Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Laras terhenti langkahnya di depan arif, tiba tiba Ryuken memberhentikan kendaraannya. Di tengah mobil, lalu ryuken berbicara. "Kalian main tinggal-tinggal saja," kata Ryuken sambil memasang standar lalu kembali berbicara, "Gue yakin pasti Arif yang berada di depan," ucapnya sambil tersenyum.
"Bukan gue, Ry, tapi Gea tuh," ucap Arif sambil tersenyum, sesekali menatap Gea.
"Sudahlah, bodo amat, ini jadi kan ke rumah lo, Rif?" tanya Ryuken menatap lekat.
"Jadi, kok," jawab Arif, lalu mengalihkan tatapannya sambil kembali berbicara, "Yaudah, ayok, nanti keburu malam," ucapnya sambil menatap Gea, Laras, dan Abdul.
Lalu mereka pun kembali masuk ke dalam mobil untuk kembali pulang ke rumah Arif.
Sampai mereka semua berada di dalam kendaraan, Arif kembali melajukan kendaraannya. Dari belakang, Ryuken dan Laras mengikuti kendaraan Arif.
Sepanjang perjalanan mereka melaju dengan kecepatan standar, kembali memasuki jalanan kota.
Sampai di depan rumah, Arif membelokkan kendaraan masuk ke halaman rumah. Dia pun memberhentikan kendaraannya.
Arif lalu membuka pintu, dan menatap ke kendaraan Gea yang masuk ke halaman rumah. Gea pun memarkirkan kendaraannya di samping kendaraan Arif, lalu Gea dan Laras keluar dari kendaraan itu.
Setelah mereka keluar dan berdiri berhadapan di depan kendaraan mereka, Ryuken memarkirkan kendaraannya. Dia pun turun lalu melangkah mendekat.
"Ayok masuk," Arif lalu melangkah menuju pintu rumahnya, diikuti Gea, Abdul, Ryuken, dan Laras dari belakang.
Sampai mereka masuk ke dalam, Arif membawa mereka ke ruang keluarga yang terlihat luas dan terdapat kasur lantai dan televisi.
Laras menatap sekitaran, saat Arif menatap ke mereka, Arif langsung berbicara, "Nanti malam kita tidur di sini ajah gimana?" ucapnya.
"Nyaman juga sih, Rif, gue ikut ke kamar mandi ya," ucap Gea sambil menatap Arif.
"Iya, di sana kamar mandinya," ucap Arif sambil menunjuk ke arah pintu.
Lalu Gea melangkah, Laras yang berdiri langsung memanggil, "Gea, tunggu, aku ikut," ucapnya.
"Aku mau ganti pakaian dulu," Gea dengan langkah terhenti.
"Kamu bawa pakaian ganti ga?" tanya Laras sambil melangkah mendekat.
"Aku biasa bawa, sih," ucap Gea.
"Aku nggak bawa pakaian," Laras mengerutkan wajahnya.
"Bentar, kamu pakai punya aku dulu, tunggu ya, Laras," Arif melangkah menuju pintu kamarnya dan berlalu masuk.
Laras mengangguk, Gea tersenyum lalu berbicara, "Lo tau nggak, gue perhatiin Arif suka sama lo," bisik Gea pelan sambil mendekatkan wajahnya.
"Eheem," Ryuken yang duduk, dia mengambil remot TV.
Sedangkan Abdul yang duduk dia tersenyum, lalu berbicara, "Bre, bayangin kalau Arif pacaran, dia pasti lupa sama kita," ucapnya Abdul.
"Iya, sih, kalau udah bucin sampai nggak sadar sama temennya," Ryuken sambil tersenyum, lalu kembali berbicara, "Coba bayangin, Arif kan sekelas sama Laras, bias ga pokus belajar kayanya," ucapnya sambil tersenyum.
"Oy, pada bahas apa, sih?" Arif sambil melangkah mendekat ke Laras. Di depan Laras dia berbicara, "Kamu pakai ini dulu, tapi maaf pakaiannya sederhana, tapi aku yakin nyaman, kok," Arif memberikan pakaian tidur warna putih satu set dengan celananya.
"Makasih," bisik Laras pelan, Gea yang menatap dia langsung berbicara,
"Ayok," ucap Gea sambil menatapnya. Laras mengangguk kepala, lalu mereka pun melangkah pergi untuk ke kamar mandi.
Arif yang menatap Gea dan Laras, dia pun melangkah pergi ke kamarnya. Ryuken yang duduk bersama Abdul langsung berbicara, "Kiw, ehemm, ehemm," Ryuken sambil tersenyum.
Arif mengabaikan Ryuken, dia langsung melangkah masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
Sedangkan Laras, dia sedang berdiri di depan pintu kamar mandi untuk menunggu Gea yang lebih dulu.
Sampai Gea selesai berganti pakaian, dia keluar, "Ayok, Laras, giliran kamu," ucapnya.
Laras langsung melangkah masuk dan menutup pintu kamar mandi itu. Di dalam kamar mandi, Laras terhenti langkahnya saat tatapannya tertuju ke cermin. Laras memperhatikan dirinya di cermin.
Tatapan Laras begitu lekat ke cermin lalu mengalihkan ke pakaian yang di tangannya.
Dari luar pintu kamar mandi, Gea masih berdiri, karena dia bosan terus berdiri, dia pun melangkah pergi ke ruang keluarga.
Laras masih berdiri di dalam kamar mandi, sebenarnya dia merasa tak enak untuk memakai pakaian milik Arif.
"Nggak enak rasanya kalau pakai punya Arif. Tapi kalau nggak ganti, besok pakaian aku kotor, masa iya harus pulang ke rumah dulu," bisiknya pelan, tatapannya terus tertuju ke pakaian yang berada di tangannya.
"Yaudah deh, aku pakai punya Arif dulu," Laras sambil menghela napas kasar, dia pun mulai mengganti pakaian.
Sedangkan Arif, yang selesai berganti pakaian, dia keluar dari pintu kamarnya lalu melangkah dan bergabung dengan Abdul, Ryuken, dan Gea yang sedang duduk menonton televisi.
Saat Arif duduk di dekat Gea, dia langsung berbicara, "Gea, Laras masih ganti pakaian?" tanyanya.
"Iya, Rif, Gea masih di kamar mandi, nggak tau ngapain dulu, lama banget, jadi aku tinggal aja," jawab Gea sambil mengalihkan tatapannya dari televisi, dan menatap ke Arif.
Arif pun berdiri, tetapi dari arah pintu terlihat Laras sudah mengenakan pakaian yang diberikan Arif.
Laras merasa malu dengan pakaian itu, karena pakaiannya terlalu besar. Arif yang berdiri dia tersenyum, menatap Laras dari bawah sampai kepala.
Sampai Laras berada di depan mereka, Gea, Ryuken, Abdul, mereka menatap ke arah Laras, yang sedang berdiri berhadapan dengan Arif.
"Rif, pakaian besar banget, aku nggak nyaman rasanya," ucap Laras sambil melihat dirinya yang memakai pakaian itu.
"Tapi cocok, kok, udah pakai dulu aja," Arif sambil tersenyum menatap Laras.
"Eh, Rif, kita tidur di sini bareng-bareng apa gimana?" tanya Gea sambil menatap ke Arif yang duduk bersampingan dengan Laras.
"Iya, kalau kamu sama Laras mau di kamar aku nggak apa-apa, aku di sini aja bareng Ryuken sama Abdul," ucap Arif sambil menatap Gea.
"Kita tidur di sini aja deh, tapi kita jaga jarak," Laras ikut berbicara dengan tatapan lekat ke Arif.
"Kenapa, mending kamu di kamar sama Gea aja, soalnya Ryuken kalau tidur suka ngigo, suka nendang-nendang gajelas," Arif sambil tersenyum, sesekali menatap ke arah Ryuken.
"Bjirr, sok tau," ucap Ryuken sambil menatap lekat.
"Yaudah," Laras sambil menganggukkan kepalanya.
"Ehem, makin hari makin lengket aja, jangan-jangan udah jadian," ucap Ryuken sambil memfokuskan tatapannya ke televisi.
"Eh apaan sih, orang kita cuma temenan, ya kan, Rif." Laras sambil mengalihkan tatapannya ke Arif.
Tatapan Arif begitu lekat ke arahnya, saat kedua alisnya diangkat, disertai senyuman di wajahnya, Arif hanya terdiam tak berbicara sama sekali.
Gea yang menatap dia langsung berbicara, "Temen apa temen, kalian cocok banget kalau jadian," Gea sambil tersenyum-senyum.
"Setuju, udah jadian aja, daripada dikejar-kejar Tesya, mending sama Laras," Abdul dengan keras.
"Jir lah," Arif berdiri, Ryuken yang menatap ke arahnya langsung berbicara, "Mau kemana, Rif?" tanyanya.
"Kepo," Arif lalu melangkah pergi menuju ke arah pintu ruang dapur.
Laras yang duduk dia menatap lekat kepergiannya. Tatapan Laras mengalihkan ke arah Gea.
Laras lalu berdiri, dia pun melangkah pergi. Ryuken, Abdul, dan Gea mereka langsung berbisik-bisik, melihat kepergian Laras.
Di ruang dapur, Arif sedang membuka kulkas, sambil berjongkok dia mencari bahan-bahan makanan untuk dimasak, tak disadari saat dia sibuk mencari dari belakang Laras berbicara,
"Lagi ngapain, Rif?" tanya Laras sambil memperhatikan Arif.
"Mau masak, tapi masih bingung mau masak apa," jawabnya.
"Emm, kamu suka masak ya, Rif?"
"Suka," Arif mengambil kantong yang berisi daging ayam, lalu dia pun berdiri sambil memperlihatkan kantong berisi ayam itu. Arif kembali berbicara, "Gimana kalau kita masak ayam gulai, kamu bisa kan?" ucapnya dengan senyuman.
"Ayok, cuma aku nggak tau caranya."