Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
GOR mulai sepi setelah latihan selesai.
Suara bola basket sudah berhenti. Para pemain tim mulai membereskan barang-barang mereka. Beberapa siswi yang tadi menonton juga mulai turun dari tribun, masih sibuk membicarakan betapa kerennya Ryuga saat bermain.
Di pinggir lapangan—
Quinn berdiri bersama Vexa.
Vexa masih terlihat sangat excited.
“Gila sih.”
Quinn menatapnya datar.
“Apa lagi?”
Vexa menunjuk ke arah lapangan.
“Kapten basket sekolah kita ternyata monster.”
Quinn mendengus kecil.
“Iya-iya...”
Vexa menyenggolnya.
“Lo kenal dia dari kecil tapi baru tau dia main basket?”
Quinn sedikit kesal.
“Ya emang gue harus tau semuanya tentang dia?”
Vexa membuka mulut hendak menjawab—
Tiba-tiba sebuah tangan kekar meraih pergelangan tangan Quinn.
“Tunggu, Ra.”
Quinn langsung menoleh.
Ryuga.
Tatapannya serius.
Quinn mengerutkan dahi.
“Apa?”
Ryuga berkata pelan namun tegas.
“Kita perlu bicara.”
Quinn mendesah kecil.
“Sekarang?”
Ryuga tidak menjawab.
Ia hanya menatap Vexa sekilas.
Vexa yang langsung paham situasi itu mengangkat kedua tangannya.
“OKE.”
Ia mundur dua langkah.
“Gue pamit kalau gitu.”
Quinn menatapnya tidak percaya.
“Xa—”
Vexa sudah berjalan mundur.
“Gue ke kantin dulu.”
Ia menunjuk Quinn dengan ekspresi jahil.
“Jangan lama-lama.”
Quinn memutar mata kesal.
Vexa langsung kabur.
Sekarang tinggal Quinn dan Ryuga.
Quinn menatap Ryuga.
“Sekarang apa?”
Ryuga tidak menjawab.
Ia justru menggenggam tangan Quinn lebih erat.
“ikut gue.”
Quinn terkejut sedikit.
“Eh—”
Namun Ryuga sudah menariknya berjalan keluar GOR.
Beberapa menit kemudian—
Mereka sampai di rooftop sekolah.
Angin sore bertiup pelan.
Langit biru mulai berubah warna menjadi sedikit keemasan.
Di sana cukup sepi.
Hanya suara angin dan suara burung dari kejauhan.
Ryuga akhirnya melepaskan tangan Quinn.
Ia berdiri di depan Quinn dengan ekspresi serius.
Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Quinn mulai tidak sabar.
“Jadi?”
Ryuga menatapnya dalam.
“Dulu…”
Ia berhenti sejenak.
“…kenapa lo pergi?”
Quinn langsung mengalihkan pandangan.
Ia menyilangkan tangan.
“Penting banget gue jelasin?”
Ryuga diam beberapa detik.
Lalu ia mengangguk pelan.
“Hm.”
Quinn menghela napas kecil.
Lalu berkata dengan nada sedikit dingin.
“Gue cuma nggak mau rusak kebahagiaan lo.”
Ryuga langsung mengernyit.
“Maksud lo?”
Quinn tertawa kecil tapi hambar.
“Bukannya waktu itu lo jadian sama Naomi?”
Ryuga terlihat semakin bingung.
Quinn melanjutkan.
“Gue lihat sendiri.”
Tatapan Quinn sedikit menajam.
“Lo peluk-pelukan sama dia di koridor.”
Ryuga langsung mengingat sesuatu.
Namun Quinn sudah berbicara lagi.
“Ya gue pikir…”
Ia mengangkat bahu.
“…gue nggak mau jadi orang ketiga di antara kalian.”
Ryuga terdiam.
Beberapa detik.
Lalu ia menghela napas pelan.
“Ra…”
Quinn masih menatap ke arah lain.
Ryuga berkata pelan tapi tegas.
“Gue nggak pernah jadian sama Naomi.”
Quinn langsung menoleh.
“Apa?!”
Ryuga mengulang.
“Gue. Nggak. Pernah. Jadian sama Naomi.”
Quinn terlihat ragu.
“Tapi waktu itu—”
Ryuga memotong.
“Dia yang nyatain perasaannya.”
Quinn terdiam.
Ryuga melanjutkan.
“Tapi gue tolak.”
Quinn mengerutkan dahi.
“Terus pelukan itu?”
Ryuga menghela napas lagi.
“Dia yang meluk gue duluan.”
Quinn terlihat sedikit kaget.
Ryuga mengingat kejadian itu.
“Gue bahkan langsung dorong dia.”
Ia menatap Quinn tajam.
“Gue bilang ke dia buat tahu batasan.”
Quinn terdiam.
Ryuga melangkah sedikit lebih dekat.
“Gue cuma pernah suka satu orang.”
Quinn menelan ludah kecil.
Ryuga menatap matanya dalam-dalam.
“Dan orang itu…”
Ia berhenti sebentar.
“…lo.”
Jantung Quinn berdetak lebih cepat.
Ryuga melanjutkan dengan suara rendah.
“Dari dulu.”
Ia menghela napas.
“Tapi tiba-tiba lo hilang.”
Tatapannya berubah lebih dalam.
“Tanpa penjelasan.”
Ia mengepalkan tangannya sedikit.
“Lo tau nggak gimana rasanya?”
Quinn tidak menjawab.
Ryuga melangkah lebih dekat lagi.
Sekarang jarak mereka hanya satu langkah.
“Gue nyari lo.”
Quinn terlihat sedikit terkejut.
Ryuga melanjutkan.
“Gue ke rumah lo.”
“Ke tempat biasa kita main.”
“Ke sekolah lama.”
Suaranya terdengar sedikit berat.
“Tapi lo bener-bener hilang.”
Quinn menunduk.
Ryuga berkata pelan namun penuh emosi.
“Dan sekarang lo bilang lo pergi karena mikir gue jadian sama orang lain?”
Quinn menggigit bibirnya.
Ryuga menghela napas pelan. Ia menatap Quinn dengan sorot mata kecewa.
Lalu tiba-tiba—
Ia mengangkat dagu Quinn dengan jarinya.
Memaksanya menatap matanya.
“Dengerin gue baik-baik, Ra.”
Tatapan Ryuga tajam namun dalam.
“Gue nggak pernah punya siapa-siapa di hati gue.”
Ia menatapnya lama.
“Karena dari dulu…”
Suaranya menjadi lebih pelan.
“…tempat itu cuma buat lo.”
Quinn merasakan dadanya menghangat.
Ryuga menyipitkan mata sedikit.
“Jadi jangan pernah lagi ngomong soal jadi orang ketiga.”
Ia berkata tegas.
“Karena kalau ada orang ketiga…”
Tatapannya menjadi posesif.
“…itu bukan lo.”
Ia menatap Quinn dalam-dalam.
“Tapi orang lain yang coba masuk di antara kita.”
...----------------...
Malam hari.
Di kamar Quinn.
Lampu kamar hanya menyala setengah, menciptakan cahaya hangat yang lembut. Jendela sedikit terbuka, tirai tipis bergerak pelan tertiup angin malam.
Quinn duduk di atas tempat tidurnya dengan lutut ditekuk, memeluk bantal.
Tatapannya kosong ke arah lantai.
Namun pikirannya terus berputar.
Suara Ryuga di rooftop siang tadi terus terngiang di kepalanya.
“Gue nggak pernah punya siapa-siapa di hati gue. Karena dari dulu... tempat itu cuma buat lo.”
Quinn mengacak rambutnya frustasi.
“Ugh…”
Ia menjatuhkan diri ke kasur.
Menatap langit-langit.
“Jadi…”
Ia bergumam pelan.
“Selama ini gue salah paham?”
Ia memutar badan, memeluk bantal lebih erat.
“Terus yang dulu Naomi bilang itu…”
Quinn mendengus kesal.
“…bohong.”
Ia langsung duduk lagi.
“Dasar Naomi sialan!”
Quinn memukul bantal.
“Nyebelin banget sih!”
Namun setelah itu—
Ia terdiam.
Wajah Ryuga yang terlihat kecewa siang tadi tiba-tiba muncul lagi di pikirannya.
Cara Ryuga berkata,
“Lo tau nggak gimana rasanya?”
Quinn menggigit bibirnya.
“Haisss…”
Ia mengacak rambutnya lagi.
“Kenapa gue malah jadi ngerasa bersalah gini sih.”
Ia menghela napas panjang.
Tiba-tiba—
Suara dari luar kamar terdengar.
“Ra!”
Itu suara Selena—ibunya.
“Ra, ayo makan malam!”
Quinn menjawab malas.
“Nggak laper, Ma!”
Di luar kamar hening sebentar.
Lalu—
Tok tok tok...
Pintu kamar diketuk.
"Boleh Mama masuk?"
Quinn menghela napas kecil.
“Masuk aja, Ma…”
Pintu terbuka.
Selena masuk dengan langkah tenang. Ia mengenakan cardigan rumah yang hangat, wajahnya lembut seperti biasa.
Namun alisnya sedikit berkerut melihat Quinn yang terlihat uring-uringan di atas kasur.
“Kamu yakin nggak laper?”
Selena duduk di pinggir kasur.
“Padahal anak Mama biasanya kalau urusan makan paling cepat.”
Quinn mengerucutkan bibir.
“Lagi nggak mood makan, Ma.”
Selena menatapnya beberapa detik.
“Kenapa, Ra?”
Quinn menghindari tatapan ibunya.
“Ngga kenapa-napa.”
Selena tersenyum kecil.
Ia mengelus rambut Quinn pelan.
“Ra.”
Quinn mendesah kecil.
“Ya, Ma…”
Selena berkata lembut.
“Dari kecil kamu kalau lagi galau wajahnya selalu sama.”
Quinn langsung menoleh.
“Hah?”
Selena tertawa kecil.
“Alis kamu turun begini.”
Ia meniru ekspresi Quinn.
“Terus mulut kamu manyun.”
Quinn langsung protes.
“Mana ada!”
Selena terkekeh pelan.
“Jadi sekarang cerita.”
Quinn memeluk bantal lagi.
Diam beberapa detik.
Selena tidak memaksa. Ia hanya menunggu dengan sabar.
Akhirnya Quinn berbicara pelan.
“Ma…”
Selena menoleh.
“Iya?”
Quinn menatap bantalnya.
“Kalau… kita salah paham sama seseorang selama bertahun-tahun…”
Ia berhenti sebentar.
“…itu parah nggak sih?”
Selena mengangkat alis sedikit.
Quinn melanjutkan.
“Terus ternyata yang kita pikir selama ini… salah.”
Selena menatap Quinn dengan lembut.
“Apa ini tentang Ryuga? Teman SMP kamu itu?”
Quinn langsung menoleh kaget.
“Ma!”
Selena tertawa kecil.
“Namanya juga ibu.”
Quinn mendengus kecil.
“Iiihhh...”
Selena menunggu lagi.
Quinn akhirnya mulai cerita.
“Dulu waktu SMP… aku lihat Ryuga pelukan sama temen ceweknya, namanya Naomi.”
Selena mendengarkan dengan serius.
“Terus Naomi bilang mereka jadian.”
Quinn menunduk.
“Makanya aku pergi.”
Selena sedikit mengernyit.
“Tapi?”
Quinn mendesah.
“Tadi dia bilang dia nggak pernah jadian sama Naomi.”
Selena terdiam.
Quinn melanjutkan dengan kesal.
“Katanya Naomi yang nyatain cinta, terus dia nolak.”
Quinn mengerucutkan bibir.
“Dan pelukan itu katanya Naomi yang mulai duluan.”
Selena mengangguk pelan.
Quinn memukul bantal lagi.
“Terus selama ini aku malah kabur tanpa jelasin apa-apa!”
Ia mendengus kesal.
“Bodoh banget nggak sih aku, Ma?”
Selena tersenyum lembut.
“Bukan bodoh.”
Quinn menoleh.
“Terus apa?”
Selena berkata tenang.
“Kamu cuma terluka waktu itu.”
Quinn terdiam.
Selena melanjutkan.
“Kalau seseorang yang kita sayang terlihat bersama orang lain…”
Ia mengelus rambut Quinn lagi.
“…itu memang sakit.”
Quinn bergumam kecil.
“Tapi aku juga nyakitin dia.”
Selena tersenyum lembut.
“Namanya juga perasaan.”
Ia berkata bijak.
“Kadang kita nggak salah…”
“…tapi tetap ada yang terluka.”
Quinn menatap ibunya.
“Terus sekarang aku harus gimana, Ma?”
Selena berpikir sebentar.
Lalu berkata lembut.
“Jawab satu pertanyaan Mama dulu.”
Quinn mengerutkan dahi.
“Apa?”
Selena menatap matanya.
“Kamu masih suka Ryuga?”
Quinn langsung membeku.
Wajahnya perlahan memerah.
“Ma…”
Selena tersenyum kecil.
“Jawab jujur.”
Quinn menggigit bibir.
Beberapa detik.
Lalu ia berkata pelan.
“…masih.”
Selena mengangguk.
“Kalau gitu…”
Ia menyentuh pipi Quinn lembut.
“…jangan biarkan kesalahpahaman lama merusak sesuatu yang masih ada.”
Quinn menatapnya.
Selena melanjutkan dengan suara hangat.
“Kalau ada yang salah…”
“…perbaiki.”
Ia tersenyum.
“Kalau ada yang belum terucap…”
“…katakan.”
Quinn menelan ludah kecil.
Selena berdiri dari kasur.
“Tapi sekarang…”
Ia menunjuk keluar kamar.
“Anak Mama yang galau ini tetap harus makan.”
Quinn tertawa kecil.
“Iya, Ma.”
Selena membuka pintu.
Namun sebelum keluar ia berkata lagi.
“Oh iya.”
Quinn menoleh.
Selena tersenyum tipis.
“Kalau Ryuga sampai nunggu kamu selama ini…”
Quinn menatapnya.
Selena berkata pelan.
“…jangan buat dia nunggu terlalu lama lagi.”
...****************...
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Jangan berani²...
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁