NovelToon NovelToon
JANDA SATU ANAK

JANDA SATU ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Rania adalah seorang janda muda dengan satu anak. Meski hidupnya tidak mudah, kecantikannya yang mempesona dan sifatnya yang lembut membuat banyak pria terpikat padanya.
Di tengah usahanya membesarkan anaknya sendirian, dua pria muda tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Arga, pria brondong yang ceria dan berani, selalu terang-terangan menggoda dan mendekati Rania. Sementara itu ada Damar, pria muda yang dingin, tampan, dan diam-diam selalu memperhatikan Rania dari jauh.
Dua pria.
Satu wanita.
Siapa yang akhirnya akan memenangkan hati janda cantik itu?
Di antara masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan godaan cinta dari dua pria yang lebih muda…
Akankah Rania membuka kembali pintu hatinya?
Atau justru cinta baru itu akan mengubah hidupnya selamanya? ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehadiran yang Tak Terduga

Pagi itu berjalan seperti hari-hari sebelumnya.

Namun ada satu hal yang kini terasa semakin nyata.

Kehadiran Arga dalam hidup Rania… bukan lagi sekadar kebiasaan.

Ia sudah menjadi bagian.

Rania sedang menyiapkan sarapan di dapur, sementara Rafa duduk di meja makan sambil memainkan sendoknya.

“Bunda, hari ini Rafa mau diantar lagi sama Arga!”

Rania tersenyum kecil.

“Iya, nanti bunda bilang.”

Namun sebelum ia sempat melanjutkan, suara motor berhenti di depan rumah.

Rafa langsung berseru.

“Itu dia!”

Arga.

Seperti biasa.

Namun sekarang, kehadirannya terasa lebih… resmi.

“Pagi!” sapa Arga sambil masuk ke halaman.

“Pagi,” jawab Rania.

Rafa langsung berlari dan memeluknya.

“Arga! Kita berangkat sekarang?”

Arga tertawa.

“Kamu ini tidak sabaran.”

Rania memperhatikan mereka dengan senyum hangat.

Namun di sudut hatinya…

Masih ada ruang kosong yang belum terisi sepenuhnya.

Setelah Rafa berangkat bersama Arga, rumah kembali sunyi.

Rania duduk di ruang tamu.

Tangannya memegang cangkir teh, namun pikirannya melayang.

Sudah beberapa hari…

Tidak ada kabar dari Damar.

Tidak ada pesan.

Tidak ada tanda.

Seolah pria itu benar-benar menghilang.

Rania menghela napas pelan.

“Mungkin ini yang terbaik…” gumamnya.

Namun meskipun ia berkata begitu…

Hatinya tidak sepenuhnya setuju.

Siang hari, Arga kembali bersama Rafa.

Seperti biasa, suasana rumah menjadi ramai.

Tawa Rafa memenuhi ruangan.

Arga ikut bercanda.

Rania tersenyum melihat mereka.

Namun tiba-tiba…

Suara mobil berhenti di depan rumah.

Sebuah suara yang sudah lama tidak terdengar.

Rania membeku.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Tidak mungkin…

Namun ketika ia menoleh ke arah pintu…

Ia melihatnya.

Damar.

Pria itu berdiri di depan rumah.

Masih sama.

Tenang.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Wajahnya terlihat sedikit lebih lelah.

Dan tatapannya…

Lebih dalam dari sebelumnya.

Rania berdiri perlahan.

“Kamu…”

Arga juga menoleh.

Rafa bahkan langsung berseru.

“Om Damar!”

Anak kecil itu berlari ke arahnya tanpa ragu.

Damar sedikit terkejut.

Namun ia tersenyum tipis dan berlutut untuk menyambut Rafa.

“Sudah lama ya.”

Rafa mengangguk cepat.

“Rafa kangen!”

Kalimat itu membuat suasana menjadi sedikit hangat.

Namun juga canggung.

Damar berdiri kembali.

Matanya bertemu dengan Rania.

Untuk beberapa detik…

Tidak ada yang berbicara.

Namun semua terasa jelas.

Rania melangkah mendekat.

“Bagaimana kabarmu?”

Damar mengangguk pelan.

“Baik.”

Namun suaranya terdengar lebih berat.

Rania menunduk sejenak.

“Aku…”

Ia ingin mengatakan sesuatu.

Namun tidak tahu harus mulai dari mana.

Arga akhirnya berdiri dari kursinya.

Ia berjalan mendekat.

Dan berdiri di samping Rania.

“Sudah lama tidak bertemu,” katanya santai.

Damar menatapnya.

“Ya.”

Tidak ada permusuhan.

Namun juga tidak ada kehangatan seperti sebelumnya.

Hanya keheningan yang penuh arti.

Beberapa saat kemudian, Damar berkata pelan.

“Aku hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja.”

Rania terkejut.

“Hanya itu?”

Damar mengangguk.

“Iya.”

Namun sebelum suasana kembali sunyi…

Rafa menarik tangan Damar.

“Om Damar, main sama Rafa!”

Damar menatapnya sejenak.

Lalu tersenyum tipis.

“Baik.”

Di halaman, Rafa kembali tertawa.

Seperti sebelumnya.

Arga ikut bergabung.

Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa hari…

Mereka bertiga kembali berada di tempat yang sama.

Namun sekarang…

Segalanya berbeda.

Rania berdiri di pintu.

Memperhatikan mereka.

Hatinya terasa campur aduk.

Bahagia melihat Rafa.

Namun juga perih melihat Damar.

Ia tahu…

Pria itu masih menyimpan perasaan.

Dan itu membuatnya merasa bersalah.

Sore hari, setelah Rafa lelah bermain…

Mereka kembali duduk di teras.

Suasana lebih tenang.

Namun tidak sepenuhnya nyaman.

Akhirnya Damar berkata pelan.

“Aku akan pindah ke luar kota.”

Rania terkejut.

“Pindah?”

Damar mengangguk.

“Ada pekerjaan baru.”

Kalimat itu sederhana.

Namun dampaknya terasa besar.

Rania menggenggam tangannya.

“Kapan?”

“Segera.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Arga menatap Damar.

“Keputusan yang besar.”

Damar mengangguk.

“Ya.”

Rania menunduk.

Hatinya terasa sesak.

Ia tidak menyangka pertemuan ini akan menjadi seperti ini.

Malam mulai turun.

Damar berdiri.

“Aku harus pergi.”

Rafa langsung memeluknya.

“Om Damar jangan pergi…”

Damar tersenyum tipis.

“Rafa harus jadi anak kuat.”

Rafa mengangguk pelan.

Meski terlihat sedih.

Damar kemudian menatap Rania.

Untuk beberapa detik…

Mereka hanya saling diam.

Namun kali ini…

Tidak ada kata yang perlu diucapkan.

Semua sudah jelas.

“Jaga dirimu,” kata Damar pelan.

Rania mengangguk.

“Kamu juga.”

Damar tersenyum kecil.

Lalu berbalik.

Dan berjalan pergi.

Rania berdiri di tempatnya.

Melihat punggung itu menjauh lagi.

Namun kali ini…

Ia tahu.

Perpisahan ini mungkin lebih nyata.

Lebih dalam.

Arga berdiri di sampingnya.

Tanpa berkata apa pun.

Namun kehadirannya cukup.

Rania menarik napas dalam.

Hatinya terasa berat.

Namun juga tenang.

Karena ia tahu…

Apa pun yang terjadi…

Ia sudah memilih jalannya.

Malam itu, Rania kembali duduk di teras.

Namun kali ini…

Ada rasa yang berbeda.

Bukan hanya kehilangan.

Namun juga penerimaan.

Karena tidak semua yang datang…

Ditakdirkan untuk tinggal.

Dan tidak semua yang pergi…

Berarti benar-benar hilang.

Kadang…

Mereka hanya berpindah tempat.

Dari kehidupan…

Menjadi kenangan.

Dan kenangan itu…

Akan selalu tinggal.

Di dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!