pedang Bidadari Es yang ia genggam. Permukaan kristal itu memantulkan cahaya yang dingin dan tajam. Di dalam pantulan itu, dia melihat bayangan dirinya sendiri... bukan lagi gadis lemah yang dulu menangis ketakutan, melainkan seorang pejuang yang berdiri di atas puing-puing rasa sakit dan penderitaan. Dia mengangkat kepalanya perlahan. Matanya yang tadinya berkilauan karena semangat bertarung kini telah berubah. Kegembiraan itu hilang, digantikan oleh sebuah kedalaman yang tenang namun mematikan. Tidak ada keraguan, tidak ada getaran sedikit pun di dalam tatapannya.
"Yang Mulia..." Panggil seseorang dengan suara berat dan hormat, seolah-olah ada berita sangat penting atau tragis yang hendak disampaikan.
"Dulu... aku mungkin akan gemetar hanya dengan melihat darah. Aku mungkin akan ragu bahkan untuk menyakiti seekor semut." Ucapnya pelan, matanya menatap kosong ke kejauhan seolah tengah mengenang masa lalu yang jauh berbeda dengan dirinya yang sekarang.
"Tapi aku telah melewati api penyucian. Aku telah melihat ke dalam jurang kegelapan dan kembali lagi." Suaranya terdengar berat dan tegas, penuh keyakinan yang ditempa oleh penderitaan dan pengalaman mematikan.
"Aku sadar betul... di dunia yang kejam ini, kelembutan hati tanpa kekuatan hanyalah kebodohan yang mematikan. Jika aku tidak membunuh mereka... maka merekalah yang akan membunuhku. Merekalah yang akan melukai orang-orang yang aku sayangi. Merekalah yang akan menghancurkan apa yang sudah kita bangun!" Ucapnya dengan nada tegas dan penuh keyakinan yang dingin, setiap kata terucap seolah menjadi keputusan mutlak yang tak bisa diganggu gugat demi kelangsungan hidup dan keamanan yang mereka perjuangkan.
"Jadi jawabannya adalah... YA!" Serunya dengan tegas dan lantang, mata bersinar tajam penuh tekad, menegaskan keputusan akhir yang sudah bulat diambilnya tanpa keraguan sedikitpun.
"Aku siap mengayunkan pedang ini! Aku siap menjadi malaikat maut bagi siapa saja yang berani menjadi musuh kita! Hatiku tidak akan goyah, Yang Mulia! Karena aku tahu... setiap nyawa yang aku ambil adalah untuk melindungi kehidupan yang jauh lebih berharga! Darah yang tumpah hari ini adalah harga yang harus dibayar untuk kedamaian di masa depan!" Ucapnya dengan semangat yang membara dan suara yang menggelegar, penuh dedikasi mutlak dan keyakinan baja bahwa tindakannya adalah kebenaran yang mutlak demi tujuan yang suci.
"Pedang ini akan menjadi hukum Tuhan di tanganku. Ia akan memotong kejahatan, ia akan menebas ketidakadilan, dan ia akan melenyapkan siapa saja yang berani menghalangi jalan kita menuju puncak dunia!" Suaranya bergema dengan wibawa dan kekuatan yang luar biasa, setiap kata diucapkan dengan keyakinan mutlak seolah ia adalah perpanjangan takdir yang tak terelakkan, siap menaklukkan segalanya demi ambisi dan keadilan yang ia perjuangkan.
Mendengar jawaban tegas dan penuh keyakinan yang meluncur dari bibir gadis itu, senyum yang terukir di wajah Ye Chen seketika menjadi semakin lebar, tampak begitu memuaskan dan penuh arti. Mata tajamnya memancarkan kilatan kepuasan yang mendalam, seolah melihat sebuah permata yang kini telah sempurna ditempa menjadi pedang yang paling tajam. Dia menganggukkan kepala perlahan, namun setiap gerakannya sarat akan makna, sebuah tanda pengakuan dan persetujuan mutlak atas keputusan yang telah diambil. Di sudut gua yang agak gelap, Elder Yan dan Elder Feng yang sejak tadi menyimak dengan saksama pun akhirnya saling berpandangan. Keduanya serentak menghela napas panjang, melepaskan segala ketegangan dan beban yang selama ini menumpuk di dada mereka. Rasa was-was yang sempat hadir kini lenyap seketika, berganti dengan rasa lega yang luar biasa. Dalam tatapan mereka, mereka tidak hanya melihat kekuatan fisik atau kehebatan bela diri, tetapi sesuatu yang jauh lebih berharga. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana mentalitas baja, wibawa, dan pola pikir seorang penguasa yang sesungguhnya mulai terbentuk kokoh di dalam jiwa gadis itu. Dia tidak lagi hanya seorang pejuang, dia kini telah siap menjadi seorang pemimpin yang tak tergoyahkan.
"Bagus... Sangat bagus, Xiao Ling." Ucap Ye Chen dengan nada suara yang terdengar sangat puas, matanya memancarkan cahaya kekaguman dan penerimaan yang penuh wibawa.
"Kau telah memahami jalan yang kau pilih. Kini, kau bukan lagi sekadar pendekar yang kuat. Kau adalah pembawa pedang keadilan. Dan ingatlah... di tangan orang yang tepat, pedang adalah alat untuk menyelamatkan dunia. Tapi di tangan yang salah, ia hanyalah alat pembunuh berdarah dingin." Ucapnya dengan suara yang berat dan penuh wibawa, tatapan matanya tajam menembus jiwa gadis itu, seolah sedang mewariskan sebuah kehormatan dan tanggung jawab yang besar.
"Kekuatan tanpa hati nurani hanyalah kebinasaan. Kau harus menjadi penguasa atas pedangmu, bukan budak dari haus darah dan kekuasaan." Sambungnya dengan nada yang tegas dan mendesak, suaranya rendah namun bergema kuat di telinga Xiao Ling, seolah menanamkan prinsip hidup yang tak boleh dilanggar sedikit pun.
"Dan ingatlah ini baik-baik... Di tangan orang yang tepat, pedang adalah alat untuk menyelamatkan dunia, melindungi yang lemah, dan menciptakan kedamaian. Tapi di tangan yang salah, ia hanyalah alat pembunuh berdarah dingin yang hanya membawa malapetaka dan kehancuran. Jaga selalu hatimu, jangan sampai kekuatan yang kau miliki ini membutakan jalan pikiranmu. Tetaplah menjadi pedang yang cemerlang, bukan bara api yang menghanguskan segalanya." Lanjutnya dengan nada yang semakin dalam dan tegas, setiap kata yang diucapkannya bagaikan paku yang ditancapkan kuat ke dalam benak Xiao Ling, sebuah nasihat abadi yang harus selalu ia ingat seumur hidupnya.
"Jadilah cahaya yang menerangi, bukan badai yang menghancurkan. Itulah jalan sejati dari seorang pemimpin." Pungkasnya dengan suara yang penuh wibawa dan ketulusan, matanya menatap Xiao Ling dalam-dalam, memberikan pesan terakhir yang begitu menggetarkan jiwa.
Dengan gerakan yang tenang namun penuh wibawa, Ye Chen perlahan melangkah mundur selangkah. Ia berdiri tegak memandang sosok muridnya di hadapannya, menatap dari ujung kaki hingga ke wajah dengan pandangan yang dalam. Di balik sorot matanya yang tajam, terpancar rasa bangga yang luar biasa bercampur dengan harapan besar yang ia letakkan di pundak gadis itu, seolah sedang melihat permata yang kini mulai bersinar dengan cahayanya sendiri.
"Latihan fisik dan teknik sudah selesai. Jiwamu sudah ditempa menjadi baja. Sekarang... saatnya kau membuktikan bahwa semua ini bukan hanya untuk pertunjukan." Ucapnya perlahan, nada suaranya rendah namun berat, seolah setiap kata yang keluar membawa tekanan yang membuat udara di sekitar mereka terasa mendadak menjadi sunyi dan mencekam.
"Bawalah pedang ini, dan tunjukkan pada dunia... bahwa kau layak disebut sebagai penerusku!" Serunya dengan penuh penekanan, suaranya meledak bagaikan guntur di siang bolong, memancarkan aura keagungan dan kepercayaan mutlak yang ia berikan kepada muridnya di saat yang menentukan ini.
"Di luar sana, di hutan belantara yang mengelilingi wilayah kita, ada sekelompok pencuri dan perampok yang selama ini bersembunyi. Mereka adalah sampah masyarakat yang membunuh, merampok, dan memperkosa orang tak bersalah demi keserakahan mereka sendiri. Baru kemarin, mereka membantai sebuah desa kecil dan mencuri semua persediaan makanan." Ucapnya dengan nada suara yang mendidih menahan amarah, sorot matanya tajam memancarkan kebencian yang mendalam terhadap kejahatan yang telah terjadi.
"Mereka tidak pantas disebut manusia. Dan hari ini... tugasmu adalah menyapu bersih kejahatan itu dari muka bumi. Jangan beri ampun, karena mereka tidak pernah memberi belas kasihan!" Desisnya dingin dan mematikan, setiap kata diucapkan dengan tegas bagaikan keputusan akhir yang tak bisa diganggu gugat, menandakan bahwa tidak ada tempat bagi belas kasihan di medan pertempuran nanti.
"Ini bukan lagi latihan, Xiao Ling. Ini adalah misi pertamamu di dunia nyata. Bawakan aku kepala pemimpin mereka... atau jangan pulang!" Suaranya berat dan penuh wibawa, memancarkan tekanan mental yang dahsyat. Kalimat terakhir diucapkan dengan nada dingin dan tegas, bagaikan sebuah vonis mutlak yang menentukan nasib muridnya.
"Ingatlah, pedang di tanganmu diciptakan untuk menebas kejahatan. Pergilah... dan jadilah legenda!" Suaranya melengking tegas namun penuh harapan besar, seolah sedang menyerahkan takdir dunia di pundak muridnya, memberikan dorongan semangat terakhir sebelum pertempuran dimulai.
"SIAP, YANG MULIA!" Jawabnya lantang, membungkuk hormat.
"Perintahmu akan aku laksanakan sepenuh hati! Aku akan kembali dengan kemenangan!" Ucapnya dengan penuh semangat dan keyakinan yang membara, matanya bersinar tegas tanpa sedikitpun keraguan, menunjukkan tekad baja yang siap membuktikan diri di medan pertempuran.
"Baiklah... Langkahmu dipenuhi keberanian, dan pikiranmu jernih. Silakan berangkat!" Suaranya terdengar tenang namun berwibawa, memberikan restu terakhir dengan tatapan penuh harap, seolah melepaskan burung elang untuk pertama kalinya terbang menaklukkan angkasa.
Tanpa menunggu waktu lagi, Xiao Ling melompat tinggi. Tubuhnya yang ringan namun berat itu melesat seperti panah yang lepas dari busur, menembus langit-langit gua dan keluar menuju dunia luar dengan kecepatan yang meninggalkan jejak cahaya ungu keemasan. Beberapa jam kemudian... Di sebuah lembah terpencil yang gelap dan suram, markas besar gerombolan perampok Gigi Harimau sedang berpesta pora. Mereka sedang merayakan hasil jarahan terbaru. Wajah-wajah mereka bengis, penuh luka, dan memancarkan aura jahat yang busuk. Anggur mengalir deras, dan teriakan tawa mereka terdengar kasar dan menjijikkan.
"Hei! Kalian dengar? Katanya wilayah ini sekarang di bawah kekuasaan orang baru! Siapa itu namanya... Ye Chen? Hahaha! Peduli apa kita! Di sini kami adalah raja!" Teriaknya dengan nada sombong dan penuh ejekan, seolah tidak menganggap keberadaan penguasa baru itu sama sekali, merasa kekuatan mereka adalah satu-satunya hukum yang berlaku di tempat itu.
"Benar! Biar dia sekuat apa pun, selama kami bersembunyi di gunung ini, dia tidak akan bisa menemukan kami! Dan jika ada yang berani datang mencarimu... kami akan iris-iris tubuh mereka jadi daging cincang!" Ucapnya dengan mata melotot penuh kebencian dan senyum sadis, tangannya mengelus gagang senjata tajam di pinggang seolah sudah tak sabar menumpahkan darah siapa saja yang berani melanggar wilayah mereka.
Namun... tawa mereka terhenti mendadak di tengah jalan. Suara angin berdesir aneh. Udara di sekitar mereka tiba-tiba menjadi sangat dingin, begitu dingin hingga napas mereka berubah menjadi uap putih. Cahaya matahari seolah tertutup oleh sesuatu yang besar dan gelap. Semua kepala menoleh serentak ke arah pintu masuk gua. Di sana, berdiri seorang sosok gadis muda yang cantik jelita dengan pakaian sederhana namun memancarkan aura yang begitu agung dan menakutkan. Rambutnya panjang tergerai, dan di tangannya, sebuah pedang kristal biru bersinar memancarkan hawa maut yang membekukan nyawa.
"K-Kau siapa?!" Teriak pemimpin perampok itu sambil mencabut pedangnya yang berkarat, tangannya gemetar tanpa alasan yang jelas.
"Kenapa kau bisa masuk ke sini?! Pengawal kami... di mana mereka?!" Teriaknya panik diselingi napas yang memburu, kakinya sedikit melangkah mundur karena rasa takut yang tiba-tiba menjalar hingga ke tulang sumsum.
"Pengawal...?! Mereka semua sudah kubuat diam selamanya sebelum aku melangkah masuk ke gerbang ini..." Jawab sosok itu dengan suara datar namun menusuk tulang, matanya menatap tajam seolah sedang menatap seekor semut yang tak berarti.
"Dan sekarang... giliran kalian yang menjawab pertanyaanku. Siapa yang menyuruh kalian mengacau di wilayah ini?" Suaranya terdengar tenang namun memancarkan aura mematikan yang membuat udara di sekitar mereka terasa mendadak berat dan dingin menusuk tulang.
"K-Kau... kau monster! Jangan mendekat!" Jerit salah satu anak buah yang sudah kehilangan nyali, tubuhnya gemetar hebat hingga senjata di tangannya hampir terlepas.
"P-Percuma kau bertanya! Kami tidak takut padamu! Boss kami pasti akan membalas kematian kami!" Bentak pemimpinnya berusaha terlihat berani, meski suaranya terdengar putus asa dan pecah di akhir kalimat.
"Boss? Jadi memang ada dalang di balik semua ini..." Sosok itu menyeringai tipis, langkah kakinya yang tenang namun pasti semakin mendekat, membuat bayangannya seolah menelan seluruh cahaya di ruangan itu.
"Katakan siapa namanya, dan aku mungkin akan memberimu kematian yang cepat." Ucapannya santai namun setiap kata terasa seperti pisau yang mengiris leher mereka, tawaran kematian yang 'mudah' itu justru terdengar jauh lebih menakutkan daripada siksaan apa pun.
"Bocah gila! Bunuh dia!! Cincang dia!!" Teriak pemimpin perampok itu dengan suara parau, berusaha mengobarkan keberanian anak buahnya yang sudah gemetar ketakutan, meski nada suaranya sendiri terdengar penuh keputusasaan.
"Gila? Kalau aku gila, maka kalian sedang berhadapan dengan orang gila yang siap mengirim kalian ke neraka sekarang juga!" Tegasnya melontarkan kalimat itu dengan tatapan membunuh, membuat jantung para perampok itu seakan berhenti berdetak seketika.
"Siapa yang mau cincang siapa, kita lihat saja nanti." Desisnya terdengar dingin dan penuh ancaman, seolah-olah nasib buruk sudah pasti menanti bagi siapa saja yang berani melangkah maju.
Puluhan perampok berteriak histeris dan menyerbu maju dengan senjata terhunus. Wajah mereka bengis dan penuh darah, siap mencabik-cabik gadis di hadapan mereka. Namun, Xiao Ling tetap tak bergeming. Dia hanya mengangkat tangan kanannya perlahan. Suara pedang terhunus terdengar nyaring sekali. Tidak ada gerakan yang berlebihan. Tidak ada teriakan perang. Hanya ada kilatan cahaya biru dan ungu yang melintas cepat bagaikan kilat di tengah hari bolong. Segalanya menjadi hening. Para perampok itu berhenti bergerak di tengah langkah mereka. Mata mereka terbelalak lebar, mulut mereka terbuka namun tidak ada suara yang keluar. Perlahan... satu per satu... tubuh mereka terbelah! Darah merah segar menyembur keluar membasahi tanah, sementara tubuh mereka terpotong rapi menjadi dua bagian. Tidak ada rasa sakit, karena kematian datang begitu cepat hingga saraf mereka bahkan tidak sempat mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak. Dalam hitungan detik, puluhan orang yang ganas itu telah menjadi tumpukan mayat. Hanya tersisa satu orang... pemimpin mereka yang terduduk gemetar di atas kursi kayunya, kencing di celana karena ketakutan yang luar biasa. Xiao Ling berjalan mendekat perlahan. Setiap langkahnya terdengar seperti hentakan palu di hati pemimpin itu.
"Am... ampun... Tuan putri... ampun... aku tidak mau mati..." Rintihnya sambil merangkak mundur, air mata dan ingus bercampur menjadi satu.
"Kalian tidak pernah memberi ampun pada korban kalian... jadi jangan berharap ampun dariku." Ucapnya dingin.
"Ma... maafkan kami... kami hanya disuruh... tolong... aku punya keluarga..." Isaknya semakin keras, tubuhnya gemetar hebat seolah nyawa sudah hampir melayang hanya karena ketakutan.
"Alasan yang sangat menyedihkan. Tapi sayangnya, pedangku tidak mengenal kata maaf." Jawabnya datar, tanpa sedikit pun rasa iba terpancar di wajah cantiknya.
"Kematian kalian adalah pembayaran yang setimpal." Ucapnya dengan nada sedingin es, seolah keputusan itu sudah tertulis di langit dan tidak ada satu pun cara untuk mengubahnya.
Satu kepala besar menggelinding jatuh ke tanah berbatu, memantul beberapa kali sebelum akhirnya berhenti. Mata pemimpin perampok itu masih terbelalak lebar, membelalak dalam ketakutan abadi yang akan membeku selamanya. Tubuh tanpa kepala itu masih berdiri tegak sejenak, menyemburkan darah segar dalam jumlah yang sangat banyak sebelum akhirnya ambruk ke tanah dengan suara berat. Xiao Ling berdiri tenang di tengah lautan mayat dan genangan darah yang mulai membasahi tanah. Angin malam berhembus kencang, menerbangkan helai-helai rambut hitamnya yang panjang, membuat jubah putih yang dikenakannya berkibar megah meski kini telah terkotori oleh percikan merah. Di matanya yang indah, tidak ada rasa ngeri, tidak ada rasa mual, dan juga tidak ada sedikit pun rasa bersalah. Hanya ada kedamaian dan sebuah keputusan yang bulat. Baginya, apa yang baru saja terjadi bukanlah pembantaian, melainkan penebusan dosa. Mereka yang mati di sini adalah orang-orang yang telah mengambil nyawa orang lain, dan hari ini, hukum alam telah berbicara. Dengan gerakan yang sangat santun dan dingin, dia perlahan mengangkat tangan kanannya. Menggunakan punggung tangannya yang halus, dia mengusap setitik darah yang memercik ke pipi putihnya. Darah itu hangat, namun tidak membuat hatinya yang teguh menjadi goyah sedikit pun.
"Misi selesai..." Gumamnya pelan, suaranya terdengar datar namun penuh ketenangan.
"Dunia ini terlalu kotor... harus sering-sering dibersihkan." Tambahnya lagi dengan nada dingin, sebelum dia dengan sigap mengayunkan pedang itu sekali lagi untuk membuang sisa darah yang menempel, lalu menyelipkannya kembali ke sarungnya dengan gerakan yang anggun dan mematikan.
"Bagus... sangat bersih dan rapi." Ucapnya pelan dengan nada yang terdengar sangat puas, seolah apa yang baru saja terjadi bukanlah sebuah pertempuran mematikan, melainkan sekadar membersihkan sampah yang mengganggu pemandangan.
"Tidak ada kekacauan, tidak ada bukti yang tertinggal. Persis seperti yang aku inginkan." Ucapnya dengan senyum tipis yang dingin dan menenangkan, merasa puas karena segalanya berjalan sempurna sesuai rencana tanpa ada satu pun hal yang sia-sia.
"Sekarang... tempat ini sudah layak untuk dipijak lagi." Ucapnya santai sembari melangkahkan kakinya melewati pemandangan mengerikan itu dengan sangat tenang, seolah tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi.
"Ayo pergi. Tidak ada lagi yang perlu dilakukan di sini."
Ucapnya datar tanpa beban, seolah ia baru saja menyelesaikan urusan sepele dan kini siap melangkah pergi meninggalkan masa lalu di belakangnya.
"Bersih-bersih sudah selesai. Sekarang saatnya kita cari tempat lain." Ucapnya ringan sembari menepuk-nepuk tangannya seakan ingin menghilangkan debu yang tak terlihat, lalu berbalik badan dan mulai melangkah menjauh tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
"Kau sekarang... benar-benar muridku!" Ucapnya dengan nada bangga yang bercampur kekaguman, menatap punggung muridnya dengan mata yang berbinar, menyadari bahwa buah hatinya kini telah tumbuh menjadi sosok yang luar biasa.
"Tentu saja, Guru. Segala yang aku miliki saat ini... adalah pemberian dari kalian." Jawabnya tenang tanpa menoleh, suaranya terdengar mantap namun penuh rasa hormat, seolah ucapan terima kasih itu adalah janji setia yang tak akan pernah pudar.