Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Tips meluluhkan cowok cuek.
Aira berbaring di atas ranjang king size di kamarnya sembari menatap layar ponsel dengan nanar. Ia sudah memelototi room chat bersama Leonel hampir satu jam. Status WA pria itu online, tapi pesannya tak kunjung berbalas, tetap diam membeku seperti pemiliknya.
"Oh ayolah, Ganteng... balas pesan aku!" gumam Aira setengah mendengus. Tubuhnya gelisah, bolak-balik terlentang lalu tengkurap, tapi ponselnya tetap ia genggam erat di depan wajah.
Dalam puncak kegabutannya, jempol Aira bergerak sendiri.
“My baby Leonel Bimantara, kamu belum meninggal kan di sana?”
Pesan itu terkirim begitu cepat. Detik berikutnya, Aira langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat membaca ulang kalimat barusan.
"Ih, amit-amit! Kenapa harus begini sih ngirimnya? Pikir dong, Aira! Kalau Leonel meninggal, kamu jadi janda dong!" omelnya pada diri sendiri.
Tangannya bergerak panik, berniat menghapus pesan itu sebelum terlambat. Namun, entah harus disebut keajaiban atau kutukan, status pesan itu tiba-tiba berubah menjadi dua centang biru. Terbaca.
“Kamu mendoakan aku mati, Aira?!”
Balasan Leonel dari seberang sana seketika membuat Aira meledak. Ia berguling-guling heboh di atas kasur, mulutnya menggigit guling kuat-kuat, sementara kakinya menendang-nendang udara bak orang kesurupan. Wajahnya memerah padam, jantungnya berpacu gila-gilaan hanya karena satu kalimat balasan, padahal biasanya pesannya cuma mentok di read saja.
Aira membiarkan dirinya berguling-guling beberapa detik lagi untuk merayakan kemenangan kecil itu. Tak lama, ia langsung bangkit dan duduk tegak di atas kasur king size-nya dengan kaki terlipat ke dalam. Ia berusaha mengatur napas, meski wajahnya masih memerah sempurna.
"Tenang, Aira. Jangan malu-maluin gen Manggala," gumamnya, mencoba mengingat pesan Mommy Alena.
Jarinya kembali menari di atas layar, mengetik balasan dengan kecepatan penuh.
“Oh ya Tuhan, akhirnya! Leonel, kamu ternyata masih hidup. Kalau boleh peluk... maksudnya, kalau boleh tau kamu lagi apa, Ganteng?”
Setelah menekan tombol send, Aira spontan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Jantungnya kembali berdegup kencang, menunggu apakah si es kutub itu akan kembali membalas.
Namun, keajaiban yang ia tunggu tak kunjung datang. Jangankan membalas, pesan barusan bahkan masih bercentang abu-abu, padahal sepuluh menit sudah berlalu dengan lambat.
"Kalau bukan Leonel, tidak sudi aku mempermalukan diri begini," gumam Aira sembari mendengus kesal. Ia mulai merasa harga diri Gen Manggala-nya tercoreng.
"WHAAAATTTTT!!" Pekikan Aira menggema di dalam kamarnya yang luas. Untung saja kamar itu didesain kedap suara, jadi mau dia jungkir balik atau berteriak sekencang apa pun, penghuni rumah itu bahkan para pelayan di luar tidak akan mengira ada orang kesurupan.
"Apa-apaan ini?! Leonel gilaaaa!!" desisnya saat menyadari sesuatu yang horor. Foto profil Leonel tiba-tiba hilang. Kosong. "Astaga, diblokir lagi?"
Ia mencoba mengirim pesan tes, tapi benar saja, hanya centang satu yang terpampang nyata.
"Oh my mine... semakin kau jauh, semakin aku kejar!" Aira bangkit dari ranjang dengan gerakan dramatis. Ia melangkah menuju meja belajarnya, membuka laci, dan mengeluarkan setumpuk kartu perdana baru yang masih tersegel rapi di sana.
Sebuah senyum smirk penuh kemenangan tercetak di bibir cantiknya. "Kamu boleh blokir seribu kali, tapi uangku masih terlalu banyak cuma buat beli kartu baru. Ah, kapan-kapan aku harus buka konter di kamar ini," ujarnya riang.
Aira kembali melompat, melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan perasaan bangga, siap melakukan registrasi kartu baru demi bisa mengacak-acak Leonel.
.
.
.
"Yupss, done!" Setelah kartu baru berhasil diregistrasi, Aira duduk tegak dengan wajah seserius profesor yang sedang meneliti. Jemarinya menari lincah mengetik nomor Leonel yang sudah ia hafal di luar kepala, bahkan lebih hafal daripada rumus matematika mana pun.
"Kalau blokir lagi, aku tidak berjanji untuk membiarkanmu tidur nyenyak malam ini, Leonel. Aku bakal samperin rumah kamu buat bikin masalah, lihat saja!" desisnya tertahan. Ia segera membuka aplikasi hijau dan meluncurkan peluru pertamanya.
“PENGUMUMAN: Berdasarkan Undang-Undang Kerinduan No. 100, Anda diwajibkan membalas pesan ini agar tidak dikenakan denda berupa 'Dipeluk Aira' selama 24 jam nonstop. Terima kasih.”
Pesan itu terkirim. Tak butuh waktu lama, sebuah panggilan telepon mendadak muncul di layar. Aira tersentak sampai melompat di atas tempat tidur.
"Oooemjiiii! Ternyata manjur! Ayolah, bahkan aku belum pakai trik yang Mommy saranin, tapi emang dasarnya pesona Aira tidak bisa dianggap remeh. Target sudah luluh!" pekiknya kegirangan. Dengan tangan gemetar karena adrenalin, ia menekan ikon hijau.
"Aira, berhenti jadi gila sebelum besok aku bawa kamu ke rumah sakit jiwa!!" desis Leonel dari seberang sana. Suaranya rendah, datar, dan sarat akan emosi yang mati-matian ditekan.
Namun bagi Aira, omelan itu terdengar seperti simfoni indah. Suara Leonel terdengar sangat seksi di telinganya. "El... ayolah, aku gila pun karena kamu, Baby. Aku tergila-gila sama My Baby Leonel..."
Tut!
Belum sempat Aira melanjutkan rayuan maut dengan suara cemprengnya, sambungan itu diputus sepihak. Leonel melarikan diri lagi.
"Tidak apa-apa, Aira. Setidaknya ada kemajuan. Leonel mulai menghubungi kamu," ujarnya pelan sembari mengelus dada sendiri. Ia mencoba meredam emosinya yang nyaris meledak saat Leonel memutuskan sambungan begitu saja. Bagi Aira, dimaki pun adalah sebuah bentuk komunikasi.
.
.
.
Ia kini duduk tegak, menyandarkan tubuh mungilnya di kepala ranjang yang megah. Jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel, membuka mesin pencari Google dengan penuh harap.
Tips meluluhkan cowok cuek.
Google menjawab: Meluluhkan cowok cuek butuh kesabaran ekstra, pendekatan elegan, dan konsistensi tanpa bersikap agresif. Kuncinya adalah menjadi teman yang menyenangkan, memberikan perhatian tulus yang tidak mengekang, serta menguasai teknik tarik-ulur agar dia penasaran.
"Iya, bukankah aku sudah sangat elegan, perhatian, dan lainnya? Kenapa kagak luluh juga ya?" Aira mengerutkan kening. Di matanya, mengancam lewat telepon itu sudah masuk kategori elegan.
Merasa saran Google terlalu lambat dan membosankan, Aira menghapus pencariannya. Ia teringat saran Mommy Alena sore tadi. Wajahnya berubah serius, seolah sedang mengerjakan misi rahasia negara.
Perlengkapan untuk memelet cowok!
Dukun pelet terpercaya yang manjur.
Media pelet yang bagus itu apa?
Layar ponselnya kini dipenuhi dengan situs-situs mistis, gambar kemenyan, dan testimoni orang-orang yang berhasil. Aira membacanya dengan saksama, mulai menimbang-nimbang apakah dia harus mencuri potongan kuku Leonel atau sehelai rambutnya di sekolah besok.
Pandangan Aira terpaku pada sebuah nomor WhatsApp yang tertera di bagian bawah situs remang-remang itu. Itu adalah nomor sang dukun. Aira sempat ragu sejenak, nuraninya sedikit berteriak, namun ambisinya jauh lebih mendorong untuk memencet nomor tersebut.
Jemarinya mengetik dengan mantap. "Bapak punya media pelet apa saja? Dan ampuh nggak, Pak?"
Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk. "Tentu saja sangat ampuh. Sudah banyak orang yang berhasil dan puas dengan kinerja media pelet saya."
Balasan itu membuat mata Aira berbinar. Ketertarikannya naik seratus persen. Sebuah senyum tipis yang sarat akan kemenangan mulai tersungging di bibirnya.
"Terus, gimana caranya, Pak?" tanya Aira tak sabaran.
"Ada, tapi saya tidak bekerja gratis. Semua media pelet ini harus dibayar mahal. Kamu sanggup?"
Aira mendengus geli membaca kata 'mahal'. "Asalkan manjur, Bapak minta berapa pun akan saya kasih," balasnya secepat kilat.
"Satu juta. Kalau deal, kita bertemu!"
Aira kembali tersenyum kecil, kali ini senyum remeh yang sangat khas Gen Manggala. "Satu juta mah gampang! Yang penting aku bisa memelet Leonel," ujarnya sombong pada diri sendiri.
Ia kemudian mengetik balasan singkat untuk mengunci janji temu. "Deal! Besok temui saya di Jalan XX, Pak!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...