NovelToon NovelToon
Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.

"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"

"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.

Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"

"Kyaraaa!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Kyara beranjak dari musala, melipat mukena dan merapikan pakaiannya. "Semangat Kya," gumamnya sambil keluar. Ia kembali masuk ke rumah makan.

"Roy!" Yang dipanggil namanya menoleh cepat.

"Eh, Mbak?"

"Mama belum kembali ke sini kan?"

"Tenang, Mbak. Belum. Ibu kayaknya masih betah bergosip dengan sekutunya." Roy tertawa di akhir ucapannya.

"Kamu ini. Bisa saja." Kyara ikut tertawa. "Ada pesanan baru, tidak?"

"Ada. Tapi udah dilayani sama Susi dan Dewi."

Kyara mengangguk. "Sini, aku bantu cuci piringnya."

Roy mengibaskan tangan. "Nggak usah, Mbak. Biar aku saja. Mbak istirahat saja dulu. Mumpung Ibu bos nggak ada."

"Nggak ah, Roy. Nanti Mama bisa ngamuk lagi kalau aku cuma diam." Kyara pun mengambil lap kering, dan membantu Roy mengeringkan piring serta gelas.

"Mbak Kya! Mbak Kya!" Baru juga Kyara mengelap tiga piring, teriakan nyaring berhasil mengagetkannya. Ia dan Roy langsung menoleh ke sumber suara.

"Dini?" panggil Kyara dengan kening mengkerut. "Bukannya kamu kuliah, kok udah pulang?"

Dini melirik Roy, lalu tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan kakak iparnya. "Aku cuma mampir. Mau minta uang sama Mama. Tapi kata Mbak Dewi ... Mama lagi pergi. Jadi, sama Mbak aja deh mintanya," ucap gadis itu enteng.

"Astagfirullah ... Mbak nggak punya uang, Din."

"Maksudku bukan uang pribadi Mbak. Tapi tolong ambilin di laci kasir," jelas Dini.

Sontak Kyara menggelengkan kepala. "Mbak nggak mau. Nanti Mama salah paham. Dikira Mbak nyuri uang."

"Nggak akan, Mbak. Nanti aku yang jelasin ke Mama."

Kyara tetap menggelengkan kepala. "Mbak nggak mau. Kamu ambil aja sendiri." Ia kapok, karena dulu Dini pernah meminta hal yang sama, dan bodohnya ... Kyara membantunya. Alhasil, dia dimarahi habis-habisan oleh Hesti dan juga Doni. Dirinya lah yang disalahkan.

"Mbak jahat! Aku aduin nanti ke Mas Doni kalau Mbak berduaan sama Bang Roy," ancamnya yang membuat Kyara dan Roy terlonjak.

"Astagfirullah!" Keduanya membaca istigfar secara bersamaan.

"Saya dan Mbak Kya cuma ngobrol biasa, Neng. Nggak aneh-aneh." Roy langsung menyanggah, membela diri.

"Iya, kamu jangan menyebar fitnah yang tidak-tidak," timpal Kyara kesal.

"Bodo ..." Dini tak menggubris penjelasan kedua orang itu, ia langsung berbalik meninggalkan dapur.

"Mbak, gimana ini?" Bibir Roy bergetar, matanya bergerak liar.

"Tenang, Roy. Dia hanya menggertak. Aku hafal sifat Dini," ucap Kyara menenangkan.

"Tapi bagaimana kalau Neng Dini benar-benar mengadukan hal yang tidak benar itu pada Bu bos dan Mas Doni, Mbak?"

"Tidak akan. Percaya sama aku. Sudah, kamu kembali bekerja saja. Aku akan menyusul Dini dulu." Kyara berlari meninggalkan dapur. Dan langkahnya terhenti seketika melihat Dini sedang bergelendot manja di lengan ibunya. "Syukurlah. Mama Hesti sudah pulang," batin Kyara lega.

"Ma, minta uang."

"Berapa, Nak?"

"Lima ratus ribu."

"Banyak banget!" Hesti memekik. "Tadi kan Mama udah kasih tiga ratus ribu, masa udah habis?"

"Ihh ... Mama." Dini merengek manja. "Uang yang tadi masih ada, kok. Tapi uang yang lima ratus ribu ini buat kegiatan kampus. Ada praktek dadakan nanti sore."

Hesti membulatkan bibir. "Kirain teh buat jajan."

"Bukan lah. Buruan, aku mau kembali ke kampus," desak gadis berusia delapan belas tahun itu.

"Iya. Yuk ikut Mama ke meja kasir."

"Yes! Ayo!" Dini bersorak gembira.

Kyara yang menyaksikan hal itu mengusap dada dengan lega. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.

______

Rumah makan itu tak pernah benar-benar sepi meski sudah sore. Malah makin melelahkan. Aroma minyak panas, suara wajan beradu, dan teriakan pesanan bercampur menjadi satu. Para pegawai hilir-mudik membawa piring, sementara pelanggan mulai berdatangan untuk makan malam.

Di tengah kesibukan itu, suara tajam Hesti terdengar memanggil. "Kyaraaa!"

Kyara yang sedang mengelap meja di sudut ruangan langsung menoleh. Jantungnya berdegup kecil ... ia sudah hafal nada itu. Nada yang tak pernah membawa kabar baik.

Ia berjalan mendekat ke meja kasir tempat Hesti berdiri dengan wajah kaku dan bibir terlipat tipis. Perempuan itu bahkan tidak menunggu Kyara benar-benar sampai sebelum mulai memberi perintah. "Kamu pulang duluan sekarang," ucap Hesti ketus.

Kyara terdiam sepersekian detik. Ia melirik jam dinding. Sore baru merambat menuju senja. Biasanya jam segini pelanggan sedang ramai-ramainya. "Iya, Ma. Tapi aku mau salat as-"

"Sudah!" potong Hesti tajam. "Salatnya di rumah saja. Buruan pulang! Dan masak untuk makan malam. Jangan sampai kami pulang, makanan belum siap." Nada itu bukan permintaan. Itu perintah.

Kyara menunduk pelan. "Iya, Ma."

Hesti melanjutkan tanpa peduli wajah menantunya yang semakin pucat karena lelah. "Masak yang enak, ya, Kya! Jangan asal jadi."

Kyara mengangguk kecil. "Masakanku selalu enak," batinnya.

"Masak ayam woku. Prekedel jagung. Udang pedas manis. Dan jangan lupa bikin sambal. Sambalnya yang pedas, jangan hambar kayak kemarin." Setiap menu disebutkan seperti beban tambahan yang diletakkan di bahu Kyara satu per satu.

Ayam woku butuh banyak rempah dan waktu. Udang pedas manis harus dibersihkan satu-satu. Prekedel jagung harus digoreng dalam beberapa tahap supaya renyah. Dan sambal ... Hesti selalu punya standar sendiri yang sulit dipenuhi.

"Iya, Ma," jawab Kyara lagi, pelan.

Tak ada terima kasih. Tak ada pertanyaan apakah ia lelah atau tidak. Padahal sejak pagi, Kyara sudah bekerja di rumah makan, mencuci, memotong, mengantar pesanan, bahkan sesekali melayani pelanggan yang cerewet.

Hesti sudah kembali sibuk menghitung uang di laci kasir, seolah Kyara hanyalah robot yang tak butuh istirahat.

Kyara berbalik, langkahnya terasa berat. Ia melepas celemek dapur dan menggantungnya di paku dekat pintu belakang. Tangannya sedikit gemetar karena kelelahan, tapi ia menahannya.

Tiga pegawai rumah makan itu meliriknya dengan tatapan iba yang sudah terlalu sering mereka tunjukkan selama bertahun-tahun.

"Mbak Kya disuruh pulang ya?" tanya Susi pelan.

Kyara memaksakan senyum tipis. "Iya. Biasa. Disuruh masak."

Roy menggeleng pelan, suaranya ditahan agar tak terdengar Hesti. "Padahal mah bawa aja makanan dari sini. Nggak usah nyuruh Mbak masak. Di sini juga, yang masak kan Mbak."

Kyara hanya tersenyum kecil. "Iya, Roy. Tapi ah, sudahlah." Kalimat itu menyimpan tumpukan kelelahan. Ia mengambil tas kecilnya dari loker kayu di sudut ruangan.

Dewi mendekat, menepuk bahunya pelan. "Hati-hati di jalan, Mbak."

"Iya. Duluan ya," jawab Kyara lembut. Ia berpamitan dengan anggukan pada ketiganya, lalu melangkah keluar lewat pintu samping. Langit sore berwarna jingga keemasan. Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah santai, beberapa tertawa, beberapa sibuk dengan ponsel mereka.

Kyara menarik napas panjang. Sore bagi orang lain mungkin berarti waktu beristirahat. Waktu berkumpul, bersantai, atau sekadar menikmati teh hangat.

Namun baginya, sore hanyalah perpindahan lokasi kerja. Dari rumah makan ke dapur rumah.

Ia membayangkan daftar panjang yang harus dikerjakan: membersihkan ayam, mengulek bumbu woku, mengupas jagung, membersihkan udang, menyiapkan cabai untuk sambal.

Setelah itu menyapu lantai, mencuci perabotan bekas masak, menanak nasi, memastikan semua tersaji sebelum Hesti dan anggota keluarga lain pulang.

Langkahnya semakin pelan. Di balik wajah tenang itu, tubuhnya sebenarnya berteriak minta istirahat. Punggungnya pegal, telapak kakinya panas seperti ditusuk-tusuk jarum.

Namun Kyara tak pernah benar-benar punya pilihan. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun rutinitas yang sama. Perintah yang sama. Nada ketus yang sama. Ia mendongak menatap langit yang mulai meredup. Dalam hatinya terbit pertanyaan yang tak pernah berani ia ucapkan keras-keras:

Sampai kapan?

Tapi seperti biasa, pertanyaan itu ia telan kembali. Ia mempercepat langkah menuju rumah, bersiap kembali berdiri di depan kompor, mengaduk masakan di wajan, dan memastikan semuanya sempurna. Karena bagi Hesti, Kyara bukan menantu yang perlu dihargai. Ia hanya tangan tambahan di dapur.

______

Langit sudah berubah keunguan ketika Kyara tiba di depan rumah. Cahaya senja menyisakan bayang-bayang panjang di halaman. Ia melangkah pelan mendekati pagar, lalu terhenyak. "Astagfirullah ... kok pagarnya nggak dikunci! Siapa yang membuka? Perasaan tadi pagi udah aku kunci dengan benar." Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Tangannya mendorong pagar perlahan. Berderit pelan. Terbuka begitu saja.

Pikiran buruk langsung bermunculan. Ia mempercepat langkah menuju pintu utama. Tangannya refleks menggenggam tas lebih erat, bersiap pada kemungkinan terburuk. Namun begitu sampai di teras, pandangannya tertuju pada rak sepatu di samping pintu. Sepasang sepatu dengan merk ternama berwarna krem tersusun rapi di sana. "Dini?" Kyara menghela napas panjang, bahunya turun perlahan. "Kirain maling ..." bisiknya lega.

Ia meraih gagang pintu dan membukanya pelan. Rumah terasa hening, hanya suara televisi samar terdengar dari ruang tengah, mungkin menyala tanpa benar-benar ditonton. "Din! Dini ..." panggilnya lembut. Namun tak ada jawaban.

Kyara melangkah masuk, menutup pintu kembali. Aroma parfum manis samar tercium di udara, bercampur dengan bau pendingin ruangan. Tasnya ia letakkan di meja dekat tangga. Tubuhnya terasa semakin berat sekarang setelah rasa tegangnya mereda.

Seharian berdiri di rumah makan, lalu berjalan pulang dengan pikiran penuh daftar masakan, membuat kakinya seperti bukan miliknya lagi.

Ia mengambil tasnya lagi, memutuskan untuk naik dulu ke kamarnya di lantai dua, melaksanakan salat asar yang mungkin sudah di akhir waktu, sekalian mengganti baju sebelum mulai memasak.

Suara langkahnya terdengar jelas di rumah yang terlalu sunyi. Semakin ke atas, suasana terasa makin hening.

Saat melewati lorong lantai dua, Kyara harus melewati kamar Dini lebih dulu sebelum sampai ke kamarnya sendiri di ujung.

Ketika kakinya tepat berada di depan kamar adik iparnya, terdengar suara aneh. Langkah Kyara melambat.

Awalnya ia mengira itu mungkin suara televisi. Atau mungkin Dini sedang menelepon teman-temannya. Tapi suara itu berbeda. Tidak jelas. Seperti desahan tertahan bercampur suara benda bergesekan.

Kening Kyara berkerut. Langkahnya membeku. Suara itu terdengar lagi. Pelan. Tertahan. Lalu seperti ada bisikan laki-laki yang sangat samar. Jantungnya berdegup lebih keras, kali ini bukan karena takut maling.

Tangannya terasa dingin. Ia menelan ludah, mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin ia salah dengar. Mungkin hanya suara dari ponsel. Mungkin hanya video. Namun kemudian terdengar suara tawa kecil Dini. Manja. Berbeda dari suaranya saat berbicara di rumah makan atau di depan Hesti.

Dan sekali lagi, terdengar suara lain. Lebih berat. Jelas bukan suara televisi. Kaki Kyara seakan tertanam di lantai. Otaknya berputar cepat.

Tangannya hampir terangkat untuk mengetuk pintu. Namun ia ragu.

Suara di dalam semakin jelas ... ranjang seperti bergeser pelan, diikuti helaan napas yang membuat tengkuk Kyara meremang.

Kyara mundur selangkah. Ia tidak bodoh. "Astagfirullah ..." Ia mengusap dadanya shock.

1
falea sezi
bkin cerai lah lama amat g sat set kya menye menye agak. oon
falea sezi
harusnya semua isi ATM di kuras
falea sezi
muter. doank. sih. Thor hadehh. g sat sett. kelamaan. drama. doank
falea sezi
menye menye oon
stela aza
menjijikan
stela aza
males bgt kebanyakan drama
stela aza
Nora bgt biyunge Doni Karo Doni ,, melayat kaya mau kondangan
Ama Apr: haha orkay sombong adigung kk
total 1 replies
stela aza
Thor emang si Kya g punya kelebihan selain beres2 rumah ,,, kasian amat mau minggat dari rumah itu nunggu ngumpulin duit di kasi Doni 🤦
stela aza: kalau bisa karakter cewenya jgn cuma cantik doank Thor harus punya kelebihan yg bisa di banggakan 🤭
total 2 replies
I Love you,
🤣🤣🤣🤣🤣 kaget ya...🙏🙏
Ama Apr: hehe iya
total 1 replies
I Love you,
nnk karma tunai bayar nya g nyicil loh🤣🤣
Ama Apr: hehehe
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤😤selingkuh dia😡😡
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
falea sezi
bertele tele tolol males
Ama Apr: skip aja kk
total 1 replies
falea sezi
ngadu ngadu percuma ambil tindakan. lah. goblok. je males. like. lahh g jelas
falea sezi
oon menye menye
Amy
jgn mau kyaa
Ama Apr: semoga kya nggak luluh
total 1 replies
CB-1
lanjut kaak💪
Ama Apr: siap kk, makasih🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!